
Elang dan Nindya bertukar pandang sebentar lalu mengamati lagi lebih teliti perempuan yang nangkring di atas motor Dewa. Memastikan kalau mata mereka tidak salah mengenali orang.
"Kenapa senyum-senyum? Merasa kenal?" Elang menoleh lagi karena mendadak Nindya memegangi lengannya.
Nindya berdehem kecil sebelum bicara, "Cewek itu kok mirip Vivian ya, El? Aku perlu kacamata kayaknya, agak-agak burem nih penglihatan."
"Jangan ngeledek kamu, aku cium di sini baru tau rasa!" ancam Elang. Dia juga cukup kaget melihat Vivian di sana. Sepertinya dia melewatkan banyak hal selama sibuk dengan Nindya.
Belum sempat terkikik atau menanggapi ucapan Elang, Nindya mengatupkan mulutnya lagi karena Dewa sudah sampai dan menunduk untuk bicara dengan Elang.
"Ada apa mas? Itu temen-temen motor semua, aku lagi kopdar!"
Elang mengangguk ringan, "Aku cuma mampir karena lihat kamu barusan. Sama siapa kamu? Itu yang nangkring di atas motormu cewek baru?"
"Iya mas, baru jadian, baru dua minggu!" jawab Dewa spontan. Menoleh ke arah Vivian untuk melambaikan tangan.
"Hah, apa?" tanya Elang tak percaya. Sudut bibirnya berkedut saking kagetnya. Satu tangannya bahkan mengorek telinga untuk memastikan pendengarannya masih normal.
"Pffff …." Nindya menutup mulut dengan tangan mendengar jawaban ceria dari Dewa. Apa pemuda berkostum bikers itu tidak tau kalau Vivian pernah dekat dengan kakaknya?
"Kenapa, Mas? Itu anak kampus kita kok, anak teknik kimia. Vivian namanya! Katanya kenal sama Mas Elang!" jawab Dewa dengan wajah dan senyum polos. Maksudnya cengiran Dewa yang dilihat Elang menampakkan sisi bodoh adiknya.
Elang terbatuk-batuk mendengar kalimat terakhir adiknya. Vivian sepertinya sedang cari gara-gara dengannya dengan mengatakan kalau mereka saling mengenal.
Faktanya memang begitu, tapi Elang kurang nyaman dengan pernyataan Vivian. "Emang nggak ada cewek lain?"
"Ya ada sih," jawab Dewa ragu. "Banyak malahan."
"Trus kenapa sama dia?" tanya Elang penuh intimidasi. "Katamu yang lain banyak, yang lain nggak ada yang cantik?"
"Anu mas …." Dewa menggaruk-garuk kepala, cengengesan dan juga salah tingkah.
"Anu apa? Anunya gede sampai tumpah-tumpah?" Elang kali ini bertanya sambil tertawa ngakak karena ekspresi Dewa yang bingung saat mau menjawab pertanyaannya.
Nindya langsung melengos ke arah lain untuk menyembunyikan senyumnya. Dia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa mendengar pertanyaan konyol Elang.
"Ya itu salah satunya hehehe," jawab Dewa tak kalah konyol.
__ADS_1
"Salah duanya apa?" Elang mencerca Dewa dengan banyak pertanyaan bukan tanpa alasan. Dia sudah memberikan jalan pada Dewa untuk mendekati Mayra. Cewek baik-baik yang mungkin akan cocok dengan Dewa yang belum kenal namanya cabe-cabean.
Dewa melirik ke arah Vivian sebelum menjelaskan lebih lanjut. "Harus aku jelaskan di sini ya, Mas?"
"Ya! Kamu nggak pergi sama Mayra, jadi aku harus tau alasannya!"
"Mbak Mayra hari ini ada janji keluar sama temannya, Roni, Doni, apa Joni namanya, kalau nggak salah dia nyebut nama itu. Aku sore tadi udah telepon."
Elang mengernyit, "Trus?"
"Ya udah aku terima aja pas Vivian maksa ikut. Masa baru jadian aku tinggal malam mingguan sendiri di rumah, yang ada dia nanti curiga!" Dewa menoleh ke arah Vivian sekali lagi, memastikan kalau pacarnya tetap di tempat dan tidak mendengar obrolannya dengan Elang.
"Trus?" Elang ikut melihat ke arah Vivian. Pikirannya menebak kalau Mayra pasti keluar dengan Toni, playboy kawakan yang dari dulu memang penasaran dengan Mayra.
Kalau Elang tidak menghalangi, mungkin Toni sudah punya kesempatan itu dari sejak mereka baru jadi mahasiswa.
"Soal Vivian … aku nggak sengaja menang taruhan. Erfan, si ketua club iseng bikin taruhan buat ngejar Vivian. Ada empat yang ikut termasuk aku, eh yang lain ditolak tapi aku diterima … berarti kan rezekiku, Mas!" Dewa cengengesan saat menjawab rasa penasaran Elang.
"Erfan yang mana?"
"Itu loh anak jurusan teknik mesin!" Dewa memberitahu posisi Erfan yang juga ada di seberang jalan, sedang mengobrol dengan anggota lain.
"Ya nggak tau alasan pastinya apa, tapi dia suka naik moge. Mungkin pacarnya dulu juga anak bikers. Mas Elang kenal ya sama Vivian?" Dewa tiba-tiba menaruh curiga pada kakaknya. Belum pernah Elang bertanya sebanyak ini mengenai pacar-pacarnya.
"Iya kenal," jawab Elang datar, mau menjawab lebih jelas tapi tidak enak jika harus didengar Nindya. Urusan laki-laki. "Ya udah aku jalan dulu, mau nganter pulang Nindya!"
"Oke!" Dewa mundur selangkah, melambaikan tangan sebentar dan berikutnya lari menyeberang jalan, bergabung lagi dengan teman-teman bikersnya. Acara keliling kota hampir dimulai, semua sudah bersiap di atas motor masing-masing.
"Siapa, Wa? Temen kamu?" tanya Vivian begitu Dewa tiba di hadapannya.
"Itu tadi mas Elang!" jawab Dewa.
Vivian seketika antusias mendengar jawaban Dewa. "Oh … sama tunangannya? Baru selesai malam mingguan ya?"
"Iya kayaknya, tapi udah mau dianter pulang." Dewa menjawab polos.
"Oh romantis sekali!" Sejujurnya Vivian masih penasaran dengan perempuan yang jadi tunangan Elang. Hanya saja akan terdengar mencurigakan kalau dia justru banyak bertanya tentang perempuan itu. Belum waktunya.
__ADS_1
"Ya udah pakai helmnya, Sayang! Mau berangkat keliling ini," perintah Dewa manis.
"Oke siap, Dewaku!" tukas Vivian manja. Langsung memeluk erat adik Elang dari belakang begitu helmnya terpasang.
Sementara itu di mobil, Elang tidak terlalu banyak bicara, dia memikirkan Mayra. Tidak biasanya gadis itu tidak terbuka padanya, biasanya selalu memberikan informasi kalau mau keluar selain sama dia atau Dewa.
"Ada apa, El? Mikirin Vivian ya?"
"Mikirin Mayra," jawab Elang dengan ekspresi yang tidak bisa Nindya artikan.
"Mayra sudah dewasa, El. Kamu nggak bisa mengatur apalagi mengikatnya tanpa memberikan kejelasan hubungan yang sifatnya istimewa. Yang namanya teman itu ada batasannya. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu dekat dengan Mayra dengan berbagai batasan."
Elang menarik nafas berat, membenarkan apa yang disampaikan Nindya. "Aku cuma takut dia dimanfaatkan cowok yang mau dekat karena latar belakangnya. Apalagi Toni itu garangan nggak jelas!"
"Sudahlah, kamu cukup mengingatkan aja besok pas ketemu di kampus, katanya mau ngurusin konsumsi seminar bareng?"
"Hm, ya aku kurang setuju aja kalau Mayra sama Toni."
"El … kamu nggak bisa terus-terusan seperti itu. Kalau kamu nggak mau jadi suaminya ya biarkan dia bebas memilih pasangannya sendiri."
"Aku pikir Dewa bisa menggantikan posisiku!" Elang masih saja memasang ekspresi tidak ikhlas.
"Dewa sudah menggantikan posisi kamu, untuk Vivi eh …!" kata Nindya menutup mulutnya dengan tangan karena tak sengaja cekikikan.
Elang mengerutkan keningnya kesal, "Sial, aku yakin Dewa pasti cuma buat mainan sama Vivian, sebagai ajang balas dendam mungkin …."
Nindya menyahut cepat, "Atau trik baru buat ngejar kamu lewat hubungan keluarga?"
"Entahlah, kayaknya Dewa ini perlu dikasih diklat biar pinter!" ucap Elang dengan seringai nakal.
"Pinter apa? Kamu mau ajarin Dewa jadi playboy juga?" Nindya mencubit gemas lengan Elang. "Bisa-bisanya hal buruk begitu mau diturunkan ke orang lain!"
Elang tersenyum lebar, "Sebelum dia jadi mainan Vivian atau perempuan lain sejenis itu! Biar nggak bodoh-bodoh amatlah jadi cowok!"
"Kok gitu sih? Maksud kamu yang seharusnya dibodoh-bodohi itu cewek?"
Elang tidak menjawab agar tidak menyinggung Nindya. Harapannya hanya satu, semoga adiknya itu masih perjaka. Karena kalau Vivian sudah mengambilnya, entah jadi bad boy cap apa Dewa nantinya ….
__ADS_1
***