
Mbok yo sing full senyum sayang
Ben aku soyo tambah sayang
Rasah pusing-pusing
Gek ndang dandan ayo kita healing
(Evan Loss - Full senyum sayang)
Nindya terkikik mendengar Elang bernyanyi. Lirik lagu itu serasa menyindirnya. Suara Elang tidak terlalu buruk karena diiringi petikan gitar, lucu karena ada ekspresi nakal yang ditunjukkan dengan dua alis naik turun bergantian untuk menggodanya. Juga kedipan sebelah mata dan cium jauh yang membuat Nindya sedikit salah tingkah, lalu menutupinya dengan tertawa.
Halaman belakang rumah Elang sedang sibuk dengan acara barbecue dadakan. Kedatangan Nindya yang berwajah muram membuat ibu Dewa memiliki ide untuk membuat kesibukan. Begitu malam tiba, lokasi langsung disulap sebagai tempat bakar-bakaran.
Bau ikan, ayam, jagung menguar dari asap bakaran. Tiga orang wanita, termasuk asisten rumah tangga sedang sibuk memasak, sedangkan Elang hanya duduk sambil memetik gitar. Bernyanyi dengan suara seadanya. Sesekali berputar mencicipi hasil bakaran Nindya sembari menenteng gitar seperti pengamen betulan.
Suasana sudah berubah ceria entah dari sejak kapan, yang jelas wajah Nindya tidak lagi suram. Banyak senyum tercetak, dan banyak cerita keluar untuk mengimbangi ibu Dewa yang aktif mengajaknya bicara.
Nindya membawakan Elang ikan dan juga ayam yang sudah matang. Mereka duduk berhadapan di sudut taman dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang. "Cobain yuk! Aku yang masak, tapi ibu kamu yang bikin bumbunya."
Elang membuka mulut ketika Nindya mengulurkan tangan untuk menguapkan makanan. Elang mengunyah sambil bergumam, "Hm … enak!"
"Kayaknya semua makanan nggak ada yang gak enak kalau kamu yang makan," ujar Nindya geli melihat cara Elang makan. Lahap dan semangat, rasanya belum pernah dia mendengar Elang berkomentar buruk soal makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Memang enak kok!" puji Elang tulus. "Ohya mau kemana setelah ini, biar fresh?"
"Ini udah fresh setelah di panggang," jawab Nindya cekikikan. "Thanks ya El, acaranya sukses bikin aku seneng!"
"Mau ke Malioboro?"
Nindya menggeleng, "Nggak ah, ntar ada yang lihat lagi. Pulang aja, mau tidur."
"Nah itu … masih mikirin yang tadi?" Elang menyuapkan daging ayam penuh bumbu ke mulut Nindya.
"Aku harus menjelaskan yang sebenarnya pada Daniel, salah paham sore tadi harus diluruskan, El." Nada enggan terdengar jelas dari kalimat yang keluar dari bibir Nindya.
Elang menaikkan sebelah alisnya, "Aku yakin Pak Daniel lebih percaya dengan indera penglihatannya dibandingkan siapapun. Untuk apa kamu jelaskan lagi? Sudah tidak ada rasa percaya darinya untukmu, semua sudah diungkapkan lewat kalimat kasar dan merendahkan di parkiran. Kamu juga dengar sendiri tadi."
"Tapi semua memang salahku, El! Aku sudah merusak semua rencananya. Yah … walaupun aku juga sangat kecewa dan sakit hati dengan ucapannya yang sangat menghina!"
__ADS_1
"Kalau kamu merasa bersalah cukup minta maaf, nggak perlu kembali padanya. Kamu punya banyak nilai minus di matanya sekarang, suatu saat itu akan jadi masalah besar ketika dia marah. Bisa jadi lain waktu, bukan hanya kata kotor yang keluar, tapi diikuti dengan tindakan kasar dan sejenisnya! Itu menurutku," ucap Elang penuh logika.
Nindya menari nafas berat, "Kalau saja kita tidak pergi nonton …."
Elang langsung menyela kalimat Nindya, "Kalau kita nggak pergi kamu nggak akan tau kalau tunanganmu juga pergi ke mall sama asistennya. Entah untuk urusan apa tapi rasanya agak ganjil. Apalagi tadi Pak Daniel bilang tau gosip kita di kampus dari Sandra. Artinya mereka cukup dekat, lebih dari sekedar urusan dosen dan asisten."
"Ya, Daniel juga nggak sepenuhnya jujur sama aku. Memang dia bilang kalau mau bertemu Sandra, tapi nggak ngasih info kalau mereka mau pergi ke mall," kata Nindya mengungkapkan isi hatinya.
"Trus?" tanya Elang tak sabar.
"Cukup aneh sih, soalnya Daniel itu nggak pernah pergi ke tempat-tempat seperti itu. Aku kenal tabiatnya." Nindya mencoba berpikir jernih. Hubungannya dengan Daniel memang merenggang akhir-akhir ini, tapi ternyata bukan murni karena kesibukan. Kecurigaannya pada Sandra baru saja terbukti sore tadi.
Elang memperjelas maksudnya dengan berbicara lebih banyak, "Aku tidak mau mengintervensi keputusanmu, tapi sebagai laki-laki aku jelas tidak bisa menerima kalau tunanganku berada satu mobil dengan pria lain dan terindikasi sedang melakukan perselingkuhan."
Nindya mendengarkan Elang dengan seksama, pikirannya kembali rumit. Semua penilaian Daniel sudah disampaikan secara blak-blakan tadi, jadi apalagi yang bisa Nindya lakukan untuk memperbaiki situasi. Tidak ada!
Mungkin menunggu kata putus dari Daniel, tepatnya kalimat pamungkas untuk membatalkan pernikahan mereka. Mau tidak mau Nindya harus siap dengan resiko itu.
Beruntung uang Daniel masih utuh, belum ada pengeluaran apapun untuk persiapan pernikahan yang kebetulan selalu mundur dari jadwal.
"Apa menurutmu Daniel juga berselingkuh dengan Sandra? Apa pendapatmu, El?" tanya Nindya frustasi.
"Sandra temanmu, aku ingin tau hubungan mereka yang sebenarnya!"
"Gimana kalau aku tanya langsung sama Sandra? Tapi kalau dia jawabnya nggak jujur?"
Nindya menanggapi lirih, "Cari tau saja kebenarannya, terserah bagaimana caranya. Kalau bisa aku ingin lihat mereka sedang berduaan di depan mataku sendiri. Itu akan mempengaruhi keputusan yang akan aku ambil, El."
"Beneran siap dengan apa yang mungkin kamu lihat?"
Dengan seulas senyum kecut, Nindya mengangguk muram. "Harus siap! Toh sepertinya hubunganku dengannya memang akan berakhir. Kecil kemungkinan bisa diselamatkan."
"Ya udah aku usahakan secepatnya tau kebenaran hubungan Sandra sama pak Daniel. Kamu mau aku antar pulang sekarang? Baru jam setengah sembilan, atau nginep aja? Kamu bisa tidur di kamarku."
"Pulang aja kayaknya, El! Nggak enak sama ibu kamu!" tolak Nindya halus.
"Kalau aku yang nginep di rumahmu, boleh?"
Nindya tergelak ringan, "Nyari kesempatan? Secara resmi aku belum putus dengan Daniel, El."
__ADS_1
"Putus atau nggak tetep aja ada kesempatan untukku, kamu nggak bisa menolakku!"
"Pede banget!"
"Kamu sendiri yang bilang kalau kamu juga cinta sama aku!" tukas Elang dengan seringai tengil. "Aku anter jam sepuluh nanti ya?"
"Trus sekarang mau ngapain lagi? Itu muka kamu nggak apa-apa? Sakit?"
"Masih sakit pas jatuh dari manjat dinding! Gimana ini, mau karaoke? Atau kita main bola sodok?" tanya Elang sembari menunjuk ruang tempat meja biliar berada, terlihat jelas dari tempat mereka karena berdinding kaca.
"Mana bisa aku main itu, El? Belum pernah coba sekalipun!"
"Ayo aku ajari," paksa Elang, toh acara makan sudah selesai.
"El, aku beneran nggak bisa!"
Tangan Elang sudah menarik jari-jari Nindya untuk mengikuti langkahnya ke ruangan yang dulu kerap digunakan untuk bermain dengan sang papa. "Sodok menyodok itu olahraga gampang, Manis!"
Nindya memukul lengan Elang yang berguncang karena terkekeh-kekeh. Ekspresi Elang benar-benar mengisyaratkan maksud lain dari kata dasar sodok.
"Aku nggak tau cara mainnya, kamu dibilangin susah amat sih!"
"Sini kamu! Gini cara mainnya!" kata Elang sambil menunjukkan cara memegang stik dan bermain bola sodok dengan mudah.
Tak lama, suara cekikikan mereka berdua terdengar nyaring dari ruang biliar, bersahutan dengan suara bola-bola bertabrakan.
Elang sengaja memeluk Nindya dari belakang, mengarahkan tangan Nindya yang sedang memegang stik agar mendorong bola-bola bernomor yang sudah tersebar acak di atas meja biliar satu persatu.
Namun, gagal masuk selalu jadi kendala. Masalahnya ada di Nindya yang tidak bisa berkonsentrasi. Bagaimana bisa Nindya tidak geli jika tubuh Elang sering sekali menempel padanya saat mengajar menyodok bola? Gerakan vulgar yang selalu membuat fokus Nindya bubar.
Gesekan bagian bawah Elang pada bokongnya sungguh bisa membuat orang salah sangka jika melihatnya. Untung saja ibu Dewa memilih menonton televisi ditemani asisten rumah tangga di ruang keluarga. Papa Elang belum pulang, begitu juga dengan Dewa.
"El, kamu iseng banget sih ambil posisi ngajarnya!"
"Iseng gimana, kalau aku nggak di belakang kamu mana bisa menentukan arah bola sesuai pandangan mata kamu?"
Nindya tidak tau harus menjawab apa lagi. Meski keki bercampur kesal, nyatanya Nindya justru banyak terkikik karena geli.
Sungguh kelakuan nakal yang mengundang tawa mereka terdengar hingga ruang keluarga.
__ADS_1
***