Musim Bercinta

Musim Bercinta
Putri Pejabat


__ADS_3

Di tempat lain ….


Dewa memilih tempat makan malam romantis untuk Mayra. Tidak ada alasan khusus, Dewa hanya merasa kasihan pada wanita yang sering dititipkan padanya itu. Tidak seharusnya Mayra jadi tanggung jawab Dewa, tapi perintah Elang jelas tidak bisa ditolak.


Elang terlalu baik padanya sebagai kakak, dalam banyak hal. Dan sudah seharusnya Dewa membalas hal itu dengan melakukan hal-hal kecil yang diminta Elang. Termasuk membantu menjaga Mayra, toh hanya beberapa jam, dan tidak setiap hari.


Mayra tidak pernah keberatan jalan dengan Dewa. Selain tipikal cewek penurut, Mayra percaya kalau Elang dan adiknya bisa dipercaya sebagai teman. Yang tidak akan memanfaatkan kesempatan atau mencari alasan khusus untuk mendekatinya.


Sebagai putri pejabat penting di kota Yogya, Mayra memang memiliki keterbatasan dalam pergaulan. Keluarganya tidak akan dengan mudah memberi izin keluar rumah jika tidak kenal baik dengan teman-teman Mayra. Elang dan Dewa adalah pengecualian karena orang tua mereka memiliki hubungan baik.


Sama seperti ayahnya, Elang juga membatasi pergerakan Mayra di kampus. Tidak memperbolehkan Mayra sembarangan memilih teman apalagi berkencan. Mayra adalah amanat yang harus dijaga, jika tidak dengan tangannya maka Elang akan mengutus Dewa, adiknya.


Mayra tidak pernah bisa menolak keterbatasan itu. Baginya, apa yang dilakukan keluarganya dan keluarga Elang semua hanya untuk kebaikannya. Seperti saat ini, Mayra berusaha menikmati makan malamnya dengan bahagia. Dewa cukup bisa menggantikan Elang untuk menemani kesepiannya meskipun karakter mereka berbeda.


"Mbak Mayra abis ini aku anter pulang ya!" Dewa tersenyum tipis melihat Mayra sudah menyelesaikan makannya.


"Baru juga jam tujuh, Wa! Masa pulang sih, biasanya juga kamu anterin aku jam sembilan."


Dewa menjawab, "Anu, Mbak … aku mau kumpul-kumpul sama anak club motor nanti."


"Geng motor?" tanya Mayra khawatir. "Elang bilang kamu ikut-ikut begituan."


"Loh bukan geng, konotasinya negatif banget sih. Ini club resmi, Mbak! Kalau kumpulan geng nakal begitu mana mungkin Mas Elang mau minjemin motornya," terang Dewa antusias.


"Balapan liar?"


"Duh Mbak Mayra ini kok pikirannya malah kemana-mana. Aku udah bilang club resmi, ini wadah, Mbak! Organisasi, punya AD/ART dan juga kepengurusan."


"Ohya? Masa sih?" tanya Mayra kurang percaya. "Kamu tau darimana?"


"Ketua umumnya anak kampus kita, anak teknik mesin semester delapan, keren, kan? Itu aku nggak sengaja dikasih selebaran pas bawa motor Mas Elang, club lagi ada perekrutan anggota baru. Ya udah aku gabung aja, kebanyakan anggotanya anak muda kok, sebagian mahasiswa, ada yang udah kerja, ada yang udah berumah tangga juga."


"Trus, kumpul-kumpul ngapain?" Mayra mulai tertarik dengan kegiatan baru Dewa.

__ADS_1


"Namanya kopdar, Mbak! Ya cuma ngopi bareng, ngobrolin otomotif, berita seputar motor, modifikasi sama bangun silaturahmi sesama pengguna motor jenis yang sama."


"Cuma gitu doang?"


Dewa melengkapi penjelasannya dengan penuh semangat, "Abis ngumpul biasanya muter keliling kota dulu baru pulang, nah itu selesai sekitar jam dua belas malam. Kopdar cuma satu kali tiap dua minggu, jadi sayang kalau nggak ikut. Lumayan nambah teman. Ini kegiatan positif, Mbak! Mas Elang jaminannya," kata Dewa tertawa.


"Nggak ada yang bawa pacar?" tanya Mayra lebih antusias.


"Ada beberapa, mungkin sekalian malam mingguan."


"Nah itu, Wa! Aku mau ikut kalau gitu. Sekalian malam mingguan."


"Jangan, Mbak! Pulangnya tengah malam, bisa kena semprit Mas Elang aku nanti. Aku tadi juga pamit sama mamanya Mbak Mayra cuma sampai jam delapan. Bisa berabe kalau sampai telat. Maksudnya jangan sekarang, kalau mau ikut … kopdar berikutnya aja, aku janji!" ucap pemuda sembilan belas tahun itu meyakinkan.


Mayra berdecak kecewa, "Biar nanti aku yang ngomong sama Elang kalau kapan-kapan aku mau ikut kamu kopdar. Ya udah aku pulang sekarang nggak apa-apa."


Dewa meringis tak enak hati, "Maaf ya, Mbak! Aku bukan nggak mau ngajak loh ya, aku perlu izin dari banyak pihak kalau mau keluar sama Mbak sampai tengah malam."


"Pacar yang mana, Mbak?"


Mayra terkejut, "Oh pacar kamu lebih dari satu?"


Dewa terkekeh geli. "Maksudnya aku lagi nggak punya pacar, Mbak! Putus lagi."


"Udah kayak apa aja aku ini kepo sama urusan pribadi orang!" Mayra cekikikan, menertawakan dirinya sendiri. "Elang kemana sih? Kalau ditanya jawabnya nggak pernah jelas!"


"Mana aku tau, ntar kalau ikut campur urusan dia malah salah. Harusnya Mbak Mayra lebih tau, Mbak kan pacar Mas Elang," goda Dewa dengan tawa renyah.


"Pacar dari Hongkong?!" sungut Mayra kesal. "Elang mana pernah nganggep aku istimewa seperti itu, Wa!"


"Mbak itu istimewanya kebangetan sampai mau keluar sendiri aja nggak dibolehin sama Mas Elang!"


"Kenapa aku nggak merasa seperti itu ya, Wa? Aku lebih seneng kalau Elang ngebebasin aku bergaul sama siapa aja, keluar sendiri tanpa bodyguard begini, Aku bukan anak kecil, kan?" Mayra menatap Dewa meminta tanggapan.

__ADS_1


Dewa tak menjawab, tapi balik bertanya, "Jadi Mbak anggep aku ini … cuma bodyguard?"


Mayra tersenyum tipis, "Kamu mau dianggap apa sama aku, Wa?"


Dewa tidak tau harus menjawab apa, sungguh bukan urusannya mencampuri hubungan Elang dan Marya. Apalagi jadi orang ketiga di antara mereka. "Kita pulang sekarang aja ya, Mbak?!"


Mayra berdiri, menjajarkan langkah dengan Dewa yang meliriknya dengan ekspresi tak berdaya. Setelah menimbang beberapa saat, Mayra menggandeng tangan Dewa. Gayung langsung bersambut, Dewa juga menggenggam balik tangan Mayra, dengan lebih erat.


Mereka berjalan keluar restoran seperti orang pacaran, bergandengan, bercanda dan tertawa lepas tanpa batas. Beban mereka seolah menguap oleh kencan yang diatur Elang.


Entah apa yang mendasari Mayra melakukan itu, juga Dewa yang membalas dengan hangat. Yang jelas jemari mereka tertaut dalam seribu bahasa sampai mereka berada di dalam mobil. Saling diam dan salah tingkah.


Tak lama, Mayra membuka suara perlahan, "Maaf ya, Wa! Aku nggak bermaksud nganggep kamu cuma bodyguard. Menurutku, Elang nggak perlu seprotektif itu sama aku. Kamu taukan, aku bukan apa-apanya Elang, kami cuma berteman. Soal perjodohan … itu cuma selentingan masa lalu yang nggak perlu dibahas lagi."


Mayra menghembuskan nafas panjang-panjang. Cintanya pada Elang memang harus segera dikuburkan, tapi haruskah Dewa yang jadi pelampiasannya? Rasanya sangat tidak adil, Dewa baik padanya. Sebaik Elang saat menjaganya.


"Santai aja, Mbak! Aku seneng-seneng aja tuh nemenin Mbak malam mingguan." Dewa meringis, suasana yang semula romantis bakal rusak jika dia mengikuti alur pembicaraan Mayra. Gadis di sebelahnya butuh dihibur, butuh diperhatikan agar tidak jatuh dalam duka ataupun kecewa.


"Beneran?" tanya Mayra berbinar-binar hingga tangannya kembali bergelayut di lengan Dewa.


Dewa tersenyum, menatap dalam dan penuh makna ke mata Mayra. "Iya aku serius."


Elang sudah memilih dosennya sebagai labuhan cinta, itu bisa dilihat Dewa saat wanita itu dibawa kakaknya ke rumah. Namun, Dewa tidak mungkin langsung mengatakan hal itu pada Mayra. Biar Elang sendiri yang menjelaskannya suatu saat nanti pada calon yang direkomendasikan mamanya itu.


"Berarti malam minggu depan kita nonton berdua lagi?"


Dewa menghembus nafas frustasi, "Misal nggak pergi nonton nggak apa-apa, kan?"


"Kamu bosen ya tiap pergi sama aku isinya cuma nonton sama makan? Ya udah aku ikut kamu, terserah mau kemana."


"Baiklah, tapi nggak boleh bosen kalau aku ajak nongkrong sama anak-anak motor!"


***

__ADS_1


__ADS_2