Musim Bercinta

Musim Bercinta
Posisi Cadangan


__ADS_3

Sulit untuk menolak pria yang bisa membuatmu selalu tersenyum! Mungkin itu pepatah kuno yang dulu tidak pernah diyakini Nindya. Sekarang kalimat sakti itu membuktikan diri padanya, memberikan kebenaran yang mau tidak mau harus diakui.


Nindya memiliki kesulitan menolak Elang! Pemuda itu terus saja menempel padanya di tiap kesempatan, membuat mereka selalu berdekatan tanpa sungkan. Terlalu cuek atau terlalu percaya diri juga Nindya tak paham atas sikap Elang, yang jelas Elang cukup berani untuk ikut pulang bersamanya ke Semarang.


Cinta? Ya Elang memang sudah sering menyatakan cinta padanya, tapi bagi Nindya cinta Elang bisa jadi hanya kamuflase dari na*sunya. Mereka menjadi dekat dan banyak bersentuhan karena sebuah kesalahan, yang berasal dari hasrat sesaat. Jadi kemungkinan untuk berubah menjadi cinta yang sebenarnya masih sulit untuk dipercaya Nindya.


Lalu bagaimana Nindya nanti akan bicara lagi tentang Elang pada ibunya? Entahlah!


Bagaimana Nindya akan menjawab pertanyaan yang akan datang padanya saat hadir di pernikahan saudaranya bersama Elang? Entahlah, Nindya juga tidak mau pusing memikirkan jawabannya.


Waktunya bersama Elang mungkin tidak akan banyak lagi. Nindya ingin menghabiskannya dalam kebahagiaan sebelum dia melangsungkan pernikahan dengan Daniel. Entah itu berdasarkan cinta atau pelampiasan gai*ah muda mereka belaka.


Lagi pula apa salahnya pura-pura menjadi pacar mahasiswa yang terkenal di kampus sebagai playboy ini?


Selama itu membuatnya banyak tertawa dan lebih bahagia, Nindya akan merelakan waktu untuk menjalaninya. Bersaing ketat lagi dengan Vivian yang masih gigih dengan cintanya, sebelum menyerahkan si badboy pada wanita yang seharusnya menjadi pemilik sejati, Mayra.


Hari telah malam saat mereka tiba di Semarang, Nindya disambut pelukan bahagia ibunya. Elang juga mendapatkan senyum sapa ramah dari wanita yang melahirkan Nindya.


"Nak Elang ya? Ibu suka lupa wajah kalau lama nggak bertemu!" Ibu Nindya tersenyum menggoda Elang.


"Iya ini Elang, pacarnya Bu Nindya!" jawab Elang tanpa keraguan, juga dengan senyum yang ramah menawan.


Ibu Nindya mengernyit penuh tawa, "Pacar Bu Nindya? Pacar kok panggilnya Bu?"


"Karena selain pacar, saya juga masih terhitung mahasiswa bimbingannya Bu Nindya!" Elang mengulum senyum pura-pura polos.


"Oh, tapi Nindya kan …." Ibu Nindya tidak melanjutkan kalimatnya.


Elang mengangguk mengerti, "Bu Nindya sudah punya tunangan, hampir menikah malahan! Posisi saya di sini memang cuma cadangan! Masih seperti bulan-bulan lalu, belum berubah hehehe."


Seketika dua orang yang sedang serius itu terkikik melihat ekspresi Elang yang santai seperti sedang mengobrol dengan keluarganya.


"Ya, ibu paham sekarang!" kata ibu Nindya dengan senyum bijak. Jelas tidak perlu bertanya lagi bagaimana Elang bisa sampai ke rumahnya. Putrinya pasti tidak bisa menolak apalagi menghindari situasi rumit dengan mahasiswanya yang tidak biasa itu.

__ADS_1


"Saya mau cari tempat menginap dekat sini ada, Bu? Homestay atau losmen …." tanya Elang sopan. Dia cukup tau diri untuk tidak membuat Nindya lebih malu lagi pada ibunya. Dia bisa pulang ke Yogya besok pagi naik kendaraan umum.


Ibu Nindya menahan rasa terkejut, "Loh ngapain? Tidur di sini aja nggak apa-apa, nanti ibu siapkan kasur di depan televisi. Namanya saja pacar cadangan jadi tempat tidur Elang nanti juga cadangan ya?"


Elang mengangguk sembari tergelak kecil mendengar lelucon wanita paruh baya yang terus saja menahan senyum padanya. "Siap, Bu!"


"Masa panggil ibu sama panggil Nindya nggak ada bedanya?" Ibu Nindya masih tidak bisa membuang senyumnya. Pemuda yang membayar seluruh biaya rumah sakit Nindya memang unik.


"Sebenarnya kalau di luar kampus saya biasa panggil Bu Nindya ehm … manisku!"


Suara tawa pecah lagi di ruang tamu. Sepertinya dua wanita dewasa di rumah itu memaklumi sikap konyol khas anak muda seperti Elang. Nindya setengah mendelik mendapati Elang ikut menyeringai senang padanya. Mulut Nindya bahkan sempat membentuk ucapan tanpa suara, "Kamu gila,El!"


"Besok pagi mau nganter Nindya ke acara nikahan saudara sepupunya ya?" tanya ibu Nindya lebih lanjut.


"Iya, itu kalau Bu Nindya tidak malu ditemani sama pacar mahasiswanya!" jawab Elang peduli.


Tanpa melepas senyum, Ibu Nindya mengangguk. Daniel tidak ikut datang bersama Nindya sudah menjadi jawaban, kalau tunangan anaknya itu pasti punya kesibukan. Atau mungkin ada hal lain yang menyebabkan Nindya justru pulang dengan Elang.


Ibu Nindya tidak ingin memberikan tekanan pada putrinya dengan banyak bertanya. Apapun yang sedang dijalani Nindya dalam hidupnya selalu dimaklumi, karena kebahagiaan Nindya adalah prioritas utama.


"Karena saya brondong!" jawab Elang dengan seringai lucu. "Belum lulus, juga belum punya penghasilan. Nanti dia kesulitan jawab kalau ditanya sama orang 'siapa' yang diajaknya ke acara nikahan!"


"Ibu yakin kamu yang akan menjawab sendiri besok, benar nggak dugaan ibu?"


Elang berpikir sejenak, "Ketimbang meladeni omongan orang, saya lebih suka membiarkan mereka mau bicara apa saja. Saya nggak begitu peduli dengan penilaian orang. Kalau Bu Nindya berani mengajak saya ke acara itu, artinya dia juga harus berani menerima konsekuensi mendapatkan sindiran atau cemoohan dari orang lain."


Nindya termenung sejenak sebelum menyahut pelan, "Kamu nggak bawa baju buat ke acara nikahan, El!"


"Aku janji akan rapi besok!" Elang seketika berencana mencari baju dulu ke butik besok pagi sebelum berangkat ke acara, jika Nindya mengajaknya.


"Ibu akan menyiapkan baju untuk kalian berdua besok pagi." Ibu Nindya mengulas senyum, mengambil ponsel lalu meninggalkan Elang dan Nindya di ruang tamu. Menelepon kenalannya, urusan baju untuk Nindya dan pacar dadakannya.


"Aku masih nggak paham kenapa ibu menyukaimu," kata Nindya lirih. Tidak menyangka ibunya menyambut Elang sangat ramah pada pertemuan kedua mereka.

__ADS_1


Diam-diam Nindya teringat Daniel. Merasa bersalah karena berkhianat dengan membawa Elang ke rumahnya tanpa sepengetahuan tunangannya itu. Semua memang terjadi tanpa rencana. Kalau saja mereka berdua tidak terlibat acara detektif-detektifan, Nindya pasti tadi pulang sendirian.


Elang terkekeh, kalimat Nindya hampir diartikan dengan iseng 'mungkin ibumu naksir aku' oleh Elang. "Kamu harus mulai mengakui pesonaku, Manis! Aku cukup menarik perhatian untuk kaum wanita dari segala usia."


Nindya melempar bantal sofa ke arah Elang, "Nggak usah ge-er! Ibu emang ramah sama semua temanku!"


"Kelihatannya kamu nggak punya banyak teman!"


"Tau darimana kamu?"


Elang tersenyum penuh arti, "Ya tau aja, keliatan kok!"


Nindya melotot sebal, "Aku memang bukan organisator seperti kamu waktu kuliah. Aku lebih suka membaca di perpustakaan. Tidak ada kegiatan yang aku ikuti di kampus, aku hanya memikirkan lulus cepat dan langsung dapat kerjaan! Wajar kalau aku nggak punya banyak teman."


"Kalau nggak gitu nggak mungkin kamu bisa jadi dosen muda di kampus!" timpal Elang mengakui kehebatan Nindya. "Aku salut dan juga cinta!"


Nindya langsung melengos ke arah lain, "Kamu bisa nggak sih bicara nggak pake rayuan gombal? Eneg tau dengernya!"


Elang terkekeh-kekeh, "Aku mau melamar kamu ke ibu nanti! Tambah eneg nggak dengernya?"


"Jangan aneh-aneh, El!" Nindya mendelik senewen mendengar rencana gila Elang. "Aku bakal marah bener sama kamu …!"


Elang menaikkan sebelah alisnya, "Tiap hari kamu juga marah sama aku, nggak ada capeknya, jadi nggak perlu izin lagi kalau mau marah, kan?"


Elang memberikan serangan cepatnya di bibir Nindya. Sebuah kecupan singkat yang membuat Nindya hampir menjerit saking kagetnya.


"Kamu kalau nggak bikin kesel orang gitu bisa nggak?"


"Nggak bisa, udah bakat dari lahir kalau itu!"


"El, kamu nggak serius, kan?" tanya Nindya panik. "Males aku kalau kamu punya ide aneh-aneh gitu!"


"Aku selalu serius sama kamu, aku cuma mau kamu percaya sama aku, itu aja, nggak berlebihan, kan?"

__ADS_1


***


__ADS_2