Musim Bercinta

Musim Bercinta
Kopi Sunrise


__ADS_3

Matahari telah terbit beberapa waktu lalu. Tapi Nindya dan Elang tidak bisa menatap langsung munculnya sang mentari karena tertutup oleh punggungan. Tempat yang dipilih Elang untuk duduk menikmati kopi dan sunrise berada di atas lembah yang lumayan lebar.


Meski tak melihat sinar pertama yang masih kemerahan, Nindya tetap terpesona saat cahaya pagi itu menerobos hutan pinus. Mewarnai apapun yang ada di depan matanya dengan warna emas.


Hutan tampak segar hijau kekuningan dengan suara air terjun kecil di ujung lembah. Kabut berarak tipis ke segala arah, menambah warna indah pemandangan dan suasana romantis di hati Nindya.


"Suka?" tanya Elang sambil mengisi cangkir dengan kopi lagi.


Nindya masih sibuk dengan kamera ponselnya saat menjawab, "Sangat suka, sama sekali tidak mengecewakan. Ini indah!"


"Menikmati alam seperti ini kadang membuat aku lupa kalau dunia ini keras!" kata Elang.


"Aku malah merasa terlalu sibuk mengeluh soal hidup sampai lupa kalau semesta ini ternyata banyak juga sisi indahnya. Begitu juga kehidupan tiap manusia, aku rasa begitu!" Nindya menyimpan ponselnya, ikut menyesap kopi panas keduanya sambil menikmati pagi yang dingin. "Terima kasih untuk sunset kemarin dan sunrise hari ini."


"Kita pulang setelah ini, sarapan di basecamp atau di sini? Aku bisa masak nasi, ada sambal goreng, abon dan juga sarden!"


"Kita masak aja biar berasa camping beneran, kamu juga udah nyolong wortel kan kemarin pas naik? Tapi kok masak nasi? Kamu nggak bawa mie instan?"


Elang terkekeh-kekeh, "Udah nggak jaman naik gunung makan mie, udah nggak keren nggak kenyang pula. Aku biasanya masak nasi, bawa lauk jadi dari bawah, jadi tinggal angetin. Ada rendang juga kalau kamu mau! Soal wortel … yah itu kegiatan sampingan, lagian cuma tiga biji."


"Kalau tiap pendaki ambil tiga biji bisa nggak panen itu petaninya." Nindya ikut tertawa, membenarkan apa yang dikatakan Elang soal mie instan. Dan mereka berdua akhirnya sibuk membuat sarapan, menghabiskan stok makanan yang mereka bawa agar saat turun ransel tidak berat.


Dua jam kemudian mereka baru selesai dengan acara masak, makan dan juga keliling area untuk melihat hal-hal yang menarik perhatian Nindya. Elang menemani Nindya yang kadang mendaki atau menuruni trek. Melarang Nindya untuk dekat dengan tebing terjal yang seolah membelah punggungan.


"Hati-hati, Manis! Blank panjang di sekitar situ!" seru Elang mengingatkan.


"Blank? Banyak sekali tulisan peringatan seperti itu di sini, El!"


"Ya, itu mungkin anak mapala yang buka jalur yang buat. Memang berbahaya, kan?"


"Iya ngeri, kalau tergelincir alamat deh itu … tapi ngarai ini beneran keren kalau dilihat dari sini. Curam, terjal, dalam, sempit dan mempesona!" ujar Nindya penuh kekaguman.


Setelah puas kesana kemari menghirup udara pagi dan memanjakan mata dengan pemandangan alam liar, mereka turun melalui jalan setapak ke basecamp utama untuk membuat laporan selesai pendakian.


Elang menyewa jasa dua ojeg warga untuk mengantar ke mobil. Tidak lagi berjalan kaki agar Nindya tidak terlalu lelah karena masih harus ke Semarang mengembalikan alat petualangan. Belum lagi mereka akan melanjutkan pulang ke Yogya.

__ADS_1


"Akhirnya kita pulang juga," ungkap Nindya dengan hembusan nafas panjang, lega dan juga bahagia.


"Tidurlah, nanti aku bangunkan setelah sampai Yogya!"


"Kamu nggak ada capeknya ya?!" Pernyataan Nindya terdengar seperti pertanyaan yang butuh jawaban.


Elang melirik Nindya yang memejamkan mata di sebelahnya. Ide jahilnya seketika keluar, "Ya sebenarnya capek juga, tapi misal kamu ngajakin melakukan sesuatu yang menyenangkan di dalam mobil, aku masih cukup kuat."


"Maksudnya?" tanya Nindya curiga. Ide yang Elang tawarkan selalu menjurus ke arah kenakalannya.


"Pijet-pijetan biar nggak kerasa capeknya," jawab Elang diselingi tawa tengilnya. "Atau skidipapap juga boleh … kalau kamu mau, nggak maksa sih!"


"Sinting!" Nindya memukul lengan Elang, "Jangan gila kamu, El!"


"Bercinta di mobil bukan sesuatu yang gila, banyak orang melakukannya untuk mendapatkan sensasi lebih menantang."


"Fantasimu benar-benar liar dan di luar nalarku, El!" Nindya bergidik membayangkan apa yang sedang dibicarakan Elang. Hal seperti itu bukankah seharusnya yang membahas adalah calon suaminya, Daniel?


Elang menahan tawanya, menggoda hormon Nindya selalu saja menjadi topik favoritnya. Dia senang bisa meruntuhkan kekakuan Nindya, apalagi bisa membuat dosennya itu merasa kelebihan hormon karena ulahnya. "Tapi kita pasti melakukannya suatu hari nanti, aku suka hal-hal yang menggelitik adrenalin!"


"Kita belum tentu bersama nantinya, El! Jadi kecil kemungkinan kamu bisa merealisasikan fantasimu denganku! Apa yang aku ungkapkan kemarin malam itu hanya hal sepele yang aku rasakan sama kamu sekarang, bisa saja berubah sewaktu-waktu. Garis jodoh manusia tidak ada yang tau!"


Meski tak yakin dengan argumennya tapi Nindya berusaha untuk logis dan realistis. Hubungannya dengan Elang rumit karena ada diatas kesepakatan pernikahan yang telah dibuatnya dengan Daniel.


Tapi bukankah orang yang akan menikah memang selalu banyak godaan?


Selalu ada saja sesuatu yang membuat hati menjadi bimbang. Nindya menghembuskan nafas berat, dia sadar sedang tergoda oleh Elang. Bahkan memulai lagi affair yang sudah berakhir dengan lebih edan.


Lalu bagaimana dengan Daniel? Apakah kecurigaannya terhadap Sandra memiliki alasan?


Ah, Nindya tak sanggup memikirkan jika Daniel juga ternyata sama seperti dirinya. Sedang berproses melewati ujian kesetiaan dalam rencana pernikahan yang sudah matang direncanakan. Calon pengantin memang rentan dengan hal demikian, kan?


Melihat Nindya yang sibuk melamun, Elang bertanya kalem, "Kamu lagi mikirin Pak Daniel, ya?"


"Aku masih terikat hubungan dengannya, aku rasa wajar kalau aku memikirkan keberadaannya."

__ADS_1


"Apa kamu keberatan kalau aku meminta kamu putus dengannya?"


Nindya menoleh dan menjawab sarkas, "Tidak ada alasan untuk putus apalagi membatalkan rencana pernikahan kami."


Mendengar nada sinis dari bibir Nindya, Elang justru tertawa kecil. "Selalu ada alasan untuk mengakhiri sebuah hubungan. Menikahlah denganku, Manis!"


Nindya tertawa ringan, memejamkan mata lagi lebih dalam. "Setelah i love you bu dosen, sekarang kamu mengubah kalimatnya menjadi lebih singkat, menikahlah denganku?!"


"Bukankah kamu perlu banyak bukti? Aku akan memberikan pernikahan sebagai bukti utama, dan nanti hal itu diikuti dengan banyak bukti yang nggak pernah kamu duga sebelumnya! Orang tuaku sudah setuju, mereka menyukaimu!"


"Kamu merencanakan menikah semuda ini? Nggak salah? Aku nggak yakin keluarga kamu setuju kamu mau menikahiku sekarang dengan begitu mudahnya."


"Aku memang muda, tapi papa menyetujui karena usiamu yang enam tahun lebih tua dariku, aku rasa itu berhubungan dengan masa emas wanita! Papa menghargai kamu dengan tidak menunda sampai aku lulus atau memenuhi usia yang papa inginkan, kita bisa nikah secepatnya! Tentukan saja waktunya!"


Nindya terhenyak, obrolannya dengan orang tua Elang yang terkesan dewasa sebagai pendidik ternyata memicu sebuah keputusan besar dari mereka. "Bagaimana dengan Mayra? Mama kamu …."


Elang tersenyum masam, "Aku kehilangan satu surat dari mama yang selalu tersimpan rapi di dalam tas. Apa kamu yang mengambilnya?"


Nindya membuka mata, menoleh ke arah Elang dengan perasaan campur aduk. "Apa kamu marah? Aku tidak bermaksud mencurinya, waktu itu aku takut kamu membawa narkoba jadi aku memeriksa isi tasmu saat di rumah."


"Kamu sudah tau isi surat itu, mama tidak memaksaku untuk bersama Mayra jika aku tidak mencintainya, dan aku memang tidak mencintainya. Aku berharap aku akan jatuh cinta pada Mayra seiring berjalannya waktu kami berteman, tapi tetap saja aku nggak punya perasaan spesial untuknya, cinta itu tidak pernah tumbuh di hatiku."


"Tapi kamu menyayanginya lebih dari seorang teman, itu cukup jadi landasan sebuah hubungan!"


Elang menanggapi cepat, "Aku sayang padanya dengan berbagai batasan!"


"Lalu apa alasanmu ingin menikahiku?"


"Karena aku merasa kamu adalah duniaku. Aku jatuh cinta padamu dengan seluruh hatiku. Aku tidak bisa memikirkan gadis lain selain kamu, dan aku pasti akan gila jika tidak mendapatkanmu!"


Elang berbicara dengan nada sangat serius, bahkan ekspresi jahil yang kerap muncul untuk menggoda Nindya tidak tampak sama sekali.


Namun, entah mengapa jawaban serius Elang justru membuat Nindya takut.


**

__ADS_1


__ADS_2