
Sebelas tahun kemudian...
Usia Sarafani dan Safanya sama-sama berusia sebelas tahun hanya selisih satu Minggu lebih tua Sarafani. Tetapi postur tubuh mereka tidak ada bedanya sama sekali. Hanya kasih sayang Rivaldo yang berbeda. Bahkan ia menganak tirikan, Sarafani. Tapi tidak dengan, Shinta. Ia tetap menyayangi Sarafani layaknya anak kandungnya sendiri.
Padahal Sarafani dan Safanya bagaikan anak kembar, karena postur tubuh dan wajah yang hampir sama. Mereka juga satu sekolahan yang sama dan satu kelas pula yakni saat ini duduk di kelas lima Sekolah Dasar.
Setiap orang yang bertanya pada Shinta pasti ia menjawab jika memang Sarafani dan Safanya kembar. Ia sengaja melakukan hal ini supaya semua orang yang bertanya padanya tidak terus banyak tanya.
"Mah, kenapa sikap papah kok beda sekali ya?" tiba-tiba Sarafani bertanya.
"Beda bagaimana maksudmu, Fani?" tanya Shinta.
Sebenarnya ia tahu apa maksud dari pertanyaan, Sarafani. Hanya saja ia pura-pura tidak tahu.
"Papah begitu sayang pada Fanya, tetapi padaku bersikap cuek. Mah, apa aku ini bukan anak kandung papah?" tanya Sarafani mulai curiga dengan sikap Rivaldo.
"Fani, Papah itu sayang sama dua anak gadisnya. Kamu itu anak kandung Papah juga, jadi jangan pernah beranggapan jika kamu bukan anak Papah. Mungkin saja pada saat papah sedang banyak masalah di kantor, ia jadi cuek. Itu juga sering terjadi pada, mamah."
Shinta mencoba meyakinkan kepada Sarafani jika apa yang ia rasakan itu hanya perasaannya saja. Bahwa Rivaldo itu sebenarnya juga sayang padanya bukan hanya pada Safanya. Walaupun memang Shinta juga sering kali melihat Rivaldo bersikap berlebihan di hadapan Sarafani.
Setelah Shinta berhasil meyakinkan Sarafani bahwa Rivaldo juga sayang padanya bukan hanya pada Safanya saja. Ia pun berlalu pergi dari hadapan Sarafani karena kebetulan, Safanya sudah ada di sampingnya.
Shinta mencari keberadaan Rivaldo. Ia ingin mencoba menasehati suaminya supaya bisa berubah sikap pada Sarafani.
__ADS_1
"Mas, aku ingin bicara sebentar denganmu bisa kan?" tanya Shinta.
"Bisa sayang, katakan saja. Karena kebetulan pekerjaanku sudah selesai."
Rivaldo menutup laptopnya dan langsung memeluk istri tercintanya yang kini duduk di sampingnya.
"Mas, apa kamu tidak bisa merubah sikapmu pada Fani? kasihan dia jika kamu masih saja bersikap dingin padanya," ucap Shinta.
"Nggak, seumur hidup aku akan bersikap dingin padanya. Karena setiap aku melihatnya, aku selalu saja teringat pada Shanti. Kejahatannya pada kita."
"Apa kamu lupa dengan apa yang telah ia lakukan padamu? apa kamu lupa, ia ingin mengambil posisimu dengan ia berpura-pura menjadi istriku?"
"Masih untung aku membiarkan dirimu untuk tetap merawat dirinya hingga kini. Dan bahkan segala kebutuhannya juga aku berikan bukan?"
Mendengar apa yang telah di katakan oleh, Rivaldo. Sontak saja membuat kaget Shinta. Ia khawatir Rivaldo akan menegur, Sarafani dengan teguran yang sangat kasar.
"Mas, Fani sama sekali tidak pernah mengatakan apa pun. Aku kan sering melihatmu berlaku tidak adil padanya. Jika kamu memang tak bisa berlaku adil atau tidak bisa menyayangi Fani sepenuh hati. Setidaknya pada saat kamu memberikan apa pun pada Safanya jangan di depan, Fani. Terang saja pasti ia merasa di anak tirikan olehmu," ucap Shinta mencoba menasehati suaminya.
"Aku memang menganak tirikan, Fani. Karena aku tak pernah berharap ia ada di rumah ini. Aku hanya berharap pada, Fanya. Yakni anak kandung kita," ucap Rivaldo ketus.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Kini Shinta sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena Rivaldo sangat keras kepala. Jika ia sudah benci dan merasa telah di rugikan, seperti yang pernah di lakukan oleh Shanti padanya. Ia tidak akan begitu saja memaafkan orang yang telah merugikan dirinya.
Bahkan beberapa kali, Rivaldo pernah kepergok oleh, Shinta akan membuang Sarafani. Di saat Rivaldo sangat kesal pada Sarafani. Untung saja saat itu, Shinta sempat melihatnya. Hingga ia pun melarangnya.
__ADS_1
"Masa hukuman Shanti tinggal satu tahun lagi. Nanti jika ia sudah bebas, aku akan paksa Shinta untuk memberikan Sarafani padanya. Aku sudah bersabar dengan membiarkan Sarafani tinggal di sini dalam jangka waktu yang cukup lama. Sekarang aku tidak akan lagi berbaik hati!" batin Rivaldo kesal.
Selagi ia melamun di teras halaman. Tiba-tiba ia melihat sosok yang tadi sempat sedang ia lamunkan membuka pintu gerbang secara perlahan.
"Hah, Shanti? baru saja aku sedang memikirkan dirinya, tetapi kenapa ia sudah bebas? bukankah masa hukumannya masih satu tahun lagi?" batin Rivaldo.
"Hem, ini justru kesempatan yang baik. Aku akan meminta Shanti membawa pergi Sarafani saat ini juga," batinnya.
Setelah Shanti ada di hadapan Rivaldo, ia segera berkata.
"Kamu sudah bebas? Hem syukurlah jika begitu, jadi kamu bisa bawa pergi anakmu sekarang juga dari rumahku ini. Karena aku sudah tidak tahan lagi jika tinggal serumah dengan anakmu itu!" ucap Rivaldo ketus.
"Mas, aku baru bebas. Kenapa kamu sudah mengatakan hal menyakitkan seperti ini? aku pikir dengan aku bebas lebih cepat, kamu akan senang," ucap Shanti.
"What's? apa aku nggak salah dengar? enak saja kamu mengatakan hal seperti itu, seolah kamu ini orang penting saja. Justru aku malah berharap kamu itu di penjara seumur hidup. Karena menurutku apa yang telah kamu lakukan dulu sangat keterlaluan!" bentak Rivaldo.
Keributan yang terjadi di pelataran rumah sempat terdengar olah Shinta. Hingga ia pun melangkah ke pelataran rumah. Begitu pula dengan Sarafani dan Safanya. Mereka juga penasaran dengan apa yang telah terjadi, karena terdengar sekali, Rivaldo berkata lantang. Tetapi tak jelas berkata apa, hingga keduanya melangkah keluar pelataran rumah untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Shanti, kamu sudah bebas? bukannya masa hukumanmu itu masih satu tahun lagi?" tanya Shinta kaget melihat Shanti ada di pelataran rumah.
"Alhamdulillah, aku bebas lebih cepat karena kelakuanku yang baik selama di dalam lapas," ucap Shanti sumringah.
Sementara baik Sarafani maupun Safanya diam terpaku terperangah pada saat melihat Shanti yang paras wajahnya sangat mirip dengan, Shinta. Selama ini, baik Shinta maupun Rivaldo tidak pernah mengatakan pada mereka jika Shinta memiliki saudara kembar.
__ADS_1
Shanti yang melihat dua anak gadis itu, sempat bertanya di dalam hatinya. Diantara keduanya, mana yang sebenarnya anak kandungnya.