
Dua jam penuh Elang menyajikan materi seminar dan sesi tanya jawab yang tidak ada habisnya. Sepertinya, teman seangkatannya kompak untuk iseng mengerjai Elang dengan memberikan banyak pertanyaan.
Meski sesekali dibantu oleh ketua jurusan sebagai dosen pembimbing untuk menjawab, Elang tetap memaki dalam hati ulah teman-temannya yang tidak mempermudah seminar sebagai langkah akhir selesainya mata kuliah penelitian.
Mungkin karena iri Elang mendapatkan bahan spesial untuk diteliti, atau mungkin karena waktu yang dibutuhkan Elang untuk menyelesaikan tugas akhir I terlalu cepat. Tidak sampai tiga bulan.
Saat waktu berakhir, Elang mendapatkan ucapan selamat dari Pak Ronald, dua dosen penguji dan semua teman-teman undangan dari teknik kimia yang hadir dalam seminar.
Penelitian Elang tergolong sukses karena bisa membawa proyek kampus pada tahap berikutnya, yaitu menaikkan sumber air tanah yang telah teruji dari dalam goa untuk didistribusikan ke desa dan dijadikan kebutuhan sehari-hari oleh warga sekitar.
"Sukses ya, El!" Mayra menjabat tangan Elang paling akhir. "Bisa langsung skripsi itu, jaminan lancar kamu sama Pak Ronald nanti! Aku yakin tiga bulan kelar, bisa wisuda periode semester ini kamu, El!"
"Thanks, sukses buat kamu juga, May! Moga-moga bisa lulus bareng."
"Kayaknya kamu bakal lulus lebih dulu deh … oh ya ngomong-ngomong kemana Bu Nindya? Kok cepet banget ilangnya, padahal tadi masih sempat ngasih masukan buat revisi laporan!"
Elang mengedikkan bahu, dia memang tidak tau kemana dosennya pergi setelah seminar dinyatakan selesai. "Di lantai empat mungkin."
"Ayo aku bantu beres-beres!" Dengan sigap Elang dan Mayra membersihkan ruangan tempat seminar. Mengumpulkan sisa sampah snack dan mengatur kembali ruang itu seperti sedia kala.
"Thanks ya, May! Kamu yang terbaik," ucap Elang sembari menutup ruang seminar dari luar.
Mayra tersenyum, anggukan kepalanya terasa ringan. "Kamu juga teman terbaikku, El!"
Kata 'teman' yang ditegaskan Mayra serasa menusuk hati Elang. Mereka memang hanya berteman karena Elang tidak pernah memulai langkahnya untuk bersama Mayra dalam sebuah hubungan asmara.
"Besok kamu ada waktu buat makan siang bareng? Aku mau traktir kamu sebagai ucapan terima kasih."
"Nggak perlu, El! Kamu udah sering banget traktir aku. Sekarang aku udah ada teman untuk makan siang tiap harinya," tolak Mayra halus.
Elang menyoroti Mayra yang menghindari bertatap mata dengannya, "Siapa, May? Boleh aku tau?"
__ADS_1
"Aku pulang duluan ya, El!" Mayra pamit tanpa menjawab pertanyaan Elang.
"Kamu pulang bareng siapa, May?"
"Toni," jawab Mayra masih tanpa menatap Elang.
"Nggak boleh!" Spontan suara keras Elang keluar, lalu melembut dengan sendirinya. "Maksudku kamu pulang sama Dewa aja ya! Aku suruh dia kesini sekarang, tunggu bentar bisa, kan?"
Mayra menarik nafas berat, "Aku nggak mau ngerepotin orang lain, El. Lagian Dewa juga pasti punya kesibukan."
"Jadi Toni bukan orang lain buat kamu? Apa statusnya dia? Aku ketinggalan berita apa, May?" Elang bertanya serius pada Mayra. Menghadang langkah gadis itu yang hampir pergi dari sebelahnya.
"El, aku memutuskan untuk menerima Toni, maaf …!" Tanpa memperdulikan Elang, Mayra berjalan tergesa ke arah Toni yang sudah menunggu tak jauh dari mereka.
"Mayra …!" Elang menggertakkan gigi menahan emosi, sementara Toni menatap dengan seringai mengejek. Tangannya langsung merangkul bahu Mayra dan menggiring gadis itu menuju tempat parkir kendaraan.
Mungkin apa yang dikatakan Nindya benar, Elang terlalu egois menjaga Mayra. Mengekang tanpa landasan apa-apa. Mayra butuh cintanya, dan jelas putus asa ketika menyadari dia justru tergila-gila pada dosen pembimbingnya.
Benar-benar sial! Elang harus bicara serius dengan Dewa sebelum nasi yang sudah jadi bubur justru busuk oleh bakteri pengurai.
[Kamu dimana, Manis? Aku udah reservasi tempat makan buat kita!] Elang mengirim pesan pada Nindya. Hampir pukul satu, Elang ingin merayakan keberhasilan seminarnya dengan makan siang istimewa bersama sang dosen pembimbing.
[Aku udah pulang, batalkan reservasi tempatnya! Kita makan di rumah saja!]
Membaca pesan balasan dari Nindya tak urung membuat Elang semakin kesal. Dengan tak sabar, dia menelpon dan meminta semua pesanannya diantar ke rumah Nindya.
Dosen muda itu benar-benar merusak rencana yang sudah disusunnya dengan matang. Elang harus mengatur ulang semua secepatnya. Dia sibuk dengan ponselnya untuk beberapa waktu.
Elang masih belum beranjak dari tempatnya, tangannya sibuk membalas beberapa pesan ucapan yang masuk ke ponselnya. Dia juga tampak menelpon beberapa kali sebelum membuka pesan dari Sandra.
[Selamat ya, El! Ayo kapan traktirannya? Aku mau cerita sesuatu sama kamu, penting!]
__ADS_1
[Sekarang aja kalau penting banget! Aku ada waktu 30 menit] balas Elang. Sejujurnya dia juga ingin ketemu Sandra, dia butuh bertukar informasi akurat dan mungkin juga langkah yang harus diambil selanjutnya.
[Kalau sekarang aku yang nggak bisa, aku ada asistensi kelas! Ya udah aku ceritain di sini aja ya … intinya sih aku cuma mau ngucapin terima kasih. Aku perjelas lagi soal telepon kita yang terputus kemarin, voucher penginapan dua malam dari kamu udah aku pakai buat malmingan, eh plus malam Senin ding hehehe, udah itu aja, soal sama siapa kamu pasti udah tau. Btw kamu pasti penasaran aku ngapain aja dua malam di sana?]
[Sialan, tanggung bener kamu kalau cerita!]
[Simpulin aja sendiri, udah gede ini! Eh jangan lupa bayar taruhan sesuai kesepakatan, tiga kali lipat ya, Ganteng!]
Elang menaikkan kedua alisnya sambil mengetik pesan, [Aku butuh bukti buat validasi]
[Ah brengsek kamu, El. Awas aja kalau sampai tersebar]
Selanjutnya Elang menerima tiga foto romantis sedikit panas dari Sandra sebagai bukti. Juga nomor rekening dengan caption peringatan untuk menghapus jejak kejahatan mereka.
Elang membuka akun perbankan di ponselnya dan mentransfer sejumlah uang yang telah disepakati.
[Done, cek!] Elang mengirim pesan beserta bukti pengiriman uang ke rekening Sandra.
[Thanks. Oh ya El, kalau ada voucher kayak kemarin yang nganggur alias nggak kepake tolong hubungi nomor ini ya! Beneran aku sayang sama kamu kalau gini akhir ceritanya, kamu benar-benar teman terbaik, El] Emoticon tertawa lebar plus mata dengan bentuk hati menjadi akhir pesan Sandra.
"Kamu sungguh teman yang sangat sinting dan tidak beradab, San!]
[Fine, urusan kita kelar ya! Aku ingetin skali lagi jangan lupa bersih-bersih ponsel. Bye-bye, El!]
Elang menyudahi urusan dengan Sandra dan menghapus semua jejak pesan Sandra di ponselnya, tak terkecuali foto yang jadi bukti kenakalan mereka. Langkah yang diambilnya hari ini sudah benar, membuat kejutan untuk Nindya.
Kali ini rasa kesalnya mereda, berganti dengan rasa lega tak terkira. Keberhasilan Sandra bisa jadi titik balik bagi Nindya. Elang berdoa semoga wanita itu tidak trauma pada pria. Karena kalau itu terjadi, Elang masih harus banyak berusaha untuk mengembalikan kepercayaan Nindya plus mengobati luka hatinya.
Ah … mendapatkan seorang Nindya ternyata memang tidak pernah mudah! Harus dengan banyak pemaksaan.
Elang naik ke lantai empat untuk mengurusi surat pengembalian ruang dan perlengkapan seminar sebelum berangkat ke rumah Nindya.
__ADS_1
***