
Secara berbisik, Shanti bertanya pada Shinta. Tentang anak kandungnya, karena memang pada saat masa pertumbuhan Sarafani, Shanti melarangnya untuk sesekali di bawa ke lapas guna menjenguk dirinya.
"Shinta, yang mana anakku?"
Shinta pun mengatakan pada Shanti mana yang Sarafani. Sedangkan Sarafani dan Safanya merasa penasaran, hingga mereka mendekat ke arah Shanti dan Shinta. Belum juga salah satu diantara mereka berdua bertanya, tiba-tiba Rivaldo mengatakan kebenarannya.
"Sarafani, itu mamah kandungmu yang baru keluar dari penjara."
DUAR!!!! Bagai di sambar petir di siang bolong, Sarafani tercengang mendengar apa yang barusan di katakan oleh Rivaldo.
Ia pun tak bisa berkata-kata, hanya di dalam hatinya saja yang penuh dengan pertanyaan. Ia masih saja belum percaya dengan. apa yang barusan di katakan oleh, Rivaldo. Hingga pada akhirnya, ia pun bertanya pada, Shanti dan Shinta yang sedang bengong.
"Mah, apakah yang papah katakan benar?" tanya Sarafani menatap sendu ke arah Shinta.
Shinta tak tega melihat sorot mata Sarafani yang terlihat sedih, hingga ia diam saja. Di dalam hatinnya merutuki Rivaldo, kenapa ia tak bisa menjaga rahasia yang sudah bertahun-tahun di sembunyikan.
Karena Shinta tak juga berkata, hingga akhirnya Rivaldo berkata lagi.
"Kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan? kamu itu anak dari Shanti, seorang penjahat wanita dimana dulu ia berusaha menjahati Shinta yang selama ini merawatmu dan kamu anggap mamah kandung," ucap Rivaldo ketus.
Sementara Shabti tak terima dengan apa yang dikatakan oleh, Rivaldo pada anaknya. Hingga ia pun ikut terpancing emosi dan membalas kata-kata dari Rivaldo.
"Mas, kamu jangan menghakimi anakku.. Bagaimana pun ia tak tahu apa-apa, jangan melimpahkan kesalahan masa laluku pada Sarafani. Apa kamu lupa, ia juga anak kandungmu walaupun tidak terlahir dari perut, Shinta!"
DUAR!!!!! kini tinggal Safanya yang kaget mendengar apa yang barusan di katakan oleh Shanti.
__ADS_1
Shinta bertambah kesal bukan hanya pada Rivaldo tetapi juga pada, Shanti.
"Astaga, kenapa kalian tak bisa menjaga perasaan anak-anak? mereka itu masih kecil, jadi belum saatnya mendengar tentang kebenaran yang rumit ini!"
"Kenapa kalian hanya memikirkan perasaan kalian saja? lihatlah mereka menjadi bingung dan pasti shock mendengar akan hal ini."
Rivaldo tetap merasa jika dirinya itu tidak salah. Hingga ia berani berkata lagi.
"Sayang, sudah cukup kebaikanmu untuk merawat anak dari penjahat itu! dan kamu Shanti, jika dulu aku tahu yang sedang bersamaku itu bukan Shinta tetapi kamu yang menyamar, aku tidak akan mungkin mau tinggal serumah apalagi sekamar dengan dirimu. Hingga lahir, Sarafani. Adanya Sarafani itu karena sebuah kesalahan, karena ulahmu Shanti!" bentak Rivaldo.
"Astaga, Mas! sudah kamu tak usah mengungkit kesalahan Shanti di masa lalu. Itu tidak baik," ucap Shinta.
"Sayang, kenapa kamu masih saja membela wanita yang hampir saja menghilangkan nyawamu hingga dua kali? ia itu wanita pendosa dan selamanya kesalahannya tidak akan aku maafkan!" bentak Rivaldo.
"Mah, pantas saja papah tak sayang padaku. Karena aku ini anak yang tak di inginkannya. Dan aku ini bukan anak kandung mamah."
Tak kuasa air mata Sarafani menetes begitu derasnya, karena ia tak menyangka jika dirinya bukan anak kandung dari wanita yang selama ini ia panggil mamah.
"Sayang, kamu tak usah mendengar apa yang di katakan oleh, papah dan tantemu itu ya? kamu dan Fanya itu anak kesayangan mamah. Kalian berdua itu harta yang berharga milik, mamah."
Shinta memeluk Fani dan juga Fanya.
"Mah, tak usah kamu terus menyembunyikan jati diri Fani. Selama ini aku bertahan dan bersabar dengan menerima Fani tinggal di rumah ini. Tetapi sekarang sudah ada ibu kandungnya, jadi biarkan ia ikut tinggal bersama, Shanti!" bentak Rivaldo.
Shinta berusaha membujuk Rivaldo supaya tidak bersikap kasar pada Sarafani yang tak tahu apa-apa. Ia berusaha membujuknya supaya mengizinkan Sarafani tetap tinggal di rumah mereka. Tetapi Rivaldo tetap berkeras hati tidak mau menerima Sarafani untuk tetap tinggal di rumahnya.
__ADS_1
Sementara Sarafani juga tidak mau tinggal dengan Shanti. Apalagi Shabti juga tidak punya tempat tinggal dan tak punya apa-apa. Ia juga awalnya akan meminta Shinta untuk dirinya tinggal di rumah mewah itu.
"Mas, jika aku punya rumah. Aku akan membawa Sarafani tinggal bersama diriku.Tapi kamu tahu sendiri kan, selama sebelas tahun ini aku tinggal di jeruji besi," ucap Shanti.
"Itu bukan urusanku ya, salah siapa juga kdmu bermain api dengan jahat pada saudara kembarmu sendiri. Kamu ingin menjadi dirinya dengan menyingkirkannya! jika waktu itu kamu datang baik-baik pada kami dan tak berbuat jahat, pasti aku juga akan bersikap baik padamu," ucap Rivaldo.
Sarafani merengek pada Shinta, ia tak ingin ikut dengan Shanti.
"Mah, aku tak mau pergi. Aku ingin tetap tinggal dengan, Mamah Shinta saja. Aku tak mau punya mamah jahat sepertinya!" ucap Sarafani seraya menatap tajam ke arah Shanti.
"Pah, aku mohon izinkan aku tetap tinggal di sini ya. Aku rela melakukan apapun asal aku di izinkan tetap tinggal di sini."
Kini Sarafani beralih ke arah Rivaldo dan berlutut di hadapannya.
Rivaldo sama sekali tak melihat ke arah Sarafani. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hingga Safanya yang melihat Sarafani tak tega. Ia pun ikut berlutut di samping Sarafani.
"Pah, ayohlah jangan seperti ini. Aku tahu kok, papahku ini papah yang sangat baik dan hebat. Pah, bagaimana pun Fani ini masih anak papah dan juga saudaraku. Apa papah mau melihat aku kesepian tanpa adanya Fani?" bujuk Safanya, tetapi tetap saja tak membuat Rivaldo merubah keputusannya.
"Fanya sayang, bangunlah. Untuk apa kamu membela anak ular ini. Jika papah memelihara anak ular, Papah khawatir suatu saat nanti ia memangsa kita satu persatu," ucap Rivaldo.
"Astaga, mas! bicaramu ini sudah sangat keterlaluan! Fani itu tidak bersalah apa-apa, kenapa ia harus menerima hukuman dari kesalahan yang tak ia lakukan? jika kamu memang berkeras hati seperti ini, ya sudah. Aku akan pergi juga dari rumah ini, jika kamu tetap ingin Fani pergi dari sini. Karena aku sudah terlanjur sayang pada Fani, seperti anakku sendiri," ancam Shinta.
"Mah, jika mamah pergi. Aku ikut ya, mah," rengek Fanya bangkit dari berlututnya dan memeluk Shinta.
Shinta pun mengangguk seraya tersenyum. Ia sudah berencana, jika memang Rivaldo tetap pada pendiriannya. Ia akan pergi dan akan mencari pekerjaan untuk bisa menafkahi Sarafani dan Safanya.
__ADS_1