Musim Bercinta

Musim Bercinta
Bubur Ayam


__ADS_3

Seharusnya mereka bertemu di lounge XXI the premiere lantai lima mall. Harusnya Nindya yang memergoki Sandra sedang asistensi di ruang santai itu sambil menunggu jam tayang film. Mungkin sambil bercanda atau bermanja-manja dengan Daniel.


Harusnya Daniel melihat Nindya yang katanya mau pulang dan diam di rumah justru pergi nonton dengan mahasiswanya. Mungkin terlihat saat membeli tiket atau saat membeli coklat panas dan popcorn.


Harusnya situasi canggung itu tidak terjadi di parkiran, dalam situasi Elang yang baru reda dari badai ketegangan, dalam kondisi Nindya yang sedikit berantakan. Harusnya mereka ketahuan bukan saat seperti baru saja melakukan hal m*sum di mobil.


Ah ya, harusnya Elang tadi tidak memakai mobil Dewa sehingga Daniel tidak sembarang parkir di sebelahnya. Atau harusnya Elang tadi parkir di lantai empat atau lima yang lebih sepi dan aman untuk melakukan aktivitas nakalnya?


Yang benar, seharusnya Elang lebih peka saat mobil Daniel tiba!


Tapi siapa mengira jika yang datang adalah Daniel dan Sandra, lagi pula mobil berwarna hitam sejenis itu banyak jumlahnya di Yogya. Selain nggak hafal nomor polisi mobil Daniel, Elang juga sedang sibuk membenahi penampilannya.


Sekarang mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur! Jadi Elang harus membumbui dengan garam, kecap, kuah kuning, ayam suwir dan taburan bawang goreng. Toh bubur ayam lebih enak rasanya dibandingkan nasi biasa, ups!


Elang benar-benar berpikir seperti bajingan ketika menganggap bubur ayam itu adalah dosen pembimbingnya yang cantik jelita.


"Brengsek sialan!" Suara Daniel menggelegar, menyahut debam pintu mobil yang keras membahana. Pria itu terlihat garang, wajahnya menghitam dalam kemarahan saat mendekati Elang dan Nindya. "Jadi benar berita yang aku dengar kalau kalian memiliki hubungan aneh selain dosen dan mahasiswa bimbingan?"


"Aku bisa jelaskan, Niel!" sahut Nindya berusaha tenang.


"Kalian membeli pakaian dalam perempuan bersama?"


Elang mengedikkan bahu tak peduli, tapi matanya tidak sedikitpun takut pada pria yang juga bergelar dosen muda di kampusnya itu.

__ADS_1


"Aku bilang bisa jelaskan semua, itu nggak seperti yang kamu kira!" ujar Nindya dengan suara sedikit bergetar.


Daniel tidak mendengarkan Nindya, tapi malah menatap Elang skeptis. Dengan ekspresi mengejek dia menyambung kalimat. "Aku sama sekali tidak menyangka kalau selera Nindya menurun tajam, mengencani mahasiswanya sendiri dan diam-diam hamil tanpa sepengetahuanku."


"Daniel! Stop bicara seperti itu!" pekik Nindya dengan wajah merah padam.


"Aku yakin 'hal itu' sebenarnya tidak terjadi di tenda saat acara makrab mahasiswa baru, tapi kalian memang dengan sengaja melakukannya karena sama-sama gila!" cemooh Daniel dengan tatapan jijik pada Elang dan Nindya.


Elang mendekat dengan cepat, mencengkeram baju Daniel dan mendorongnya hingga dosen muda itu terhuyung dan hampir jatuh. "Aku peringatkan padamu Pak Dosen, jangan sekali-kali merendahkan Bu Nindya. Dia tidak bersalah! Aku akan menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab karena pernah menghamilinya."


Daniel terperangah murka, menatap intens pada Nindya yang sedang berkaca-kaca, lalu bertanya dengan nada sarkas. "Apa benar yang aku dengar, Nin?"


"Maafkan aku, Daniel! Aku baru saja mau memberitahu kamu soal gosip yang beredar di kampus, tapi kamu selalu nggak ada waktu untuk mendengarkan!"


"Aku menunggu kamu jujur, tapi yang terjadi kamu justru melanjutkan kegilaanmu, aku tidak menyangka kalau pria yang kamu tutupi jati dirinya adalah mahasiswa bimbinganmu ini. Aku sudah curiga sejak mendengar gosip itu dari Sandra, tapi aku diamkan agar semua mereda dan kita tetap menikah tanpa terbebani apa-apa."


"Aku berusaha menerima keadaanmu meski itu berat, tapi kamu benar-benar perempuan tidak tahu diuntung! Kamu sangat murahan, Nindya! Lihat dirimu sekarang, bertingkah seperti pe**cur yang menjajakan diri di parkiran!"


"Daniel?" bentak Nindya tidak terima.


Daniel menyela sinis, "Jadi kau akan menikah dengannya? Pantas saja aku suruh untuk cari wedding organizer banyak alasan!"


Nindya terkesiap marah, "Tuduhanmu sungguh keterlaluan, Daniel! Sekarang kamu sibuk menyalahkan aku padahal kamu yang nggak punya waktu untuk bertemu WO? Picik sekali!"

__ADS_1


"Kamu yang penghianat, kamu mengelak tidak mau jujur demi pemuda brengsek ini?" Dengan kalap, Daniel maju ke arah Elang, bermaksud memberikan bogem pada wajah tampan mahasiswa yang sudah merusak masa depannya bersama Nindya.


Hanya saja Elang terlalu kokoh untuk dijatuhkan. Tenaga atletnya terlalu kuat untuk menghadapi Daniel. Elang hanya menerima tinju yang menyerempet pipinya karena gerakan reflek menghindar yang cepat. Pemuda itu lalu mendorong Daniel agar menjauh darinya, tidak ingin balas memukul di depan wanita yang dicintainya.


"Bicaralah satu kata lagi dan aku akan membuatmu babak belur di sini!" Elang menunjuk garang wajah Daniel yang termundur dan hampir menabrak Sandra karena baru saja didorongnya.


Menahan geram dan malu, Daniel meninggalkan parkiran, diikuti Sandra yang baru saja hendak melerai pertengkaran. Suara pintu mobil kembali dibanting terdengar nyaring, juga deru mesin yang menjauh dengan cepat.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Elang lembut. Tangannya langsung merengkuh Nindya, membawanya ke dalam pelukan posesif penuh perlindungan.


Pertanyaan itu terdengar konyol di telinga Elang. Bagaimana bisa wanita dalam pelukannya masih baik-baik saja setelah mendengar caci maki dari tunangannya?


Kekerasan verbal adalah satu dari sekian banyak hal yang paling bisa menyakiti hati wanita. Elang memahami itu karena papanya tidak pernah sedikitpun berkata kasar pada mamanya, juga pada ibu Dewa. Mungkin hal itu juga yang membuat ibu Dewa jatuh sayang padanya. Karena papa Elang juga sosok yang penyayang.


Tidak ada badai yang tidak berhenti, begitu juga dengan tangis wanita. Setelah waktu yang cukup lama, akhirnya isak Nindya mereda. Meninggalkan bekas basah air mata di kemeja Elang, tepat di bagian dada.


Sama sekali bukan masalah, selama Nindya puas dengan dukanya dan menjadikan Elang sebagai sandaran, pemuda itu akan memberikan apa saja untuk mengganti tangis Nindya dengan bahagia.


"Mau tetap nonton apa pulang?" tanya Elang dengan belaian lembut di rambut Nindya.


Dengan mata bengkak dan wajah berantakan seperti itu, rasanya tidak mungkin bagi Nindya untuk melanjutkan rencana mereka, meski sebenarnya dia ingin dan butuh hiburan. "Pulang aja, El! Aku ingin istirahat di rumah."


Elang mengajak Nindya masuk mobil tanpa banyak bertanya lagi. Kepala Nindya pasti masih ruwet meski sudah tidak menangis. Terlihat tegar meski sebenarnya rapuh, dan Elang tidak bisa membiarkan Nindya sendirian dalam situasi runyamnya.

__ADS_1


Elang membawa Nindya pulang ke rumahnya, tempat pulang yang nyaman karena banyak hal yang bisa mereka lakukan di sana. Nindya bisa menyibukkan diri di dapur dengan ibunya atau mereka berdua bisa meluapkan emosi dengan bernyanyi bersama di ruang karaoke keluarga.


***


__ADS_2