Musim Bercinta

Musim Bercinta
Love You Too


__ADS_3

Nindya terengah-engah, nafasnya berat dan serasa hampir putus melewati tanjakan cinta. Padahal, dia berjalan setengah ditarik Elang. Melihat pemuda itu masih bisa cengengesan di depannya, Nindya menyadari kalau fisiknya terlalu lembek.


Elang mengusap keringat di wajah Nindya dengan bandananya, "Capek?"


"Sangat, rasanya aku tidak mungkin kuat berjalan lagi, El! Kakiku gemetar," keluh Nindya hiperbola. Rasa lelah menghampiri, membuat tubuhnya lemas tak bertenaga. "Istirahat bentar ya?!"


Elang mengajak Nindya duduk di pinggir jalan, meluruskan kaki dosennya dan memberikan tasnya untuk bersandar. Wajah Nindya sedikit kemerahan, mungkin karena jantungnya memompa darah terlalu cepat. "Apa yang kamu rasakan?"


Ada orang yang memiliki alergi dingin, ada juga yang mendadak sakit saat beradaptasi dengan cuaca gunung. Elang menemukan kasus serupa saat kegiatan pendakian massal digelar mapala. Rasa lelah berlebihan kadang menyebabkan beberapa penyakit yang tidak pernah ada sebelumnya muncul secara tiba-tiba.


"Capek banget, itu aja!" keluh Nindya berusaha mengulas senyum. "Sepertinya aku kurang olahraga, baru naik segini udah mau pingsan rasanya."


"Berenang dua kali seminggu sama aku biar bugar, aku jemput mulai minggu depan. Seminggu sekali aku juga ada latihan khusus endurance, tertarik?"


Nindya menggeleng, "Mungkin renang aja cukup. Duh mana aku belum pinter berenang lagi …."


"Ya nanti aku ajarin lagi!"


"Malu aku, El!" Dalam hati Nindya memaki, betapa Elang masih sangat santai setelah naik tanjakan curam menggendong tas besarnya, juga masih harus terbebani dengan menariknya.


Otak Nindya tiba-tiba merasa liar setelah menatap mahasiswanya yang berdiri kokoh di depannya dari kaki sampai ujung rambut.


"Kenapa? Minum kalau haus!" Elang memperhatikan balik mata Nindya yang mengamatinya dengan sengaja. "Masih ada minumnya?"


"Masih." Nindya membuang muka ke arah lain, pura-pura memperhatikan ladang sayur yang tertimpa cahaya matahari sore. Juga membuang pikiran konyol tentang berapa lama ketahanan Elang saat serius bermain nakal dengannya.


Dengan kondisi Elang yang prima seperti itu rasanya Nindya tidak akan mampu mengimbanginya. Dia pasti banyak kalahnya. Ah rasanya Nindya benar-benar butuh olahraga jika ingin bersama Elang di kemudian hari. Ups … wajah Nindya terbakar seketika.


Setelah nafas Nindya teratur dan tidak ada keluhan lelah, Elang mengajaknya menyusuri jalan menuju basecamp. Tidak begitu jauh, dan mereka langsung beristirahat begitu tiba, menggelar matras di lantai agar bisa berbaring sebentar.


"Ada sungai di belakang rumah ini, airnya jernih banget."


"Jauh?" tanya Nindya penasaran.


"Nggak sampai 50m, mau lihat-lihat pemandangan perbukitan dekat sungai? Sambil nunggu makanan siap, aku udah pesan makan ke Bu RT sama teh panas barusan!"


Nindya mengambil posisi duduk, kakinya masih berselonjor sambil menunggu Elang merapikan isi tasnya. "Aku mau lihat mumpung di sini! Belum tentu bisa terulang lagi, kan? Aku mau ambil foto yang banyak."


Elang mengulurkan tangan agar Nindya bangun. "Ayo nanti keburu gelap!"

__ADS_1


Sungai sore hari berwarna mengkilap keemasan. Riak yang tercipta kala menabrak bebatuan menimbulkan gemericik dan deru yang menenangkan. Bayangan pohon jatuh di atas air menjadi penyempurna keindahan mentari senja yang akan jatuh menyentuh batas cakrawala.


Mata dan pendengaran Nindya serasa kembali dimanjakan oleh alam. Oleh cahaya-cahaya merah jingga yang menerobos belantara. Oleh kicau burung yang siap kembali ke sarangnya, oleh dunia Elang yang belum lama ini dikenalnya.


Sebelumnya Nindya tidak begitu menyukai apa yang semesta sajikan untuk manusia, untuknya. Tidak ada keistimewaan saat melihat hal itu di keramaian atau saat sendirian.


Mungkin karena dulu Nindya melihat keagungan ciptaan hanya sekedarnya, tidak sama seperti sekarang, saat seseorang menunjukkan bagaimana caranya menikmati pesona alam dengan semua inderanya.


Mengabadikan semua gambar yang terekam indah oleh mata ke dalam ponsel, itu yang sedang dilakukan Nindya. Seperti turis lokal yang tidak pernah berwisata. Nindya tidak peduli jika mungkin ada yang bilang dia ndeso atau katrok dengan rasa kagumnya. Karena, apa yang dilaluinya sekarang akan menjadi satu kenangan manis yang mengisi buku diarynya.


"Kamu nggak ambil foto, El? Ini bagus banget loh hasilnya."


"Nggak, kalau mau lihat pemandangan ini kan tinggal kesini lagi."


Nindya mengerang iri, "Enak ya kamu, bisa jalan-jalan kemanapun kamu suka, lihat-lihat hal menakjubkan seperti ini."


Elang tersenyum menawan, lalu menukas dengan tegas, "Kamu bisa ikut, selalu ada tempat romantis untuk kita kunjungi berdua."


Raut wajah Nindya berubah muram, "Andaikan saja aku tidak lahir terlalu cepat!"


Elang tertawa mendengar kalimat konyol dosennya. "Kapan aku mempermasalahkan perbedaan usia kita? Kamu saja yang terlalu menganggap aku tak pantas dengan berbagai alasan."


Elang mengajak Nindya kembali ke basecamp tanpa mau mendengar hal klise dari mulut dosennya itu, "Kita makan dulu!"


Dan Nindya harus sabar, membuat Elang mau mendengar setiap ucapannya itu cukup sulit. "El, bagian mana dari kalimatku yang nggak kamu pahami?"


"Ketidakjujuranmu yang nggak aku pahami, Manis!"


"Apa? Yang mana?"


Elang hanya memasang segaris senyum tipis, menarik tangan Nindya agar mengikutinya ke basecamp pendakian. "Aku lapar! Sudah gelap juga!"


Obrolan ringan mengiringi acara makan malam mereka. Setelahnya Elang dan Nindya mengambil waktu istirahat selama satu jam sebelum memulai pendakian.


Elang dan beberapa pendaki lain memilih waktu sebelum tengah malam untuk memulai perjalanan. Mereka ingin cukup istirahat di bawah sabana sebelum ke puncak, walau akhirnya Elang dan Nindya tertinggal rombongan karena seringnya berhenti untuk istirahat dan mengatur nafas.


"Nyerah?" tanya Elang lembut. Kondisi Nindya tidak mungkin dipaksa untuk kuat seperti pendaki lainnya. "Mau istirahat? Besok pagi udah bisa lihat matahari terbit dari sini, tetap indah kok meskipun nggak sempurna!"


"Iya deh, capek banget! Kaki rasanya mau kram!" ujar Nindya tak enak hati.

__ADS_1


Elang menyuruh Nindya duduk sementara dia mendirikan tenda dome di tempat rata. Setelah selesai menata tempat tidur baru menyuruh Nindya masuk. Elang duduk di depan pintu tenda, menyalakan kompor dan membuat minum hangat untuk mereka.


"Susu apa kopi?"


"Susu aja biar enak tidurnya," jawab Nindya yang sudah berbaring malas-malasan. "Untung cuaca cerah!"


"Ya tapi hawanya jadi lebih dingin. Minum ini mumpung hangat." Elang merapikan bekas memasak, lalu membawa dua gelas susu ke dalam tenda yang bercahayakan headlamp.


"Kamu cekatan dengan semua aktivitas alam, El! Bawa perahu mahir, manjat ahli, turun goa bisa, di gunung juga hebat. Emang begitu ya anak mapala?"


Elang terkekeh, "Bisa dibilang itu standardnya. Dari awal masuk organisasi didikan lapangan nggak jauh dari kegiatan alam begini."


Nindya menghabiskan susunya dengan cepat. Matanya mengantuk karena lelah dan juga hawa terlalu dingin untuknya. Dia meringkuk lebih dulu setelah menguap beberapa kali.


Elang menggosok minyak kayu putih di telapak kaki Nindya, lalu memasangkan kaos kaki, memijat betis sebentar baru menarik resleting sleeping bag yang dipakai Nindya hingga dada. Terakhir memasang bandana miliknya agar dipakai Nindya untuk menutup kepala, rambut dan telinga. "Pakai ini buat nutup telinga biar nggak terlalu dingin."


Nindya tertegun, tidak menyangka kalau Elang akan memperhatikan detail kebutuhan tidurnya. Sekali lagi Nindya menguap dan bergumam pelan, "Ngantuk!"


Setelah mengganti pencahayaan dengan lampu tenda kecil, Elang juga merebahkan dirinya di sebelah Nindya.


"Istirahatlah yang nyenyak!" ujar Elang mulai memejamkan mata. Perintah tegas yang membuat Nindya tak nyaman. "Nite, My Love!"


"Kok kamu ikut tidur sih?" protes Nindya. "Aku takut kalau melek sendiri, El!"


"Ya udah aku tunggu sampai kamu lelap," kata Elang meregangkan tangan di atas kepala Nindya. "Sini!"


Nindya merapatkan tubuhnya, berbantal lengan Elang dan sedikit menyurukkan kepalanya hingga bahu pemuda itu. Menghirup parfum Elang yang mulai luntur dan bercampur dengan bau keringat.


Nindya sungguh membenci dirinya karena menyukai bau yang mampir di hidungnya. Bau pria maskulin khas Elang.


Dengan menahan malu, Nindya memasukkan satu tangannya ke bawah jaket Elang, mencari kehangatan dengan menyentuh langsung kulit perut mahasiswa nakalnya.


"I love you too, El!" bisik Nindya di telinga Elang. Menjawab ungkapan Elang di tanjakan cinta sore tadi. Sangat lirih serupa hembusan nafas, tapi mampu membuat Elang tersenyum lebar saat mendengarnya. Bahagia karena dosen muda cantik itu akhirnya menyerah padanya.


Nindya terlelap setelah mengungkapkan perasaannya. Lega karena bisa jujur dan berani membuat pengakuan yang selalu saja diingkarinya.


Entah bagaimana selanjutnya hubungan mereka, Nindya tidak lagi ingin meraba dan menduga. Dia hanya ingin menjalani hidupnya seperti Elang. Sederhana, bebas dan tidak banyak perhitungan.


Ketularan virus Elang rasanya tidak terlalu buruk untuk hidupnya yang datar-datar saja selama ini. Nindya ingin menikmati warna baru yang sudah dilukis Elang dalam hari-harinya, warna yang berasal dari obsesi dan cinta seorang mapala.

__ADS_1


***


__ADS_2