Musim Bercinta

Musim Bercinta
Seperti Narkoba


__ADS_3

Huh, Elang memang selalu penuh rayuan konyol mematikan untuk Nindya yang sering naif dalam sebuah hubungan. Semakin lama bersama Elang, Nindya serasa berubah menjadi pribadi yang kadang juga sinting.


"Apa Melani masih melihat kita?" tanya Nindya pelan. Posisinya yang membelakangi saudaranya itu memberi keuntungan dalam menyembunyikan rona malu dan rasa kikuk setelah berciuman dengan Elang.


"Nggak, dia membuang muka!"


"Syukurlah kalau begitu!" balas Nindya puas.


Elang terkekeh, dia agak keterlaluan menciptakan suasana romantis bersama Nindya. Bukan hanya Melani yang gerah, tapi pria seumuran ayahnya yang sedari tadi memperhatikannya juga spontan memasang wajah dingin.


"Siapa pria yang berdiri arah jam sembilan?"


Nindya tidak langsung menoleh tapi melihat dengan ekor matanya. "Oh … itu ayahku!"


Elang meringis, "Hm … sepertinya aku dalam masalah!"


Nindya terkikik melihat ekspresi Elang yang mendadak salah tingkah. "Tidak akan ada masalah, kami sudah tidak bertegur sapa selama sepuluh tahun."


"Hah, apa alasan ibumu tidak mau datang karena situasi ini, karena ada ayahmu?"


Nindya menjelaskan gamblang, "Bisa dibilang begitu sih! Mempelai wanita itu sepupuku dari keluarga ayah, jadi beliau pasti hadir, dan ibu menghindari masalah. Istri ayahku masih saja cemburu pada ibuku sampai sekarang, dan selalu saja berusaha menyingkirkanku dari kehidupan ayah."


Elang termangu, dia juga memiliki ibu tiri di rumah. Tapi rasa-rasanya tidak sejahat istri ayah Nindya. "Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk saling diam. Aku juga pernah mendiamkan papa saat baru menikahi ibu Dewa, tapi hanya beberapa bulan."


"Awalnya hanya masalah biaya, ibu minta bantuan dukungan biaya kuliah untukku saat lulus SMA. Ayah mau mengeluarkan biaya hanya jika aku tinggal dengannya dan kuliah di tempat yang ditunjuknya. Ayah ingin aku jadi dokter, sementara aku ingin jadi ahli kimia."


"Trus?" Elang menyimak dengan serius.


"Saat itu aku berpikir bahwa dengan masuk jurusan teknik kimia aku bisa meracik racun kimia yang bisa menyakiti ayah secara perlahan dan permanen," sambung Nindya seraya tertawa lancar.


Elang sedikit kaget, "Wow … motivasimu masuk teknik kimia sungguh keren!"


"Ya, dan ternyata aku salah alamat memilih jurusan itu kalau ingin meracuni ayahku. Teknik kimia berfokus pada rancang pabrik hahaha … bagaimana denganmu, El? Apa yang membuatmu masuk jurusan itu?"


"Tidak ada motivasi khusus, aku masuk jurusan itu karena Mayra," jawab Elang datar.


Ya, Elang memilih jurusan yang sama dengan Mayra karena surat mamanya. Dengan lebih banyak bertemu karena mengambil jurusan yang sama, Elang berharap suatu hari dia akan jatuh cinta pada Mayra dan bisa mewujudkan keinginan mamanya.

__ADS_1


Tak disangka kalau takdir justru berbicara lain, Elang jatuh cinta pada dosen pembimbingnya setelah insiden salah paha. Buruknya, Nindya punya tunangan dan akan menikah sebentar lagi.


"Kok bisa, El?"


"Aku kenal Mayra sejak SMA, aku pikir bisa memanfaatkan kebaikannya jika aku mengambil jurusan yang sama dengannya saat kuliah," terang Elang dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Dia tidak sepenuhnya berbohong soal alasannya, tapi juga tidak bisa dibilang jujur. Elang hanya tidak ingin Nindya tau kerumitan hatinya.


Nindya mengangguk, masih saja ada nyeri menghantam kalbu saat Elang menyebutkan nama Mayra. Padahal dia bisa meraba alasan sebenarnya Elang masuk teknik kimia pasti karena mamanya. "Hanya itu alasannya?"


"Ya, aku rasa hanya itu." Elang menggenggam tangan Nindya erat-erat, memberikan keyakinan akan hati dan ucapannya. "Mau makan sekarang?"


"Boleh." Nindya menjawab dengan senyum manis, melegakan hatinya yang nyeri tanpa arah. Dia sadar tidak memiliki pilihan lebih baik, hubungannya dengan Elang memang bisa berakhir kapan saja.


Nindya mengambilkan makan dan minum untuk Elang, menikmatinya lebih santai sambil mengobrol soal keluarga masing-masing.


"Trus siapa yang membiayai kuliahmu di teknik kimia?" tanya Elang penasaran.


"Coba tebak!"


"Beasiswa?"


Nindya tergelak, "Benar! Aku sekolah dengan beasiswa dari SMP, ibu hanya mendukung biaya tambahan."


"Apanya yang hebat? Buku dan perpustakaan mengubahku menjadi penyendiri. Aku jadi tidak begitu suka keramaian, pesta seperti ini membuatku tidak nyaman," keluh Nindya dengan seringai memelas.


Elang menyuapkan satu sendok makanan ke mulut Nindya dengan sayang, "Mau pergi denganku? Ke tempat dimana kita hanya akan mendengar angin menggesek dedaunan, gemericik air sungai dan kicau burung di waktu pagi. Aku bukan penyendiri, tapi aku suka suasana sunyi."


"Gunung? Aku nggak bakalan kuat naik, El …!" Nindya memasang wajah kuyu sesaat.


"Kita tidak akan sampai puncak, jalurnya terlalu melelahkan untukmu. Kita akan sedikit trekking dari pos satu untuk mendapatkan suasana alamnya, itu cukup. Mau?"


Nindya mengerang, suasana yang ditawarkan Elang benar-benar menggelitik adrenalin. Bukankah dia memang selalu ingin tau kemana Elang akan membawanya jika berduaan?


Setelah senja indah di Parangndog, Nindya sepertinya ketagihan untuk menghabiskan waktu romantis bersama Elang. Pemuda yang sedang menyuapinya memang benar saat berkata dia akan merindukan hal sepele seperti itu. Sial!


Nindya mengeluhkan pengalamannya yang sangat minim. "Aku mungkin akan merepotkan, El! Aku tidak pernah mendaki atau camping di alam terbuka sebelumnya! Aku benar-benar nggak kenal dunia petualangan alam bebas seperti kamu!


"Jangan khawatir, Manis! Aku akan membuat petualangan ini sangat ringan untukmu!" Elang mengedipkan sebelah mata meyakinkan. "Percayalah pada Elang!"

__ADS_1


Nindya tertawa mendengar janji manis badboynya, "Jadi kapan kita berangkat?"


Elang menelan makanan terakhir di mulutnya sebelum menjawab, "Sekarang aja ya? Besok kan tanggal merah. Satu malam cukup untuk relaksasi pikiran. Besok siang kita bisa turun gunung dan pulang ke Yogya."


"Aku harus pamit dulu sama ibu!" Nindya berpikir sejenak sebelum menyambung dengan sederet kata, "Aku tidak yakin beliau akan mengizinkan!"


"Aku yang akan minta izin untukmu," ujar Elang serius. Tangannya mengambil selembar tissue untuk mengelap bibir Nindya.


"Aku bisa sendiri, El!" tolak Nindya. Sedari tadi Elang memanjakannya seperti ratu tanpa peduli mata orang lain yang terus saja mencuri pandang dengan iri.


"Kalau tidak di sini aku pasti sudah membersihkannya dengan cara lain!"


"Astaga El … apa tidak ada yang kamu pikirkan selain melakukan hal mesum denganku?" tanya Nindya dengan wajah merah.


"Tidak ada, aku suka menikmati rasanya saat melakukannya denganmu," jawab Elang cuek.


"Rasa apa?" Nindya mengerutkan dahi.


"Getaran yang tidak bisa dijelaskan. Juga adiksi yang terus saja merusak sistem saraf seperti narkoba! Apa kamu merasakan hal yang sama denganku saat kulit kita bersentuhan?" Elang menatap Nindya dengan penuh cinta.


Nindya diam, jika menjawab iya apakah bisa disimpulkan kalau dia juga jatuh cinta sama besarnya dengan Elang?


"Aku tidak tahu," jawab Nindya ragu.


"Kamu cantik sekali hari ini, maukah kamu memakai pakaian seperti ini hanya untukku di kemudian hari?" tanya Elang mengubah topik.


"El …." Nindya menatap jengah pada Elang yang sedang memperhatikan leher dan bahunya yang sedikit terbuka.


"Aku suka bajumu, aku membayangkan di dalamnya kamu memakai pakaian seksi yang sewarna dengan kulitmu yang kita beli beberapa waktu lalu di Victoria's Secret." Tarikan nafas Elang terdengar berat, senyumnya memikat Nindya agar tak lepas dari tatapan laparnya.


Gairah Elang pada Nindya kadang datang bukan hanya di waktu yang tidak tepat tapi juga sering salah tempat. Menggebu-gebu dan tak tau malu.


"El, stop melihatku seperti itu!" Nindya mencubit lengan Elang untuk membuat pemuda itu berkedip. Wajahnya serasa terbakar membayangkan dirinya sengaja berpakaian nakal berenda itu di depan Elang.


Elang terkekeh melihat wajah Nindya yang kemerahan karena tatapannya. "Kita pulang sekarang? Ayahmu terus saja melihatku seperti ingin bicara sesuatu!"


"Belum waktunya kamu ngobrol sama ayah! Aku nggak mau dia menjauhkanmu dariku!" Nindya tersenyum masam mengingat sang ayah beberapa kali menghubungi ibunya hanya untuk ribut soal siapa yang akan menikah dengan Nindya.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kamu saja!" Elang mengangguk, tatapan ayah Nindya memang menyiratkan rasa tidak suka. Tapi Elang tidak takut kalah, andrenalinnya selalu bekerja baik saat mendapatkan tantangan. Terlebih jika itu berhubungan dengan Nindya.


***


__ADS_2