Musim Bercinta

Musim Bercinta
Skidi Sore Papap


__ADS_3

"Langsung ke atas aja, Nin! Elang di kamar," kata ibu Dewa dengan seulas senyum ramah ketika Nindya datang.


Nindya mengangguk sopan setelah ibu Dewa memberitahu letak kamar Elang. "Iya, Bu!"


Wanita itu memang ramah dan baik tanpa dibuat-buat, Nindya menyukainya hampir sama dengan dia menyukai karakter ibunya.


Nindya mengetuk pintu kamar Elang pelan-pelan dan mengucap salam. Tidak menunggu dibuka dari dalam, Nindya langsung masuk ke ruang pribadi nuansa hitam dan abu-abu khas pria, yang cukup luas tersebut untuk pertama kalinya.


Sangat bersih dan wangi, juga berdekorasi bunga segar. Meski tak bisa disebut sebagai kamar pengantin, tapi ada sentuhan romantisme di dalamnya. Mungkin ibu Dewa juga ikut mengatur semua itu karena akan dipakai Nindya juga.


Nindya memperhatikan Elang yang tidur lelap dalam posisi tengkurap di atas ranjangnya. Belum berganti baju, hanya jas hitam yang dipakai saat menikah saja yang sudah tidak melekat di tubuhnya sekarang.


Senyum Nindya tidak lagi masam, tapi manis meskipun Elang tidak melihatnya. Dia berjalan mendekat untuk melepas kaos kaki yang masih dipakai Elang. Entah saking lelahnya atau jengkelnya Elang padanya hingga tidur dalam keadaan begitu. Hal yang membuat Nindya semakin merasa bersalah.


Nindya mengamati seluruh ruangan. Ada satu tempat yang sangat menarik perhatian Nindya, dinding berwarna hitam selebar pintu dengan tempelan foto. Acak, berantakan, tanpa pigura. Beberapa fotonya bersama Elang terlihat mencolok karena dicetak dengan ukuran lebih besar. Sisanya berisi foto Nindya sendirian dalam berbagai pose natural. Foto-foto candid dalam jumlah banyak.


"Ya ampun …." Satu alis Nindya naik disertai tawa tertahan, fotonya bahkan ada yang tampak sangat memalukan untuk dilihat. Ekspresi yang dia tunjukkan bermacam-macam, dari kesal, marah, sedih, ceria, sedang tersenyum atau tertawa lebar hingga yang tampak bodoh juga ada.


Beruntung Elang memajang semua foto itu di ruang pribadi, bukan di ponsel seperti yang Nindya lakukan. Kesimpulannya hanya satu, Elang tidak menyukai foto dengan banyak gaya sok cantik. Pemuda itu lebih suka segala sesuatu bersifat alami.


Nindya melepas outernya, menyalakan televisi dan duduk melihat acara gosip untuk membunuh waktu.


Membangunkan Elang yang sedang sangat lelap jelas tidak mungkin. Elang butuh istirahat, barangkali otaknya panas setelah seminar, bisa jadi hatinya juga terluka karena debat mereka tadi.


Elang membuka mata setengah jam kemudian. Langsung mengubah posisi tidur karena mendengar suara televisi menyala. Suaranya serak saat bertanya pada Nindya, "Hei … kapan kamu datang, Manis? Udah lama?"


"Belum satu jam," jawab Nindya sembari mengulas senyum terbaiknya. "Masih ngantuk?"


"Sini, aku mau peluk kamu!" Elang menepuk ranjang di sebelahnya dan membuka tangannya. "Kenapa nggak bangunin?"


Nindya menyeret langkah ke arah ranjang, duduk di pinggiran sambil menatap wajah Elang yang masih mengantuk. "Nggak tega mau bangunin, kayaknya kamu capek banget."


Elang menarik Nindya ke dalam pelukan, "Kamu nggak capek? Sorry aku tadi pulang nggak ngajak kamu, aku udah salah. Maaf ya, Manis!"


Nindya tertegun, harusnya dia yang minta maaf. "Aku yang salah, El! Harusnya aku nggak merusak momen kebersamaan kita dengan …."


"Sudahlah, nggak usah dibahas, nanti suasananya malah jadi nggak enak lagi. Aku udah lupa," kata Elang sembari mencium kepala Nindya.

__ADS_1


"Aku minta maaf," ucap Nindya. Mendongak sedikit untuk mencium bibir Elang sebentar. "Sangat minta maaf."


"Hm, baiklah. Mau tidur siang?"


Nindya sedikit merenggangkan pelukan, tangannya reflek membantu melepas dasi Elang agar lebih nyaman. "Ini udah sore, El. Kamu bilang mau latihan, aku mau ikut ke kampus. Mau lihat!"


"Besok aja latihan di kampus, hari ini jadwalnya cuma endurance. Bisa dilakukan sendiri di rumah, tapi nanti aja, masih males!" Elang kembali memeluk Nindya. "Kamu kok udah ganti? Aduh bajunya kok begini … kamu jadi seksi sekali."


"Kamu malah tidur masih pake baju seminar, gimana sih? Apa susahnya ganti baju sebentar?" Sekali lagi tangan Nindya melepas seluruh kancing baju elang. Tangannya menyelip di bawah kaos dalam dan mengusap perut Elang dengan gemas.


"Jangan memulai kalau kamu nggak mampu menyelesaikan," bisik Elang sensual. Tangannya menurunkan sebelah tali spaghetti baju Nindya hingga lengan. Matanya turun cepat ke bahu putih hingga dada yang sedikit menyembul di atas bra. "Aku bisa tergoda kalau kamu iseng gini."


Nindya mengingat kalau waktu tidak amannya sudah lewat. Sudah masuk minggu ke tujuh dari yang dokter sarankan. Sekarang semua kembali pada dirinya sendiri soal siap atau tidak untuk melakukan hubungan lebih dalam dengan Elang.


"Aku udah aman! Udah hampir delapan minggu," kata Nindya dengan wajah menahan malu.


"Bukan hanya aman, yang penting mental kamu. Itu yang dokter bilang, aku nggak mau kamu tertekan dengan apa pun yang aku lakukan pada tubuhmu. Beneran udah siap mau malam pertama ini eh … sore pertama! Ini undangan apa prank?"


"Kamu nggak mau ya?" tanya Nindya membalik pertanyaan. Rasa malunya pupus, berganti dengan rasa penasaran. "Aku siap kok, anggep ini hadiah karena sukses penelitian, plus hadiah ulang tahun, juga untuk lebih sahnya pernikahan kita … tapi jangan sakit ya!"


Elang tergelak, "Aku nggak mau disalahkan sendirian, karena kita melakukannya berdua. Soal sakit aku nggak bisa janji apa-apa, kamu baru sekali melakukannya dan itu udah lama. Butuh adaptasi lagi denganku, Manis!"


"Aku akan menyiapkanmu nanti," ujar Elang santai. Tangannya mulai kelayapan ke bagian-bagian tubuh Nindya secara spontan. Mengusap, dan memijat di tempat yang membuat Nindya menggeliat resah.


"Hah nanti? Duh kelamaan ini, biasanya juga nggak sabaran!" ujar Nindya melepas pelukannya dan berpindah ke atas tubuh Elang dengan cepat. Wajahnya turun untuk menyatu dengan Elang, dan satu ciuman lembut sudah mendarat di bibir Elang yang sedang tersenyum memikat.


Elang menarik tepian dress Nindya dan membantu melepaskannya lewat kepala. Tangan terampilnya juga aktif mengelus punggung Nindya untuk melepas pengait bra.


"Ini juga dibuka ya, biar kamu nggak sesak nafas!" kata Elang cengengesan sembari melempar penutup dada Nindya ke sembarang arah. Dua tangannya lalu turun menelusuri pinggang Nindya hingga akhirnya menangkup bokong dari balik kain. Menelusup dan memeras dengan tekanan gemas.


Wajah Nindya merona karena malu, juga karena darah yang mengalir cepat di seluruh tubuh. Hasratnya terpercik oleh usapan-usapan berulang di punggungnya, menjalar ke bawah hingga area paha, juga oleh bibir dan lidah Elang yang intens mempermainkan rongga mulutnya.


Hm … Elang mempersiapkan Nindya terlalu lembut dan perlahan hingga dosen muda itu tidak sabar, plus tidak tahan. Situasi sudah panas untuk Nindya dan Elang, tapi Elang tidak tergesa ke inti permainan. Mereka masih asyik saling mencumbu dan menggoda pasangan.


Nindya dengan cekatan memaksa Elang meloloskan pakaiannya sampai benar-benar polos seperti dirinya.


"Oke cukup adil sekarang!" kata Nindya menyeringai nakal. Dia kembali menduduki perut Elang dengan lebih percaya diri.

__ADS_1


"Kamu mau di atas duluan?" tanya Elang dalam gumaman parau. Hisapan dan gigitannya pada bibir Nindya ternyata juga membakar birahinya terlalu cepat. "Mungkin kamu nggak akan nyaman kalau mau gaya itu sekarang. Kamu sudah libur lama, nanti malah ada rasa sakit."


"Iya deh, terserah kamu!" Nindya juga sebenarnya ragu, tapi dia ingin membayar kesalahan dengan lebih banyak inisiatif untuk menyenangkan Elang.


Elang membalik posisi dan mengambil dominasi di atas tubuh Nindya. Membuat istrinya basah dengan berbagai erotisme yang tercipta dari mulut dan tangannya.


Nindya sudah kewalahan mengatur nafas, suaranya timbul tenggelam oleh gelenyar di bagian bawah tubuh yang disentuh Elang dengan terampil. Pemuda itu menyiapkan dirinya dengan baik hingga erangannya saat badai pertama datang terdengar memalukan.


"El-ang … akh! El, sa-yang!" Suara Nindya terdengar patah-patah dan gemetar saat menyebut nama suaminya.


Nindya membuka mata, dan Elang mulai serius menindihnya. Reflek kedua pahanya melebar saat Elang mengambil posisi untuk menyelami kedalamannya. Nindya bahkan menarik nafas panjang sebelum kerapatannya diregangkan oleh kemaskulinan Elang.


Selanjutnya Nindya terpejam lagi, dia masih malu. Tatapan Elang sangat dalam dan kelam ketika menghujam bagian bawahnya. Sesak, penuh, sedikit nyeri tapi juga enak. Nindya kembali mendesah dan mengerang nikmat selama penyatuan.


"Oh **** … sempit sekali!" Elang menggerung keras karena miliknya dihisap dan ditelan sampai titik terdalam Nindya. "Sayang!"


Dan jika seorang pria sudah mengeluarkan suara kerasnya saat bercinta, artinya dia sedang kesulitan mengendalikan badai nikmat yang membakar seluruh darahnya. Jelas tidak butuh waktu lama bagi Elang untuk melepas semua benihnya di dalam sana.


Sialnya, Nindya malah lupa mengingatkan kalau Elang seharusnya pakai pengaman. Nindya belum ingin hamil.


Tapi semua benar-benar sudah terlanjur. Nindya tak berkutik, tak berani marah lagi karena dia juga ternyata menikmati Elang secara utuh untuk yang kedua kali.


"Selamat ulang tahun, Sayang!" bisik Nindya di sela-sela nafasnya yang masih berantakan. "I love you."


"I love you more, Manis!" balas Elang dengan dengan satu kecupan singkat. "Terima kasih untuk sore yang panas membara. Ini hadiah terbaik sepanjang hidupku!"


Bercinta dengan orang yang dicinta ternyata memberikan sensasi luar biasa. Elang sama sekali tidak memungkiri fakta itu. Pelepasannya serasa sempurna karena dilakukan dalam hubungan yang benar, sebuah pernikahan.


Elang melepas pelukan posesifnya agar Nindya bisa mengisi paru-parunya dengan udara lebih lega. Wanita itu terlihat lelah dan mengantuk setelah membuka paha untuknya cukup lama.


"Udah?" tanya Nindya dengan mata berat. Nikmat bercinta membuatnya ingin segera istirahat. Tidur. "Ini agak sakit!"


"Loh, itu tadi baru hadiah untuk penelitian. Hadiah ulang tahun sama pernikahan belum …!" jawab Elang dengan tatapan nakal.


"Trus mau lagi? Nggak pake istirahat?" tanya Nindya berusaha membelalakkan mata. "Mati aku!"


***

__ADS_1


^^^Hai kak, badboy in love seri 2 'Musim Bercinta' segera end ya! Sebagai gantinya ada karya baru dari Al. Genrenya masih roman, tapi dibalut horor mistis biar romantis. Judulnya 'Candra Kirana'. Jika berkenan silahkan mampir!^^^


^^^Thanks - Al^^^


__ADS_2