Muslihat Saudara Kembar

Muslihat Saudara Kembar
Shanti & Shinta


__ADS_3

Hingga pada akhirnya, nenek pun bersedia ikut dengan Shinta dan Rasya. Ia sudah tak bisa menolak lagi.


Sementara saat ini Shanti sudah sampai di rumah, dan ia tidak mendapati adanya Shinta datang ke rumah.


"Shinta tidak datang ke rumah, lantas saat ini dia ada di mana ya? aku jangan sampai lengah. Jangan sampai dia datang kemari dan Rivaldo tahu jika kami adalah kembar," batin Shanti.


"Aku harus lekas menemukan Shinta untuk aku lenyapkan. Jika tidak penyamaranku bisa terbongkar," batin Shanti.


"Jika Shinta masih hidup, berarti waktu itu Santo tidak menghabisi dirinya. Kurang ajar, jadi ia telah berbohong padaku! Untung saja ia sudah aku habisi terlebih dahulu," batin Shanti.


Dia pun memutuskan untuk meminta bantuan kepada para anak buahnya untuk menyelesaikan permasalahannya tersebut.


Shanti memerintah kepada beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Shinta dan untuk di bawahnya ke suatu tempat.


"Semoga saja usaha anak buahku lekas berhasil dalam menangkap Shinta. Dengan begitu, Shinta tidak ada kesempatan untuk bisa bertemu dengan, Shinta," batin Shanti.


Untuk saat ini Shinta masih aman berada di rumah sahabat baiknya Rasya, tetapi entah untuk esok harinya karena Shanti telah memerintah beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan, Shinta.


"Shinta, apa kamu tidak merasa khawatir dengan datangnya Shanti ke rumah si nenek berarti saat ini dia sedang mencari dirimu," ucap Rasya.


"Aku justru ingin bertemu dengannya dan mengajaknya bicara empat mata. "Siapa tahu saja Shanti mau mendengarkanku dan dia bertobat serta sadar akan kesalahannya dan membiarkanku untuk kembali ke suamiku," ucap Shinta.


"Apa kamu yakin? jika ternyata dia masih berniat jahat padamu, apa yang akan kamu lakukan? aku mengkhawatirkan dirimu, Shinta," ucap Rasya.


"Positif tinking saja, Rasya. Karena aku tidak ingin bermusuhan dengan saudara kembarku. Apa lagi aku tidak punya anak saudara sama sekali, hanya kamu sahabat baikku saja," ucap Shinta.

__ADS_1


Setelah pembicaraan sejenak, Shinta nekad ke rumah suaminya tanpa sepengetahuan Rasya dan nenek.


"Aku akan ke rumah Rivaldo, untuk saat ini pasti ia masih ada di kantornya hingga aku bisa menemui Shanti dan mengajak dirinya berbincang sejenak."


Tak berapa lama, sampailah Shinta di rumah Rivaldo. Dan kebetulan Shanti sedang bersantai di teras halaman rumah. Ia begitu kaget pada saat melihat kedatangan Shinta yang begitu nekad.


"Kamu?"


"Iya, ini aku Shanti. Aku sudah tahu kebenarannya tentang dirimu. Jika kamu adalah saudara kembarku," ucap Shinta.


"Lantas jika kamu sudah tahu aku ini saudara kembarmu, kamu mau apa?" tanya Shanti ketus.


"Aku ingin kamu sadar, jika tindakanmu itu salah. Janganlah merebut milik orang lain karena itu tidak baik. Kembalikan suamiku padaku, dan kita bisa hidup bersama layaknya saudara," ucap Shinta.


"Tidak, aku tidak ingin mengembalikan suamimu karena aku sudah terlanjur cinta padanya. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskannya untuk bisa kembali padamu!"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Shanti, membuat hati Shinta sedih. Padahal ia tidak ingin bermusuhan dengan Shanti, tetapi malah kenyataannya lain.


"Apakah kamu juga yang telah mencoba mencelakai aku?" tanya Shinta.


"Hem, benar sekali. Tetapi keberuntungan sedang berpihak padamu hingga kamu masih hidup seperti ini. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu untuk hidup yang kedua kalinya. Itu sama saja akan membuat diriku kehilangan kesempatan untuk bisa bersama, Rivaldo," ucap Shanti lantang.


Dan ia pung mengirimkan chat pesan pada anak buahnya untuk segera datang ke rumah dan meringkus, Shinta. Hingga tak berapa lama, datanglah beberapa anak buah Shanti dengan membawa sebuah karung. Shinta di bius dan di masukkan ke dalam karung tersebut.


"Lekas bawa ia ke markas, jangan di habisi dulu sebelum aku beri perintah. Karena aku masih ingin bicara dengannya," perintah Shanti pada beberapa anak buahnya.

__ADS_1


"Baiklah, bos."


Saat itu juga anak buah Shanti pergi dengan membawa karung berisikan Shinta.


"Hem, dasar bodoh. Mengantar nyawa sendiri kemari. Ia pikir aku akan mendengarkan kemauannya untuk berdamai. Sampai kapan pun, aku tidak akan berdamai denganmu Shinta. Justru aku akan menghabisi nyawamu. Kali ini nyawamu tidak akan selamat lagi, Shinta," batin Shanti seraya tersenyum sinis.


Dia begitu tega pada saudaranya sendiri. Hanya demi keinginan diri menjadi istri orang kaya. Saat itu juga, Shanti berlalu pergi ke markas anak buahnya. Ia ingin menemui Shinta yang sudah di bawa oleh anak buahnya terlebih dahulu.


Hanya beberapa menit saja, Shanti sudah sampai di markas tersebut. Kebetulan juga, Shinta sudah sadarkan. Dia saat ini di ikat di sebuah kursi dengan mulut di tutup kain, dan kaki juga di ikat.


"Hay Shinta, kamu begitu bodoh. Padahal sejak aku tahu kamu ini masih hidup, aku sedang berusaha mencari keberadaan dirimu. Dan kamu malah menyerahkan dirimu begitu saja padaku."


"Kedatangan dirimu ini malah mempermudah aku untuk menangkap dirimu kedua kalinya."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Shanti tidak lantas membuat Shinta takut atau gentar padanya.


"Sadarlah, Shanti. Sebelum yang Kuasa memberimu hukuman yang berat dan apa susahnya kamu mencari pria yang masih statusnya lajang. Masa iya kamu tidak bisa mencari pria yang lajang malah kamu ingin menjadi seorang pelakor dengan merebut suami saudara kembarmu sendiri," ucap Shinta.


"Sudahlah kamu tak usah banyak menasehatiku, karena aku lebih tahu bagaimana harus melangkah dan bertindak. Sekarang kamu pikirkan saja, apakah ada permintaan terakhir darimu sebelum aku mengirimmu ke akhirat. Kali ini aku akan berbaik hati untuk mengabulkan satu keinginanmu supaya kamu tenang di akhirat nanti," ucap Shanti terkekeh.


"Kehidupan seseorang, nyawa seseorang, bukanlah manusia yang menentukan. Hanya yang kuasa yang bisa menentukan seberapa lama kita akan hidup. Aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu yang akan menghabisi nyawaku, karena walaupun tidak kamu habis nyawaku suatu saat nanti aku juga akan mati," ucap Shinta tersenyum.


"Sudahlah tak usah berceramah lagi, saat ini juga aku akan menghabisimu!"


Akan tetapi pada saat Shanti akan menusukkan sebuah pisau kepada Shinta, tiba-tiba terjadi suatu kebakaran hebat di markas milik Shanti. Hingga ia pun sibuk dengan dirinya sendiri untuk menyelamatkan nyawanya sendiri, ia melupakan niatnya untuk menghabisi, Shinta.

__ADS_1


Begitu pula dengan semua anak buahnya, mereka juga sibuk menyelamatkan diri dengan segera keluar dari gedung tersebut.


Dan pada saat itu juga ada seseorang yang menyelamatkan Shinta dari gedung tersebut. Seorang pria tersebut membawa Shinta pergi melewati pintu belakang markas tersebut dan membawanya jauh.


__ADS_2