
"Kok pulang cepet, Nin? Katanya mau coba ketemu wedding organizer yang nangani nikahan Sela!" Ibu Nindya yang sedang duduk-duduk di teras sedikit terkejut dengan kedatangan putrinya dan juga Elang.
"Nggak jadi, nanti aku telepon aja WOnya! Ayah udah kayak polisi dalam penyamaran aja di sana, memantau dan memperhatikan apapun yang aku lakukan sama Elang. Sampai makan aja udah nggak ada nikmatnya," jawab Nindya bersungut-sungut kesal.
"Tapi nggak mendekat? Kamu nggak nyapa ayahmu?" tanya ibu Nindya lebih lanjut.
Nindya hanya mengedikkan bahu, "Nindya ganti baju dulu, Bu!"
"Maaf, Nindya memang begitu kalau bahas ayahnya, hubungan mereka kurang baik!" Ibu Nindya memberikan sedikit penjelasan pada Elang yang pasti mendengar obrolan mereka. "Apalagi ayahnya mulai ikut campur dengan urusan-urusan pribadi Nindya."
Elang mengangguk tanpa berniat ikut campur. Kalaupun ayah Nindya memiliki urusan dengannya yang berhubungan dengan Nindya, Elang siap. Dia cukup menghubungi papanya sebagai pendukung utama untuk bicara pada ayah Nindya.
Lagi pula, semua hal yang diharapkan banyak orang tua dari pasangan anak perempuan mereka, Elang punya. Dia berkecukupan, dia juga punya rumah atas namanya sendiri. Meski masih muda, Elang yakin bisa menjamin kehidupan Nindya dari apa yang dimilikinya sekarang.
Kegiatannya sebagai atlet panjat dinding organisasi jelas tidak dihitung mengingat penghasilannya tidak stabil. Elang bukan atlet nasional yang bergaji tetap. Elang hanya sekedar melakukan hobi yang lumayan menguntungkannya sebagai mapala kampus. Iseng-iseng berhadiah istilahnya.
Tak lama, Elang dan Nindya sudah berkemas dan siap berangkat. Nindya mencium pipi ibunya, menjelaskan sekilas tempat wisata yang akan dikunjungi bersama Elang.
Setelah mendapat izin dari ibu Nindya, Elang pamit dan berjanji akan menjaga Nindya selama pendakian.
Elang mengemudi ke tempat penyewaan alat-alat petualangan. Mereka akan berangkat langsung dari Semarang, Elang tidak akan sempat kembali ke Yogya untuk mengambil semua kebutuhannya untuk di gunung karena diburu waktu.
Mereka juga mampir ke minimarket untuk membeli kebutuhan makanan dan minuman. Beberapa camilan termasuk permen dibeli Nindya untuk menemani acara camping mereka di atas gunung.
Elang cukup gila memilih jalur ngagrong sebagai pendakian pertama untuk Nindya. Selain lebih ekstrim, jalur tikus tersebut terbilang bukan jalur resmi yang direkomendasikan untuk mendaki Gunung Merbabu.
Belum ada pos pantau untuk mengawasi para pendaki dari jalur yang tidak resmi, mereka biasanya hanya menggunakan rumah warga atau RT sebagai basecamp pertama untuk melaporkan data dan rencana kegiatan selama di gunung.
Pendaki pemula Gunung Merbabu kebanyakan lebih memilih jalur Selo yang memiliki tingkat kesulitan medium. Elang pribadi kurang menyukai jalur tersebut karena terlalu ramai. Dia suka sepi saat di alam terbuka, agar suara semesta di sekitarnya terdengar jelas. Sepi juga membuat Elang jadi lebih leluasa menikmati keseluruhan perjalanan.
"Siap jalan kaki?" tanya Elang serius.
"Harus siap, sudah sampai sini masa nggak jadi!"
Elang menyentuh pipi Nindya, "Ini akan sedikit melelahkan, kalau kamu nggak dalam kondisi prima bisa berbahaya!"
__ADS_1
Nindya meringis, "Aku sehat, El! Aku juga udah bawa obat-obatan pribadi."
"Oke, sip kalau gitu!" Elang menitipkan kendaraan di rumah warga dalam perjalanan menuju basecamp yang biasa dipakai para pendaki. Tidak terlalu jauh, tapi jalan memang tidak semulus paha Vivian. Penuh batu tajam karena masih berupa jalan makadam.
Mereka berjalan santai menikmati semilir angin gunung, masih sore. Matahari berwarna keemasan, siap mengantarkan senja indah di atas lahan pertanian yang ditanami sayuran.
Yei … Nindya bersorak dalam hati, matanya dimanjakan oleh keindahan alam pedesaan, hidungnya menyerap udara bersih dan telinganya menangkap desau angin serta kicau burung yang sesekali meledeknya riang.
Dia berjalan di belakang Elang, kadang berdampingan, sesekali ada di depan pemuda yang menjadi tukang panggul dadakan untuknya.
Bagaimana tidak? Nindya hanya membawa tas kecil berisi kebutuhan pribadi dan 600ml air mineral, sementara Elang menggendong tas gunung (carrier) dengan kapasitas 120 liter.
"Mau istirahat dulu? Setelah ini jalanan akan menanjak tajam!"
Nindya berhenti tepat di pinggir jalan, mengamati pohon dengan daun sangat sedikit tapi bertabur warna indah, antara hitam ranting, dan hijau keemasan. "El … lihat ini!"
Elang mendekat lalu menyeringai manis, "Takut?"
"Aku pikir ini tadi malah bunga, dari jauh kelihatan sangat indah seperti pohon di musim gugur, beraneka warna, ternyata … ulat bulu yang sangat banyak," ujar Nindya bergidik. Tangannya seketika memegang lengan Elang, bukan karena takut tapi seperti ada rasa jijik dan geli yang datang mendadak.
"Tapi kamu bilang kita nggak sampai puncak!"
"Ya, kita hanya akan sampai bawah sabana kalau kamu kuat. Kalau nggak ya … kamu yang tentukan kita akan buka tenda dimana!"
Tenda? Perut Nindya seketika melilit. Tidur berdua bersama Elang di tenda malam ini pasti akan sangat luar biasa rasanya, melebihi kisah yang lalu saat keduanya salah mengenali pasangan.
Ingatan Nindya kembali ke pinggir sungai, saat dia menampar Elang beberapa kali untuk meluapkan marah, saat dia memutuskan agar mereka menjadi orang asing.
Namun, semua itu ternyata hanya awal dari hubungan yang kian hari kian manis dirasa. "Aku akan berhenti saat lelah, dan di situlah kita akan camping, apa kamu setuju?"
Elang mengangguk, "Aku akan mencarikan tempat yang paling baik untuk kita bermalam."
"Apa tidak terlalu sepi di atas gunung? Kita hanya berdua? Apa tidak ada pendaki lain? Aku nggak lihat ada orang naik bawa-bawa ransel kayak kamu."
"Jalur ini memang sepi, mungkin ada beberapa pendaki nanti yang kita temui di basecamp … tapi saat di atas, mereka pasti buka tenda di dekat sabana agar bisa menikmati matahari terbit di puncak."
__ADS_1
"Berarti tempat kita camping nggak bareng sama mereka? Beneran sepi dong!" tanya Nindya dengan ekspresi sedikit takut. Dia tidak pernah mendaki sebelumnya.
"Kamu bisa mendesah kalau ingin ada suara di tenda. Aku beritahu sesuatu, satu-satunya suara berisik yang aku sukai hanya suaramu saat menyebut namaku," kata Elang penuh kejahilan. Matanya kelam menatap Nindya yang langsung melotot padanya.
"Otak kamu itu, El!" decak Nindya heran. "Tapi kayaknya aku mau juga lihat matahari terbit di puncak!"
"Aku akan membawamu, tapi tidak sekarang. Anggap saja pendakian pertama ini untuk latihan, trekkingnya lumayan berat jalur ini."
Elang menggandeng tangan Nindya, meninggalkan sekumpulan ulat bulu yang membentuk bunga-bunga keemasan dari kejauhan. Menyusuri jalan makadam hingga menemukan jalan aspal yang sedikit halus.
"Gila … ini tanjakan apa tanjakan? Apa nggak berbahaya buat kendaraan? Ngeri banget!"
"Banyak pendatang yang jatuh di sini, kecuali warga setempat yang memang sudah pengalaman. Motor mereka juga bukan yang biasa dipakai di kota," kata Elang menjelaskan.
Jalan yang dilihat Nindya mungkin memiliki kemiringan lebih dari 45⁰, terlihat licin dan menyeramkan. Berjalan kaki jelas lebih aman karena bisa lewat pinggir, tapi jika berkendara sudah dipastikan Nindya tidak akan berani.
"Apa ini alasanmu tidak membawa kendaraan kita sampai atas?" tanya Nindya.
"Ya, aku lebih suka naik ojek lokal jika malas jalan. Resiko kecelakaan sangat tinggi di tempat ini, aku tidak mau membahayakanmu, iya kalau aku bisa bawa mobilnya sukses selamat sampai atas, kalau gagal? No! Itu bukan pilihan."
"Berhenti sebentar, El! Aku mau bernafas dulu," pinta Nindya bersungguh-sungguh.
"Ini namanya tanjakan cinta." Elang mengamati wajah Nindya yang berkeringat sebelum mengusapnya dengan slayer kain yang dipakai untuk mengikat kepala. "Kamu akan jatuh cinta padaku setelah melewati tanjakannya, ini juga yang jadi alasanku mengajakmu berjalan kaki!"
Nindya terbahak mendengar nama konyol yang disematkan di jalan terjal tersebut, "Yang benar saja!"
"Aku serius, dalam banyak pendakian cewek selalu membutuhkan bantuan saat menyelesaikan tanjakan ini. Penolongnya selalu mendapatkan perhatian khusus setelahnya. Banyak yang memutuskan pacaran setelah bergandengan tangan melewati jalan terjal ini, meski awalnya mereka belum kenal."
Nindya melihat Elang skeptis. "Mana ada kisah cinta dramatis begitu?"
"Kamu harus ikut pendakian massal yang diadakan mapala lebih dulu untuk bisa membuat penilaian!"
"Hm …!" Nindya menaikkan sebelah alisnya, lalu dengan percaya diri mengulurkan tangan agar Elang menariknya menanjaki cinta yang dituangkan di jalan curam menuju basecamp utama.
Elang meraih tangan Nindya dan mulai berjalan naik, "I love you, Bu Dosen! Jawab aku di atas nanti ya!"
__ADS_1
***