
Elang mendudukkan Nindya di pinggir meja biliar, mencium bibirnya lembut setelah permainan mereka berakhir. Hampir pukul sepuluh, sudah waktunya Nindya pulang.
Nindya membalas seperlunya, menolak rayuan Elang yang sengaja datang ketika dia memberikan kesempatan. Nindya bukannya tidak tergoda, tapi dia memang menahan diri untuk tidak kebablasan. Sebagai dosen pendidik, Nindya tidak ingin ibu Elang melihat kekonyolan mereka yang tidak bertata krama.
"Kamu serius cinta sama aku?" tanya Nindya lirih, jemarinya masih aktif menggaruk kepala belakang mahasiswanya meski ciuman sudah berakhir.
Elang menghembuskan nafas berat. Bagaimana bisa Nindya masih saja meragukan cintanya setelah banyak hal manis terjadi pada mereka?
Apa memang tabiat wanita selalu begitu? Selalu saja bertanya soal cinta meski si pria sudah menunjukkannya dengan banyak cara dan mungkin juga kata?
"Apalagi yang perlu aku buktikan?" tanya Elang lebih kalem. Harusnya dia frustasi dengan pertanyaan Nindya yang penuh rasa tidak percaya padanya, tapi dari awal memang itulah tantangannya jika ingin jadi pria dominan untuk dosennya.
Nindya mengedikkan bahu, "Aku juga sebenarnya nggak tau bukti apa lagi yang aku butuhkan. Bertanya membuatku mendapatkan sedikit kesenangan."
Elang memasang senyum lebar sambil mengusap-usap pipi Nindya dengan ibu jarinya. "Kita nikah aja, yuk!"
"Sebenarnya motivasi kamu ngajak nikah itu apa sih? Kamu itu masih muda banget, El!" tanya Nindya. Kali ini matanya menatap Elang dengan sangat serius. "Apa itu berhubungan dengan kebutuhan biologismu?"
"Kalau aku bilang alasannya karena cinta pasti kamu akan tertawa meledek lagi. Jadi anggap saja apa yang kamu duga itu benar."
"Jelaskan, aku akan mendengarkan!"
"Ya, salah satu motifnya memang kebutuhan biologis, aku nggak mau munafik kalau aku butuh wanita untuk membantu melepaskan hormonku yang sedikit berlebih. Hanya saja kali ini aku ingin melakukannya dengan orang yang aku cinta, dan dengan cara yang benar," jawab Elang jujur.
"Ya ampun, El!" tutur Nindya malu. Tidak lagi menghakimi kelakuan Elang di masa lalu yang kelewat nakal dengan perempuan lain.
"Aku laki-laki normal, yah … kamu bisa anggap aku bejat karena terseret pergaulan bebas. Bisa dibilang aku nggak bisa berhenti karena sudah terlanjur merasakan enaknya bercinta dengan perempuan. Tapi aku selalu main bersih selama ini."
Nindya menyimak dengan mimik lebih tertarik, "Trus?"
"Satu-satunya orang yang aku sentuh tanpa pengaman cuma kamu. Aku bisa cek kesehatan kalau kamu ragu, mungkin kamu juga takut tertular penyakit karena sebelumnya aku pernah melakukan skidipapap dengan banyak perempuan."
Elang menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan, "Tapi kalau aku memang penyakitan, harusnya kamu udah ketularan, jadi mending kita cek kesehatannya bareng."
"Teruskan lagi ceritamu, aku masih mau dengar!"
"Hm … apalagi ya? Oh ya aku nggak pernah beli cewek bergelar ayam kampus atau sejenisnya, juga nggak pergi ke lokal*sasi untuk cari kesenangan, intinya aku cuma melakukan 'hal itu' dengan pacarku. Aku kan harus jaga kesehatan biar bisa tetap eksis di atas wall climbing!"
__ADS_1
Tidak ada yang ditutupi Elang, dan dia memang berbicara jujur, apa adanya tanpa ditambah atau dikurangi.
Nindya tersenyum, dia senang Elang blak-blakan padanya. Elang memang nakal, tapi dia tidak bodoh soal keamanan dan kesehatan tubuhnya. Lagi pula mana ada pria sempurna di dunia ini? Nindya mungkin benci ayahnya yang sudah meninggalkan ibunya, tapi sekarang dia tidak bisa lagi menyamakan Elang dengan pria brengsek itu.
Elang nakal tidak dalam konteks sudah berumah tangga, dia lajang, masih dalam proses mencari jati diri, dan latar belakang keluarganya saat itu mendukung untuk mahasiswanya itu melakukan kenakalan di masa remaja.
Hari ini, Nindya juga mendapati ketidaksempurnaan Daniel dari berbagai sudut. Mulai dari kata-katanya yang sangat kasar, juga sikap tidak jujurnya saat beralasan asistensi bersama Sandra.
"Apa kamu tidak bisa menerima masa laluku?" tanya Elang dengan ekspresi tak berdaya.
"Entahlah …." jawab Nindya dengan raut pura-pura keberatan.
Elang menertawakan situasi mereka yang tidak pernah mudah. "Aku heran … alasanmu menolakku tidak pernah ada habisnya, malah selalu bertambah setiap hari!"
Nindya terkikik, dia tidak sepenuhnya menolak Elang, tapi juga belum menerima secara utuh. "Itu cuma perasaanmu, El! Buktinya aku ada di sini sekarang, sesuatu yang jauh dari apa yang pernah aku pikirkan!"
"Aku pernah bilang kamu nggak akan menolakku selamanya, dan memang itu benar. Sebentar lagi kita pasti menikah!" ujar Elang tengil.
"Kita lihat saja nanti, aku mau lihat apa kamu bisa membawaku ke KUA dengan mudah!" Nindya menaikkan sebelah alisnya tanpa memutus tautan mata mereka.
"Wow, wow, wow … jadi sekarang kamu nantangin aku?"
Elang membingkai wajah Nindya dengan kedua tangannya. "Baiklah manis, kamu tau sekali kalau aku orang yang suka tantangan. Aku terima dengan tangan terbuka, jangan pernah menyesal nanti kalau suamimu masih berstatus mahasiswa! Aku nggak perlu nunggu lulus untuk menikahimu."
"Kamu memang edan, El! Ya udah ayo anterin aku pulang sekarang, udah malam. Kamu juga butuh istirahat buat persiapan seminar. Apa agendamu besok?"
"Cuma masukkan surat izin pemakaian ruangan seminar dan peralatan presentasi, plus urus snack buat konsumsi peserta sama Mayra."
"Dia selalu ada buat kepentingan kamu ya? Baik banget anaknya …." Nindya turun dari meja dibantu Elang. Merapikan baju sebentar sebelum keluar ruang biliar untuk pamitan pada ibu Dewa.
Setelah basa-basi sebentar, Nindya keluar rumah bersama Elang.
"Hati-hati ya Nin!"
"Iya, Bu! Terima kasih barbecuenya," ucap Nindya dengan senyum dan anggukan ramah.
"Kamu pulang nggak, El?" tanya ibu Dewa.
__ADS_1
"Pulang, Bu! Tapi agak malam."
"Ya udah berangkatlah sekarang, Nindya sepertinya capek! Dewa juga bilang pulang malam, ada kopdar sama anak motor katanya."
Selang beberapa menit, mobil yang dikendarai Elang meninggalkan rumah berpagar tinggi tanpa kecepatan berarti. Elang masih mengajak Nindya memutari kota untuk menikmati Yogya di waktu malam.
"Jangan nangis lagi ya di rumah!" ejek Elang sambil melirik Nindya yang sibuk melihat warung-warung di pinggir jalan.
"Dih apaan sih!" sahut Nindya malas, spontan memberikan cubitan keras di tangan Elang.
"Hm rame anak club motor di sini … jangan-jangan Dewa juga kopdar di area sini." Elang menatap jeli deretan motor di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai lalu lalang kendaraan. Mencari sekumpulan anak muda yang memakai jenis motor miliknya. "Motorku bisa nggak balik kalau gini caranya!"
"Ya pakai ini apa bedanya?"
"Sensasinya yang beda," jawab Elang sekenanya. "Mana udah dimodif macem-macem lagi, alamat pindah tangan itu motor nggak lama lagi."
Sekitar seratus meter berjalan pelan, Elang menghentikan mobil di seberang jalan anak club motor yang disinyalir sebagai club yang diikuti Dewa. Nindya juga ikut memperhatikan ke seberang jalan, mencari sosok Dewa di antara ramainya anak muda yang sedang bergerombol bertukar cerita.
Nindya memicingkan mata, "Itu yang nangkring di atas motor sambil ngobrol sama anak motor di sebelahnya bukannya Dewa ya? Sama siapa dia?"
"Ohya itu Dewa, belagu bener pakai acara bawa cewek segala kopdarnya!" Elang berusaha menajamkan mata lagi, penasaran dengan perempuan yang tangannya melingkar di perut Dewa dan bersandar di punggung adiknya dengan mesra.
Mayra kah? Kecil kemungkinan jika Mayra bertingkah seperti itu di tempat umum. Mayra juga nggak mungkin memakai jaket cordura hitam lengkap dengan pengaman siku, dan ya … sepatu riding ala bikers sepertinya juga bukan gaya fashion Mayra.
"Tapi memang ada beberapa cewek yang ikut, keren ya mereka dandanannya? Dewa emang hebat!"
"Trus aku nggak hebat gitu karena cuma bisa manjat dinding?" tanya Elang. Jarinya sedang sibuk menulis pesan untuk adiknya agar menyeberang dan datang padanya.
"Kamu lebih hebat," ujar Nindya.
Tak lama, terlihat Dewa melepaskan tangan yang melingkar di perutnya, bicara sebentar dengan si wanita dan lari menyeberang jalan ke arah mobil yang kacanya sudah diturunkan dua pertiga bagian.
Elang dan Nindya seketika melebarkan mata, membelalak. Si perempuan yang tadi tidak terlihat jelas karena tertutup tubuh Dewa sekarang tampak dari ujung rambut hingga kaki.
Pakaian ala bikers wanita yang melekat pada perempuan itu sama sekali tidak menyembunyikan bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi.
Elang seketika menoleh ke arah Nindya dengan seringai yang sulit diartikan.
__ADS_1
***