Musim Bercinta

Musim Bercinta
Butuh Waktu


__ADS_3

Rasanya tidak ada pemandangan pagi yang lebih indah daripada perempuan cantik dengan wajah kikuk sedang mengelap bekas basah yang tak sengaja mengenai leher dan membasahi teddy merah mudanya.


Kalau saja itu bukan yang pertama bagi Nindya, Elang pasti sudah menertawakan ekspresi Nindya yang kaget dan cemas berlebihan. Entah apa juga yang dicemaskan dosennya mengingat semburan seperti itu wajar terjadi pada pemuda dengan usia produktif.


Elang masih lapar? Jelas saja, terlihat dari bagian pentingnya yang tidak sepenuhnya mengendur.


Penampilan Nindya tidak bisa melepaskan fantasi Elang begitu saja meskipun sudah diberikan satu pelepasan. Otaknya terus saja liar berkelanjutan hingga bagian tegangnya tak kunjung usai.


"El, ini udah belum sih?" tanya Nindya polos, matanya menatap bagian Elang yang tidak juga lemas.


Elang menyeringai jenaka, "Udah. Makasih ya, Sayang!"


"Tapi kok dia nggak tidur?" tunjuk Nindya setengah bergidik ngeri.


"Mending kamu mandi duluan, aku juga mau mandi lagi, setelah itu kita keluar sarapan baru pergi ke tempat mama."


"Tapi itu kamu …."


"Jangan diliatin begitu, dia nggak suka ditantang! Ntar kamu yang repot lagi," kata Elang sigap membantu Nindya mengelap sisa basahnya. Memakaikan kaosnya dan memberikan handuk bersih pada Nindya agar segera membersihkan diri.


Elang kembali merapikan kamarnya setelah memakai celana pendek. Tertawa sendiri menatap pakaian Nindya yang berserakan di lantai. Elang memunguti satu persatu, memperhatikan antusias ukuran pakaian cantik itu dan juga pedalamannya.


Setelah menghilangkan sedikit rasa laparnya, Elang baru ingat kalau Nindya tadi bermaksud menjelaskan sesuatu padanya. Sebuah salah paham. Elang mengernyitkan dahi, seingatnya tidak ada hal aneh yang dilihatnya saat meninggalkan Nindya di kamar sendirian sebelum mandi.


Elang justru berpikir Nindya melakukan aksi nakal itu untuk memberikan kejutan. Gadis itu datang padanya terlalu pagi, dengan pakaian indah dan dandanan cantik, lalu menggodanya dengan teddy merah muda … lantas dimana letak salah pahamnya?


Elang akan menanyakannya nanti saat sarapan.


Nindya masuk kamar dengan ekspresi yang belum biasa. Masih ada malu dan rona di pipi saat bertatapan dengan Elang. Sial memang, Elang selalu bisa membuatnya berdesir dengan mata badboynya.

__ADS_1


"Kamu lucu pake kaos kegedean," ucap Elang mencairkan suasana. "Aku mandinya sebentar, kamu rapi-rapi aja dulu." Elang melewati Nindya sambil mencuri ciuman kecil di pipi.


Nindya hampir memprotes, tapi Elang sudah keluar kamar. Akhirnya dia hanya mengusap pipinya dengan decak tak berdaya. "Benar-benar membuat orang jadi gila!"


Setelah memakai semua pakaian paginya, Nindya mengambil paper bag dari lemari Elang. Meletakkan teddy merah muda kotornya ke dalam, siap membawanya pulang. Mengembalikan hadiah yang sudah dibelikan Elang untuknya dirasa tidak baik, dia hanya emosi saat itu dan otaknya yang impulsif memerintahkan demikian.


Nindya suka pakaian dalam pilihan Elang, meski tidak tau kapan akan berguna tapi dia bersedia memakainya jika saat romantis itu terjadi. Mestinya bukan hari ini, tapi ya … setidaknya Nindya tau akibat yang akan terjadi jika dia mengenakannya untuk menggoda Elang. Efeknya menjadi dua kali lipat dari biasanya.


Ya Tuhan, Nindya terpikir tunangan konservatifnya yang sedang sibuk mengurus asistennya. Jika dia menggoda Daniel dengan pakaian serupa, apakah pria pendiam itu akan langsung menubruknya? Atau hanya melihat dengan tatapan penuh tanya lalu menyuruhnya berganti pakaian yang normal-normal saja?


Well, Nindya masih saja tidak mengenal Daniel terlalu dalam. Tidak memahami aliran gairah pria yang sudah jadi tunangan selama lebih dari enam bulan itu. Rasanya jadi aneh ketika Elang sangat menginginkannya, selalu menciptakan sentuhan bahkan sering sekali mencuri ciuman sementara Daniel seperti tidak punya hasrat padanya.


Nindya jelas tidak mungkin memulai duluan, bukan gayanya. Tapi Daniel itu laki-laki, memulai dan menciptakan kehangatan itu adalah tugasnya. Hembusan nafas Nindya panjang dan berat, seberat beban hatinya yang merasakan semakin jauh dari Daniel, calon suaminya.


Di depan cermin, Nindya kembali memulas make up tipis untuk menyempurnakan kecantikannya. Tersenyum sendiri dengan manis dan tiba-tiba merasa bahagia. Elang selalu mengatakan dia cantik jika tersenyum, dan itu dianggap Nindya hanya rayuan playboy. Tapi cermin di depannya menyatakan kalau Elang benar, dan pemuda itu juga yang membuatnya jadi mudah tertawa sekarang.


Pintu terbuka, Elang masuk dengan wajah sumringah. "Wow … kamu sudah cantik, Manisku!" Elang membuka lemari, memilih kemeja dan celana panjang yang akan dipakai.


Elang menaikkan alis, "Aku?"


"Ya, akhir-akhir ini kamu kelewat tampan. Aku tidak suka kamu jadi terlalu menggoda untuk gadis muda di luar sana!"


Elang langsung memeluk Nindya dari belakang dan terkekeh dengan kalimat posesif dosennya. "Cemburu?"


"Entahlah!" Nindya mengerang, merasa konyol dengan idenya dan bertingkah kekanakan karena ikut mengatur penampilan Elang. Dia suka Elang dengan gaya yang sekarang, tapi dia tidak suka jika Elang ditatap perempuan lain dengan ekspresi penuh kekaguman.


"Kok entahlah?"


"Terserah kamu deh!" Akhirnya Nindya kembali pasrah Elang akan memakai apa untuk ke pusara mamanya. "Mau pakai apa aja juga sama hasilnya …."

__ADS_1


"Ya udah kemeja hitam aja. Mau sarapan apa?" tanya Elang setelah rapi dan wangi.


"Ringan aja … roti, kopi."


"Jam berapa mau ketemu WO? Mau ditemani?"


Nindya menjawab masam, malas-malasan. "Batal. Sudah aku reschedule jadi Minggu depan. Mungkin aku pulang ke Semarang aja nanti kalau nggak kesiangan."


"Pak Daniel masih sibuk sama asistennya?"


Wajah Nindya semakin melipat kesal, "Begitulah, dia ke Cilacap nganterin pulang Sandra."


"Oh, Sandra jadi pulang ke rumahnya?"


Nindya menyahut, "Katanya kamu nggak bisa nganterin Sandra karena nggak punya SIM, bener gitu? Jawab jujur, El!"


Elang menjelaskan singkat, "Aku punya SIM, tapi aku memang nggak bisa nganterin karena aku rencananya mau pindahan hari ini. Aku juga mau pulang ke rumah, ibu katanya mau masak spesial kalau aku jadi nginep di rumah malam nanti, dan kamu juga diundang!"


"Tapi kamu bilang nggak punya SIM sama Sandra, El!" kata Nindya dengan mata menyelidik.


"Loh aku beralasan nggak bisa nganterin itu karena ada kesibukan pindahan, nggak ada bahas-bahas SIM sama sekali sama Sandra, dan dia ngerti waktu aku jelasin," tegas Elang membela diri. Dia menolak mengantarkan karena Sandra memang sedang main drama, dan alasan pindahan sama sekali bukan bualan semata.


"Oh berarti Sandra yang bohong sama Daniel, maksud kamu begitu? Biar dia pulang dianterin sama Daniel, bukan sama kamu?"


Elang merangkul Nindya, "Aku nggak tau siapa yang bohong, bisa Sandra bisa juga Pak Daniel, kan?"


Nindya menggeleng, mengingkari kalau kemungkinan seperti itu bukan dari Daniel. Tunangannya bukan orang yang bisa mengada-ada atau mengarang cerita.


"Daniel tidak mungkin membohongiku!" gumam Nindya yakin. "Aku kenal baik dengan dia."

__ADS_1


Elang tersenyum masam, tidak menyangkal selarik kata pembelaan dari Nindya. Semua butuh waktu untuk terbuka, begitu juga dengan Nindya. "Kita cari sarapan sekarang?"


***


__ADS_2