
Nindya sedang memikirkan ulang hubungan pertunangannya dengan Daniel yang sudah kandas. Dia merasa sedikit beruntung karena sudah melabuhkan cinta pada mahasiswanya, jadi rasa sakit ketika mendengar Daniel memutuskan hubungan mereka bisa diredam.
Gadis itu masih bisa bernafas teratur seperti hari berganti, Senin, Selasa Rabu, Kamis dan seterusnya. Masih bisa mengulas senyum saat di ruang dosen. Masih bisa fokus di seminar Elang sebagai dosen pembimbing penelitian.
Bayangkan jika dia belum memindahkan hatinya, mungkin kemalangan itu akan memberikan efek samping yang sangat buruk pada hidupnya! Harinya pasti akan sangat berantakan karena luka hati.
Nindya memang menangis tersedu kemarin, tapi apa yang terjadi adalah resiko dari kelakuannya sendiri. Andai dia tidak tertular virus nakal mahasiswanya, hubungannya dengan Daniel pasti masih baik-baik saja dan pertunangannya tidak akan berakhir tragis seperti itu.
"Aku nggak bisa lagi nerusin pertunangan ini, Nin. Aku bebasin kamu untuk menikah dengan mahasiswamu itu, memang sudah seharusnya dia yang bertanggung jawab, kan?"
Kalimat Daniel bahkan masih terngiang jelas, menohok dan menyakitkan. Nindya diputuskan tanpa pembelaan.
Tapi siapa yang mampu mengendalikan kehendak jagat? Mungkin memang Nindya tidak ditakdirkan untuk bersama Daniel dalam cinta. Seperti yang orang bijak bilang, bukan hanya soal rezeki dan mati yang menjadi kuasa Sang Pencipta, tapi juga garis jodoh manusia.
"Aku bisa jelaskan yang sebenarnya agar tidak ada salah paham, Niel!"
"Nggak perlu, Nin! Semuanya udah jelas kok. Aku lebih baik melanjutkan hubunganku dengan Sandra. Jika kita kembali bersama hanya akan membuat kita saling menyakiti dan terluka."
"Sandra ya?" Nindya mengangguk sambil melepas tanda ikatan yang melingkar di jari manisnya. "Aku mengerti."
Cincin tunangan dan semua uang yang beberapa waktu lalu diberikan Daniel sudah dikembalikan Nindya kemarin, di hari Senin pagi tepat pukul sembilan di rumahnya, ketika Daniel sengaja mendatanginya untuk berbicara secara dewasa.
Perasaan Nindya berkecamuk hebat waktu itu, kalimat Daniel yang lantang membandingkan dirinya dengan Sandra masih lekat hingga sekarang. Namun, pilihan Daniel untuk membina hubungan dengan asistennya itu menyadarkan Nindya kalau dia sudah tidak dibutuhkan lagi oleh tunangannya. Mantan tunangan tepatnya.
Nindya masih bersedih dan kepikiran hingga kini, putus adalah keadaan buruk yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Daniel adalah pacar pertama, meski tidak banyak hal manis yang bisa diingatnya. Akhir dari percintaannya pun terkesan tragis dan buruk. Lalu apa yang akan dikenangnya?
Nindya tidak pernah menuliskan kenangan buruknya di buku harian. Dan akhir hubungannya dengan Daniel juga akan dilewatkan, meski sebenarnya dia ingin mengukir walau dalam beberapa kalimat.
Semua sangat jelas, hingga Nindya tidak perlu bukti apapun mengenai hubungan spesial Daniel dengan Sandra. Daniel sudah bersikap gentleman dengan mengakuinya di depan Nindya.
Dengan senyum kecut, Nindya mengusap genangan air mata yang hampir menetes. Jika Daniel yang terlihat setia saja bisa melakukan kecurangan, bagaimana dengan mahasiswanya?
Oh Tuhan, rasa percaya Nindya pada yang namanya pria bisa saja terkikis, seperti abrasi yang kerap terjadi di pantai Parangtritis.
Sambil menunggu Elang, Nindya mempersiapkan makan siang yang baru saja datang dari restoran, juga beberapa cake yang dibelinya saat pulang. Dia ingin acara makan siang berjalan istimewa dan menjadi hal manis yang bisa menghapus hari buruknya.
Entah apa yang dipikirkan Nindya soal hal manis bersama Elang hari ini. Yang jelas Nindya memakai pakaian bagus, berdandan cantik dan memakai wewangian yang lebih lembut dari biasanya.
__ADS_1
Romantis adalah kata yang tepat, Nindya ingin membangun suasana itu saat makan dengan bad boy tampan yang sudah membuatnya jatuh cinta. Suasana yang mungkin bisa dikenangnya jika terpisah dari Elang suatu hari nanti.
Selain itu, bukankah Nindya memang menjanjikan hadiah untuk Elang jika penelitiannya selesai dan berhasil menjadi proyek yang menguntungkan bagi kampus?
Bel rumah berbunyi dua kali, salam sapa perempuan dari depan pintu terdengar oleh Nindya. Dengan tergesa, Nindya berjalan keluar untuk melihat tamunya, karena suara halus yang memanggil namanya terdengar tak asing di pendengarannya.
"Loh ibu? Om Leo? Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang?" Nindya mencium tangan ibunya dan juga omnya. "Ayo masuk!"
"Kalau bilang-bilang namanya bukan kejutan dong," jawab ibu Nindya. "Kamu kok udah cantik, Nin? Mau kemana?"
"Ya tadi itu mau makan siang di luar sama Elang, tapi nggak jadi. Itu makanannya dikirim ke sini semua. Gila itu anak pesan makanan bangak banget, cukup buat sepuluh orang. Kebetulan banget ada ibu sama om buat bantu ngabisin. Ibu bawa apa aja sih kok banyak banget? Itu apa yang di dalam kotak?"
"Baju kamu." Ibu Nindya menyodorkan kotak berwarna merah muda yang langsung membuat Nindya penasaran. "Apa ini, Bu? Loh … ngapain dibawa kesini, aku nggak butuh lagi, aku putus sama Daniel kemarin."
"Sayang kalau nggak kepake, lagian udah jadi, udah lunas juga. Ayo dicoba sekarang! Ibu mau lihat buah karya teman ibu!" Nindya diseret paksa ke dalam kamar oleh ibunya, sementara om Leo duduk di ruang tamu menunggu.
"Ya ampun, kan bisa nanti-nanti kalau cuma mau coba baju, Bu!"
Nindya tidak mampu menolak paksaan ibunya, kebaya putih dan bawahannya sudah melekat sempurna di tubuhnya hanya dalam beberapa menit. Selanjutnya ibu Nindya membantu mengatur rambut hingga lehernya terekspos jenjang. Perhiasan pelengkap juga dipakaikan paksa oleh ibunya.
"Pas banget, Nin! Teman ibu memang ciamik kalau bikin kebaya-kebaya modern!"
"Kok Elang sih, Bu!"
"Ya Elang mencintai kamu jauh lebih besar dari Daniel. Ibu rasa nggak ada masalah jika kamu menikah dengannya, toh Daniel sudah memutuskan kamu. Ibu juga tau kalau kamu menyukai pemuda itu, kamu banyak tertawa kalau lagi sama dia."
"Ish ibu ini, Elang itu masih kuliah! Ini udah bisa dilepas semua, Bu? Sebentar lagi Elang mau makan siang di sini soalnya."
"Memangnya kenapa kalau masih kuliah? Elang punya penghasilan buat kamu." Ibu Nindya memperhatikan detail dandanan Nindya dari atas sampai bawah. "Sempurna."
"Ibu tau darimana? Penghasilannya kan cuma dari lomba sama tunjangan sebagai atlet kampus!" Nindya mulai menaruh curiga.
"Dari ibunya Elang," jawab ibu Nindya menahan senyum.
Nindya semakin dibuat penasaran, "Kapan ibu ketemu beliau?"
Ibu Nindya menjawab, "Kalau ketemu sih belum, mungkin hari ini, kalau teleponan udah tiga kali."
__ADS_1
"Kok bisa?" Nindya terperangah tak percaya.
"Nanti kamu juga tau," ujar ibu Nindya sembari menarik jari putrinya. "Pakai cincin ini!"
Nindya mengamati cincin bermotif dua burung elang sedang berciuman di jari manisnya. "Ini dari Elang ya, Bu?"
"Iya, dia melamarmu secara pribadi pada ibu sewaktu ke Semarang menemani acara nikahan sepupumu."
"Bocah edan!"
"Bocah edan itu calon suamimu, Nindya. Hidupmu akan bertabur cinta dan kasih sayang jika bersamanya!" Ibu Nindya merapikan lagi rambut putrinya ketika bel berbunyi dan suara salam terdengar sopan. "Ayo Nin, mempelai laki-laki udah datang itu loh!"
Nindya hampir pingsan saat mengintip ke luar, Elang datang dengan kedua orang tuanya, Dewa, Arga dan dua laki-laki berpeci. Membawa kotak berwarna pink cukup banyak. Seperti hantaran untuk acara lamaran.
"Bu, apa ini? Kok Elang datang sama orang tuanya?" tanya Nindya dengan wajah frustasi.
"Harusnya acaranya bukan di sini, tapi di hotel keluarga mereka. Kamu sih pake acara minta makan siang di rumah segala, bikin repot orang tua aja!"
"Kenapa Elang nggak bilang apa-apa sama aku sih? Ibu juga! Ini bukan lamaran kan, Bu?"
"Wes ayo, nanti kamu tanya sendiri sama yang bersangkutan kenapa harus pake ada acara kejutan begini!" Ibu Nindya menuntun putrinya yang tidak tau apa-apa keluar kamar.
"Bu, misal waktunya diatur ulang bisa nggak? Aku belum siap kalau dilamar keluarga Elang sekarang!" Kaki Nindya tiba-tiba lemas, wajahnya juga memucat saat dipaksa keluar dengan pakaian yang rencananya akan dipakai untuk menikah dengan Daniel. Benar-benar tampak seperti pengantin perempuan.
"Nggak bisa, Nin! Yang mengatur semua ini orang tua Elang! Ibu cuma iya-iya aja karena ibu lihat kalian cocok! Dah siapin mental, ini acara nikah beneran, bukan latihan!"
"Ibu! Yang bener dong, ini bukan lamaran?" tanya Nindya tercekat, suaranya bahkan hampir tak terdengar.
"Bukan!" bisik ibu Nindya sembari mengangguk pada keluarga Elang.
Nindya menelan ludah, tak berani menatap Elang secara langsung. Hanya melirik dengan ekor mata untuk menyatakan perang.
Elang menanggapi lirikan Nindya dengan satu lengkung bibir penuh keberanian, yang mengisyaratkan ungkapan 'Apa yang aku lakukan hanya menjawab tantangan. Kamu pasti sulit diajak ke KUA, makanya aku bawa perangkatnya kemari sebagai syarat sahnya pernikahan kita.'
Elang masih memakai baju putih dan dasi seminarnya, hanya saja sekarang ada jas hitam yang membuatnya terlihat resmi, keren dan jantan. Cocok disebut seperti pengantin pria yang menyebalkan namun sangat menawan.
Ketika mereka berdua duduk berdampingan di depan laki-laki paruh baya yang bertindak sebagai penghulu, Nindya baru sadar kalau dia memang akan dinikahi Elang sekarang. Tanpa pemberitahuan apalagi rencana yang disusun matang.
__ADS_1
***