Muslihat Saudara Kembar

Muslihat Saudara Kembar
Bersikap Dingin Pada Shanti


__ADS_3

Dengan sangat terpaksa, saat itu juga Shanti melakukan pekerjaan rumah. Karena ia telah di awasi oleh beberapa orang anak buah dari, Rivaldo.


Walaupun ia tak biasa dengan pekerjaan rumah, ia tetap melakukannya di bantu oleh bibi. Dengan bibi yang memberikan komando pada dirinya.


"Sialan, kenapa nasibku menjadi tragis seperti ini. Datang kerumah ini dengan harapan menjadi ratu, bukannya babu seperti sekarang ini. Bagaimana caranya aku bisa istirahat jika terus di awasi mereka."


Rasa lelah sudah menyelimuti Shanti, ia pun sejenak berhenti dari aktifitasnya. Tetapi salah satu anak buah, Rivaldo menegurnya.


"Heh, bangun! apa mau aku adukan kamu ke, Tuan Rivaldo? jika kamu tak ingin mendapatkan hukuman segeralah lanjutkan pekerjaanmu!" bentak salah satu anak buah Rivaldo.


Hingga pada akhirnya, Shanti pun bangkit dari duduknya dan melanjutkan pekerjaan rumah tangga yang sangat melelahkan tersebut.


Hingga sore menjelang, barulah Shanti selesai melakukan semua aktifitas rumahnya. Dan bahkan ia juga telah berlatih memasak pada bibi.


"Bagaimana pengawasan kalian terhadapnya?" tanya Rivaldo yang baru pulang dari kantor.


"Aman, Tuan. Dia melaksanakan semua tugasnya dengan baik."


Setelah itu Rivaldo meminta beberapa anak buahnya tersebut untuk kembali ke markasnya. Dan menggantikan posisi mereka dengan temannya yang lain.


Sementara saat ini Shanti baru saja selesai mandi sore. Walaupun dirinya sangat lelah dan ingin istirahat, tetapi tidak ia lakukan.


Dia sengaja ingin menyambut kepulangan Rivaldo dengan tujuan supaya Rivaldo berubah menjadi lemah lembut kembali seperti sedia kala.


"Hallo sayang, kamu sudah pulang? pasti lelah sekali ya, setelah seharian bekerja di kantor."

__ADS_1


Shanti bersikap sok manis, ia bergelayut manja melingkarkan kedua tangannya di leher Rivaldo. Tetapi Rivaldo menepis kedua tangan Shanti.


"Tak usah membujukku, aku tidak akan luluh dengan bujuk rayumu. Dasar wanita jahat!" bentak Rivaldo.


"Kenapa kamu mengatakan aku jahat, sayang? aku bahkan sudah melakukan apa yang tadi kamu katakan padaku. Semua tugas telah aku selesaikan dengan baik. Dan aku juga telah berlatih memasak sesuai keinginanmu. Semua sudah beres, sayang," ucap Shanti berusaha bersikap sabar walaupun di dalam hatinya sangat emosi.


"Hem, syukurlah kalau begitu. Tetapi bukan hanya untuk hari ini saja. Tetapi untuk selamanya kamu akan mengerjakan pekerjaan rumah."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Rivaldo, Shanti membelalakkan matanya.


"Apa? aku harus melakukan semuanya setiap hari seumur hidupku menjadi istrimu? apa aku tidak salah dengar?"


Shanti sangat kesal dengan apa yang dikatakan oleh Rivaldo.


"Ya, apa pendengaranmu sudah tidak berfungsi? hingga kamu terus saja bertanya? sudahlah aku sangat lelah sekali dan tak ingin berdebat denganmu. Aku akan mandi dan setelah itu aku akan pergi sejenak, untuk suatu urusan."


"Katanya cape, tapi habis mandi akan pergi? lantas mau kemana ya? kok aku menjadi penasaran seperti ini? percuma saja aku memasak susah payah jika ternyata tidak di makan," batin Shanti.


Beberapa menit kemudian, Rivaldo telah siap untuk pergi. Ia begitu terlihat tampan dan wangi. Hingga membuat Shanti mulai curiga.


"Mas, kamu akan pergi kemana? aku ikut ya, masa aku di rumah saja?" rengek Shanti berusaha membujuk Rivaldo.


"Apa kamu sudah lupa, jika kamu pernah mengatakan sendiri jika kamu ingi menjadi seorang istri yang baik. Dengan berada di rumah mengurus rumah. Kamu tak usah ikut, jaga rumah saja. Atau tidur sana! pasti kamu lelah kan, karena dari pagi mengurus rumah. Mumpung aku sedang berbaik hati. Ingat, besok kamu juga akan melakukan semua kerjaan rumah. Makanya jaga kesehatan, tidur lebih awal."


Setelah mengatakan hal itu, Rivaldo lekas berlalu pergi dari hadapan Shanti tanpa memberi Shanti kesempatan untuk berbicara.

__ADS_1


Karena saat itu juga, beberapa anak buah Rivaldo datang dan mencekal paksa Shanti mendorongnya masuk ke kamar tamu. Setelah itu, pintu kamar di kunci dari luar.


"Sialan, kenapa aku di kunci seperti ini? lama-lama aku bisa gila jika setiap hari di perlakukan seperti ini?" gumam Shanti.


Sementara saat ini Rivaldo sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Rasya. Ia ingin bertemu dengan Shinta. Sepanjang perjalanan ke rumah Rasya, Rivaldo terus saja senyam senyum. Ia selalu ingat masa kebersamaan bersama dengan, Shinta.


Tak berapa lama, ia telah sampai di rumah Rasya. Shinta telah menunggu di teras halaman. Ia begitu bahagia dan sangat antusias pada saat melihat kedatangan suaminya.


"Mas Rivaldo, apakah Shanti tidak curiga dengan kepergianmu ini?' tanya Shinta khawatir.


"Sayang, kamu nggak usah khawatir. Anak buahku yang menjaga Shanti, dan hari ini aku telah mulai memberinya hukuman padanya," ucap Rivaldo dengan antusiasnya.


Dia pun menceritakan pada Shinta tentang apa saja yang ia lakukan pada Shanti seharian ini. Bahkan selamanya ia akan memperlakukan Shanti layaknya asisten rumah tangga. Setelah mendengar cerita dari Rivaldo, Shinta hanya diam saja. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


"Sayang, kenapa setelah aku bercerita tentang Shanti kenapa kamu malah diam saja? apa kamu tak suka dengan apa yang aku lakukan padanya?" tanya Rivaldo memicingkan alisnya.


"Bukan begitu, Mas. Hanya saja aku sedang berpikir, bagaimana caranya supaya ia mengakui semua perbuatannya dan mempertanggungjawabkannya di kantor polisi. Karena apa yang telah ia lakukan benar-benar sudah di luar batas."


"Aku menyesal, waktu itu tidak langsung melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib. Aku pikir, akan lebih baik jika memberinya pelajaran sendiri. Tetapi setelah aku berpikir, aku tidak tega melakukan kejahatan padanya atau pada siapa pun."


Memang sifat Shinta berbanding terbalik dengan sifat Shanti. Ia lebih condong dengan sifatnya yang lembut dan tidak tegaan terhadap sesama. Hingga susah untuknya membalas apa yang telah di lakukan oleh Shanti padanya. Rivaldo semakin kagum dengan perangai istrinya. Pantas saja ia memilih profesi sebagai seorang dokter karena jiwa kemanusiaannya yang begitu besar.


"Sayang, itu biar aku yang urus. Kamu tak usah khawatir lagi ya. Kamu memang dari dulu tidak pernah bisa membalas kejahatan dengan kejahatan. Apalagi Shanti masih ada hubungan darah denganmu."


"Serahkan semuanya padaku, pasti Shanti akan mendapatkan hukuman yang setimpal kelak di dalam jeruji besi."

__ADS_1


Rivaldo menenangkan hati Shinta yang terlihat sedih dan bingung. Dan ia pun mengajak istrinya untuk pergi makan malam bersama di sebuah cafe favorit mereka berdua, supaya rasa sedih Shinta hilang.


Lagi pula Rivaldo merindukan masa kebersamaannya dengan istri tercintanya tersebut.


__ADS_2