
Sementara saat ini pria yang telah menolong Shinta membawanya sebuah rumah. Ternyata pria yang menolongnya ini adalah Santo hanya saja ia masih dalam penyamaran.
"Sebenarnya kurang aman juga jika Shinta dibawa ke rumahku, karena aku khawatir suatu saat nanti Shanti akan datang kemari," batin Santo.
Dia pun memerintahkan beberapa anak buahnya untuk selalu waspada di depan pintu gerbang. Jika ada seseorang yang menyerupai Shinta datang supaya jangan lekas diizinkan masuk.
"Untung saja tadi aku iseng ke rumah Rivaldo, sehingga aku bisa melihat kejadian ini. Dan mengikuti ke mana anak buah Shanti membawa Shinta pergi. Jika tidak, mungkin saat ini Shinta sudah benar-benar meninggal oleh kebiadaban Shanti. Aku sama sekali tidak menyangka jika Shanti begitu kejam."
"Herannya kenapa Shinta nekat datang menemui Shanti. Seharusnya dia tak melakukan hal itu. Sama saja dia mengantarkan nyawanya sendiri pada manusia kejam seperti, Shanti."
Terus saja Santo menggerutu di dalam hatinya atas perbuatan keji yang dilakukan oleh Shanti.
Sementara saat ini Shanti sedang marah besar, karena usahanya untuk menghabisi Shinta gagal total.
"Sialan, siapa yang melakukan hal ini? kenapa pula markasku dibakar oleh seseorang? padahal yang aku tahu markasku itu sangatlah tersembunyi, tidak ada satu orang pun yang tahu selain aku dan seluruh anak buahku?"
"Tetapi tidak apa-apa, aku yakin saat ini Shinta sudah terbakar hangus menjadi abu dan tubuhnya tidak akan bisa dikenali. Bahkan sudah hancur lebur karena kebakaran yang begitu besar terjadi di markas."
Sejenak Shanti tersenyum sinis membayangkan tubuh Shinta yang terbakar oleh api besar yang menyala-nyala. Dia sama sekali tidak berpikir bahwa saat ini Shinta telah selamat dari maut. Dia pikir kali ini usahanya telah berhasil, walaupun bukan dengan tangannya sendiri ia menghabisi nyawa Shinta.
"Ibaratnya aku tak perlu mengotori tanganku sendiri dengan menambah dosaku membunuh Shinta. Tetapi ada seseorang yang secara tidak langsung membantuku untuk menghabisi nyawa Shinta dengan membakar markasku. Walaupun aku harus merugi karena markasku terbakar habis oleh kelakuan orang yang tak dikenal," batin Shanti.
Sementara Rasya dan nenek juga gelisah, karena mereka sedang mencari keberadaan Shinta.
"Nenek, apa melihat Shinta?" tanya Rasya celingukan mencari keberadaan Shinta.
"Tidak, Rasya. Dari tadi nenek tidur jadi tak tahu kalau ternyata Shinta pergi," ucap nenek.
"Astaga, nek. Jangan-jangan saat ini Shinta sedang ke rumah suaminya. Aduh, sama saja dia mengantar nyawanya sendiri. Bagaimana ini, nek?"
Rasya begitu cemas karena memikirkan nasib, Shinta. Dia bingung harus bagaimana? jika dia datang dengan bertujuan mencari Shinta sama saja, ia akan memberitahukan jati dirinya sebagai teman Shinta pada Shanti.
__ADS_1
"Ya Allah, semoga saja Shinta baik-baik saja di luar sana. Karena ada seseorang yang sedang mengharapkan ia terkena pertama," batin Rasya cemas.
********
Esok harinya, Shinta sudah mulai membuka matanya.
"Aku ada di mana?" tanyanya lirih.
"Syukurlah kamu akhirnya sadar juga. Kamu sedang ada di rumahku," ucap Santo.
Sejenak Shinta mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya. Hingga ia pun heran bagaimana bisa pria yang ada di hadapannya tersebut, tahu markas Shanti.
"Maaf, kenapa anda bisa menolongku? padahal tempat itu sepertinya rahasia?" tanya Shinta lirih.
"Memang iya, itu markas Shanti."
Santo pun menceritakan semuanya tentang siapa dirinya itu. Bahkan ia juga menceritakan bagaimana dirinya juga pernah alami celaka. Dan ia kini sudah tahu siapa yang membuat dirinya celaka.
"Astaghfirullah aladzim, masa Shanti begitu kejam padamu? padahal kamu ini kekasihnya," ucap Shinta hampir tak percaya.
"Mas, aku minta tolong bisakah?" tanya Shinta ragu.
"Katakan saja, selagi aku bisa akan aku bantu," ucap Santo.
"Aku pinjam ponselnya, untuk menghubungi sahabatku karena aku sementara waktu tinggal di rumahnya," ucap Shinta.
"Boleh sama, apakah tidak sebaiknya kamu aku antar saja sekarang ke rumah sahabatmu? karena di sini juga tidak aman. Suatu waktu, Shanti datang kemari," ucap Santo.
"Tapi aku harus telpon dulu untuk mengatakan kondisiku. Aku yakin saat ini sahabatku sedang mengkhawatirkan kondisiku," ucap Shinta.
Pada akhirnya, Santo mengizinkan Shinta meminjam ponselnya. Dan saat itu juga, Shinta menelpon nomor ponsel milik Rasya.
__ADS_1
Kring kring kring
Satu panggilan nomor telepon masuk ke dalam nomor ponsel Rasya. Dimana saat ini Rasya sedang mencari keberadaan Shinta. Sejenak ia pun menghentikan laju mobilnya untuk sejenak mengangkat panggilan telepon.
"Hallo, maaf ini siapa ya?"
"Ini aku, Shinta."
"Shinta, kamu dimana? saat ini aku sedang mencari keberadaanmu?"
"Nanti aku ceritakan, tolong saat ini kamu kembali ke rumah saja. Karena aku baik-baik saja. Dan saat ini aku akan kembali ke rumahmu."
"Baiklah, aku akan segera kembali ke rumah."
Saat itu juga baik Rasya maupun Shinta mematikan panggilan telepon mereka. Dan Rasya segera kembali ke rumahnya. Begitu pula dengan Shinta, saat ini ia juga meminta tolong pada Santo untuk segera mengantarkannya ke rumah Rasya.
"Mas Santo, tolong antarkan aku ke rumah sahabatku sekarang juga," pinta Shinta.
Dengan gerak cepat, Santo memaosh Shinta yang kondisinya belum begitu pulih. Dia masih lemas, tetapi berusaha kuat untuk melangkah menuju ke mobil Santo.
Dan saat itu juga Santo mengantarkan Shinta di kawal oleh beberapa anak buahnya. Hingga beberapa menit kemudian, sampai juga mereka di pelataran rumah Rasya.
Shinta segera keluar dari mobil dan kali ini di tuntun oleh Rasya. Karena kebetulan Raysa sudah sampai terlebih dahulu di rumah. Ia sengaja menunggu di teras rumahnya.
Setelah Santo berhasil mengantarkan Shinta, ia pun berpamitan pulang. Dan seperginya Santo, barulah Shinta menceritakan apa yang telah terjadi padanya.
"Astaga, kamu benar-benar nekad sekali. Sudah aku katakan jangan bertindak ceroboh seperti itu. Apa lagi kamu mencoba menyadarkan Shanti. Jelas saja dia tidak akan berubah."
"Untung saja ada yang menolong dirimu. Jika tidak, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirimu."
"Shinta, lain kali kalau akan bertindak itu di pikir dulu. Jangan asal langsung menjalankan niatmu itu."
__ADS_1
Mendengar apa yang di katakan oleh Rasya, Shinta membenarkan.
"Ya, Rasya. Aku yang terlalu bodoh, aku berpikir Shanti akan sadar akan kesalahannya. Dan ia akan berubah jika aku menasehatinya. Tetapi malah ia ingin membunuh diriku untuk yang kedua kalinya," ucap Shinta kesal.