
Menikah sederhana, makan-makan lanjut mengobrol bersama di ruang tamu, lalu penghulu dan asistennya pulang, disusul Dewa dan Arga dan juga kedua orang tua Elang. Nindya bernafas lega, di rumahnya sekarang hanya tinggal ibu, om dan tentu saja Elang.
Mereka berdua ada di kamar Nindya, masih berbalut baju pengantin, sedang berdebat sambil membuka kotak-kotak merah muda yang dibawa keluarga Elang. Isinya umum saja, hantaran minimalis yang biasa disebut seserahan : perlengkapan ibadah, pakaian tidur seksi, alas kaki, perhiasan, produk kecantikan dan lain sebagainya.
Kotak kecil berisi cincin sudah dibuka pertama karena dijadikan mas kawin. Sudah dipakai Nindya di jari manis sebelah kiri. Bersebelahan dengan cincin putih bermotif burung yang ternyata lebih pas dipakai Nindya di jari tengah.
"Kamu ribet bener jadi orang, pake acara beli dua cincin!"
Elang menyahut datar, "Yang satunya punya mama, itu khusus diberikan untuk wanita yang menikah denganku!"
Nindya mengamati sekali lagi cincin mamanya Elang. "Ini tuh bagus banget, selera mama kamu soal perhiasan tinggi ya?"
"Aku nggak paham perhiasan, itu dikasihkan waktu mama masih ada. Yang lain ada sih, aku simpan semua yang dipakai mama di saat terakhir, buat kenang-kenangan."
"Trus semua hadiah ini siapa yang siapkan?"
"Ibu, aku malah nggak tau kalau ibu beli ini itu. Aku cuma bilang mau nikah di hari ulang tahunku!"
"Astaga, jadi ulang tahunmu sekarang?" tanya Nindya dengan ekspresi bodoh. Dia bahkan tidak tau hari lahir Elang.
Kalau dipikir-pikir, Nindya memang tidak memperdulikan hal-hal kecil seperti itu. Tidak seperti Elang yang menyimpan tanggal ulang tahunnya sebagai kunci pembuka ponsel agar tidak sampai terlewat.
"Iya, kamu nggak ada niat ngasih hadiah? Lagian ini hari pernikahan kita juga," ujar Elang cengar cengir.
Nindya menjawab ketus, "Nggak, aku masih kesel sama kamu!"
"Apa salahku, Manis?" tanya Elang kalem.
"Banyak, yang jelas aku marah karena kamu nggak bilang apa-apa sebelumnya soal pernikahan ini."
"Hm … trus?"
"Aku ingatkan sama kamu, apapun yang sudah terjadi antara kita hari ini … pokoknya aku nggak bisa mengubah rencana masa depan yang sudah aku susun! Itu intinya," ucap Nindya penuh penekanan.
Dia baru saja menjawab email dari Jepang soal beasiswa S3 yang akhirnya keluar setelah masa tunggu cukup lama. Nindya baru pagi tadi berencana melanjutkan sekolahnya tanpa beban, apalagi hubungannya dengan Daniel telah berakhir. Nindya niat berangkat ke negeri sakura itu seminggu lagi. Setelah urusannya di kampus selesai tentunya.
__ADS_1
Hari ini, harusnya Nindya hanya menciptakan satu hal manis dengan Elang setelah makan siang istimewa di rumahnya. Mungkin berbentuk ciuman romantis tak terlupakan, atau bercinta satu babak penuh kenakalan sebagai kenangan indah yang bisa diingatnya selama di Jepang.
"Trus kamu keselnya kira-kira sampai kapan? Berapa hari? Apa perlu aku pulang dulu biar kamu ada waktu buat mengenang mantan tunanganmu, siapa tau kamu butuh waktu untuk berkabung!"
"El, bukan itu yang aku maksudkan," pekik Nindya dengan raut yang sudah berubah seperti macan.
"Jadi kamu maunya gimana?"
Nindya menggeleng sendu, "Entahlah … tapi tolong jangan merusak suasana hari ini dengan membahas orang yang nggak penting. Daniel sudah memilih kebahagiaannya dengan temanmu itu."
"Kamu juga sudah punya kebahagiaan sendiri sekarang, kenapa kamu masih uring-uringan?"
Setelah menghembus nafas panjang Nindya bicara lirih, "Kamu nggak akan mengerti, El."
"Bagian mana yang aku nggak ngerti? Jelaskan!"
"Aku akan pergi ke Jepang beberapa hari lagi, aku akan mengambil gelar doktorku di sana!"
Elang termangu sebentar lalu tersenyum lebar, "Aku bisa membiayai sekolahmu, Manis. Ambil gelar yang kamu butuhkan di sini, lupakan soal beasiswa!"
"Aku pikir pernikahan ini akan jadi sesuatu yang bahagia untukmu, tapi kelihatannya kamu lebih memikirkan hal lain daripada aku, ya sudah aku pulang dulu kalau gitu. Aku mau istirahat, nanti sore ada latihan." Elang tidak ingin berdebat panjang, keputusannya menikahi Nindya tidak sesuai ekspektasi.
"El … pembicaraan kita belum selesai!" cegah Nindya, tangannya spontan mencengkeram lengan Elang yang bersiap pergi.
"Sudah selesai, putuskan sendiri apa yang terbaik untukmu. Kamu bisa pergi ke Jepang kapan saja, aku tidak akan menghalangi." Elang keluar kamar dengan wajah masam. Pamit seperlunya pada ibu dan omnya Nindya lalu meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi.
Nindya yang tak bisa mencegah Elang pergi hanya tertegun menatap punggung yang menghilang di balik pintu mobil. Air mata merebak, dada sesak karena himpitan kemarahan. Penyesalan dan segudang rasa bersalah datang karena sudah merusak suasana romantis yang baru saja tercipta.
"Ada apa, Nin? Kenapa Elang pulang terburu-buru?" Ibu Nindya seketika kebingungan dengan situasi yang terasa tidak mengenakkan. Menantunya pergi dengan senyum dipaksakan saat pamitan.
Nindya menggeleng lemah, mengusap air mata yang mengalir di pipi sebelum menoleh ke arah ibunya. "Ibu lanjutin istirahat aja di kamar, nggak ada apa-apa kok, Elang pulang dulu untuk ganti baju, dia mau latihan di kampus sore ini. Ada lomba panjat dinding tingkat nasional yang akan diikuti dua minggu lagi."
Dengan ekspresi tak percaya, ibu Nindya menanggapi, "Kalian ribut? Baru saja satu jam yang lalu kalian jadi suami istri … sekarang sudah kayak orang lain lagi. Kamu bukan anak kecil lagi, Nin!"
"Aku yang salah, Bu! Elang pasti tersinggung dengan ucapanku," jawab Nindya menyesal.
__ADS_1
"Kamu nggak berkenan dengan pernikahan dadakan ini? Kamu nggak mencintai Elang? Apa ibu yang salah menyimpulkan kalau kalian masih memiliki hubungan spesial paska kejadian di rumah sakit? Apa ibu salah menerima lamaran keluarga Elang dan menyetujui keinginan pemuda itu untuk menikahimu?"
Nindya termangu, menjawab ibunya dengan tak yakin, "Ibu nggak salah, aku juga mencintai Elang. Hanya saja … ini terlalu cepat, Bu!"
"Ibu pikir menjadi istri Elang akan membuatmu lebih bahagia, kamu nggak perlu merasa bersalah karena kejadian buruk di masa lalu. Ibu pikir dia pemuda yang bertanggung jawab, yang berani mengambil keputusan dan resiko di usia yang relatif muda."
"Iya, Bu!"
"Banyak hal yang sudah ibu pikirkan tentang kalian berdua sebelum mengambil keputusan ini … tapi kalau sekiranya ibu salah ibu minta maaf! Bagaimanapun ibu tidak bisa memaksakan kehendak. Kamu bebas memutuskan masa depanmu sendiri! Buat ibu yang terpenting kamu bahagia …."
Nindya menggeleng, kembali mengusap air mata yang meleleh sembari memeluk ibunya. "Jangan ngomong seperti ini, Bu! Aku nggak mau ibu sedih karena aku."
"Susul suamimu kalau kamu mau memperbaiki keadaan! Tapi kalau kamu mau semua ini berakhir sekarang, ibu juga nggak bisa ngelarang, semua terserah kamu. Sekali lagi ibu cuma mau lihat kamu bahagia, nggak ada yang lebih dari itu!" Satu pelukan erat lalu disambung dengan kecupan di kening Nindya diberikan ibu Nindya, sebelum wanita paruh baya itu pergi ke kamar.
Setelah ibu Nindya berlalu, om Nindya ikut menasehati. "Om nggak paham sama jalan pikiran kamu, Nin! Kalau nggak mau nikah sama pemuda itu seharusnya ngomongnya tadi itu pas ditanya sama penghulu, bukan semua sudah selesai dan disahkan baru mikir, baru nyesel …."
"Maaf, Om! Aku nggak bermaksud merusak pernikahan ini. Hanya saja aku akan pergi ke Jepang beberapa hari lagi untuk menempuh pendidikan doktor," terang Nindya lirih.
"Jadi menurutmu pernikahan ini masalahnya? Elang jadi penghalang kamu meraih cita-cita?"
Nindya tidak berani memberikan alasan, Elang sudah menawarkan solusi, tapi pikirannya memang sedang ruwet. "Bukan begitu, Om!"
"Sebentar lagi om pulang ke Semarang, kalau kamu mau batalkan pernikahan, sekarang aja mumpung om masih di sini!"
Nindya menggeleng keras, "Aku cuma … ya udah aku ke kamar dulu, Om!"
Setelah berpikir selama lima menit di kamar, Nindya memasukkan beberapa baju ke dalam paper bag. Nindya mengganti baju yang sedang dipakai dengan dress tali spaghetti selutut, dipadukan dengan cardigan untuk menyamarkan tampilan yang seharusnya seksi itu.
Nindya serius memperbaiki make up dan membuang wajah sembabnya, lalu keluar kamar lagi setelah rapi. "Aku pergi dulu, Om! Ibu sepertinya sedang istirahat, tolong sampaikan ini nanti."
"Kamu mau berangkat ke Jepang sekarang?" tanya om Leo dengan nada kesal.
"Ke rumah Elang, Om!" jawab Nindya dengan senyum dipaksakan. "Mau minta maaf. Aku tidur sana malam ini."
***
__ADS_1