Musim Bercinta

Musim Bercinta
Nasehat Dosen


__ADS_3

"Kamu beneran gila, El!" Nindya mulai mengomel begitu mobil keluar dari rumah Elang. "Bisa nggak sih kamu itu ngomong dulu kalau mau ngajak aku ketemu orang tuamu?"


"Kalau ngomong pasti kamu nggak mau," jawab Elang cuek.


Nindya menoleh, "El … mengenalkan wanita sebagai pacar pada orang tua itu artinya apa? Aku nggak mau kamu sembarangan, aku bukan pacar kamu, aku mau nikah sama orang lain. Kamu sendiri yang bilang affair kita sudah berakhir. Gimana sih kamu ini?"


Elang mendengarkan dengan seksama, mengangkat satu alis tak peduli dengan protes keras Nindya. "Trus?"


"Aku besok mau ketemu orang wedding organizer, pernikahanku ada di depan mata, masih nggak ngerti juga?"


Elang menjawab enteng, "Besok aku temani, aku yakin Daniel besok masih sibuk ngurusin asistennya yang cantik itu!"


"Kamu memang gila!" rutuk Nindya jengkel.


"Kalau sudah tau kenapa masih terus saja dibahas? Yang gila aku kok kamu yang pusing."


Nindya geleng-geleng kepala, otaknya panas memikirkan cara mendebat dan menghindari pemuda agresif di sebelahnya, pemuda yang sedang jatuh cinta padanya. "Kamu bikin orang kesel aja kerjanya. Tapi El, orang tuamu baik ya sama aku? Ibu kamu juga ramah banget, padahal baru kenal."


"Itu ibunya Dewa," sahut Elang datar. "Bukan ibuku!"


"Astaga! Beliau itu istri ayahmu, El! Bagaimana bisa kamu menganggapnya orang lain?" pekik Nindya marah, seketika melotot dengan tatapan tak percaya.


Elang menghentikan mobil di lampu merah, membalas tatapan Nindya dengan raut rumit. "Jangan bahas soal itu sekarang! Bagiku istrinya papa ya mama, dan beliau sudah meninggal dunia."


"Iya aku tau, tapi kamu harus belajar memahami mereka, El! Aku juga ngerti kalau mama kamu sudah nggak ada, tapi bukan begitu sikapmu sebagai anak! Kamu keliatan bener nggak suka dengan ibu kamu!"

__ADS_1


"Jadi aku salah?" tanya Elang muram. Mobil yang melaju pelan diarahkan ke jalan menuju Parangtritis. "Dia mengambil satu-satunya keluargaku yang masih ada di dunia, Papa! Wajar kalau aku nggak suka."


"Dengar ini, El! Seandainya ibuku mau menikah lagi, aku akan memperbolehkan dengan senang hati, aku sering sekali merayunya agar memiliki suami. Aku tau bagaimana dia menderita menjadi single parents untukku. Kenapa aku harus seperti itu? Karena aku tidak bisa memberikan kebahagiaan yang hanya bisa diberikan pasangan dalam rumah tangga, El! Aku tidak boleh egois dengan kebutuhan cinta dan mungkin juga kebutuhan biologis orang yang paling aku sayangi itu. Ibuku masih muda saat ditinggalkan ayah, aku yakin dia menahan kesendiriannya itu dengan susah payah." Suara Nindya serak, terbawa oleh situasi pelik yang melanda ibunya.


Elang diam dalam dilema, "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak suka posisi mamaku ditempati orang lain."


"Tidak ada yang mengambil posisi mama kamu, El! Mama kamu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun di hati kamu, begitu juga di hati papa kamu. Beliau memiliki tempat tersendiri untuk dikenang, dan itu abadi. Ada hadiah manis dari pernikahan orang tuamu dulu yaitu anak, kamu adalah pengikat yang nggak pernah bisa diurai oleh kematian sekalipun. Selamanya, ibu kamu tidak bisa menggeser mama kamu dari masa lalu ayahmu, tidak akan bisa menghapus kenangan manis ayahmu apalagi menyingkirkan kamu!" ujar Nindya panjang, memberikan sedikit pemahamannya yang mungkin bisa diterima Elang.


Elang tidak membantah, perasaannya campur aduk tak terjelaskan. "Aku sulit menerima kehadirannya! Aku menjaga jarak agar dia nyaman dengan papa."


"Tidak ada yang sulit jika kamu mau belajar! Terima ibu barumu seperti kamu menerima Dewa sebagai adikmu. Kalau Dewa yang lebih muda bisa menerima orang lain sebagai papa, kenapa kamu tidak bisa bersikap seperti Dewa?" Nindya mengusap bahu Elang dengan penuh kasih.


Elang merespon dengan diam. Teman bicaranya ternyata tepat, cukup dewasa untuk memahami masalahnya dalam keluarga. Dia membiarkan dosennya masuk ke dalam kerumitan hatinya, mencerna setiap kalimat Nindya yang semuanya benar.


Hembusan nafas Elang terlihat berat, keputusannya untuk pulang ke rumah semakin kuat dengan dukungan Nindya. Kalau kemarin hanya untuk kesehatan papanya, sekarang ada alasan lain.


Pemuda itu sudah memutuskan untuk menurunkan egonya kemarin, dan sekarang semakin tak berdaya saat Nindya menceramahinya. Wanita itu mudah sekali akrab dengan papa dan ibunya, Elang suka. Perasaannya hidup saat melihat itu, rasanya hangat, dan dia bahagia melihat papa dan ibunya tertawa bersama Nindya.


"Maukah kamu bertemu mama? Maksudku menemaniku ke pusara untuk bercerita. Tidak hari ini, kalau kamu ada waktu."


"Baiklah aku akan menemanimu besok pagi, aku yakin mama kamu setuju dengan pendapatku!" kata Nindya dengan senyum menenangkan.


"Apa aku harus segera pulang? Papa memintaku untuk tinggal di rumah itu lagi, tapi aku merasa belum siap sepenuhnya," ujar Elang jujur. Masukan dari Nindya sekali lagi dibutuhkan Elang untuk memupus keraguan.


"Kalau masih berat, kamu bisa mulai dengan menginap di rumah dua sampai tiga kali dalam seminggu, lakukan itu dalam satu bulan sampai kamu benar-benar nyaman. Seiring waktu bisa ditambah jadi empat sampai lima kali hingga akhirnya kamu nggak perlu tinggal di kontrakan lagi."

__ADS_1


Elang termangu sejenak, "Baiklah, terima kasih nasehatnya. Apa kamu peduli seperti ini karena aku mahasiswamu?"


"Pertanyaanmu terlalu berat untuk dijawab, El!" kata Nindya terkikik geli. "Aku peduli karena aku sayang sama kamu."


"Kapan kamu cinta sama aku?"


Nindya tertawa ringan, "Aku akan menikah dengan Daniel."


Elang ikut tertawa, betapa dosennya masih saja menolaknya dengan tegas. "Aku mencintaimu, Nindya."


"Aku sudah mendengarnya beberapa kali, dan kamu selalu saja mengatakan itu, apa kamu nggak bosan?" Nindya meledek Elang yang sering berkata bosan mendengar alasan Nindya yang akan menikah dengan Daniel.


"Aku nggak mungkin bosan denganmu," jawab Elang.


"Kamu masih muda, El!"


"Sekarang kamu meragukanku karena faktor usia?"


Nindya enggan menjawab pertanyaan Elang. Lagipula apapun yang akan dijelaskan Nindya tidak akan didengarkan Elang. Pemuda itu tidak akan mengubah niat hanya karena kalimat yang isinya alasan klise dan Nindya tidak mampu membuat alasan lain lagi.


"Kita mau kemana, El? Kenapa masuk area Parangtritis?" tanya Nindya mengalihkan pembicaraan. Dia baru sadar Elang tidak mengantarnya pulang karena terlalu serius membicarakan masalah pribadi Elang dan keluarganya.


"Aku mau nyicil hutang," jawab Elang singkat.


Nindya mengerutkan dahi tak paham. "Maksudnya?"

__ADS_1


Elang menggenggam tangan Nindya. "Kita akan melihat salah satu senja indah di Yogyakarta dari atas bukit Parangndog."


***


__ADS_2