
Suatu sore ….
Dua orang berpenampilan kontras sedang membahas materi untuk kuliah minggu berikutnya. Sangat serius. Kopi yang tersaji di depan mereka bahkan belum tersentuh karena pembicaraan yang hampir tak terjeda.
Satu jam berikutnya, mereka baru bernafas lega. Segala sesuatu yang berhubungan dengan akademik telah selesai, berganti dengan acara makan siang yang sudah kesorean.
Wajah ceria si asisten melengkapi keseriusan dosennya yang memang minim senyuman. "Nggak usah pake kacamata kali, Pak! Ini ikan bakar masih kelihatan, kan? Berubah jadi ayam nggak kalau dilihat non kacamata?"
Dengan ekspresi datar, Daniel melepas kacamata dan menyimpannya dalam tas ala dosennya. "Durinya takut ada yang selip nggak kelihatan, San!"
"Sini, aku ambilin dagingnya aja, aman … nggak bakal ada duri dalam daging ikan yang Pak Daniel makan pokoknya," ucap Sandra menahan tawa.
Daniel hanya mengangguk setuju, makan dengan lahap tanpa memperhatikan Sandra yang terus menatapnya dengan lapar. "Kamu nggak makan?"
Dengan telaten Sandra memisahkan ikan yang sudah bebas duri untuk dimakan Daniel. "Ya ini sambil makan, udah mau selesai juga! Abis ini kita nonton ya, Pak!"
"Males, nggak pernah!"
"Ish … Pak Daniel ini lahir tahun berapa sih? Masa nonton bioskop aja nggak pernah!" gerutu Sandra kesal. Dia langsung mencuci tangan karena sudah menyelesaikan isi piringnya.
__ADS_1
Daniel menghabiskan makan dengan cepat, menyesap kopinya sampai habis lalu membayar makan mereka. "Ayo, aku antar kamu pulang! Udah sore!"
"Nggak mau, aku mau ditemenin nonton dulu! Lagian ini weekend."
Daniel menanggapi, keberatan dengan ide Sandra. "Ya kamu nonton sama yang lain aja, San!"
"Tanggung, Pak! Udah di mall masa iya balik ke rumah cari teman nonton trus kesini lagi?" tanya Sandra gusar. Tangannya sejak keluar dari tempat makan aktif menarik-narik lengan Daniel agar mengikuti langkahnya ke studio XXI.
Daniel berusaha melipir ke jalan lain, menghindari arah yang dimau asistennya. "San, malu aku! Aku nggak pernah nonton, Sandra …!"
"Nggak apa-apa, nggak usah malu, Pak Daniel itu ganteng! Cuma kostumnya kurang santai, masa mau makan ke mall setelannya kayak mau ngajar gini sih, mana acara pake dasi segala!"
"Ya aku kira acara makan formal, lagian nggak ada agenda nonton dalam rencana!"
"Duh … jadi aku keliatan tua ya, San? Aku kayak om-om senang berarti ini, jangan panggil pak kalau di tempat begini, San! Aneh dengernya …!" Daniel suka Sandra manja padanya, tapi ketika orang melihat dan mendengar Sandra memanggilnya 'pak', rasa malu Daniel memuncak di ubun-ubun. Seolah-olah orang menilai bahwa dia adalah orang tua labil yang suka kencan dengan gadis muda.
Senyum Sandra merekah, "Jadi aku boleh panggil mas? Kalau panggil ayang boleh nggak, Pak? Sandra nggak punya 'yayang' loh ini, kasihan banget kan malam Minggu malah keluar bahas materi kuliah sama dosennya?"
Daniel ikut tertawa kecil mendengar kalimat blak-blakan asistennya. "Ya salah kamu sendiri kenapa nggak punya pacar! Kamu cantik, pinter juga, apalagi yang kurang?"
__ADS_1
"Kurang beruntung kayaknya, Pak!"
"Kok pak lagi? Lama-lama dah kayak bapakmu aja aku ini!" kata Daniel datar.
Sandra nyengir tanpa melepas tangan Daniel. "Kita nonton horor aja hari ini ya, Mas? Pas nggak sih aku panggil mas? Enak didenger nggak? Mas … Daniel, cocok juga kayaknya"
"Terserah kamu!" Daniel menjawab dengan suara pelan. Panggilan Sandra yang terkesan manja entah kenapa sedikit memicu hormon lelakinya.
Sampai di depan loket studio, Sandra sengaja memilih film horor yang paling sepi peminat, memesan tempat duduk paling atas, tepat di pojok kiri. Benar-benar seperti ABG yang ingin memanfaatkan situasi sepi dalam studio untuk bertingkah sedikit nakal dengan pacarnya.
"Aku nggak suka nonton, San! Apalagi horor!" keluh Daniel. Tangannya masih ditarik untuk masuk ke dalam studio karena film hampir dimulai.
"Inget, Mas punya hutang sama aku di Cilacap! Udah biarin aku kayak orang bodoh cuma buat nunggu satu ciuman yang nggak pernah nyampe sini!" Sandra menunjuk pipinya dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat. "Mas udah setuju mau bayar dengan yang lain, jadi nonton ini aku anggap pelunasan!"
Daniel berdecak panjang, hubungannya dengan sang asisten yang kian dekat mengganggu konsentrasi pernikahannya dengan Nindya. Sedikit banyak ada hal-hal yang dibandingkan oleh Daniel dari dua wanita itu. "Oke, setelah ini nggak ada acara-acara gini lagi ya, San, hutangku lunas dan aku sibuk!"
Sandra mengulum senyum kemenangan. Dia langsung duduk di pojokan, menarik tangan Daniel agar merangkulnya lalu menyurukkan kepala ke dada dosennya. Dengan nada penuh tawa tengil dia menjawab permintaan Daniel, "Iya janji."
Daniel mengerang salah tingkah dengan kelakuan Sandra padanya. Dia hanya menatap Sandra yang sedang mendongak cengengesan padanya. Rasa-rasanya Daniel ingin membungkam bibir yang merekah tak jauh darinya itu, tapi tidak ada keberanian yang terkumpul hingga film dimulai.
__ADS_1
Ah, sepertinya Sandra memang harus lebih banyak punya inisiatif untuk memulai segala sesuatu lebih dulu! Daniel benar-benar pria mapan yang kaku.
***