
Shinta merasa lega karena Rivaldo telah mengetahui bahwa yang bersamanya saat ini adalah Shanti bukan dirinya.
"Syukurlah Mas Rivaldo, kalau kamu sudah tahu tentang kejadian yang sebenarnya. Lantas sekarang kamu akan bertindak bagaimana, Mas Rivaldo?" tanya Shinta penasaran.
"Entahlah sayang, aku juga belum mengerti apa yang akan aku lakukan terhadap saudara kembar-mu yang jahat itu," ucap Rivaldo.
"Ya sudah nggak apa-apa, Mas. Nanti kita pikirkan lagi bagaimana caranya untuk membongkar kejahatan Shanti. Sebisa mungkin kamu jangan membuat dirinya curiga bahwa kamu telah mengetahui siapa sebenarnya, ia," pesan Shinta.
"Sebaiknya kamu jangan berlama-lama di sini, Mas. Nanti Shanti mencari keberadaanmu bagaimana?" saran Shinta.
"Jujur saja aku masih kangen padamu, karena sudah cukup lama berpisah denganmu. Ya sudah kalau begitu aku pamit pulang. Kamu jaga diri baik-baik, jaga kesehatan. Jika ada apa-apa jangan lupa menghubungiku ya."
"Rasya, aku titip istriku ya? misalkan dia tidak bisa menghubungiku, kamu yang menghubungi aku. Intinya kirim kabar selalu ya."
Setelah cukup lama bercengkrama di rumah Rasya, Rivaldo memutuskan untuk pulang karena tidak ingin membuat curiga Shanti.
"Kurang ajar sekali Shanti, dia telah menipuku! aku juga kenapa tidak bisa mengenali jika dirinya itu bukanlah Shinta tetapi Shanti. Aku terlalu bodoh karena di sibukkan dengan urusan kantor!" gumam Rivaldo seraya terus melajukan motor gedenya arah pulang.
"Lihat saja, Shanti. Aku akan membuatmu menderita seperti yang telah kamu lakukan pada, Shinta."
Rivaldo terus saja mengoceh sepanjang perjalanan pulang, karena ia merasa kesal dan emosi terhadap Shanti yang telah menipu dirinya mentah-mentah.
Sementara saat ini Shanti telah terbangun dari tidurnya dan pada saat ia akan membuka pintu kamarnya tidak bisa karena di kunci oleh Rivaldo dari luar.
"Aneh, kenapa juga pintu pakai di kunci seperti ini?"
Shanti merasa kesal sekali, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Hingga ia hanya bisa duduk diam di pinggir kasur. Ia pun meraih ponselnya di atas nakas untuk menelpon Rivaldo.
Kring kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel milik Rivaldo. Sejenak Rivaldo menghentikan laju motornya untuk mengetahui siapa yang telah menelpon dirinya.
__ADS_1
"Hem, Shanti! biarkan saja dech!"
Rivaldo tidak mengangkat panggilan telepon dari Shanti. Ia justru mengantongi ponselnya lagi di dalam saku celananya. Dan kembali melajukan motor gedenya.
"Sialan, nomornya aktif tapi kenapa tidak mau angkat? sebenarnya dia ada dimana sih? buatku penasaran saja, padahal selama ini dia tak pernah pergi-pergi sendirian apa lagi selama ini."
Shanti kesal dan pada akhirnya melempar ponselnya ke pembaringan.
Tak berapa lama, Rivaldo telah sampai di rumah. Tetapi ia lupa jika dirinya telah mengunci kamarnya. Ia malah asik berbaring di ruang tamu, hingga ia mendengar suara Shanti berteriak memanggil dirinya.
Tok tok tok tok tok tok
"Mas Rivaldo, tolong buka pintunya. Aku nggak bisa keluar, mas."
Seketika itu juga Rivaldo terhenyak kaget dan membuka matanya.
"Astaga aku lupa , jika aku pada saat akan pergi mengunci pintu kamar. Pasti pada saat nanti telepon, ingin meminta tolong supaya dibukakan pintu kamar."
"Mas, kenapa sih pintu kamar pakai dikunci segala dari luar? memangnya aku ini seorang tahanan apa?" rajuk Shanti.
"Maafkan aku, aku salah mengunci rupanya. Aku pikir yang aku kunci pintu ruang tamu karena aku tadi keluar sejenak, eh malah mengunci pintu kamar," ucap Rivaldo seraya terkekeh supaya tidak membuat curiga Shanti.
"Sejenak katamu? kamu itu keluar begitu lama, aku di dalam kamar merasa bosan tetapi tak bisa keluar kamar sama sekali. Kenapa juga aku telepon tidak kamu angkat?" tanya Shanti kesal.
"Aku minta maaf, bukannya aku tidak mau mengangkat telepon darimu. Tetapi aku tadi dalam perjalanan pulang, tanggung jika aku mengangkat telepon karena sebentar lagi juga sampai rumah," ucap Rivaldo.
"Tumbenan kamu keluar rumah. Memangnya dari mana sih, mas? biasanya kamu kalau keluar rumah itu tidak sendirian tetapi selalu mengajak aku," ucap Shanti.
"Sejenak menemui klien bisnisku yang baru, aku nggak enak jika mengajakmu serta," ucap Rivaldo berbohong.
"Menemui klien bisnis dengan pakaian seperti itu?" celoteh Shanti yang membuat Rivaldo sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya.
__ADS_1
"Kenapa sih, kamu kok lama-lama menjadi cerewet sekali seperti ini? menginterogasi diriku bagaikan seorang maling saja!" bentak Rivaldo kesal.
"Astaga, mas. Kenapa begitu saja marahnya luar biasa seperti ini? ya sudah aku minta maaf ya. Sudah dong, jangan marah terus seperti ini?" ucap Shanti mencoba membujuk Rivaldo supaya tidak marah lagi.
Namun hal itu tidak membuat Rivaldo lantas luluh dan merendam emosinya. Justru ia semakin bertambah emosi, karena sudah tahu jika yang sedang bersamanya saat ini bukanlah Shinta melainkan Shanti.
"Mas, kenapa kamu diam saja? apa kamu masih marah sama aku hanya karena masalah sepele seperti ini? aku minta maaf ya mas, tolong jangan di perbesar," bujuk Shanti.
"Aku lapar, cepat masakan aku!" perintah Rivaldo kesal.
Dia sengaja memerintah Shanti untuk memasak karena ia juga ingin memantapkan kepercayaannya bahwa yang ada di hadapannya adalah Shanti bukan Shinta. Karena Shinta pintar memasak walaupun ia sibuk sebagai seorang dokter.
"Mas, bibi kan sudah masak. Nanti mubazir dong kalau tidak di makan. Sekarang kamu makan masakan bibi dulu, besok aku yang akan masak sendiri ya," bujuk Shanti, akan tetapi Rivaldo menolak.
"Nggak, aku ingin kamu yang memasak! nggak usah di pikirkan masakan yang sudah bibi masak. Itu bisa di berikan pada orang. Sekarang juga aku ingin kamu masak buatku!" bentak Rivaldo.
"Aduh, mampus! aku sama sekali tidak bisa memasak. Lantas aku harus bagaimana ya?" batin Shanti mulai panik.
"Cepat, masak sana! kenapa masih bengong?" tegur Rivaldo.
"Iya, sabar sedikit kenapa sih mas?" ucap Shanti kesal juga.
Shinta melangkah ke dapur, dan tanpa pikir panjang, Rivaldo mengikuti Shanti ke dapur. Sesampainya di dapur, Shanti mulai gelapan. Ia mulai bingung harus memulai dari apa dan bagaimana?
Sejenak Shanti hanya terdiam seolah sedang berpikir.
"Heh, kenapa malah bengong lagi? aku sudah sangat lapar dan ingin makan masakanmu!' bentak Rivaldo.
"Sabar sedikit kenapa, mas. Aku juga bingung harus masak apa untukmu," ucap Shanti palsu.
"Tinggal pilih kok bingung, di kulkas kan sudah banyak bahannya. Sudah kamu masakin saja aku sayur kangkung!"
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, Shanti meraih satu ikat kangkung yang ada di dalam kulkas.