Musim Bercinta

Musim Bercinta
Kegiatan Pengantin Baru


__ADS_3

Kecupan Elang dari rambut jatuh ke leher, gigitan nakalnya mampir dengan bekas samar di bagian bawah telinga Nindya, mendekati bahu. Tetap aman, tidak akan terlihat siapapun jika wanita itu memakai baju berkerah.


Kalau di area dada, jangan ditanya lagi. Elang tidak berhenti menambahkan jumlah ruam merah sejenis itu setiap kali mereka bercinta. Selama tiga hari berturut-turut, hidup mereka memang banyak berhubungan dengan lendir dan gairah yang meledak-ledak.


Kamar Elang menjadi saksi banyaknya cairan hangat yang tumpah tak beraturan di atas ranjang, hingga Nindya harus menahan malu saat meminta sprei bersih pada asisten rumah tangga tersebut setiap pagi.


Belum termasuk yang tercecer di karpet depan televisi, atau mungkin di bagian sudut lain kamar luas itu. Kamar mandi tidak masuk hitungan karena langsung bersih oleh air yang mereka pakai untuk membersihkan tubuh.


"El, ibu udah nunggu buat sarapan! Nanti lagi kenapa sih?!" gerutu Nindya yang bernafas gerah. Acara pakai bajunya harus terjeda di depan cermin, Elang memeluknya dari belakang dan menyerangnya tanpa aba-aba.


"Kamu wangi, seger, seksi," bisik Elang dengan tingkat horny yang hampir sampai ubun-ubun. Mereka bangun lebih pagi, mandi agar bisa sarapan bersama keluarga. Tapi nyatanya ….


"Kita sudah dua hari nggak sarapan di bawah karena kesiangan, El!" Nindya menjauhkan kepala Elang yang sudah membalik tubuhnya dan mendesak pucuk dadanya dengan bibir terbuka. Mengulum lalu menyesap liar.


"Mereka bisa menunggu, kita quickie aja, Manis!" bisik Elang dengan suara berat.


Ya ampun! Mereka memang gila, maksudnya Elang yang sangat gila karena terus saja memerangkap Nindya dengan hasratnya yang tak ada habisnya. Malam panas mereka baru berakhir jam tiga dini hari dan sekarang baru jam tujuh pagi, tapi Elang berniat mengeksekusi Nindya lagi.


Salah satu alasan mengapa pengantin baru butuh bulan madu mungkin karena mereka belum bisa mengontrol keinginan untuk terus saling mencicipi rasa pasangan setiap waktu. Seperti Elang dan Nindya yang masih belum berhenti penasaran pada tiap inchi raga yang sekarang ada di hadapannya.


"Ish kamu ini, aku juga udah dua hari nggak ke kampus." Nindya berdecak frustasi. Ujung dadanya menegak oleh lidah Elang. "Ada yang harus aku urus, El! Aku perlu ketemu ketua jurusan hari ini, aku sudah janji sama Pak Ronald untuk datang tidak terlalu siang!"


"Hm … cuma sebentar kok ini! Lima menit," gumam Elang tak peduli, senang karena Nindya kewalahan menghadapi keusilannya yang selalu berujung adegan panas di atas ranjang.


Sebentar? Mana ada kata sebentar untuk Elang. Bocah edan itu selalu saja lama dan senang sekali mempermainkan Nindya. Elang membuktikan kalau dirinya jago dan prima tidak hanya di atas wall climbing, tapi juga saat memanjat Nindya.


Stamina mudanya membuat Nindya jatuh cinta sedalam-dalamnya dan tanpa batas. Elang sangat enak dan memuaskan, itu penilaian pribadi Nindya yang disimpan rapat dalam otak liarnya.


"El, bangun …!" Suara berat papa Elang disertai gedoran di pintu langsung menghentikan aktivitas dua manusia yang sudah hampir bercinta lagi. Nindya spontan melepaskan diri dari dekapan Elang dan mulai memakai baju dengan cepat.


Elang berdecak kecewa, memakai celana pendek ala kadarnya lalu membuka pintu dengan ekspresi kesal. "Iya, Pa! Ada apa?"


"Apa maksudmu mengurung Nindya di dalam kamar terus?"


Elang mengedikkan bahu acuh, "Apanya yang mengurung, Pa? Kami baru saja selesai mandi."

__ADS_1


"Kalian menghabiskan tiga hari hanya di dalam kamar!" ujar papa Elang menggelengkan kepala melihat tingkah konyol putranya.


Sebenarnya tidak juga, mereka masih makan di bawah. Juga bermain biliar dan nyanyi-nyanyi nggak jelas di ruang karaoke. Nindya masih keluar masuk dapur untuk mencari kesibukan. Mengobrol dengan ibu mertua, juga ikut-ikutan merawat bunga.


Elang merasa papanya terlalu hiperbola, mengada-ada dan mencari-cari masalah dengannya. Jangan-jangan pria paruh baya itu iri padanya, pikir Elang iseng.


"Baru juga tiga hari, belum genap seminggu, Pa!" Elang nyengir tanpa merasa salah. Papanya juga pernah muda, pasti pernah merasakan gairah yang meledak-ledak saat baru menikah dulu.


"El … kamu bisa atur bulan madu! Ajak Nindya ke Bali atau Lombok, kalian bisa jalan-jalan berwisata ke banyak tempat di sana selain bikin anak! Bukan begini caranya! Ayo turun sekarang, ibumu sudah menunggu untuk sarapan bersama."


Elang mencuci muka untuk meredam pikiran mesumnya. Mengganti celana pendeknya dengan yang lebih sopan lalu memakai kaos hitam bergambar pemanjat.


Nindya juga sudah rapi dengan dress pagi. Aroma buah segar menguar dari rambut yang baru saja dikeringkan. "Ehm, bagaimana penampilanku?"


"Aku lebih suka jika kamu sedikit berantakan karena ulahku!" jawab Elang cuek.


Nindya mencubit lengan Elang, "Kamu ini … aku serius."


"Iya, iya sudah rapi dan cantik." Elang mengusap bahu Nindya, "Bisa jalan normal, kan?"


Wajah Nindya sedikit masam, "Kamu harus berhenti mengerjaiku sampai besok, pangkal pahaku nyeri kalau buat jalan."


Nindya sempit, dalam, ketat, menghisap, sangat menyiksa. Dan perpaduan antara kenikmatan di celah lembutnya, kulit halus, wajah cantik, dan lekuk-lekuk tubuhnya yang pas, sungguh membuat Elang mabuk cinta dan semakin tergila-gila.


**


Tepat dua minggu usia pernikahan Elang dan Nindya, mereka benar-benar berpisah untuk sementara. Elang melepas Nindya dengan berat hati di bandara.


Sifat keras kepala istrinya dan keinginannya untuk melanjutkan S3 tidak bisa dicegah Elang. Mereka berbicara panjang tentang masa depan yang Nindya inginkan kemarin malam. Mau tidak mau akhirnya Elang mengijinkan Nindya pergi ke Jepang.


"Susul aku secepatnya! Kamu punya pembimbing pribadi untuk tugas rancang pabrik, aku mau dua bulan kamu selesai. Aku sudah bicara dengan Pak Ronald dan juga Bu Yuni untuk bantu kamu agar segera lulus." Nindya menjelaskan situasi dua pembimbing yang akan membantu Elang.


"Iya, aku usahakan cepat lulus!"


"Pokoknya nggak pake lama!" tegas Nindya lagi.

__ADS_1


"Hm … ngomong-ngomong aku ngapain di Jepang nanti?" tanya Elang dengan wajah bodoh.


"Jualan cilok!" jawab Nindya kesal. Geregetan dengan ekspresi main-main yang Elang tunjukkan. Pemuda itu sama sekali tidak mendengarkan penjelasannya.


Pada dasarnya, Nindya juga tidak tau kenapa menyuruh Elang mengikutinya ke Jepang. Tidak mungkin Elang di sana hanya untuk menemani dirinya. Harusnya ada yang Elang lakukan jika tinggal di Jepang bersamanya, tapi apa?


Elang memang berniat lulus cepat, tapi bukan untuk menyusul Nindya ke Jepang. Papanya sudah menyuruh untuk mengelola usahanya sendiri. Lagi pula, Elang terlalu mencintai hobinya, sebagai atlet pemanjat dinding. Elang jelas tidak bisa meninggalkan kegiatan yang sudah mengangkat namanya itu dengan mudah.


"Cilok?" Elang terkekeh-kekeh mendengar ide Nindya.


"Abisnya kamu ngeselin banget, soal itu bisa kita pikir kalau kamu udah ada di sana."


Dalam satu kali gerakan, Nindya sudah jatuh ke pangkuan Elang. "Minggu depan aku lomba, doakan aku menang. Reputasiku dipertaruhkan kampus karena mapala jadi tuan rumah."


"Jangan khawatir kalau itu, aku pasti berdoa untukmu. Usahakan Dewa nonton, aku mau liat kamu langsung lewat panggilan video."


"Dewa pasti sibuk sama pacarnya!"


"Kamu udah kasih tau dia soal Vivian?" tanya Ninya.


"Orang lagi jatuh cinta dinasehatin, nggak bakal ada gunanya!"


Nindya menarik nafas panjang. "Aku takut Dewa bawa Vivian ke rumah ini, apalagi kamu sekarang tinggal di sini sendiri, aku di Jepang."


"Makanya jangan pergi!" balas Elang sambil menciumi leher belakang Nindya. "Kuliah di sini aja!"


"El, kita udah bicara itu terus selama seminggu ini. Tiket juga udah di tangan, barang udah dipacking! Pokoknya aku mau kamu nyusul aku sehari setelah selesai revisi tugas akhirmu dan daftar wisuda," tukas Nindya keras kepala.


Elang hanya bergumam ringan untuk mengiyakan. Situasi yang dipilih Nindya untuk berbicara tidak tepat. Elang sedang sibuk menjamah karena hormon lelakinya sudah meluber kemana-mana.


Besok istrinya akan pergi untuk mengejar cita-cita, jadi apa salahnya Elang memanjakan diri dengan bercinta sepuasnya sebelum waktu perpisahan itu tiba.


Nindya bungkam, bicara lebih banyak sudah tidak ada gunanya. Elang sudah mengangkatnya ke tempat tidur dan melucuti pakaiannya dengan kecepatan maksimum. Mengungkungnya dengan hasrat yang meletup-letup dan keperkasaan yang siap tenggelam ke celah lembutnya.


Selanjutnya, Nindya hanya bisa pasrah ketika Elang membolak-balik tubuhnya seperti ikan goreng di atas wajan. Apapun yang dipikirkan untuk disampaikan pada Elang sudah menguap sepenuhnya. Kepalanya seolah kosong.

__ADS_1


Hanya ada perintah tak tertolak dari hormon wanitanya untuk mengerang hebat saat mendapat pelepasan di bawah tekanan Elang.


***


__ADS_2