
Elang masuk ruangan, menatap Sandra yang sedang bicara pada Daniel dan menunggu sebentar. Setelah Sandra melihatnya, Elang mengedip sebelah mata dan bicara tanpa suara. Beruntung Daniel sedang sibuk dengan laptopnya. "Bu Nindya datang!"
"Aduh, Pak! Perut saya sakit sekali disini," tunjuk Sandra pada perut atasnya dengan aksi mendadak dan sangat memilukan.
"Yang sebelah mana?" tanya Daniel agak tergagap. Dia seketika berdiri meninggalkan pekerjaannya dan mendatangi Sandra yang sedang kesakitan. "Aku panggil perawat jaga ya!"
Daniel hampir menekan tombol merah emergensi di dekat kepala Sandra, tapi Sandra menangkap cepat tangan dosennya itu dan mengarahkan ke perutnya. "Sebelah sini yang sakit pak, tolong kasih minyak kayu putih saja, di tas saya ada! Ini kayaknya kembung, bukan nyeri lambung. Rasanya nggak perih kayak tadi."
Daniel mengambil minyak kayu putih, sementara Sandra menaikkan bajunya sampai tepat di bawah dada yang lumayan montok. Elang melengos ke arah lain, menahan tawa melihat Sandra bergaya seperti wanita gatel yang sedang sakit. Cocok sebagai pemain drama.
Sandra merengek lihai, mengarahkan Daniel agar mau menggosok perutnya. Dan bertepatan dengan tangan Daniel yang sedang membalurkan minyak kayu putih di kulit perut Sandra, Nindya masuk ke dalam ruangan.
Nindya terkejut tertahan. Daniel yang kikuk menikmati kegiatan yang tidak seharusnya itu membuat Nindya tak nyaman. Tidak ada kata yang mampu mengungkapkan perasaan Nindya saati itu. Sebaik mungkin dia menutupi ledakan emosi agar tidak mempermalukan Daniel. Dia juga harus menjaga sikap dan harga dirinya sebagai pendidik di depan Sandra dan Elang.
Nindya akhirnya hanya berdehem kecil untuk menarik perhatian Daniel yang sedang serius. Bagaimana bisa tunangannya tidak menyadari kedatangannya? Padahal Daniel sendiri yang meminta Nindya datang ke rumah sakit, alasannya agar mereka bisa bicara kenapa tidak bisa makan siang bersama, agar Nindya tidak salah paham.
Daniel tercekat, mengangkat tangannya tiba-tiba dari atas perut Sandra lalu menoleh ke arah datangnya suara. Daniel menatap Nindya yang sedang mengalihkan pandangan ke arah Elang.
"Kamu di sini?" tanya Nindya.
"Iya, Bu! Ini sudah mau pamit pulang, tadi Sandra ngabarin kalau dia sakit, jadi saya datang! Ya udah saya pamit dulu," ujar Elang mengangguk undur diri pada Nindya, Daniel dan Sandra.
"Eh sebentar! Kamu temennya Sandra kan? Kamu bisa temani Sandra malam ini? Keluarganya nggak bisa datang dari Cilacap, paling besok pagi juga udah boleh pulang. Administrasinya sudah saya bayar sebagian tadi. Kalau nggak ada tambahan obat, besok bisa langsung pulang tanpa bayar apa-apa lagi." Daniel bicara dengan sedikit salah tingkah karena Nindya menatapnya tanpa ekspresi apapun.
__ADS_1
"Maaf … nggak bisa, Pak! Saya kalau Sabtu harus pulang ke rumah orang tua, ambil jatah makan mingguan. Bisa kena damprat kalau saya sampai nggak pulang," jawab Elang serius. "Sorry ya San, aku beneran nggak bisa bantu jaga kamu di sini, kamu tau kalau aku agak phobia rumah sakit. Ini aja udah keringat dingin semua!"
Sandra mengangguk dengan lagak orang sakit yang terpaksa harus tersenyum. Suaranya juga serak dan lirih saat bicara, "Iya nggak apa-apa, ada perawat jaga 24 jam. Kamu nggak usah khawatir!"
Nindya terpaku ke arah Daniel, lalu menatap Sandra dengan ekspresi rumit dan terakhir melihat Elang yang cengengesan tanpa merasa iba karena harus meninggalkan temannya. Rasa-rasanya Elang justru terlihat seperti sedang mengejeknya. Elang mengangguk sopan pada semua orang untuk yang terakhir kali sebelum keluar ruang perawatan.
Daniel mengajak Nindya bicara di luar kamar, menjelaskan situasi rumit yang sedang dialaminya. Mulai dari acara bahas materi sampai Sandra mendadak kejang perut karena makanan pedas yang dipesannya. Daniel terpaksa melarikannya ke rumah sakit karena Sandra semakin memburuk kondisinya dalam tiga puluh menit.
"Aku nggak tau harus gimana, nggak mungkin aku ninggalin Sandra sendirian di rumah sakit, kan?" Daniel menatap Nindya dengan wajah menyesal, menutupi rasa malu karena bertingkah berlebihan pada mahasiswi yang jadi asistennya itu.
"Baiklah, kalau gitu aku pulang aja ya? Kamu temani Sandra malam ini, kasihan nggak ada yang jaga. Aku mau ketemu WO besok pagi, kalau kamu sempat ayo ikut kalau nggak ya aku sendiri nggak masalah." Nindya berbicara lembut penuh pengertian. Menyimpan rapat semua prasangka yang memenuhi kepalanya.
Daniel tunangannya, tapi belum pernah menyentuhnya secara intim seperti yang dilakukannya pada Sandra. Meskipun yang dilakukan Daniel hanya membalurkan obat gosok, tetap saja Nindya merasa pemandangan tadi membuatnya kecewa.
"Kamu udah makan siang?" Daniel menggenggam tangan Nindya.
"Belum."
"Mau makan di cafetaria?" usul Daniel tulus.
Nindya tersenyum, "Aku bisa makan sendiri di luar. Aku pulang sekarang aja ya? Kamu jangan lupa makan!"
"Iya nanti aku makan." Daniel mengangguk dengan perasaan bersalah. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk membuat Nindya tidak nyaman, apa yang dilakukannya pada Sandra murni untuk membantu gadis itu meredakan kembung yang dirasa.
__ADS_1
Setelah kejadian Sandra mendadak sakit, Daniel merasa sedikit takut akan terjadi sesuatu yang mungkin membahayakan kesehatan Sandra. Apalagi asistennya merengek dan mengeluhkan sakit perut secara terus-menerus. Daniel tidak tega melihat wajah Sandra yang tersiksa.
"Bye." Nindya pamit dengan wajah datar.
"Hati-hati di jalan," sahut Daniel pelan. Masih salah tingkah karena Nindya memasang wajah terlalu datar padanya. Apa tunangannya itu tidak cemburu?
Daniel tidak membayangkan jika yang jadi tunangannya adalah Sandra. Wanita itu pasti akan mendadak rewel dan mencerca dirinya dengan seribu pertanyaan dan pernyataan-pernyataan cemburu. Ah, Daniel merasa aneh karena ingin merasakan bagaimana dicemburui seorang wanita.
Selama ini Nindya terlalu pengertian dan percaya padanya. Apapun alasan Daniel saat melakukan sesuatu selalu diterima dengan mudah, tidak banyak bertanya apalagi sampai curiga. Dulu Daniel nyaman sekali dengan sikap pasif Nindya yang mendukungnya dengan cara berbeda.
Namun, dua hari bertemu Sandra yang tidak biasanya memberikan sensasi lain. Sandra banyak bicara, Daniel suka selera humor dan gaya manjanya. Sandra yang merengek dan mengeluh sakit tanpa malu membuat Daniel merasa ada sebagai sosok istimewa, sebagai pelindung, sebagai pria yang dibutuhkan wanita.
Dan membalurkan minyak gosok dengan menyentuh langsung kulit perut Sandra, semakin membuat Daniel merasa sebagai laki-laki seutuhnya. Sosok yang diharapkan seorang gadis bisa membantu meringankan rasa sakitnya.
Sandra dan Nindya memang sangat kontras. Sandra kekanakan, penuh kemanjaan dan selalu minta diperhatikan sedangkan Nindya selalu bersikap dewasa, penuh pengertian dan hampir tanpa keluhan. Daniel menggelengkan kepala, jika saja Nindya bersikap seperti Sandra … mungkin Daniel juga bisa terbawa arus wanitanya, dan hubungan mereka bisa lebih hangat seperti pasangan umumnya.
Daniel masuk ke dalam ruangan untuk mendapati Sandra yang sudah tidur lelap karena efek obat. Daniel hanya merapikan selimut asistennya, lalu kembali membuka laptop setelah mengamati wajah Sandra. Ah, memang tidak secantik Nindya.
Apakah Daniel juga butuh dewi kecantikan seperti Elang? Mungkin saja, tapi kecerdasan seorang wanita jauh lebih penting daripada kondisi tubuhnya. Secara genetis, tingkat intelegensi diturunkan ke anak oleh seorang ibu. Teori itulah yang diyakini Daniel dalam memilih wanita untuk menjadi istrinya.
Cantik hanyalah bonus.
***
__ADS_1