Muslihat Saudara Kembar

Muslihat Saudara Kembar
Kecurigaan Rivaldo


__ADS_3

Rasya merasa iba pada nasib yang menimpa, Shinta. Baru tahu dirinya memiliki saudara kembar, malah saudara kembarnya jahat.


"Shinta, kamu yang sabar ya. Lantas apa langkah selanjutnya yang akan kamu lakukan?" tanya Rasya penasaran.


"Entahlah, aku juga bingung akan berbuat apa. Untuk saat ini aku aku belum bisa berpikir jernih. Aku masih ingat kejadian beberapa jam yang lalu. Dimana Shanti akan membunuhku," ucap Shinta.


"Ya sudah, untuk saat ini kamu istirahat saja dulu. Pulihkan energi dan tenaga supaya kamu bisa lekas berpikir jernih untuk rencana selanjutnya," ucap Rasya.


Shinta pun bangkit dari duduknya, ia masuk ke dalam rumah dituntun oleh Rasya karena kondisinya masih sangat lemah.


Sementara saat ini Santo sedang melamun memikirkan ulah Shanti.


"Ternyata apa yang Pak Ranggi katakan benar adanya, jika ia mencurigai Shanti. Aku heran dengan Shanti, menghalalkan segala cara demi keinginannya. Seharusnya ia tidak berbuat begitu padaku. Untung saja aku tidak sampai berbuat lebih jauh waktu itu."


"Utung waktu itu aku masih bisa berpikir jernih tidak sampai menghabisi, Shinta. Karena jika itu terjadi, aku akan lebih menyesal lagi. Karena Shanti juga yang telah berusaha untuk menghabisi aku dengan memerintah beberapa anak buahnya waktu itu."


"Aku tidak akan membiarkan, Shanti berbahagia. Aku akan memberikan balasan setimpal padanya."


"Menyesal karena aku telah jatuh cinta pada wanita jahat seperti Shanti. Aku pikir semua yang dia katakan itu benar. Tetapi ternyata hanya bualan saja."


Terus saja, Santo melamunkan Shanti dan ia juga sedang berpikir bagaimana caranya untuk bisa membuat Shanti jera dengan apa yang ia perbuat.


Esok menjelang, Shanti sengaja mengecek markasnya. Ia berpikir bisa melihat tengkorak, Shinta.


"Benar-benar tersapu bersih oleh api. Bahkan aku sama sekali tidak bisa melihat tulang belulang milik Shinta. Coba aku bisa melihatnya, pasti aku akan semakin bertambah senang."


Setelah cukup lama, Shanti mengamati reruntuhan di markasnya. Ia pun memutuskan untuk pulang. Ia tak ingin berlama-lama karena tak ingin membuat Rivaldo curiga.


"Sayang, aku dari tadi mencarimu. Kamu dari mana sepagi ini?" tanya Rivaldo penasaran.

__ADS_1


"Aku baru saja keluar sejenak, mas. Maafkan aku ya?" ucapnya manja.


Walaupun sebenarnya di dalam hati Rivaldo mulai menyimpan rasa curiga.


"Aku merasa ada yang aneh dengan Shinta akhir-akhir ini. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu tapi apa ya? sepertinya selama ini aku kurang memperhatikan istriku. Hingga aku baru menyadari saat ini."


"Tutur katanya berubah, dari cara berpakaian pun juga berubah. Yang aku tahu Shinta tak pernah memakai pakaian yang terlalu terbuka.'


"Tetapi akhir-akhir ini, ia berbeda. Dan dulu Shinta suka sekali membuatkanku masakan walaupun sesibuk apa pun. Tetapi ini tidak pernah sama sekali."


"Padahal sekarang Shinta sama sekali tidak ada aktifitas, karena ia sudah tidak bekerja di rumah sakit."


"Sebaiknya aku konsultasikan ini ke dokter Rasya. Ia kan selain sahabat Shinta juga pakar dalam hal ini juga."


"Tetapi aku tidak akan mengatakan pada Shinta jika aku akan pergi. Tunggu ia tidur, dan aku berpura-pura akan ke kantor ada yang tertinggal."


"Sayang, kenapa kamu diam? apa kamu marah padaku? jika aku punya salah padamu tolong katakan padaku. Atau kamu sedang ada masalah di kantormu, aku siap kok menjadi teman curhat mu yang akan setia mendengarkan keluh kesahmu. Siapa tahu saja aku juga bisa bantu menyelesaikan permasalahan yang sedang kamu risaukan?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Shanti.


"Sayang, aku malah bingung harus membalas pertanyaan kamu yang mana dulu. Setiap kali kamu bertanya pasti seperti ini," ucap Rivaldo.


"Tidak seperti Shinta yang aku kenal dulu, selalu memberikan satu pertanyaan dulu. Dan jika sudah aku balas, Shinta selalu memberikan saran atau motivasi sesuai dengan jenis perkataan yang aku katakan," batin Rivaldo yang baru menyadari tentang banyaknya perubahan yang terjadi pada Shinta.


"Hem, begitu ya. Ya sudah dech kalau begitu aku tidur dulu ya? aku ngantuk sekali."


Shanti berlalu pergi dari hadapan Rivaldo.


Ia pun melangkah masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya. Hanya dalam waktu sebentar saja ia telah tertidur pulas. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Rivaldo. Ia pun segera pergi dari rumah, tetapi ia sengaja mengunci pintu kamarnya.


Rivaldo sengaja keluar rumah dengan mengendap-endap seperti seorang maling yang takut akan ketahuan mencuri. Rivaldo pergi dengan mengendarai motor gedenya. Tetapi ia tumpangi di luar pintu gerbang supaya tidak terdengar.

__ADS_1


Hanya beberapa menit saja, ia pun telah sampai di pelataran rumah Rasya. Tetapi ia shock pada saat melihat seseorang yang mirip istrinya duduk di teras rumah sedang mengobrol dengan Rasya dan seorang nenek.


Mereka bertiga juga kaget pada saat melihat kedatangan Rivaldo.


"Sayang, impossible. Tadi kamu berpamitan tidur, tetapi kenapa sudah ada di sini?" tiba-tiba Rivaldo bertanya.


"Tak usah kaget seperti itu, mas. Duduklah, karena kebetulan sekali kamu datang kemari," ucap Shinta halus.


"Mas Rivaldo, tumben datang kemari ada apa?" tanya Rasya.


"Sebentar, aku ingin tanya pada istriku bagaimana bisa ia ada di sini secepat kilat," ucap Rivaldo terus saja menatap pada Shinta.


"Aku memang sudah sejak lama di rumah, Rasya. Dan yang ada di rumah mu itu bukanlah aku, tetapi saudara kembarku," ucap Shinta menatap sendu pada suaminya.


"Hah, saudara kembar? setahuku kamu tidak punya saudara kembar?" ucap Rivaldo tidak percaya.


"Mas, masa iya kamu tidak bisa memahami istrimu? pasti ada hal yang tak bisa di lakukan olehnya tetapi yang justru biasa aku lakukan," ucap Shinta.


"Iya juga, memang pada awalnya aku tidak ada rasa curiga. Tetapi lambat laun aku merasa ada yang aneh padanya. Makanya aku datang kemari ingin bertanya pada, Dokter Rasya karena ia kan pakarnya," ucap Rivaldo.


"Mas Rivaldo, apa yang dikatakan oleh Shinta adalah benar. Yang saat ini bersamamu itu bukan Shinta tetapi Shanti."


Sejenak Rasya menceritakan semuanya pada Rivaldo tentang apa saja yang telah menimpa pada Shinta. Mendengar akan hal itu, Rivaldo sangat kesal. Ia pun menggertakan giginya seraya mengepalkan tinjunya.


"Astaga, jadi seperti itu. Bodohnya aku baru menyadari jika Shinta yang ada di rumah itu banyak sekali perbedaan dengan Shinta istriku. Selama ini aku terlalu di sibukkan dengan urusan kantor hingga aku tak tahu hal sebesar ini menimpa istriku."


"Dan aku tidak curiga pada Shinta palsu itu. Beberapa hari ini saja baru aku merasakan curiga. Sayang, aku minta maaf ya. Terlalu bodoh hingga aku mudah di bodohi."


Rivaldo merasa iba pada istrinya setelah tahu apa yang telah menimpa pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2