
Pagi menjelang, suasana di rumah Rivaldo ceria seperti biasanya. Bahkan sudah tidak terlihat Rivaldo bersikap dingin pada Sarafani. Hal ini membuat Sarafani sangatlah bahagia dan senang. Ia merasa dirinya telah di akui sebagai seorang anak kandung, walaupun terlahir dari rahim yang berbeda dengan Safanya.
"Fani, papah minta kamu yang nurut ya sama Mamah Shinta walaupun kamu sudah tahu jika kamu tidak terlahir dari rahimnya. Tetapi Mamah Shinta adalah mamah yang sangat luar biasa kasih sayangnya bukan hanya pada Safanya, tetapi juga padamu," nasehat Rivaldo di sela sarapan.
"Pasti, Pah. Aku tidak akan buat papah atau mamah kecewa, karena kalian adalah permata hatiku. Aku tidak akan membuat kalian sedih," ucap Sarafani dengan sangat antusias.
Sarafani memang anak yang patuh seperti Safanya. Ia benar-benar tidak pernah menentang apa pun yang di nasehatkan padanya. Ia selalu saja menuruti semua kemauan orang tua.
Begitu pula dengan Safanya, walaupun ia telah tahu Sarafani bukan saudara satu ibu. Tetapi Safanya juga tidak pernah berubah dalam menyayangi Sarafani. Mereka berdua saling menyayangi satu sama lain. Sarafani menyayangi Safanya layaknya seorang Kakak kepada adiknya, dan Safanya menyayangi Sarafani layaknya seorang adik pada kakaknya.
Tidak pernah ada pertengkaran yang terjadi antara kedua anak ini. Mereka selalu saling mengalah satu sama lain.
Shinta telah berhasil mendidik kedua anaknya menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan saling mengasihi satu sama lain. Tetapi ia juga merasa belum berhasil dalam meyakinkan Sarafani untuk bisa menyayangi Shanti sebagai ibu kandung Sarafani.
__ADS_1
"Mah, kamu nggak usah lagi membujuk Sarafani untuk mau menyayangi Shanti. Karena memang ia tak pantas menerima kasih sayang dari Sarafani. Nggak usah lagi memaksakan kehendakmu terhadap Sarafani. Fani pasti tahu mana yang terbaik bagi kehidupan dirinya. Ia bukan anak kecil lagi jadi bisa tahu dan bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Papah nggak ingin kamu buat kecewa ya, Fani. Papah tidak akan bersikap dingin lagi padamu, asal kamu benar-benar menuruti segala apa yang papah katakan," ucap Rivaldo seraya menatap ke arah Sarafani.
Hanya dengan cara ini saja, Rivaldo bisa melawan Shanti. Yakni membuat Sarafani tetap berada di rumahnya dan bahkan tidak mengakui Shanti selamanya sebagai ibu kandung.
Hanya dengan begitu, suatu saat nanti pasti Romy juga tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga ia tidak lagi berpihak pada, Shanti.
Mendengar apa yang di katakan oleh suaminya Shinta hanya diam saja. Karena ia memang sudah tidak ada lagi kata yang ingin di sampaikan. Ia kali ini sudah pasrah dengan semuanya. Ia juga tidak akan mengecewakan suaminya lagi.
"Biarkan saja semua yang terjadi dalam rumah tanggaku begini adanya. Aku tidak akan memaksa lagi Sarafani untuk bisa membuka hatinya bagi Shanti. Apa lagi tabiat Shanti yang sangat buruk itu," batin Shinta.
Acara sarapan di akhiri dengan gelak tawa. Dan bahkan Rivaldo telah membuat rencana akan mengajak anak-anak dan istrinya untu piknik menjelang hari Minggu.
"Karena kalian berdua berhasil masuk ke sekolah SLTP yang bonavit di kota ini dan juga lulus dengan nilai yang terbaik. Besok hari Minggu, papah akan ajak kalian piknik sama mamah juga ya?"
__ADS_1
Perkataan Rivaldo ini membuat kedua anaknya sangat antusias. Apa lagi buat Sarafani. Karena ini yang pertama kalinya, ia bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang sepenuhnya.
Pada waktu dulu ia tidak pernah merasakan hal ini karena walaupun selalu ikut piknik mingguan, tetapi Rivaldo bersikap dingin kepadanya.
"Alhamdulillah, aku sangat senang sekali karena pada akhirnya Papah kini bisa welcome padaku. Aku tidak akan mengecewakan keluarga ini yang telah membuatku bahagia dengan kasih sayang mereka. Dan aku tidak akan membiarkan mamah kandungku kembali berulah jahat pada keluarga ini," batin Sarafani.
Entah bagaimana, ia yang baru masuk pendidikan di jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama bisa peka dan tahu jika mamah kandungnya itu benar-benar akan berulah lagi.
Rasa bahagia yang luar biasa yang kini tidak terkira di dalam hati Sarafani. Memang dari dulu ia ingin merasakan kasih sayang dari Rivaldo yang seutuhnya. Karena sejak dulu Rivaldo selalu bersikap dingin padanya.
Baru kali ini Sarafani merasakan hal yang tak biasanya yakni sikap Rivaldo yang begitu hangat terhadap dirinya.
Safanya yang memang begitu pendiam juga ikut merasakan kebahagiaan. Ia pun merespon rasa bahagia dirinya dengan menggenggam jemari Sarafani seraya tersenyum ke arahnya.
__ADS_1