
Vivian bersenandung riang saat naik tangga ke kamar Elang. Tujuannya datang ingin berbaikan, menyudahi kemarahannya dan menarik simpati Elang lagi.
Selama hari-hari marahnya Vivian tidak tinggal diam, Vivian mencari informasi di kampus tentang tunangan Elang kepada beberapa kenalan yang tersebar di tiap angkatan. Bahkan sempat bertanya ke mantan Elang yang terakhir, Diah.
Tidak ada yang namanya tunangan. Elang ternyata cukup terbuka mengenai pacar-pacarnya, semua terkenal di kampus, jadi tidak ada alasan Elang menyembunyikan hubungannya dengan perempuan lain. Lagi pula tidak masuk akal kalau Elang punya tunangan tapi masih saja terlibat hubungan pacaran dengan cewek lain di kampus. Itu yang ada di benak Vivian.
Mungkin Elang sengaja menyuruh temannya untuk mengerjai Vivian, untuk menguji seberapa besar cinta Vivian padanya. Elang sering bertindak gila, dan Vivian percaya kalau yang dilakukan perempuan yang mengaku tunangan Elang hanya berdasar keisengan Elang belaka.
Soal Elang tidak menjawab telepon dan tidak membalas chatnya mungkin karena Elang ingin Vivian datang padanya. Pembicaraan langsung selalu lebih bisa dipercaya dan tidak akan menimbulkan salah paham ataupun prasangka.
Untuk itulah Vivian datang sepagi ini, ingin memberikan kejutan pada Elang dengan membawakan cake buatan mamanya. Dia juga sudah berdandan lebih cantik dari biasanya. Sabtu kemarin, waktunya dihabiskan di salon untuk melakukan perawatan kulit, wajah dan rambut.
Vivian ingin memukau Elang dengan pesona afroditnya, dan sekaranglah waktunya. Minggu yang cerah, secerah hati Vivian yang sudah membayangkan romantisme berduaan di kamar bersama Elang dalam waktu yang panjang.
KLEK!
Vivian membuka pintu kamar Elang tanpa mengetuk. Elang sedang mandi, dan Vivian akan mempersiapkan diri di kamar untuk menyambut pemuda pujaannya nanti.
Namun, rencana Vivian seketika runtuh. Di depan matanya bergelung wanita dengan posisi selimut tersingkap hingga bokong. Pakaian nakal merah muda yang sangat seksi, rambut tergerai berantakan menutupi wajah dan nafas teratur yang menunjukkan si wanita sedang tidur lelap. Wanita sialan itu bahkan tidak mendengar suara pintu yang dibuka olehnya.
"Dasar brengsek!"
Dada Vivian sesak, air matanya merebak dan emosinya memuncak. Pintu kamar ditutup Vivian dengan setengah dibanting hingga menimbulkan suara debam keras. Vivian turun tangga tergesa, dengan setengah berlari keluar dari kontrakan Elang, tanpa pamit pada Arga yang masih berada di meja makan.
Bisa saja Vivian ribut dengan wanita yang ada di dalam kamar Elang, tapi itu terlalu beresiko. Wanita itu pasti tunangan Elang, dan Vivian tidak akan punya tempat di hati Elang jika melakukan kesalahan dengan melabrak miliknya. Vivian harus sabar dan mencari jalan lain untuk menyingkirkan rivalnya. Tidak mudah, tapi bukan hal mustahil.
Begitu mendengar pintu dibanting, Nindya segera bangun, menajamkan pendengarannya. Suara langkah cepat menuruni tangga semakin menjauh.
Sepintas Nindya masih mendengar Arga memanggil Vivian dengan nada heran, tapi tidak ada sahutan yang bisa ditangkap Nindya. Sepertinya Vivian tidak menghiraukan Arga, langsung pulang karena terlalu kecewa pada Elang.
"Maaf ya, Vi!" gumam Nindya pada dirinya. Sebagai sesama wanita masih terbesit rasa tidak tega harus menyakiti Vivian dengan cara kotor seperti itu.
Tidak bermaksud egois, tapi Vivian memang harus tau kalau posisinya tidak akan dianggap serius oleh Elang. Pemuda itu sudah jatuh cinta padanya, dan jika nanti Nindya tidak bisa bersama Elang, Mayralah yang akan menggantikan posisinya. Bukan Vivian.
Daripada hanya digunakan untuk mainan Elang, lebih baik Nindya memaksa gadis itu untuk mundur. Vivian berhak bahagia dengan yang lain.
__ADS_1
Nindya turun dari ranjang, melipat selimut adalah hal pertama yang dilakukannya. Dia harus sesegera mungkin membereskan kekacauan di kamar Elang sebelum empunya datang.
Setelah melipat selimut, Nindya menarik sprei untuk dirapikan. Di terlalu semangat memporak-porandakan tempat tidur hingga butuh waktu lebih lama untuk mengembalikannya serapi semula.
KLEK!
Nindya terpekik kaget, memaki karena lupa mengunci pintu terlebih dahulu sebelum Elang masuk. Posisinya yang sedang menata bantal dalam keadaan menungging membuat Elang membelalakkan mata.
"Suiuit … you are so sexy, Baby!" Siulan dan kalimat kotor Elang keluar spontan. Seketika itu juga ada suara pintu yang tidak hanya tertutup, tapi juga terkunci dari dalam. Elang terkekeh-kekeh gembira mendapati pemandangan indah di kamarnya. Serasa mendapatkan jackpot terbesar sepanjang hidupnya.
Nindya turun setelah ranjang rapi, dia harus menjelaskan pada Elang apa yang baru saja terjadi. Tapi belum sempat berbalik, Elang sudah melingkarkan tangannya di perut. Memeluk dari belakang dan langsung menyerang dengan satu kecupan di leher kanan bawah telinga. Titik lemah Nindya. "Kamu cantik sekali dengan pakaian ini!"
"Stop! Tunggu, kita harus bicara, El! Ini salah paham!" kata Nindya lirih. Tubuhnya meremang merasakan punggungnya yang melekat erat di tubuh Elang. Dengan bagian atas bokong yang terdesak oleh sesuatu yang menegang perlahan-lahan.
"Nggak apa-apa kalau cuma salah paham. Yang penting aku nggak salah paha," kata Elang serius. Kecupannya mulai menjalar ke bahu Nindya dengan mesra.
"Aku tidak bermaksud menggodamu, bisakah kamu berhenti dulu? Akan aku jelaskan semua!" pinta Nindya bersungguh-sungguh. Gelenyar yang diciptakan bibir Elang mulai mempengaruhi kewarasannya.
"Nanti saja penjelasannya! Sekarang aku cuma mau kamu!"
Melepaskan Nindya? Tidak semudah itu. Nindya sangat menggoda dengan teddy merah mudanya, tidak akan ada pria normal yang mau menunda kesenangan hanya untuk bicara. Setelah apa yang dilihatnya, tidak mungkin Elang mau mendengarkan cerita versi wanita. Yang kadang sengaja dibuat-buat untuk menunda menu utama. Tidak penting!
Apalagi di waktu pagi seperti ini, saat yang sangat sensitif bagi kaum lelaki. Elang tidak ingin dihentikan.
Elang melepas tangannya yang ada di perut Nindya dengan sukarela. Tapi sebelum Nindya bernafas lega, Elang justru memindahkan kedua tangannya untuk menangkup dada Nindya, dengan bibir yang masih bergerilya di sekitar leher dan bahu.
Nindya hampir menjerit frustasi kala Elang memaksanya naik ke ranjang. Tenaganya yang pas-pasan tak mampu melawan dominasi Elang pada tubuhnya. Nindya paham, Elang melakukan itu agar lebih bisa mengeksplorasi seluruh kulitnya dengan lebih leluasa, romantis … dan penuh erotisme.
"El, berhenti dulu! Sebentar saja!"
Elang menghentikan semua aksinya, tapi tidak melepaskan tangan Nindya yang sudah dia letakkan di atas kepala. Matanya yang penuh dengan hasrat menyandera Nindya yang salah tingkah di bawahnya. "Aku tau batasku!"
"Bukan itu, El!"
"Nggak akan sampai ke dalam, Manis! Kita bisa melakukannya dengan cara lain."
__ADS_1
Nindya kehilangan kata, Elang salah mengartikan permintaannya. Sebenarnya tidak sepenuhnya salah, lebih besar kalau situasi fatal yang sedang terjadi itu karena Nindya. Pakaiannya yang terkesan sengaja mengajak Elang senang-senang adalah alasan utama Elang menerkamnya tanpa bertanya.
Seperti singa yang sudah menandai mangsanya, Elang tidak mungkin melepaskan kesempatan langka itu. Digoda Nindya dengan cara panas sepagi itu tidak pernah sekalipun terpikirkan olehnya.
Tanpa mau mendengar lagi, Elang sudah mendekatkan bibirnya. Kembali mencium, kali ini dengan sangat lembut. Dari mulai bibir, leher hingga dada. Elang melepaskan tangan Nindya saat mendaratkan kecupan di atas puncak Nindya yang membayang tegang di bawah teddy yang dikenakannya.
Alamiah saja, kerja sama bibir dan tangan Elang di bagian sensitifnya, membuat Nindya mengerang menyebutkan nama pemuda itu berkali-kali. Benar-benar tanpa penyatuan, hanya gesekan ringan di dada dan di permukaan lembut tubuh bawah secara intensif dalam satu waktu, dan Nindya merona karena sebuah pelepasan yang dahsyat.
"El, udah!" Nindya memeluk Elang erat, menarik tubuh kokoh itu hingga menekan dadanya dengan penuh kehangatan. Nindya masih terengah saat bertanya, "Apa yang harus aku lakukan biar adil?"
"Nggak ada, aku bisa sendiri." Elang mengecup bibir Nindya sekali lagi. Tanpa tuntutan, hanya ungkapan cinta.
"Aku bisa membantu," kata Nindya ragu-ragu. "Tapi … aku belum pernah!"
Belum pernah bukan berarti tidak tau caranya. Nindya cukup umur untuk mengerti kebutuhan primitif manusia. Video cabul yang beberapa kali dilihatnya mungkin sudah saatnya dipraktekkan sekarang.
Tangan Nindya turun dari rambut untuk memegang kemaskulinan Elang yang mendesaknya. Masih berlapis dua kain, celana pendek dan dalaman. Nindya menurunkan keduanya dengan wajah merah menyala. Antara malu dan penasaran.
Elang turun dari ranjang, mengambil botol berwarna biru lalu duduk di pinggir ranjang. Dengan cengiran menggoda, Elang menarik tangan kanan Nindya agar duduk, membuka telapaknya untuk menerima gel bening kebiruan yang dikeluarkan Elang dari botolnya.
"Apa ini, El? Minyak rambut?" tanya Nindya memicingkan mata, dahinya berkerut ingin segera mendapatkan jawaban.
Elang mendekat untuk berbisik, mulutnya dekat sekali dengan telinga Nindya. "Lubricant, Manis!"
"Apa bisa di-ma-kan? Maksudku apa berbahaya jika tertelan?"
Otak Elang berkelana liar. Nindya bertanya seperti itu pasti karena berpikir akan menggunakan mulut untuk menyenangkannya. Oh Tuhan, pria mana yang sanggup menolak godaan nakal seperti itu?
Elang tersenyum memikat saat menjawab, "Pake tangan aja dulu latihannya!"
Nindya mengangguk dengan wajah cemas. Posisinya sekarang berjongkok di depan paha Elang yang sudah terbuka. Nindya memejamkan mata sebentar sebelum menyentuh, mengelus dan memanjakan Elang.
"Garang bener sih," ujar Nindya menelan ludah, menatap Elang sayu, lalu dengan kikuk mengulas senyum secantik mungkin.
***
__ADS_1