
Nindya menyelesaikan dandanannya lebih cepat. Make up no make up favoritnya terpulas sempurna di wajah. Rambut bergelung indah, mengekspos leher jenjang dan sebagian bahunya. Dia juga membantu merapikan Elang agar terlihat tanpa cela di acara keluarganya.
"Kamu ganteng banget sih, bikin khawatir aja!" gerutu Nindya dengan bibir mengerucut sebal.
"Ya trus aku harus gimana?"
Nindya mengedikkan bahu, "Dah ah beres semua, ayo berangkat sekarang! Inget, mata nggak usah kemana-mana!"
"Emang pernah kamu lihat aku jelalatan?"
"Entahlah!" Nindya menggeleng ringan. Memang harus diakuinya, kalau Elang bukan tipe mata keranjang yang selalu saja menolehkan kepala atau melirik genit saat ada perempuan lain di dekat mereka.
Elang mengemudi sesuai arahan Nindya. Dia tidak begitu hafal dengan jalan-jalan di kota Semarang. Sesekali berkunjung ke kota itu jika hanya ada kegiatan kampus. Itu pun tidak bisa dibilang sering.
Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di gedung serbaguna yang sudah disulap menjadi tempat resepsi pernikahan.
"Pegang tanganku," perintah Elang pada Nindya ketika sudah turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam gedung dengan dekor mewah sebagai tamu keluarga.
Sepupu Nindya cukup mujur karena mendapatkan suami dari kalangan orang banyak harta, sehingga pesta pernikahan pun digelar jauh dari kata sederhana.
Beruntung Nindya dan Elang memakai pakaian yang pantas, pilihan ibu Nindya sangat sesuai dengan tema acara tersebut. Mereka terlihat serasi sebagai pasangan muda yang sedang jatuh cinta. Ups … sepertinya baru Elang yang sangat jatuh cinta.
"Hm, ide bagus! Aku kurang nyaman dengan heels ini, terlalu tinggi!" Nindya mengaitkan tangan pada lengan mahasiswanya, selain agar tampak mesra sebagai pasangan, Nindya butuh bantalan kuat jika ada yang menyindir statusnya yang masih melajang di usia 28.
Masalahnya tidak sederhana, sepupu Nindya yang sedang menggelar pesta pernikahan bahkan belum genap berusia 23 tahun.
"Kenapa nggak pakai yang non heels?" Elang melangkah lebih lambat agar Nindya tidak tertinggal. "Kamu bawa alas kaki cadangan?"
Nindya menggeleng ringan. "Nggak, lagipula kita nggak akan lama-lama di sini, yang penting udah setor muka sama keluarga, terutama ayah!"
"Kalau cuma sebentar kenapa harus ribet pake heels tinggi segala? Kamu seneng bener cari susah," ujar Elang tak paham.
"El … aku harus tampil cantik, kita berdua memiliki perbedaan yang cukup jauh, heels ini membantuku agar tidak terlalu aneh saat jalan di sebelahmu! Aku butuh ini untuk menambah tinggi badan kalau kamu masih nggak paham masalahnya!"
__ADS_1
"Kontras itu menarik!" Elang menaikkan sebelah alisnya saat menjawab, "Aku suka cewek kecil."
"Maksudmu cewek pendek? Sejak kapan?" tanya Nindya seraya menyeringai tak senang. "Vivian tinggi."
"Apa ada masalah kalau mulai sekarang aku berubah haluan?"
Nindya menggeleng dengan senyum terkulum, sama sekali tidak terhina, tapi semacam senang karena masih dianggap memiliki pesona oleh mahasiswa nakalnya. "Kamu selalu bisa membuat hati wanita senang, terlalu banyak modus."
"Aku jujur, bukan sedang merayu!" Elang menanggapi antusias. "Bukankah umumnya pria memang menyukai wanita pendek?"
Tangan Nindya seketika mencubit lengan Elang dengan gemas, lalu mengusapnya sebagai bentuk penyesalan. "Ayo kita langsung bertemu mempelai aja biar nggak kelamaan di sini!"
"Oke, sebelum itu apa ada hal yang harus aku lakukan? Aku tidak mau kamu merasa malu nantinya."
"Tidak ada hal khusus sih … tapi jangan lepaskan tanganku nanti saat kita jadi pusat perhatian, biar kelihatan pacar beneran!"
"Memang pacar beneran, kan?!" Elang membiarkan Nindya berpegangan erat padanya dengan berbagai alasan. Membuat Nindya aman dan nyaman bersamanya adalah tujuan utama kedatangan Elang ke pesta itu. Seperti yang dipesankan ibu Nindya sebelum berangkat, tidak boleh ada yang menyakiti atau memberi tekanan pada Nindya dalam bentuk apapun.
"Terserah kamu!" jawab Nindya malas.
"Mbak Nin, siapa lagi nih yang dibawa?" Sepupu jauh Nindya yang matanya sekeranjang langsung menghampiri, sesaat setelah basa-basi Nindya dengan kedua mempelai selesai.
"Hai, Mel!" Melihat gelagat tidak baik, Nindya mencengkeram lengan Elang lebih erat sebelum menjawab pertanyaan utama, "Ini Elang!"
Tatapan memuja dari Melani membuat Nindya jengah. Bahasa tubuh, senyum dan segala tingkahnya mendadak dibuat-buat untuk menarik perhatian Elang. Nindya menahan geram karena sebelumnya saudaranya itu sama sekali tidak bertingkah seperti cewek kurang garukan saat berkenalan dengan Daniel.
Melani memasang senyum yang dimanis-maniskan. "Wow … Mbak Nindya selingkuh dari Mas Daniel ya?"
Nindya melebarkan mata tak suka, "Bukan urusan kamu kayaknya, Mel!"
"Kenalin atau aku laporin ke Mas Daniel? Pasti Mas Daniel nggak tau kalau Mbak Nin datang sama cowok lain?" Melani terkekeh meledek, sekaligus mengancam Nindya agar memberikan akses padanya untuk menggoda Elang.
"Mel, jangan ikut campur urusan orang!" Nindya mengerang, satu dari sekian alasan dia tidak suka berkumpul dengan keluarga yang berasal dari ayahnya adalah banyaknya jenis manusia yang selalu melihat dengan pandangan 'rumput saudara lebih berkilau' tanpa rasa malu.
__ADS_1
Elang tersenyum ramah, serius menanggapi Melani yang menatapnya dengan ekspresi memuja. Bahkan Elang dengan mudah menyebutkan nomor teleponnya agar saudara Nindya itu puas dan segera berlalu dari hadapan mereka.
Sepuluh menit yang membuat Nindya memendam kejengkelan. "Kita makan sekarang aja, trus pulang!"
"Oke!" jawab Elang singkat.
"Ayo ikut sebentar!" Nindya menarik Elang ke sudut, berniat memarahi karena sudah terlalu ramah pada saudaranya.
"Ada apa?" tanya Elang penasaran. Nindya terlihat gusar dan masih kesal walaupun Melani sudah tidak ada di hadapan mereka.
"Cium keningku!" Nindya melirik ke arah Melani yang masih memperhatikan mereka sampai sudut. "El, bisakah kamu melakukannya sekarang?"
Nindya tidak peduli jika saudaranya yang usil itu mungkin akan menghubungi Daniel dan melaporkan kelakuannya. Toh tunangannya itu kelewat sibuk untuk menghadiri acara keluarganya, wajar saja jika dia datang dengan orang lain. Lagi pula kepalang tanggung kalau cuma bawa Elang tanpa melakukan pembuktian.
Elang menatap wajah Nindya yang tegang dan tidak berkonsentrasi padanya. Mata Nindya masih sedikit melirik ke arah Melani. "Hm … ada lipstik di gigimu, Manis!" Elang merubah topik pembicaraan secara tiba-tiba.
"Hah, apa? Jangan bercanda kamu, El!" kata Nindya menutup mulut dengan tangan. Wajahnya merona malu saat menahan tawa tak percaya.
"Apa kamu mau aku menjilatnya biar bersih?"
"El … aku memakai lipstik anti badai, kamu nggak bisa membohongiku!" Nindya terkikik mendengar ide konyol Elang.
"Anti badai? Baguslah kalau begitu," sahut Elang cepat. Kepalanya menunduk dan mengecup bibir Nindya lembut, mesra dan sangat perlahan. Menampakkan keromantisan dua insan yang sedang mabuk cinta. Terlihat natural tanpa ada ketegangan di wajah Nindya.
Elang berhasil membuat Melani jengah saat melihat mereka berdua, hingga saudara Nindya yang penuh rasa ingin tau itu membuang muka ke arah lain. Tepat setelah Elang mengakhiri aksi nakalnya. "Udah! Apalagi yang harus aku lakukan?"
"Cukup untuk sekarang!" Tangan Nindya masih berada di dada Elang, masih bergelayut meraih keseimbangan untuk kakinya yang terasa lemas. Nindya belum pernah sekalipun dicium begitu rupa di depan saudaranya. Dia hanya berharap ibunya tidak marah mendengar kelakuannya yang kekanakan dan memalukan itu.
"Kamu kenapa?" tanya Elang tanpa merasa bersalah. Tangannya masih melingkar di pinggang Nindya dengan mesra. "Ini bukan ciuman pertama kita!"
Memang bukan, tapi cara Elang mencium selalu saja membius dan menghadirkan debaran yang tidak biasa. Nindya tertawa kecil. "Kamu nggak bisa bedain mana kening mana bibir?"
"Oh salah kecup ya barusan?" tanya Elang jahil. "Diulang lagi, kah? Aku sama sekali nggak keberatan, beneran ini!"
__ADS_1
"Dasar gila! Ini tempat umum, El!"
***