Musim Bercinta

Musim Bercinta
Sepuluh Detik


__ADS_3

"Kamu cuma makan roti?" tanya Elang dengan ekspresi tak puas. Pesanannya termasuk makanan berat meski dengan salad sayur yang banyak jumlahnya.


Nindya menjawab, "Dan salad buah, aku sedang tak berselera makan!"


"Ayolah, Manis! Kamu butuh makan lebih banyak untuk kesehatan, kamu masih dalam masa pemulihan! Aku pesenin bubur ayam, ya?"


"Nggak ah, nanti terlalu kenyang malah nggak kuat jalan. Nanti di rumah kamu makan lagi, kan?"


Elang tertawa ringan, "Oh kamu mau makan di rumah? Bilang dong dari tadi …."


"Ya katanya kamu mau pindahan, kamu nggak butuh bantuan buat beresin kamar?"


"Sebenarnya belum pindahan total, cuma mau bawa pulang beberapa barang yang nggak dipakai lagi di kontrakan."


Wajah Nindya langsung masam. Kalimatnya sinis dan sarkas saat mulai mengomel, "Kenapa nggak sekalian? Kamu masih mau tinggal di kontrakan biar bisa ngamar sama Vivian? Masih pagi dia udah datang ke kontrakan kamu, mau ngapain coba? Lagian kamu apa nggak bisa mutusin hubungan sama dia? Gimana aku mau percaya sama kamu kalau di depan mata aja aku lihat Vivian sepagi itu udah nyamperin kamu?"


"Aku udah nggak ada hubungan apa-apa sama Vivi, chat sama teleponnya nggak pernah aku balas lagi." Elang menjelaskan sambil mengunyah makanan. "Jadi, salah paham yang mau kamu jelaskan tadi soal ini? Aku kok nggak tau dia datang … kamu ngusir dia dengan pakaian merah muda itu?"


"Vivi? Mesra banget kamu panggilnya!" Nindya mengerucutkan bibirnya kesal. "Mau gimana lagi? Aku rasa apa yang dia lihat cukup menjelaskan posisimu itu ada yang punya, semoga dia nggak keras kepala tetap ngejar-ngejar kamu, kayak di dunia ini nggak ada pemuda lain aja!"


Elang tergelak, hampir saja tersedak membayangkan wajah pias Vivian mendapati ada perempuan dengan pakaian nakal di kamarnya. "Ya tapi yang ganteng kayak El jarang!"


"Oh jadi kamu nggak mau lepas dari Vivian? Ya udah aku juga nggak butuh bukti lagi, udah cukup tau kalau kamu memang dasarnya brengsek, playboy, selamanya juga pasti begitu, nggak akan berubah!" Nindya menekankan kata-kata pedasnya. Air matanya hampir merebak merasakan sesak yang tiba-tiba melanda.


Pria seperti Elang apa mungkin bisa diberikan rasa percaya? Ketakutannya kembali datang, takut jika saat indahnya direnggut oleh orang lain. Entah mengapa gambaran saat bersama Elang di masa depan selalu lebih menakutkan dibandingkan dengan Daniel.


Elang mengambil tangan Nindya dan mengecupnya. "Kamu selalu berpikir rumit, padahal kamu sendiri yang pernah bilang kalau orang bisa berubah seiring waktu. Aku butuh sedikit aja kepercayaan dari kamu untuk memulai perubahan. Bisa, kan?"


Nindya menghembuskan nafas panjang sebelum mengangguk dengan berat hati.

__ADS_1


**


Di tempat yang jauh ….


"Kok langsung pulang sih, Pak?" Sandra merajuk dengan wajah sengaja ditekuk. "Mampir dulu, please!"


"Perjalanan ke Yogya lumayan jauh, San! Nanti kemaleman," jawab Daniel singkat. Dia memang tidak berencana lama-lama di Cilacap. Hanya untuk mengantarkan Sandra sampai rumah agar bisa beristirahat.


"Ya karena jauh itu makanya butuh energi lebih banyak untuk perjalanan, istirahat dulu! Belum juga makan! Ibu Sandra udah terlanjur masak banyak loh, Pak! Gimana sih?" Sandra mengerucutkan bibir. "Pak Daniel nggak bisa banget menghargai perjuangan ibu-ibu nyambut tamu."


"Kenapa kamu pakai acara bilang sama ibu kamu? Malah bikin repot orang kalau gini." Daniel mengeluarkan bawaan Sandra dari mobil dengan ekspresi tak enak hati. Ragu untuk mampir, tapi merasa tak sopan jika langsung pulang karena terlanjur dibuatkan masakan.


Sandra merengek memaksa, "Ish, pokoknya masuk dulu ke rumah! Ketemu ibu, istirahat, makan … baru boleh pulang."


"San …."


Daniel mengangguk samar, Sandra setengah menariknya saat berjalan bersama. Sampai di ruang tamu, Daniel langsung melirik arloji, perasaannya tak nyaman sedari pagi karena tak mendapatkan kabar dari Nindya. Wanita itu sepertinya kecewa karena keputusan dadakan yang diambil Daniel untuk mengantarkan Sandra.


Kalau tidak terlalu malam sampai Yogya, Daniel ingin bertemu Nindya sekalian makan malam. Rasanya ada yang tidak benar dengan apa yang sudah dilakukannya hari ini. Daniel tidak bermaksud membuat kedudukan Sandra yang sedang sakit jadi lebih istimewa daripada tunangannya. Bagaimanapun, Nindya calon istrinya dan Daniel mencintainya.


Ibu Sandra menyambut ramah, mengucapkan terima kasih beberapa kali atas kebaikan Daniel. "Mohon maaf merepotkan Pak Dosen, Sandra memang manja, sakit sedikit hebohnya banyak."


"Kok dikit sih, Bu! Ini sakit beneran perutnya. Kalau nggak sakit parah gini, nggak mungkin aku sampai diantar Pak Daniel," tutur Sandra membela diri.


Sedari pagi, hati Sandra berbunga-bunga karena dosennya menaruh perhatian besar padanya tanpa curiga. Aktingnya yang sempurna untuk mengiringi sakit yang sudah tak seberapa banyak menciptakan momen lucu dan romantis. Sentuhan-sentuhan ringan, juga pertanyaan penuh kepedulian sering sekali keluar dari bibir Daniel jika Sandra sedikit mengaduh.


Daniel tersenyum tipis dan mengangguk ringan menanggapi kalimat-kalimat ibunya Sandra. "Tidak repot, Bu! Sandra memang butuh istirahat beberapa hari di rumah. Saran dokter untuk tidak mengkonsumsi makanan pedas lagi, baik itu pedas dari cabe atau lada."


"Sandra sering bandel, mungkin karena nggak ada yang mengingatkan. Kalau di rumah, nggak ada makanan pedas, Pak! Tapi namanya anak kost kadang kalau makan asal kenyang nggak mikirin kesehatan!"

__ADS_1


Obrolan terasa akrab dan ringan, dilanjutkan dengan makan bersama dan kembali mengobrol. Suasana hangat karena Sandra banyak bicara, bercanda dan selalu bisa membunuh waktu dengan tawa.


Satu jam, dua jam tak terasa oleh Daniel. Istirahatnya terlalu lama di rumah Sandra, hingga empat jam termasuk dengan tidur sebentar karena kekenyangan.


"Aku pamit, San!" Daniel bersiap pulang.


Sandra langsung mencegah, "Sebentar lagi, Pak! Ibu masih keluar cari oleh-oleh buat dibawa ke Yogya!"


"Waduh, ibu kamu sedang keluar?"


"Iya, toko oleh-olehnya dekat kok. Saya minta ibu belikan sale pisang khas Cilacap buat Bu Nindya nanti, Pak! Saya nggak enak udah ganggu waktu kencan Pak Daniel sama Bu Nindya di hari Minggu."


Daniel mengangguk, "Yang penting kamu cepet sembuh!"


"Saya kalau dicium cepet sembuhnya, Pak!" kata Sandra asal. Suara tawanya menggoda Daniel yang sedikit salah tingkah.


"Kamu aneh-aneh aja," ucap Daniel menghindari obrolan Sandra yang semakin berani.


Sandra terkikik di sebelah Daniel, "Iya serius, Pak! Di pipi aja … bapak tau kan kalau hati bahagia itu sakit apa aja jadi cepet sembuh! Lagian cium pipi itu nggak ada artinya, Pak! Semua orang juga melakukannya sebagai bentuk sayang atau perhatian, mau teman, mau keluarga, mau baru kenal juga bisa ciuman di pipi."


Daniel hampir tersedak mendengar ucapan Sandra yang terang-terangan menggodanya. Dia laki-laki normal, Daniel justru memikirkan hal lain yang lebih jauh dari pada yang diucapkan asistennya. Hanya saja, sebagai pendidik Daniel tidak mungkin mengambil inisiatif seperti itu. Terlebih Sandra mahasiswinya.


Melihat Daniel salah tingkah karena ucapannya, Sandra mendekati dan berusaha minta maaf. "Maaf kalau saya lancang ya, Pak! Saya cuma mikir sederhana aja, kalau saya pasti akan sangat bahagia kalau dapat ciuman kecil dari Pak Daniel."


Entah siapa yang memulai, tapi keduanya akhirnya saling tatap tanpa bicara lagi. Sandra dengan berani memejamkan mata, mengundang Daniel untuk lebih berani mengambil sikap untuk menyentuhnya. Pasrah, meskipun nantinya tidak terjadi apa-apa, setidaknya dia sudah berusaha.


Sandra menghitung dalam hati dari satu hingga sembilan, jantungnya juga deg-degan setengah mati. Matanya tetap rapat meski sepuluh detik telah berlalu ….


***

__ADS_1


__ADS_2