
"Aku lumayan lama tinggal di Yogya, tapi nggak pernah tuh dengar tempat yang kamu sebutin barusan!" kata Nindya penasaran.
Elang bertanya serius, "Memangnya kamu selama di Yogya sudah kemana saja?"
"Ya ke banyak tempat!"
"Apa kamu penikmat alam? Pemburu matahari terbit atau indahnya warna senja?"
Nindya tertawa kecil, "Nggak kepikir kesitu, El! Berkunjung ke tempat wisata ya ngikutin jam operasional tempatnya."
"Untuk penikmat senja indah, Watugupit Parangndog ini bisa jadi pilihan. Tempatnya dijamin bagus buat yang suka posting foto di sosial media."
"Kedengarannya keren," ucap Nindya antusias.
"Kita akan ke bagian helipad nanti. Kamu bisa memotret panorama sunset dengan landscape Pantai Parangtritis sambil menikmati angin sepoi-sepoi di sana."
"Wah … penasaran aku!"
"Apalagi kalau datang lihat sunsetnya berdua sama pasangan. Nikmat mana yang bisa kamu dustakan, Manis?" tanya Elang dengan senyum menggoda.
"Itu terdengar romantis," kata Nindya lirih. Matanya menatap ke depan, ke jalan menanjak yang akan mengantarkan mereka ke tempat yang dimaksud mahasiswanya.
Elang tergelak, dia yakin Nindya tidak akan lupa dengan momen yang akan mereka lewati. Elang menimpali dengan nada mengejek, "Kamu akan merindukan semua ini suatu saat nanti."
"Hm, masa sih?"
Elang menjawab, "Aku yakin sekali, kamu juga akan merindukanku karena hal-hal sepele seperti ini."
Sampai di atas, Elang parkir di salah satu rumah warga dan mengajak Nindya naik bukit sedikit, mencari tempat terbaik untuk duduk berdua di area helipad. Menghadap samudera luas, menatap air tanpa ujung dari ketinggian, dengan ombak yang tak berhenti berkejar-kejaran.
Ah, pemandangan sore mulai terangkum penuh pesona di bawah sana, di Pantai Parangtritis.
"Ini indah, El!" puji Nindya takjub. Matanya tak lepas dari sinar emas yang membayangi air laut. "Nggak nyangka suara ombaknya sampai sini!"
Elang merangkul bahu Nindya ketika wanita itu menyandarkan kepalanya, setengah memeluk. "Sebentar lagi pemandangan akan semakin eksotis."
"Kamu sering kesini?" tanya Nindya.
__ADS_1
Elang menunjuk ke arah tebing, "Aku sering manjat sama teman-teman di sana!"
"Tinggi ya? Serem!"
"Kamu tau, panjat tebing sangat diburu bagi penggemar olahraga ketinggian di organisasi mapala. Nggak ada kata serem kalau udah suka."
Nindya mengamati tebing yang ditunjuk Elang. "Itu khusus untuk pemanjat yang sudah pengalaman aja ya?"
"Ada beberapa blok tebing yang sudah dibuka jalur panjatnya di sini. Nggak usah khawatir, kalau kamu mau coba manjat di sini! Tebing Parangndog punya banyak jalur. Mulai level pemula sampai ahli ada. Aku malah udah dua bulan lebih nggak manjat di tebing, padahal lebih seru kalau dibandingin manjat di wall."
"Selain untuk panjat tebing, kamu juga sering kesini? Maksudku … datang cuma untuk melihat matahari terbenam dengan pacarmu!"
Suara tawa Elang ringan, sebelum menjawab, dia mengusap lengan Nindya lebih dulu. "Aku nggak punya hutang senja indah dengan perempuan lain, jadi aku nggak perlu membayarnya."
"Aku tersanjung," ucap Nindya pelan. Wajahnya mendadak muram.
"Kok malah sedih, ada apa?"
Nindya menggeleng menutupi perasaannya, "Aku menikmatinya. Aku tau Daniel nggak mungkin membawaku ke tempat seperti ini. Jadi aku patut bersyukur dan berterima kasih padamu."
"Hm … cuma itu?" Elang menyandarkan kepala Nindya padanya, membelai rambut sehitam jelaga Nindya hingga aroma shampo terasa menyenangkan di penciumannya.
Nindya mengubah topik pembicaraan, menengadah ke atas agar air mata tidak sampai jatuh. Suaranya sedikit bergetar saat bertanya, "Ohya, apa menurutmu Sandra perempuan yang baik?"
"Aku nggak kenal dekat dengannya, Sayang. Kenapa tanya begitu?"
"Perempuan baik nggak akan menggoda tunangan orang!" jawab Nindya singkat, dengan mata terluka yang tak lepas dari cahaya senja di atas samudera.
Elang tertawa agar Nindya terbawa suasana jenaka, "Jangan terlalu naif, aku juga menggodamu, apa artinya aku orang yang buruk? Bagaimana menurutmu?"
"Kalau kamu itu bukan buruk, tapi gila!" jawab Nindya kesal. Meski begitu, kepalanya semakin bersandar ke dada bidang mahasiswanya saat memperbaiki duduk agar bisa tepat berada di depan Elang. "Biarkan aku begini sebentar!"
Elang terkekeh-kekeh, tangannya menarik dahi Nindya hingga belakang kepalanya bersandar rapat di dada Elang, tepat di bawah dagu. "Apa kamu takut Daniel tergoda? Sandra tidak secantik kamu! Nggak perlu khawatir, kan?"
"Iya aku kenal Daniel, dia setia, dia di sana hanya untuk membantu asistennya, aku percaya padanya. Daniel tidak mungkin menghianatiku!" Nindya menjawab pelan, ragu dengan apa yang baru saja diucapkan.
"Aku juga percaya," kata Elang penuh simpati meski nada suaranya terdengar masam. "Itu satu dari seribu alasanmu menolakku, kamu sangat percaya pada tunanganmu!"
__ADS_1
Nindya tertawa kecil, "Sebuah hubungan dibangun di atas kepercayaan, El. Tapi biar ditolak, kamu nggak pernah nyerah! Aku sampai heran sama kamu."
"Sebelum surat dari KUA turun, kamu masih mungkin untuk aku miliki. Jangan ketawa, orang itu perlu berjuang untuk setiap cita-cita!"
Nindya menukas, "Terserah kamu, aku malas berdebat!"
Melihat itu, Elang tergelitik untuk menanyakan sesuatu yang lain, "Bagaimana jika yang tergoda untuk mendua itu sebenarnya bukan Daniel, tapi kamu?"
Nindya mengeluh dalam gumaman, membenarkan pertanyaan Elang. "Aku pikir juga begitu, aku merasa terjebak dengan mahasiswa sinting yang sedang memelukku."
"Sekarang aku yang tersanjung," sahut Elang dengan cengiran paling menjengkelkan.
"Bisakah kamu melepasku, El? Kamu tau aku akan menikah dengan Daniel beberapa bulan lagi."
Elang mengeratkan pelukan tanpa menjawab, mencium rambut, lalu meletakkan dagunya di atas kepala Nindya. "Lihat mataharinya, Manis!"
Dan peristiwa paling romantis itu terjadi, mentari jatuh ke pelukan cakrawala. Sinar jingga keemasan menguasai langit, dipantulkan oleh air laut, dan tertangkap oleh mata sebagai keindahan yang tiada duanya. Sempurna.
Nindya menatap jauh, wajahnya puas melihat sajian penuh warna yang akhirnya tenggelam ditelan gulita. Keindahan yang hakiki, terekam tiap detiknya di ingatan Nindya sebagai waktu termanis yang terlewati bersama Elang. Lalu gelap mulai menyapa mereka berdua.
Nindya mendongak, menghadapkan wajahnya ke arah Elang. "Terima kasih. Benar-benar indah dan mengesankan. Aku tidak akan lupa! Aku juga sudah mengabadikannya di sini, di sini dan di sini!" kata Nindya seraya menunjuk kepala, dada dan ponselnya.
Elang menatap Nindya yang masih menunggu tanggapannya. Bukan kata yang terucap, tapi satu kecupan ringan diberikan Elang pada bibir Nindya. "Ayo kita main ke pantai sebentar sebelum pulang!"
"Turun ke Parangtritis?"
"Ya."
"Wow, main air malam-malam gini boleh nggak ya?" tanya Nindya dengan polosnya.
Elang tertawa, Nindya kadang-kadang memang seperti anak kecil yang kurang bahagia. "Mau buat istana pasir?"
"Ish … kayak apa aja! Cuma jalan-jalan sama lari-lari di pinggiran, El. Biar kakinya basah!"
"Aku kejar nanti biar kelihatan romantis, dramatis kayak film-film Bollywood," ujar Elang terbahak-bahak. Merasa konyol dengan apa yang akan dilakukannya dengan Nindya.
"Sialan!"
__ADS_1
"Ayo, turun sekarang!" Elang menggandeng Nindya ke tempat mereka menitipkan kendaraan. Hari sudah benar-benar gelap, tapi malam cerah penuh dengan bintang di langit Yogya, dan suara debur ombak terdengar jelas di telinga mereka.
***