
Elang keluar dari kamar mandi untuk mendapati Nindya yang sedang menyisir rambut di depan cermin. Dengan pakaian nakal sewarna kulit yang mereka beli di Victoria's Secret. Seketika, Elang menaikkan sebelah alis dan seringai penuh makna.
"Aku ada oleh-oleh unt…."
Elang menerima kotak hitam dan amplop yang baru saja diterima hanya untuk ditaruh lagi di atas meja rias. Dia justru tersenyum gila menatap Nindya dari atas hingga bawah.
Detik berikutnya Elang menarik Nindya untuk masuk dalam pelukannya, mencium sambil mendorongnya hingga menghimpit dinding di sebelah ranjang dengan hasrat membara.
"El … lihat dulu apa yang aku bawa untuk kamu!" protes Nindya. Tangannya yang merangkul Elang bergerak menepuk bahu suaminya berusaha mengingatkan.
Elang tidak peduli apa isi kotak hitam atau amplop yang dibawa Nindya. Ada yang jauh lebih penting daripada itu, hasratnya yang tak terkendali. "Itu bisa diskip untuk dilihat nanti, tapi tidak untuk yang satu ini."
Nindya mendesah lirih, ciuman Elang langsung jatuh di atas bibir dan lehernya. Penuh semangat dan liar menggoda. Kedua tangan Elang bekerja tepat menyentuh dan membelai titik sensitif Nindya baik yang di atas maupun yang di bawah.
"El, aduh … kamu nggak sabaran banget sih!" ujar Nindya kewalahan dengan gairahnya yang juga mulai meletup-letup.
"Beri aku pelepasan cepat satu kali, aku beneran udah nggak tahan!" bisik Elang.
Elang membuang handuknya yang menutupi pinggang ke bawah, tapi tidak melepas pakaian seksi yang dikenakan Nindya. Elang hanya menyingkirkan bagian yang menutupi area pribadi istrinya itu ke samping.
Tanpa ba bi bu lagi Elang menenggelamkan kemaskulinannya setelah mengangkat satu kaki Nindya. Tubuhnya yang kokoh setengah menopang Nindya yang hanya berdiri dengan satu kaki.
Untunglah Nindya sudah basah, jadi Elang tidak terlalu merasa bersalah dari kemungkinan menyakiti organ rapat istrinya.
"Pelan-pelan, Sayang!" desis Nindya tertahan. Kedua tangannya merangkul leher Elang untuk mendapatkan keseimbangan.
"Maaf jika aku menyebalkan, aku janji akan menyenangkan nanti di ronde dua," ujar Elang serak. Nafasnya memburu menyapu leher Nindya yang mulai basah oleh keringat.
Meski tidak sesuai rencana, tapi Nindya tetap menikmati semua sentuhan Elang pada tubuhnya. Kesiapannya menggoda Elang dengan pakaian super seksi itu karena hormonnya sedang tinggi.
Cepat, hanya enam menit, tapi pelepasan yang dirasakan Elang begitu dahsyat melebihi kisah-kisah quickie terdahulunya saat bersama pacar. Bercinta dengan orang yang dicinta memang memberikan rasa berbeda.
Lagi-lagi lagi Elang tak menggunakan pengaman saat memasuki Nindya. Meski Nindya kadang meributkan kelakuannya, tapi Elang sedikitpun tak peduli.
Tanpa lateks, Elang bisa merasakan sempurnanya Nindya. Tapi jadi tidak bisa menahan untuk menyemburkan kehangatannya lebih cepat dari seharusnya. Elang sangat puas saat melepas benih pada posisi paling dalam dari seorang Nindya.
"El, kamu nggak pakai pengaman lagi?"
__ADS_1
"Aku ingin anak," jawab Elang seraya menempelkan bibirnya di telinga Nindya.
"Kamu belum lulus!" ujar Nindya dengan senyum terkulum.
"Tapi aku punya penghasilan tetap, Manis!" Elang menyelipkan tangan ke belakang tubuh Nindya, mengangkatnya dengan mudah dan memindahkan ke atas ranjang. Selanjutnya Elang sudah membayangi Nindya dan menyisir bahu istrinya dengan bibir panasnya.
"Kamu nakal, El!" gumam Nindya tepat di telinga Elang. Pakaian seksinya lolos dari tubuh dengan cepat.
Jantung Nindya serasa mau meledak merasakan gelenyar indah yang berjalan di seluruh tubuhnya. Elang mencium setiap inci tubuhnya dengan hangat, membelai bagian sensitifnya dengan lembut, memuja dirinya dengan sentuhan penuh cinta.
Elang tepat janji, penyatuannya dengan Nindya yang kedua kali dilakukan dengan lebih romantis. Disertai cumbuan penuh rayuan yang bukan hanya melelehkan hati dan pikiran, tapi juga membuat tubuh bagian dalam Nindya jadi rentan godaan.
"Ah sa-yang …!" Nindya mengerang tertahan, Elang merenggangkan celah rapatnya dengan cara mempesona, hingga dia merasakan nikmat dunia yang sempurna.
"I love you, Nindya!" Elang berbisik di bahu Nindya dengan suara serak tapi mesra.
Menyenangkan di atas ranjang untuk istrinya sungguh menjadi kebanggaan bagi Elang, dan akan selalu begitu. Elang menyukai ekspresi Nindya saat ada di bawah tekanannya. Terlebih jika Nindya mendesah sambil menyebut namanya, Elang sungguh merasa menjadi raja yang berkuasa di atas tubuh istrinya.
Kebanggaan dan kehormatannya menjadi yang pertama bagi Nindya, dijadikan doa bahwa dia ingin menjadi pria terakhir yang berhak menyentuh Nindya semasa hidupnya.
Sesekali mungkin Elang egois karena mengejar lebih dulu kenikmatannya, tapi Elang akan membayar lebih mahal atas kelakukan curangnya itu.
"Hm!"
"I love you, Sayang!" erang Nindya sensual. Tubuhnya mengejang dalam pelukan Elang.
Elang tersenyum puas. Hentakan pinggulnya kembali teratur setelah memberikan Nindya jeda untuk menikmati puncaknya. Dengan janji bahwa Nindya akan mendapatkan kepuasan lagi sebelum Elang melepaskan calon anaknya.
Lama? Begitulah, Elang terlalu berstamina untuk Nindya yang kurang olahraga.
Elang memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan, lalu mengambil kotak hitam dan amplop dari atas meja rias setelah rasa laparnya akan Nindya terpenuhi. "Apa ini?"
"Bukalah!" jawab Nindya malas. Rasa kantuk datang setelah dia dibebaskan. Lelah perjalanan dari Jepang baru terasa sekarang.
"Hm, jam tangan?" Elang langsung mencoba hadiah dari istrinya, lalu berterima kasih dengan memberi kecupan singkat di bibir Nindya. "Bagus, menaikkan kadar kegantenganku hingga 25%."
Nindya mencibir, "Awas aja kalau berani macem-macem!"
__ADS_1
Selanjutnya Elang membuka amplop yang berisi selembar kertas yang tidak diketahui isinya apa. "Ini berbahasa Jepang, Manis! Aku nggak ngerti apa isinya."
"Coba tebak!"
"Persetujuan pengunduran diri dari pemberi beasiswa, maksudku kamu tidak jadi ambil kuliah di sana. Iya, kan?" Elang dengan percaya diri memasang wajah gembiranya.
"Iya aku putuskan nggak jadi kuliah di Jepang, aku mau ambil beasiswa yang kamu tawarkan di sini!" jawab Nindya santai. "Berkas kuliah ada di map biru kalau kamu mau lihat."
"Jadi kamu di Jepang seminggu ngapain aja?"
"Pertama tes mental, ternyata jauh dari kamu itu menyakitkan, aku nggak kuat. Kedua … anggep aja jalan-jalan!"
"Kalau bukan urusan kuliah, ini surat apa?" Elang mengibaskan kertas yang masih dipegangnya.
"Lihat kop suratnya, Sayang!"
"Eh … hospital? Kamu sakit apa? Kamu nggak bilang kalau kamu pergi ke rumah sakit," cerca Elang panik. Suaranya menuntut penjelasan dari Nindya. "Aku nggak bisa bahasa Jepang, tolong jelaskan isinya?! Jangan buat aku khawatir!"
"Kamu akan jadi ayah, El. Kita mau punya bayi," jawab Nindya sembari menguap, menahan mata agar tetap terbuka setelah lelah bercinta ternyata tidak mudah.
"Kamu hamil?" Elang menyingkap selimut yang menutupi tubuh telanjang Nindya untuk mencium perut yang sedang menampung calon anaknya.
"Hm …." Nindya jatuh terlelap hingga tak menyadari Elang mengusap-usap perutnya cukup lama.
Membatalkan beasiswa dan kembali ke Indonesia diputuskan setelah Nindya memeriksakan diri ke dokter. Dia cukup terkejut melihat hasilnya. Rasanya masih sama seperti dulu ketika hamil pertama, Nindya tidak bisa jauh dari Elang. Janinnya menyukai bau ayahnya dan minta untuk selalu dimanja.
Bedanya kalau dulu Nindya merasa tertekan, sekarang kehamilannya membawa kebahagiaan. Nindya mungkin bisa merencanakan tidak ingin hamil karena niat mengejar cita-cita lebih dulu, tapi kehendak alam ternyata sungguh berkebalikan.
Tuhan memberikan usia yang pas untuknya menjadi ibu. Meski ayahnya masih muda, Nindya berpikir positif, ketika anaknya nanti butuh banyak biaya di usia dewasa, Elang masih cukup kuat untuk bekerja demi menjamin hidup keluarganya.
Dulu, Nindya kesal karena Elang mendoakan jodohnya adalah seorang bad boy. Tapi sekarang, dia bahagia bersanding dengan Elang. Bagi Nindya, menikah dengan bad boy sama sekali tidak buruk, apalagi jika bad boy itu seorang mapala, yang romantis dan penuh warna cinta untuknya.
"Yei … akhirnya aku akan jadi ayah!" Elang mencium pipi Nindya dengan gemas. "Thanks, My Love! Ternyata bikin kamu hamil itu sama sekali nggak susah."
T A M A T
***
__ADS_1
^^^Spesial thanks to El Gold fans : kak Ika. Silver fans etc : kak Irva, kak Marcell, kak Winda, kak Ai Emy, kak Ananti, kak Andini, kak ABU, kak ibunya Irul, kak AnksuNamum, kak Novi, kak Ina, kak Lia dan semua pendukung Elnin pokoknya thanks thanks thank i love you pull.^^^
^^^Cium jauh - Al ^^^