
Tiga puluh menit. Elang dan Nindya hanya mengobrol tanpa aksi saling sentuh. Elang fokus bercerita tentang keluarganya untuk mengalihkan sebagian pikirannya yang sudah kemana-mana. Semua tercurah tanpa beban karena Nindya menanggapinya dengan penuh pengertian.
Nindya dewasa, tidak menyalahkan ataupun menghakimi apapun yang sudah Elang lakukan selama mamanya tidak ada. Pemberontakan dalam mencari jati diri umum dialami oleh anak yang mendadak kehilangan sandaran hidupnya. Nindya sudah melewati fase marah pada ayahnya saat mereka terakhir kali meributkan biaya kuliahnya.
Melupakan semua keburukan dan menerima takdir hidupnya yang tidak sesuai harapan adalah obat untuk hatinya. Nindya menjalani hari-harinya tanpa memikirkan lagi ayahnya. Berbagi kisah tidak mengenakkan ternyata membuat mereka justru bisa tertawa bersama. Elang bisa menerima solusi-solusi yang Nindya berikan tanpa banyak mendebat.
"Aku lapar," kata Elang. "Kamu masih mau berendam? Terlalu lama bikin kulit kamu kering!"
"Aku sudah selesai, bisakah kamu hadap sana? Aku mau keluar bathtub," pinta Nindya serius.
Elang menukas, "Aku sudah melihat semua, apalagi yang mau kamu tutupi?"
Nindya tertawa kecil. "Aku tidak menutupi sesuatu, aku hanya tidak ingin dilihat. Aku takut kamu tidak bisa menahan diri."
Alis Elang sebelah kanan langsung naik. "Kata-katamu membuat yang di bawah perutku juga lapar!"
Mendengar kalimat Elang, Nindya seketika berdiri, berjalan menuju shower dan membilas diri. Dia tidak mau sok menantang pemuda yang memang terlihat kelaparan akan dirinya itu. "Aku tidak mendengar apa-apa."
Elang juga keluar bathtub, mengikuti Nindya dari belakang, matanya memperhatikan setiap lekuk tubuh Nindya dengan tatapan memuja, sambil bersiul nakal. "Kamu seksi, Manis!"
"Tutup mulut kotormu, El!" Nindya meraih handuk di dekat shower, tidak membiarkan Elang menatap bagian depannya. Dia segera melempar handuk Elang dengan tatapan jengah, "Tutup juga senjata rahasiamu yang menunjuk tidak sopan itu!"
Elang menangkap handuknya sembari tertawa terbahak-bahak. Dia menyukai wajah dosennya yang memerah karena tak bisa menghindari kejahilannya.
Nindya melengos, apa yang ingin dilihat dari keseluruhan Elang membawa dampak buruk pada kinerja otaknya. Nindya tidak bisa mengusir desiran yang menguasai, dan akan sangat memalukan jika dia terlihat bergairah pada tubuh atletis Elang.
"Ayo aku baluri kulitmu dengan lotion biar lembab!" Elang melilitkan handuk sebatas pinggang setelah membilas tubuhnya sebentar.
"Nggak usah, nanti aku pakai di rumah aja, ayo makan, perutku juga lapar!"
Elang mengambil lotion yang disediakan hotel dari dekat wastafel lalu menyusul Nindya yang ternyata sudah memakai pakaian dalamnya. "Ini nggak bakal lama, kulitmu bisa kusam dan bersisik kalau sudah terlanjur kering."
__ADS_1
Tanpa segan, Elang membopong Nindya dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Memaksa Nindya menurut agar tidak memakan banyak waktu.
"El, aku bisa sendiri!" pekik Nindya kewalahan. Elang sudah menuang lotion di tangannya dan mengusapkan di kaki kanan, dari telapak kaki hingga paha atas.
Nindya bergidik, seluruh sel tubuhnya meronta merasakan gelenyar tak biasa yang dihantarkan oleh telapak tangan Elang.
"Kalau kamu diam tidak akan terjadi apa-apa, tapi kalau kamu terus membuat gerakan mengundang seperti itu … aku tidak tidak akan menahan diri lagi." Dengan sinting Elang mengancam Nindya yang merah padam karena malu dan juga gerah tak terkira.
"Kamu bener-bener aneh!" ujar Nindya serak. Dia berdoa semoga Elang tidak melihat pakaian dalamnya, yang mungkin ada bekas basah karena dia tidak bisa menghentikan cairan yang otomatis berproduksi saat Elang meraba seluruh kulitnya.
Elang menimpali, "Dan juga gila?"
Elang terkekeh sembari membalur lotion di tangan kanan Nindya sebagai sentuhan akhir. Setengah mati dia berusaha mengendalikan diri untuk tidak menerkam Nindya dan melampiaskan seluruh hasrat lelakinya.
"Ya, sangat gila!" sahut Nindya cepat, secepat tangannya yang bergerak melepaskan sentuhan Elang. "Oke, sudah selesai."
Elang tak menggubris, tubuh Nindya yang siap lari dari aktivitas nakalnya ditarik hingga menabrak dadanya. "Aku belum selesai!"
Senyum Elang mengembang, dia menangkap tangan Nindya lalu mencium telapaknya. "Aku tau, Manis. Aku tidak akan berlebihan, aku bisa mengurus kebutuhanku sendiri nanti, aku hanya ingin menciummu."
Nindya lega. Keputusannya bicara di depan ternyata tepat, Nindya tau Elang sulit dihentikan, begitu juga dirinya kalau sudah kepanasan. "Janji?"
"I promise, My Love! One kiss."
Nindya mendahului mencium Elang di pipi, dan dia merasa kurang. Kedua tangannya menyusul menyentuh rahang Elang dan mulai mengusapnya perlahan. Bibirnya yang masih menempel di pipi Elang bergeser ke arah bibir, mengecup sudutnya dua kali lalu menautkan dengan sesapan hangat.
Bermodal pelajaran ciuman dari Elang, Nindya mulai memperdalam kecupan atas inisiatifnya. Mengoptimalkan fungsi lidah dan giginya untuk membalas Elang yang sengaja menggodanya.
Nindya mendorong tubuh Elang hingga rata dengan tempat tidur, dia memutuskan duduk di atas perut Elang lalu melengkungkan tubuhnya ke depan, kembali mencium Elang yang menatapnya sangat dalam.
"I love you, Nindya!" bisik Elang sensual. Tak bosan dengan tiga kata yang memang mengungkapkan seluruh perasaannya.
__ADS_1
Ah, betapa Nindya ingin sekali melakukan lebih dari sekedar ciuman. Dia sudah basah saat Elang memakaikan lotion pelembab ke seluruh kulitnya yang terbuka, menyisakan dada yang tertutup bra dan bagian bawah yang terhalang kain segitiga.
Elang memeluknya mesra sambil berpagutan, tangan Elang mengelus dari bahu, punggung hingga ke pinggang, menangkup bokongnya gemas dan terakhir mengusap kedua pahanya dengan sentuhan ringan.
"Udah!" Nindya tertawa senang melihat Elang sangat tersiksa olehnya. Wajah mahasiswa yang ada dibawahnya itu benar-benar seperti orang mabuk.
"Cuma gitu doang?" tanya Elang cengengesan. "Kurang, Sayang!"
Elang duduk, memangku Nindya yang asik mengacak-acak rambutnya, menata dengan gaya ke kiri, kanan hingga akhirnya mengembalikan ke model favorit Elang, mohawk.
"Kamu cocok dengan model rambut begini," puji Nindya mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin terlalu panas dan larut dalam erotika.
Elang tak peduli, perhatiannya ada di tempat lain. Dia lebih memilih mengikuti insting lelakinya daripada mendengarkan Nindya. Elang menurunkan kedua tali penutup dada Nindya yang masih ada di bahu, tidak melepas pengaitnya juga tidak sampai melihat puncaknya.
Elang hanya mengecup singkat bagian atas bukit Nindya untuk melampiaskan rasa gemasnya. Deru nafas Elang sudah tidak beraturan. Ekspresinya pun seperti orang frustasi saat menaikkan kembali dua tali yang tadi diturunkannya sampai lengan atas.
"Jadilah milikku, Nindya sayang!" bisik Elang di depan bibir Nindya. "Aku mencintaimu!"
Nindya menurunkan wajahnya dan mengecup bibir Elang dengan mesra, "Cinta saja nggak akan cukup, El."
"Kamu butuh apa?" tanya Elang mengetatkan pelukan, satu tangannya menyisir rambut Nindya dan mengarahkannya untuk menutupi dada.
Nindya menjawab cepat, "Lebih banyak bukti."
Hah? Nindya mungkin sudah gila meminta Elang membuktikan cintanya. Dia memutuskan dengan cepat kalau ingin melihat sejauh mana Elang menginginkan dirinya secara serius. Di samping itu, Nindya juga perlu mengukur dirinya sendiri, sebesar apa dia ingin bersanding dengan Elang, terlepas dari rencana pernikahannya dengan Daniel beberapa bulan lagi.
"Baiklah, pakai bajumu! Kita makan setelah aku menyelesaikan masalahku!" Elang menyeringai tersiksa, merasakan Nindya menggesek bagian bawahnya tanpa sengaja saat turun dari pangkuannya.
Nindya mengangguk, masih malu untuk menawarkan bantuan pelepasan pada Elang. Tangannya sama sekali tak berpengalaman, terlebih mulutnya. Semua yang ada dipikirannya hanya berdasar bacaan dan video cabul yang pernah dilihatnya.
Mungkin bukan sekarang, tapi saat kencan berikutnya! Ya ampun!
__ADS_1
***