Musim Bercinta

Musim Bercinta
Situasi Canggung


__ADS_3

Selang tiga hari, Elang kembali menghubungi Sandra untuk mengatur lagi waktu ketemu. Double date? Tentu saja tidak begitu ceritanya. Mereka berdua hanya mengatur pertemuan yang dibuat tidak sengaja dengan pasangan masing-masing. Sandra akan bersama Daniel dan tentu saja Elang dengan Nindya.


Hari Sabtu, di lokasi dan waktu yang mereka sepakati. Tidak mudah merealisasikan rencana itu, karena dosen-dosen itu memang seharusnya bersama pasangan resmi mereka untuk menghabiskan weekend.


Tapi dua mahasiswa sinting itu menunjukkan usaha yang keras dengan banyak alasan agar dosen mereka mengikuti alur yang sudah terencana.


Hal gila itu dilakukan karena pasangan dosen itu butuh pemicu untuk ribut, untuk saling tidak percaya dan akhirnya memutuskan mengakhiri hubungan mereka.


Bagaimana hasilnya nanti? Baik Elang atau Sandra belum tentu bisa langsung menikmati posisi menjadi pasangan pengganti untuk dosen masing-masing. Yang terjadi bisa sebaliknya, mereka berdua dijauhi karena sudah menjadi penyebab hancurnya hubungan Daniel dan Nindya.


Namun, resiko itu tetap harus mereka ambil jika ingin lebih cepat berhasil dalam menggagalkan pernikahan antar dosen yang waktunya semakin dekat.


**


Daniel dan Nindya baru menyelesaikan makan siang dan masih mengobrol soal rencana pernikahan yang tidak mengalami kemajuan selama satu jam. Mood Nindya mulai tak tertata menghadapi Daniel dengan jumlah kesibukan yang tidak ada habisnya.


"Aku minta pengertianmu, Nin! Aku beneran nggak ada apa-apa sama Sandra."


"Tapi ini weekend, Niel. Harus gitu kamu keluar bahas akademik sama asisten kamu itu? Apa nggak ada hari lain?"


Wajah Daniel mengeras, ucapannya pun sangat serius. "Oke, kalau kamu nggak suka sama Sandra, carikan aku orang yang bisa back up proyek baru yang sedang aku kerjakan! Aku udah bilang berapa kali aku butuh dukungan untuk beberapa bulan ini, aku nggak mungkin buang kesempatan untuk mendapatkan posisi yang aku inginkan, Nin!"


Nindya mengangguk samar. Setelah menghabiskan minumnya, Nindya berdiri dan siap pergi untuk mengakhiri debat kusirnya dengan Daniel. "Baiklah, aku juga ada janji dengan mahasiswa bimbinganku untuk persiapan seminarnya. Kamu bisa meeting sama asistenmu sekarang."


"Kamu nggak pulang ke Semarang?" tanya Daniel mengubah topik pembicaraan.


"Mungkin Sabtu depan," jawab Nindya enggan. Langkahnya terhenti untuk menunggu Daniel yang sedang membayar makan mereka. "Aku langsung pulang, ya?"


"Ya sudah hati-hati," kata Daniel mengiringi Nindya ke parkiran, membukakan pintu mobil dan mengawasi sampai tunangannya itu keluar area. Daniel juga meninggalkan coffee shop, melaju berlawanan arah dengan Nindya.


Cemburu? Sedikit atau banyak perasaan itu hadir saat Daniel mengatakan akan bertemu asistennya. Terlepas itu urusan akademik atau bukan, Nindya tetap saja keberatan karena waktu yang dipilih Daniel adalah weekend, waktu dimana mereka seharusnya bersama.


Alasannya klise saja, karena di hari lain Daniel cukup sibuk dengan berbagai pekerjaan. Dan Nindya harus maklum, Daniel orang yang gila kerja dan sering lupa waktu, juga mengabaikan kepentingannya.

__ADS_1


Tadi sebelum makan siang dengan Daniel, Nindya sudah menolak ajakan Elang untuk nonton sore ini. Tapi rasa sumpek karena berdebat dengan Daniel membuatnya mengubah keputusan. Nindya mengirim pesan untuk mahasiswanya kalau dia bersedia diajak keluar cari hiburan.


Elang akan seminar di hari Selasa, rasanya masuk akal kalau mahasiswa yang dibimbingnya itu butuh ketenangan. Melepas ketegangan dengan mengajak nonton dosennya bukanlah sesuatu yang salah. Elang jelas sedang butuh dukungan dari dosen pembimbing penelitiannya.


Nindya menunggu Elang di rumah, dia sudah berdandan cantik dan lebih muda agar tidak terlihat seperti tantenya Elang nanti. Pemuda itu akhir-akhir ini selalu tampil bak model di depannya. Selalu menarik perhatian karena ketampanan dan postur tubuhnya yang menawan.


Ditambah penampilan yang menunjang dan keperkasaan di atas ranjang, rasanya Elang bisa jadi pria idaman banyak wanita di masa depan. Tidak boleh! Nindya tidak sudi berbagi Elang dengan siapapun juga. Enak saja!


Nindya tertawa kecil merasakan desiran di dadanya. Bahkan hanya memikirkan Elang saja gairahnya kadang meluncur ke permukaan. Benar-benar memalukan. Egonya besar, mencintai Elang tapi masih berat untuk melepas Daniel.


Elang datang tak lama setelah Nindya siap. Masih rapi karena Elang datang tidak naik motor, tapi memakai mobil adiknya. "Mau langsung berangkat?"


"Hm … jadi nonton?" tanya Nindya ceria. Bau harum Elang menggelitik hidungnya, menimbulkan sengatan birahi dalam porsi kecil.


"Kalau kamu nggak suka bisa diganti dengan yang lain." Elang membukakan pintu mobilnya untuk Nindya.


"Ya udah nonton aja, aku udah setengah abad nggak nonton!"


Elang menoleh sekilas sebelum masuk mobil. Senyumnya hanya segaris rasa iba. "Kamu kebanyakan di perpus makanya nggak kenal bioskop!"


"Tetap aja beda sensasinya. Ngomong-ngomong kamu cantik sekali hari ini, Manis!"


"Kalau aku nggak dandan cantik nanti nggak imbang!" jawab Nindya datar.


Hanya perasaannya atau memang benar nyata kalau dia lebih ribet dan ingin terlihat cantik saat keluar dengan Elang. Bersama Daniel dia tidak perlu menukar baju hingga tiga kali, tidak perlu banyak waktu buat bercermin hingga berlama-lama memakai make up.


Elang terkekeh menyadari dosennya ikut berubah seperti dirinya. "Kamu selalu cantik buatku!"


"Terima kasih gombalannya!" Rupanya Nindya tidak ingin mata Elang kemana-mana saat bersama dirinya.


Dan Elang memang suka memuji, juga merayu Nindya dimanapun mereka berada. Seperti sekarang, saat mobil berhenti di parkiran lantai tiga sebuah mall. Elang tidak langsung turun karena ada hal kecil yang ingin dilakukannya.


Bau wangi dan penampilan Nindya membuat Elang tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya. Harusnya memang tadi dilakukan di rumah, tapi Nindya yang langsung ingin berangkat membuat momen yang diharapkan Elang menguap.

__ADS_1


Elang meraih jari-jari Nindya, mengecupnya dengan tatapan tergila-gila. "Apa aku boleh …? Aku janji tidak akan merusak dandananmu!"


Permintaan seperti itu tidak pernah membutuhkan jawaban Nindya. Toh Elang sudah langsung mendekat sebelum Nindya sempat menolak. Satu kecupan lembut dari Elang sudah mendarat di bibir Nindya.


Hal kecil saat berciuman tidak pernah ada dalam kamus Elang untuk Nindya, pemuda itu tidak akan menahan diri saat mengecup bibir Nindya. Selalu saja memuja penuh rayuan dan godaan dengan gigi dan lidahnya.


Berhenti hampir dibilang mustahil. Sebelum Nindya terengah-engah karena pasokan oksigen yang ditahan, Elang belum akan melepaskan pagutan.


Tangan Nindya yang masih digenggam Elang berusaha lepas untuk mendorong dada pemuda itu yang semakin merapat. Tapi terlalu kokoh, Elang bergeming dari posisinya.


Tak lama, Nindya justru ikut terbakar gairahnya. Dari mendorong akhirnya hanya mengusap-usap nakal. Hal bodoh yang membuat Elang terpancing untuk lebih memperdalam ciuman.


Bagian bawahnya tegang dan posisi tegaknya sangat membuat tidak nyaman, hingga Elang harus melepas bagian depan gesper dan menurunkan resleting celananya.


"Udah, El!" gumam Nindya saat mengambil nafas, Elang pasti sudah menghapus sebagian lipstiknya dan membuat rambutnya sedikit berantakan. Mereka ada di parkiran umum, dan Nindya terlalu malu untuk melanjutkan kegilaan Elang yang mulai disukainya.


"Bentar lagi," jawab Elang sambil menahan kepala belakang Nindya.


"Nggak di sini, El! Nggak mau aku … udah, udah stop! Nanti lagi di rumah!" berontak Nindya. Elang terlalu sinting dan mungkin tidak kenal rasa malu. Bisa cuek meskipun dilihat orang, tapi Nindya? Belum sesiap itu untuk mengikuti aturan hidup mahasiswa nakalnya.


Elang melepas Nindya dengan mata yang sudah menggelap, keberatan. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengalah, dia tidak ingin membuat Nindya tak nyaman meski rasanya sangat tersiksa. Lagipula ada mobil yang baru datang dan mengambil parkir tepat di sebelah mobilnya.


Dengan wajah frustasi Elang turun dari mobil, memasang kembali dua kancing kemeja yang dilepas Nindya dan merapikan resleting serta gespernya. Setelah itu menyugar rambut dengan jarinya. Kegiatan pribadi yang langsung membuat penghuni mobil di sebelahnya membelalakkan mata.


Tanpa peduli dengan sekitar, Elang memutari mobil dan membantu Nindya keluar. "Ayo turun!"


"Lipstikku pudar!" Wanita itu sudah lumayan rapi saat mengomel!


Elang hanya membantu menyisir rambut Nindya dengan jarinya sebagai sentuhan akhir, juga merapikan gaun dosennya saat mereka siap melangkah ke pintu masuk mall.


"Tetap aja cantik, malah lebih natural!" Elang menggandeng tangan Nindya dan tersenyum untuk meyakinkan.


Namun, bunyi pintu mobil dibanting dengan sangat keras mengagetkan keduanya. Elang dan Nindya seketika menoleh ke arah datangnya suara, semakin kaget tak terkira saat melihat sosok yang baru saja keluar dari mobil yang mengambil parkir di sebelah mobil Dewa.

__ADS_1


Wajah Nindya memucat, sementara Elang biasa-biasa saja. Ekspresinya tetap seperti orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Meski situasi canggung itu di luar perhitungan, tapi Elang siap dengan segala sesuatunya.


***


__ADS_2