Musim Bercinta

Musim Bercinta
Rumah Keluarga


__ADS_3

Menciptakan kenangan manis sebanyak mungkin selama lima bulan ke depan. Itu yang akan Elang lakukan untuk Nindya. Elang harus menjejali kepala Nindya dengan dirinya. Memberikan kesulitan agar Nindya mempertimbangkan kembali pilihannya.


Kalaupun semua rencananya nanti meleset dan Nindya tetap menikah dengan Daniel, setidaknya Elang sudah memiliki hari-hari terbaik bersama orang yang dicintainya. Hari yang bisa diingatnya sepanjang hidup.


Keluar dari ruangan Sandra tadi Elang tidak langsung pulang, tapi menunggu dosen pembimbingnya di lorong keluar blok tempat Sandra dirawat.


"El …?" Nindya kaget melihat Elang tiba-tiba muncul di depannya. "Ngapain kamu di sini?"


Elang menyeringai tengil sebelum menjawab tenang, "Nunggu kamu, aku khawatir kamu butuh bantuan untuk jalan ke parkiran, butuh supir untuk nganterin pulang, juga butuh bahu untuk sandaran."


Nindya mendelik sewot, "Maksud kamu?"


"Melihat tunangan sendiri mengusap-usap perut perempuan lain pasti bikin hati kamu nggak karuan, pikiran kamu pasti banyak dugaan dan juga sedikit banyak kamu pasti merasa kecewa."


Nindya menggeleng lemah, tenaganya serasa habis untuk menyangkal ataupun mendebat kalimat Elang yang memang memiliki kebenaran. Nindya melangkah tanpa memperdulikan Elang. "Aku mau pulang, aku butuh istirahat."


Elang merangkul bahu Nindya dengan sigap. Wajahnya jenaka saat mengungkapkan simpati. "Aku akan menghiburmu!"


Tanpa mengurus motornya, Elang mengikuti Nindya ke parkiran mobil. Dia bisa mengambil motornya nanti, atau besok atau mungkin lusa. Sesekali iseng parkir menginap di rumah sakit rasanya tidak apa-apa.


Elang mengambil alih kunci dan memaksa Nindya hanya duduk di sebelahnya. Tidak mengusik mood Nindya yang sedang berantakan. Elang memilih mengemudi diiringi lagu slow rock dan ikut bernyanyi dengan suara pas-pasan yang dimilikinya.

__ADS_1


"Suaramu nggak enak didengar kalau lagi nyanyi, El!" protes Nindya pada akhirnya.


Elang hanya cengengesan, "Gimana kalau kamu yang nyanyi? Kamu suka lagu apa?"


"Snow on the Sahara," jawab Nindya singkat. Matanya memperhatikan Elang yang mengemudi sambil memilih lagu.


"Nyanyilah!" perintah Elang.


Nindya tertawa, sudah lama dia tidak mengolah vokalnya. Elang membangkitkan hobi pribadi yang biasa dilakukannya dulu untuk mengusir kesepian. Hal yang hanya dilakukan saat ada di ruangan dan berkutat dengan setumpuk bacaan. Akhirnya suaranya keluar juga setelah dipancing Elang dengan nada yang menyakitkan telinga.


Terbukti Elang mampu mengubah mood jelek Nindya menjadi lebih baik. Bahkan dosen muda cantik itu tidak menyadari kalau arah mobil yang dikemudikan Elang tidak menuju jalan ke rumahnya. Mulutnya sibuk bersuara dengan lagu-lagu lama Anggun C Sasmi yang jadi favoritnya.


Elang memasuki kawasan perumahan tempat tinggal orang tuanya, berhenti di depan salah satu rumah dan membunyikan klakson minta pagar dibuka. Dia juga menurunkan kaca agar bisa dilihat oleh orang yang bekerja di rumahnya.


"Ayo turun!" Elang mematikan mesin mobil, menoleh ke arah Nindya yang juga menatapnya heran.


"Rumah siapa ini, El?" tanya Nindya curiga.


"Ayo masuk!" Elang sampai harus memutari mobil untuk membukakan pintu dan menarik Nindya agar mau turun. "Keluargaku tinggal di sini."


Nindya tidak punya persiapan untuk bertemu keluarga Elang. Sialnya pemuda yang menyeretnya masuk tidak mengatakan apa-apa sebelumnya. Ingin sekali Nindya balik kanan dan pergi dari sana.

__ADS_1


"El …." desis Nindya kikuk. Otaknya berpikir keras agar siap menghadapi siapapun yang ditemuinya, terutama orang tua Elang.


"Ayo kita ke lantai dua, kamarku ada di atas!" bisik Elang nakal.


"Kamu sudah gila?" Nindya melotot sambil mengibaskan tangan Elang. "Kamu biasa bawa perempuan ke kamar kalau di rumah? Ya ampun El, separah itu kelakuan kamu?"


Elang tergelak melihat wajah Nindya yang emosional, "Aku cuma mau nunjukin kamar, bukan mau ngajak bercinta, Manis!"


"Sama aja, itu kurang beradab. Aku perempuan baik-baik, ingat itu!" Nindya melangkah ke sofa ruang tamu dan duduk manis dengan wajah kembali biasa. Dia tidak mau dilihat seperti terpaksa datang dan memberikan kesan buruk pada keluarga Elang.


"Orang tuaku lagi nggak ada di rumah," kata Elang singkat.


"Terlebih lagi nggak ada orang tua, kamu nggak boleh seenaknya masukin orang ke dalam rumah, apalagi bawa-bawa cewek ke dalam kamar. Ini bukan kost-kostan, setidaknya kamu bisa membedakan hal kecil seperti itu!"


Elang menaikkan kedua alisnya, "Aku cuma berusaha berbuat baik, kamu bilang mau pulang istirahat, anggep aja ini rumahmu jadi kamu bisa tidur di kamarku!"


"El, kita nggak ada ikatan apa-apa. Aku bukan pacar, tunangan apalagi istrimu! Pahami status hubungan kita sebelum mengarah lebih dalam dan serius lagi! Kamu bawa aku ke rumah orang tuamu ini saja sudah nggak bener!"


Nindya mengomel panjang persis seperti mama Elang. Dan dari semua wanita yang dekat dengan Elang, sepertinya hanya Nindya yang berani melakukan hal seperti itu padanya.


Sayangnya Elang tipe orang yang hanya mau mendengar kalimat yang memang ingin dia dengar saja, selebihnya akan dianggap angin lalu.

__ADS_1


"Jadi kamu maunya jadi apaku? Pacar, tunangan apa istri? Kan tinggal bilang aja, Manis!"


***


__ADS_2