Musim Bercinta

Musim Bercinta
Main Detektif


__ADS_3

Menjadwal ulang untuk bertemu dengan wedding organizer normalnya hanya dilakukan satu kali. Tapi Nindya melakukannya hingga tiga kali alias tiga minggu berturut-turut. Masalahnya ada pada Daniel, selalu tidak bisa meluangkan waktu untuk janji yang sudah Nindya buat.


Awalnya Nindya terpikir untuk bertemu sendiri dengan orang WO tersebut, tapi akhirnya dibatalkan karena bagaimanapun dia akan butuh banyak persetujuan dari Daniel nantinya. Nindya tidak mungkin mengambil keputusan sendiri untuk acara pernikahan mereka.


Nindya tak habis pikir, kenapa mereka tidak menikah di Semarang saja di rumah keluarga Nindya, atau di Malang tempat orang tua Daniel? Tunangan konservatifnya itu justru menghendaki menikah di Yogya, alasannya karena hampir semua teman dan relasinya ada di kota itu.


Tanggapan WO yang mengisyaratkan kecewa karena perubahan jadwal membuat Nindya uring-uringan. Semakin uring-uringan karena Daniel beralasan sibuk di hari Sabtu.


Hari yang seharusnya dipakai kencan dengan Daniel akhirnya diputuskan untuk dipakai pulang ke Semarang. Mungkin dengan menghadiri pernikahan sepupunya yang akan diselenggarakan besok Minggu membawa mood baik untuk mengurusi rencana pernikahannya dari awal lagi.


Nindya enggan melanjutkan kerjasama dengan WO yang sudah tiga kali tidak jadi ditemuinya, mereka sudah tidak memberikan tanggapan enak. Nindya merasa tak nyaman, jadi dia harus mendapatkan WO baru. Mungkin yang dipakai oleh sepupunya yang sekarang bisa jadi pertimbangan.


Sayangnya, Daniel yang sibuk juga tidak bisa ikut hadir pada acara nikahan saudara Nindya itu. Alasan yang membuat Nindya semakin jengkel dan kecewa. Daniel bukan hanya tak peduli dengan rencana pernikahan mereka, tapi sudah mengabaikan perasaan Nindya dan keluarga karena ketidakhadirannya.


"Bu Nindya mau pulang?" tanya Elang saat keluar dari ruang bimbingan. Bertepatan dengan Nindya yang juga keluar dari kubikelnya.


Nindya menghentikan langkah sesaat, "Kamu tau kost Sandra?"


Elang menaikkan satu alisnya, "Kost Sandra? Bu Nindya mau ke tempat Sandra?"


"Anter aku kesana sekarang!" pinta Nindya memaksa.


Setelah berpikir sejenak, Nindya curiga kalau Daniel tidak bisa makan siang dengannya karena Sandra. Tunangannya itu tidak mungkin membatalkan rutinitas kalau tidak ada sesuatu yang sangat penting. Yang terbesit dalam kepala Nindya adalah sang asisten, yang dalam satu bulan terakhir sudah banyak mencuri waktu kebersamaannya dengan Daniel.


"Ayo!" Elang tidak tau dimana Sandra tinggal, belum pernah ke tempat Sandra sekalipun, Elang hanya tau nama jalan dan daerahnya saja. Tapi, melihat Nindya yang wajahnya sedang tidak bersahabat, Elang setuju untuk mengantarkan dosen itu ke sana. Mereka berdua akhirnya turun lift menuju parkiran.


"Kamu nggak ada bimbingan lagi, kan?" tanya Nindya berjalan ke mobilnya lebih dulu, meninggalkan Elang yang sibuk dengan ponselnya, menghubungi Sandra.


"Nggak ada, cuma buat revisian sedikit. Nanti malam kalau nggak besok aja aku kerjakan! Minggu depan kayaknya udah bisa seminar, semua data sudah diacc sama Pak Ronald."


"Sesuai perkiraan, dua bulan beres penelitian kamu, El! Bisa masuk ke tugas akhir itu nanti setelah seminar. Jangan males-males kamu, kalau bisa satu semester kelar jadi bisa ikut wisuda periode tiga."


Elang terkekeh-kekeh, "Bu Nindya jadi pembimbing lagi ya? Pembimbing satu kan Pak Ronald, pembimbing dua belum ada."

__ADS_1


"Biasanya pembimbing dua diberikan kepada dosen ekonomi teknik atau termodinamika. Dosen analis masuk sebagai dosen penguji," jawab Nindya kalem.


"Tapi kalau jadi dosen pembimbing pribadi boleh? Lagian kalau Bu Nindya jadi dosen penguji trus aku nggak bisa jawab kan malu-maluin, bisa-bisa Bu Nindya nggak jadi naksir aku karena aku kalah pinter!"


Nindya tergelak hingga suaranya terdengar keras di dalam mobil. "Daya tarik kamu bukan pintar secara akademik, El! Tapi ada di bidang lain."


"Ya, tapi buat mengimbangi cewek cerdas juga butuh pikiran yang encer, Manis. Walaupun aku nggak bisa menyamai kecepatan kerja otak kamu, tapi setidaknya nggak lelet kayak siput!"


"Aku lebih suka kamu apa adanya, El! Jadilah dirimu sendiri, kamu nggak perlu jadi pintar seperti …."


Elang mengerling jenaka, "Pak Daniel?"


"Yeah, setiap orang memiliki kelebihan masing-masing." Nindya menjawab dengan wajah suram.


Melihat ekspresi dosennya, Elang semakin ingin tau apa yang sedang dipikirkan Nindya. "Kamu mau ngapain ke kost Sandra? Nyari Pak Daniel ya?"


"Entahlah, cuma mau memastikan kalau Daniel tidak ada di sana. Setelah itu aku mau pulang ke Semarang!"


"Bukannya kamu percaya penuh dengan semua yang dilakukan Pak Daniel selama ini ya? Kenapa mendadak jadi curiga sama Sandra?"


"Nggak bener gimana? Dia kan nggak genit sama suami orang?" Elang bertanya acuh tapi terkesan membela temannya. "Kalau Sandra nggak bener apalagi aku?"


"Ya kalian memang sama saja, itu intinya!"


Elang tertawa kecil menanggapi keluhan Nindya, "Aku mencintaimu! Jika kamu juga mencintaiku … itu cukup menjadi dasar sebuah hubungan serius. Kita bisa menikah, memiliki anak-anak yang lucu dan menghabiskan romantisme berdua di alam terbuka!"


Nindya menoleh, "Tidak sesederhana itu, El!"


"Kamu yang membuat keadaan selalu menjadi rumit. Selalu ketakutan dengan sesuatu yang belum terjadi, banyak asumsi dan spekulasi, juga cita-cita untuk masa depan yang sempurna!"


"Aku punya alasan melakukan hal itu!" Nindya mencibir kesal. Elang tidak akan mengerti bagaimana rasanya melihat laki-laki yang tidak setia seperti ayahnya menduduki posisi sebagai pemimpin rumah tangga. "Kamu tidak bisa menghakimi pola pikirku!"


Elang menepi di alamat yang dikirimkan Sandra. Persis di depan studio foto. "Kost Sandra lewat pintu samping studio itu, ada di belakang! Kamar nomor empat di lantai dua."

__ADS_1


Nindya mengamati situasi dengan ekspresi runyam. "Sepi ya? Tempat parkir kendaraan dimana, El?"


"Yang bisa masuk kost cuma sepeda motor, kalau mobil seharusnya ya parkir di depan studio itu," jawab Elang singkat. Tidak ada satupun mobil ada di tempat yang ditunjuk Elang.


"Sepertinya Daniel nggak di sini," gumam Nindya tertahan. "Sandra dimana, El?"


"Aku bukan pacarnya, Manis! Mana aku tau Sandra ada dimana, lagi apa, lagi sama siapa sekarang ini …." Elang menjawab prihatin.


Nindya spontan memukul lengan Elang. "Kamu kan bisa tanya, chat kek, telepon kek! Bantu aku, El!"


"Jadi kita ini ceritanya lagi main detektif-detektifan? Kamu lagi mau nangkap basah Pak Daniel sama Sandra? Iya kalau mereka lagi main basah, kalau nggak ntar malah kamu sendiri yang malu loh!" Elang cengengesan meskipun tangannya akhirnya membuka ponsel untuk menelpon Sandra.


"Kamu dimana, San?" tanya Elang datar. Dia menyalakan pengeras ponsel agar Nindya mendengar sendiri jawaban Sandra.


["Heh, sejak kapan kamu peduli aku ada dimana? Kalau mau ada urusan proyek kampus hari Senin aja! Aku nggak mau diganggu kalau weekend! Paham, kan? Masa gitu aja nggak paham sih, El!"] jawab Sandra ketus di seberang telepon.


Elang mematikan ponsel, "Galak bener!"


Nindya menggerutu kecewa, "Ya udahlah, kita balik aja kalau gitu. Kamu aku antar pulang kemana? Aku langsung mau jalan ke Semarang!"


"Aku anter ya!" Elang menawarkan diri. "Senin tanggal merah, long weekend ini, Manis!"


"Besok aku ada acara, El!"


"Aku langsung pulang nanti, cuma nganter doang nggak pake nginep. Aku juga udah lama nggak ketemu ibu kamu, siapa tau beliau kangen sama calon mantu!"


"Pede banget kamu!" Nindya melirik sadis ke arah Elang yang tersenyum sinting padanya.


"Kita lihat saja, Manis!"


Nindya berdecak kesal, menolak Elang selalu saja jadi hal sulit untuk dilakukan. "Besok sepupuku nikah, El!"


"Kamu butuh pasangan untuk kondangan?"

__ADS_1


"Entahlah," jawab Nindya suram.


***


__ADS_2