Musim Bercinta

Musim Bercinta
Drama Pagi


__ADS_3

Nindya masuk rumah hampir pukul sepuluh malam. Lelah karena seharian beraktivitas di luar. Rasa kecewanya pada Daniel dibayar lunas oleh Elang. Nindya mencium kulit tangannya, masih wangi lotion pelembab.


Dosen muda itu tidak ingin mandi lagi, tidak ingin menghapus bau Elang hingga esok pagi. Dia ingin membawa kenangan yang baru saja terjadi ke dalam mimpi.


Nindya mengganti dressnya dengan piyama tidur dan menggosok gigi. Beberapa catatan ditulis Nindya pada buku pribadinya di ruang perpustakaan, yang hanya berisi kenangan indah. Bagi Nindya, keburukan tak perlu diabadikan dalam kenangan.


[Satu lagi masa kulalui denganmu, El. Bersama kita habiskan senja di sini, menatap hamparan ombak yang lari berkejaran, disepuh cahaya emas sang surya yang akan kembali ke peraduan.


Duduk saling bersandar, tanpa tau masa depan akan seperti apa. Biarlah … saat ini aku tidak peduli, aku hanya ingin merekam keindahan dan kemesraan ini agar selalu terpatri dalam hati. Dalam kenangan kita saat menatap senja indah dari bukit Parangndog.]


Nindya menutup buku harian, menyimpannya di laci baru menuju kamarnya. Tidurnya lelap, terlalu lelap hingga tak sempat bermimpi. Satu-satunya gangguan kecil yang mengusik di waktu pagi adalah dering ponselnya yang memanggil hingga tiga kali.


Daniel menghubunginya, tapi Nindya enggan beranjak mengambil ponselnya yang tergeletak di perpustakaan. Butuh beberapa waktu bagi Nindya untuk membuang rasa kantuk dan beranjak dari tempat tidur.


[Nin, aku nggak bisa ikut ketemuan sama orang WO. Kamu sendiri bisa, kan? Atau kamu atur ulang aja jadwal ketemu mereka, mundurkan pertemuan ke Minggu depan?]


Nindya membalas pesan Daniel, [Kamu ada acara hari ini? Asisten kamu belum bisa pulang?]


[Sudah boleh pulang, cuma kondisinya masih belum baik. Dia di sini tinggal di kost, nggak ada yang bantu jaga kalau butuh apa-apa.]


[Maksudnya gimana?] Nindya menunggu pesan balasan dengan perasaan kecewa. [Kamu mau nemenin asisten kamu di kost?]


[Aku mau nganter dia pulang ke Cilacap, dia butuh istirahat beberapa hari. Aku pikir lebih baik dia di rumah sama keluarganya, kasihan kalau harus sakit di kost, nggak ada yang ngerawat.]


[Harus kamu yang nganter?] Nindya mengernyit heran.


[Memangnya siapa lagi? Teman Sandra yang namanya Elang katanya nggak punya SIM, jadi nggak berani keluar kota.]


Nindya termangu, benarkah Elang tidak memiliki surat izin mengemudi? Seingat Nindya Elang pernah mengatakan punya saat mereka terlibat ciuman di lift.


[Oh ya udah, hati-hati di jalan!] balas Nindya pada akhirnya.


[Oke, aku nanti langsung berangkat setelah mengurus semua administrasinya.]


Balasan dari Daniel membuat Nindya terhenyak. Bagaimana bisa Daniel lebih peduli dengan asistennya dibanding dirinya?


Daniel bahkan tidak datang ke Semarang saat dia menjalani kuretase. Apa karena itu bukan anaknya sehingga Daniel merasa tidak perlu menjenguknya? Apa dalam diamnya Daniel memendam perasaan kecewa karena terhianati tanpa sengaja? Lalu kenapa Daniel tetap kekeh menawarkan pernikahan padanya?


Tapi Sandra, begitu istimewanya hingga pulang ke rumah harus diantar Daniel dengan mobil pribadinya. Nindya mengerang dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak bisa menjelaskan rasa sakit yang menghujam dadanya.


Nindya mengusap air mata yang nyaris jatuh. Hari masih terlalu pagi untuk menangis. Daniel mungkin hanya berniat membantu, tidak ada maksud lain apalagi bermain api dengan asistennya di belakang Nindya. Meski kepercayaan sedikit terkikis, tapi Nindya berusaha mengembalikan jalan pikirannya yang kacau agar lurus kembali.


Jika Daniel tidak serius padanya, tidak mungkin pria itu meminta Nindya untuk mempersiapkan pernikahan, juga menyerahkan uang yang tidak sedikit untuk membiayai acara pesta mereka.

__ADS_1


Nindya mandi dengan pikiran rumit. Moodnya sudah berantakan untuk bertemu WO, dia memutuskan untuk mengatur ulang jadwal dengan orang WO menjadi Minggu depan. Nindya pagi ini berencana menemani Elang ke makam mamanya sesuai janji, lalu pulang ke Semarang untuk bertemu ibunya.


Dress selutut motif sakura jadi pilihan Nindya untuk mengisi Minggu pagi yang cerah. Situasi yang berkebalikan dengan suasana hatinya yang mendung. Make up no make up alias riasan yang tidak kentara mempercantik wajahnya yang memang sudah cantik.


Tadi, Nindya berpikir berpenampilan seperti itu untuk Daniel. Agar tunangannya itu melihatnya sedikit berbeda. Tidak menyangka kalau hasil akhirnya malah untuk memanjakan mata Elang.


Dengan decak kesal, Nindya berangkat menjemput Elang di kontrakannya. Pemuda itu tidak membawa kendaraan apapun karena kemarin seharian bersama dirinya. Hampir pukul delapan, Elang tidak mengangkat teleponnya, pasti masih tidur nyenyak karena hari libur.


Benar saja, sampai di kontrakan Elang yang mempersilahkan masuk Nindya bukan Elang, tapi asisten rumah tangga yang sedang mengepel lantai teras.


"Mas Elang belum bangun kayaknya, soalnya belum turun untuk sarapan. Mbak ke atas aja, saya sungkan mau membangunkan. Kalau libur biasanya sampai jam sembilan masih tidur."


Nindya tersenyum dan mengangguk. "Iya, permisi."


Rumah masih sepi. Seingat Nindya, Elang pernah bercerita kalau tinggal dengan dua temannya. Mungkin mereka juga belum bangun. Anak muda selalu menghabiskan malam Minggu dengan begadang dan bangun siang keesokan harinya.


"El, El …." Nindya mengetuk pintu beberapa kali baru mendapatkan sahutan. Tak lama, pintu terbuka.


"Ada apa, Bu?" Suara Elang masih serak khas bangun tidur, begitu juga dengan wajah dan matanya. Dia juga menguap tak sopan di depan dosen pembimbingnya. "Apa kita ada janji?"


Nindya menatap wajah tampan yang masih mengantuk di depannya dengan heran, "Kemarin bilang mau ditemenin ke mama kamu, nggak jadi? Ya udah aku pulang ke Semarang kalau gitu."


Elang membuka pintu lebih lebar, menarik Nindya ke dalam kamar dan menutup kembali pintunya. "Aku lupa, maaf."


"Jam dua kayaknya," jawab Elang seraya membereskan meja belajarnya yang berantakan oleh berkas penelitian. "Duduk sini!"


Nindya duduk di kursi belajar, memperhatikan Elang merapikan tempat tidur, melipat selimut dan menata bantal agar tepat pada posisinya. Dia tersenyum senang karena Elang tipe orang yang menyukai kerapian dalam ruangan.


"Aku mandi sebentar, kamu udah sarapan?" Elang menoleh sekilas.


Nindya menjawab, "Belum."


"Mau sarapan ala anak kost?"


"Dih, nggak enaklah sama teman-teman kamu. Kita makan di luar aja nanti setelah pulang dari tempat mama kamu."


"Oke, tunggu sepuluh menit." Elang keluar kamar untuk mandi.


Nindya mengambil bingkai berisi foto Elang dan mamanya, memperhatikan seksama wajah cantik yang sudah tidak ada di dunia. Elang mirip mamanya lebih banyak daripada papanya. Nindya mengeluarkan ponsel, mengabadikan foto itu untuk koleksi galeri pribadinya.


Samar-samar, Nindya mendengar suara perempuan menanyakan Elang pada asisten rumah tangga. Tak lama, perempuan itu mengobrol dengan seseorang. Kalau dari suaranya, Nindya menebak itu suara Arga dan si perempuan adalah … Vivian.


"Lagi apa, Bang?"

__ADS_1


"Ini mau bikin kopi, mumpung ada roti sisa semalam!"


Oh shi*! Jantung Nindya seketika deg-degan, dia memutar otak dengan cepat. Vivian pasti datang membawakan Elang sarapan, dan setelah sarapan pasti dilanjutkan dengan kencan.


Memikirkan hal itu, emosi Nindya meluap. Dia tidak akan memberikan kesempatan pada Vivian untuk mendekati Elang. Menurut Nindya, Vivian terlalu agresif, tidak cocok untuk Elang karena tidak membawa kebaikan seperti Mayra.


Namun, bertemu Vivian di kamar Elang juga tidak menguntungkan bagi Nindya. Harga dirinya sebagai pendidik pasti jatuh kalau Vivian melihatnya ada di ruang pribadi Elang sepagi ini di hari Minggu. Tidak mungkin dia membuat alasan Elang sedang ada jadwal bimbingan dengannya.


"Kak El udah bangun?" tanya Vivian pada Arga.


"Lagi mandi kayaknya, aku juga belum ketemu, baru pulang jogging."


Nindya mencari tempat dimana dia bisa bersembunyi. Tidak ada ruang yang bisa menampung tubuhnya selain lemari. Tapi Nindya tidak cukup bodoh mau bersembunyi di sana dan diam menunggu saat Vivian masuk ke dalam kamar sementara Elang belum selesai mandi.


Nindya pusing sendiri dengan reka adegan yang harus terjadi. Bagaimana setelah Elang sampai kamar? Vivian tidak mungkin datang hanya dengan sapaan biasa, perempuan centil itu pasti akan mencium Elang, atau memeluk?


Ah, Nindya bahkan berpikir Vivian akan langsung menggoda Elang yang baru selesai mandi dengan tonjolan tubuhnya. Selanjutnya mereka berdua melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar peluk cium, sementara dia hanya mendengarkan aktivitas ranjang dan lenguhan mereka dari dalam lemari? Tidak bisa! Enak saja!


Sesuatu yang dilihat Nindya di dalam lemari Elang membuat Nindya mendapatkan ide gila. Nindya segera melepas seluruh pakaiannya dan melempar asal-asalan ke lantai ruangan. Tubuh polosnya yang terkena penyejuk udara sedikit meremang.


"Sarapan, Vi!" ajak Arga ramah di pendengaran Nindya.


"Aku sarapan sama kak El aja bentar lagi, pingin ajak keluar dia makan gudeg!"


Nindya mengambil paper bag yang berisi hadiah yang diberikan Elang untuknya. Mengambil teddy merah muda pilihan Elang dan sesegera mungkin mengenakannya. Pas dan sangat seksi. Nindya agak bergidik saat menatap cermin, puncak dadanya tercetak menantang dan bagian bawahnya terlihat sangat menggoda. Penampilannya benar-benar terlihat nakal dan menggemaskan bagi kaum adam.


Dengan cekatan, Nindya menggosok kasar rambutnya agar terlihat sedikit acak-acakan, mengusap lipstiknya dengan tissu agar terkesan habis, memudar karena bekas ciuman yang tak berkesudahan.


Untuk efek lebih meyakinkan, Nindya menarik sprei agar kendur dan berantakan, juga menjatuhkan guling di samping ranjang. Mengurai selimut yang baru dilipat Elang dan terakhir Nindya naik ke atas ranjang. Mengambil posisi tidur membelakangi pintu, lalu menyelimuti tubuhnya sebatas dada ke bawah saja.


"Aku cuma bawa cake, ini satu buat Bang Arga!" Suara Vivian terdengar samar-samar di lantai bawah.


Arga menukas, "Thanks ya, Vi! Jadi ngerepotin nih."


"Ya udah aku naik dulu ya, aku tunggu kak El di kamarnya aja!"


"Oke."


Mendengar suara heels naik tangga, Nindya menurunkan selimut sebatas bokong, sedikit tengkurap, mengekspos punggung dan bergaya natural orang tidur. Persis seperti perempuan yang kelelahan karena habis digarap semalaman, hingga belum bangun walaupun hari menjelang siang.


Kalau perkiraannya benar, begitu membuka pintu Vivian akan langsung balik kanan tanpa perlu melihat wajah siapa yang sedang setengah telanjang di atas ranjang Elang. Sebelumnya, dia sudah meyakinkan diri di telepon sebagai tunangan Elang. Nindya hanya perlu memberikan pemandangan kalau Elang memang sengaja menyembunyikan tunangannya untuk memanfaatkan Vivian.


***

__ADS_1


^^^Part dedicated : ketua KFC, kak Andini (komen saya abadikan sebagai catatan Nindya). Top silver fans : kak Ika, kak Irva, kak Ai Emy, kak Winda, dan semua pendukung Bad Boy in Love, terima kasih banyak atas support baik itu like, komen, hadiah, vote, rate ataupun hanya dibaca saja - Al ^^^


__ADS_2