Musim Bercinta

Musim Bercinta
Siap 4646


__ADS_3

Ditinggalkan Nindya membuat Elang sering uring-uringan. Telepon video dari Nindya tak bisa menggantikan sosok yang dicintainya itu menjadi nyata dan ada. Elang merindukan istrinya lebih dari apapun.


Kesibukan juga tidak bisa mengalihkan dunianya yang sudah terisi penuh oleh Nindya. Padahal seluruh energinya habis setiap hari. Otaknya dipakai berlebih untuk mengerjakan skripsi, sementara tubuhnya dipaksa untuk latihan persiapan lomba.


Lelah, Elang ingin tidur lebih cepat malam ini. Dia hanya mandi kilat untuk membersihkan keringat bekas latihan lalu berbaring malas di ranjang besarnya. Menunggu telepon dari Nindya.


Tak lama, ponselnya berdering, malam adalah jam Nindya untuk absen padanya. Mereka akan melakukan panggilan video cukup lama, karena ada beberapa urusan skripsi Elang yang harus dibahas selain obrolan ringan yang biasanya berisi ungkapan rindu.


Namun, otak Elang sedang malas untuk diajak berpikir soal tugas kuliah. Jadi sebelum mengangkat panggilan video dari Nindya, Elang membuka seluruh pakaiannya. Polos tanpa selembar benang, lalu menyeringai sinting ketika panggilan tersambung dan layar menampakkan wajah Nindya.


"El …!" pekik Nindya terkejut.


Elang meletakkan ponselnya agak jauh sehingga bisa menampakkan seluruh tubuhnya yang sedang seksi di atas ranjang. Headset wireless sudah terpasang di telinga, jadi Elang bisa bicara bebas tanpa harus menyentuh ponselnya.


"Apa, Manis? Gimana hari ini, sehat?"


"Aku sehat. Kamu kenapa nggak pake baju begitu? Masuk angin nanti," ujar Nindya mengingatkan.


"Aku kangen kamu!" Elang menatap dalam ke arah ponselnya, ke arah Nindya yang salah tingkah.


"El, please pake baju! Kamu bikin aku nggak fokus!" Nindya meringis, ekspresinya menunjukkan gairah tapi juga malu dalam waktu yang sama.


"Kamu bisa merem kalau males lihat aku," jawab Elang enteng. Tangan Elang turun memegang bagian pribadinya yang mulai tegak. "Aku beneran kangen kamu, Nin! Kapan kamu pulang? Aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu!"


Nindya tak tau harus bicara apa, yang dilakukan Elang sungguh bisa membuatnya ikut gila karena gelora. Elang dengan sengaja mengurut miliknya dengan ekspresi tersiksa.


Arrgghh … Elang benar, keputusannya untuk ke Jepang ternyata memang salah. Dia juga merana jauh dari Elang. Nindya merasa kehilangan kehangatan dan romantisme suaminya. Tidak semudah yang dibayangkan sebelum keberangkatan, kalau dia akan kuat menjalani beberapa waktu terpisah dengan Elang.


"Aku juga kangen sama kamu, El. Kangen banget, " kata Nindya seraya memijat pelipisnya. "Ayo dong pakai baju, dingin loh di situ! Gimana bimbingan ke Bu Yuni hari ini?"


Hasrat Nindya naik melihat Elang memainkan bagian spesialnya dengan erangan ringan memanggil namanya. Pipinya memanas dan pucuk dadanya menegang. Lalu siapa yang akan membantunya mendapatkan pelepasan jika sudah begitu?


Elang tak memperdulikan pertanyaan Nindya, dia justru mengeluhkan keadaannya yang sedang kelebihan hormon, "Pusing kepalaku, Nin! Ayo pulang aja kamu! Ayolah sayang …!"


Nindya bingung sendiri, haruskah dia juga membuka baju untuk memberikan fantasi pada suaminya agar segera bebas dari ketegangannya?


Pusing yang dimaksud Elang pasti ada di kepala bagian bawah. Jika tidak dilepaskan pusing itu akan merambat ke atas dan selanjutnya pasti membuat Elang semakin uring-uringan.

__ADS_1


"I love you, El!" ucap Nindya pelan, manis dan mesra. Elang membakar darahnya hingga dia juga tidak tahan untuk tidak menanggalkan pakaiannya. Ingatan-ingatan mengenai pergumulan mereka yang selalu panas tak urung membuat Nindya mengeluarkan suara dalamnya. "El … sa-yang!"


Dan oh yes oh no pun terdengar bersahutan dari ponsel Elang dan Nindya. Yah, semoga saja men**esakh online untuk pasangan bukan termasuk kategori dosa besar ataupun pelanggaran undang-undang sebuah negara.


**


Seminggu berikutnya ….


Final lomba panjat dinding nasional (LPDN) sedang digelar di kampus. Elang mendapatkan pesan video penyemangat dari Nindya sebelum masuk ruang karantina atlet.


Serasa ada yang kurang memang, tapi tekad Elang kuat. Tanggung jawabnya sebagai duta kampus dan atlet organisasi memotivasi otaknya untuk memanjat dengan halus, tenang dan penuh perhitungan.


Sorakan penyemangat datang dari hampir seluruh anggota mapala. Maklum, LPDN digelar di kampus dan mereka semua menduduki posisi panitia yang wajib ada selama perlombaan berlangsung.


Elang melihat Dewa menonton lomba bersama Vivian di bagian depan sebelah kiri wall climbing, sementara Mayra dan Toni di sebelah kanan. Bagian kemahasiswaan datang bersama orang yayasan.


Bahkan ketua jurusan ikut nongkrong di tenda panitia demi melihat Elang beraksi. Elang sengaja mengundang Pak Ronald untuk datang agar mendapat lebih banyak dukungan.


Setelah menunduk untuk berdoa, Elang memegang poin start dan bergerak setelah peluit berbunyi.


"Elang, Elang, Elang!" Suara ketua mapala diikuti anggota lain menaikkan semangat Elang yang baru mulai merayap di wall.


Nindya memilihkan lagu 'You rise me up' sebagai teman Elang selama melakukan pemanjatan. Elang tidak menolak agar pemanjatannya terasa ditunggui Nindya.


Ah, andai saja istrinya ada di sini seperti yang Arga bilang, semangatnya pasti bisa terpompa sampai titik sempurna. Sialnya, Elang tidak mungkin menoleh ke belakang untuk mengecek kehadiran Nindya, posisinya sedang sulit untuk menambah ketinggian. Keringat mengucur deras dari dahi dan punggungnya.


"Elang … kamu bisa, Sayang!" Satu suara perempuan yang sangat dikenal Elang menyengat telinganya. Seperti kejutan listrik yang membuat semangatnya bangun seluruhnya.


Kalau saja tidak sedang lomba, Elang pasti sudah meloncat turun dari papan panjat untuk memeluk wanita pemilik suara itu.


Arga tidak berbohong, suara Nindya ada di antara sorakan panitia yang juga meledeknya karena disemangati mantan dosen pembimbingnya. Istrinya.


"Ayo El jangan kelamaan, nanti Bu Nindya jadi ager-ager di sini!" ledek Arga diiringi tawa teman-temannya.


"Nunggu apa El, sobek-sobek papan panjatnya biar bisa ganti baru!" Suara lain terdengar menggelitik adrenalin Elang.


Elang tersenyum senang, setelah mengatur nafas dan tenaga dia mampu menyelesaikan pemanjatan selama lima menit dari tujuh menit waktu yang diberikan panitia lomba.

__ADS_1


Sorak sorai membahana, panitia sudah bisa menebak dari awal kalau Elang bakal menduduki tiga besar. Skornya lebih tinggi dari lima pemanjat lain. Hanya menyisakan dua pemanjat dari daerah lain di belakang nomor Elang.


Dengan segera, Elang menyimpan sepatu panjat dan perlengkapan pribadinya ke dalam tas. Dia rindu Nindya. Persetan dengan dua pemanjat yang ada di belakangnya, Elang tidak perlu menonton. Yang penting saat pengumuman nanti dia ada di lokasi.


Di depan teman-temannya, Elang menggiring Nindya masuk ke dalam basecamp mapala. Dia sungguh ingin memeluk dan mencium wanita yang datang untuk mendukung tanpa memberitahu dirinya lebih dulu.


"Kamu pulang, Manisku!" kata Elang dengan suara berat. Pelukannya spontan rapat tanpa jarak. "Kenapa nggak bilang? Kenapa nggak minta jemput? Kamu naik apa ke sini?"


"Taksi bandara, barang-barangku ada di pos satpam!" Nindya membalas pelukan Elang dan menyandarkan kepalanya di dada yang masih penuh keringat itu. "Aku kangen, El!"


Setengah jam melepas rindu tidak cukup bagi Elang dan Nindya, tapi mereka memang harus menyudahi obrolan karena pengumuman lomba sudah ditempel.


Elang dielu-elukan panitia yang berasal dari organisasi yang sama dengannya. Dia digotong beramai-ramai dan dinaikkan panggung kecil untuk menerima trophy, piagam dan juga uang hadiah.


Tidak buruk menjadi juara dua di tingkat nasional. Citra kampus akan naik dengan keberhasilannya, begitu juga dengan organisasi mapala tempatnya bernaung.


Setelah turun panggung, seperti biasa trophy dibawa ketua mapala untuk dikoleksi di ruang unit kegiatan mahasiswa pecinta alam.


"Ini jatahmu, Manis!" Elang memberikan piagam dan amplop yang baru diterima kepada Nindya.


"Nafkah?" tanya Nindya dengan senyum jenaka. Tidak menolak amplop pemberian Elang apalagi bertanya jumlahnya. Kalau Nindya tidak salah baca, di baliho yang dipajang di depan kampus, juara dua nilai hadiahnya 12,5 juta. "Makasih ya, Sayang! I love you full pokoknya."


Ya ampun, Nindya tanpa malu menarik kaos Elang agar menunduk padanya. Satu ciuman kilat diberikannya di bibir Elang.


"Hm," jawab Elang singkat. Langsung merangkul bahu Nindya agar meninggalkan area perlombaan, di bawah tatapan cemburu Vivian dan Mayra. "Ayo pulang sekarang!"


"Kok pulang, penutupan lomba ada acara musik, kan? Kamu nggak mau merayakan kemenangan sama teman-teman kamu sambil nikmatin acara puncak HUT mapala?"


"Aku kangen kamu, aku mau dengar cerita tentang Jepang di rumah! Udah sering liat live musik. Lagian kalau kumpul-kumpul, pasti aku ikut minum nanti, kamu nggak bakal suka!"


"Inikan masih sore, masa iya ada petinggi kampus mereka mau pesta? Pulang juga ngapain di rumah?"


"4646, mau ngapain lagi emangnya?"


Nindya memicingkan mata tak paham, "Apalagi itu, El?"


Elang terkekeh-kekeh tak mau menjawab.

__ADS_1


***


__ADS_2