
Pada saat sampai di rumah kontrakan, Shanti segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia masih teringat semua kejadian barusan di mana Sarafani menolak dirinya.
"Ternyata anakku sudah tumbuh besar, pasti saat dia baru kelas lima sekolah dasar atau kelas enam. Aku harus mencari cara supaya bisa menyingkirkan Shinta kembali. Aku harus mendapatkan ide yang brilian untuk bisa menghancurkan keluarga Rivaldo, aku pasti akan bisa mendapatkan hati Sarafani," batin Shanti.
Entah apa yang saat ini ada di pikiran Shanti, untuk bisa menghancurkan kehidupan Rivaldo.
******
Berbeda situasi di rumah Rivaldo di mana saat ini Shinta sedang berusaha membujuk Sarafani untuk mau mengakui Shanti sebagai ibu kandungnya.
"Fani, mamah minta maaf karena telah menyembunyikan tentang kebenaran ibu kandungmu. Tapi mamah melakukan ini, demi kebaikanmu juga, tidak ada maksud apapun," ucap Shinta lembut.
"Iya Mah, aku tidak marah dengan Mamah. Aku bisa memahami maksud dan tujuan mamah. Justru aku sangat berterima kasih karena selama ini Mamah benar-benar merawatku dengan ikhlas, tulus sepenuh hati Mamah."
"Tolong ceritakan yang sebenarnya tentang masa lalu mamah dan ibu kandungku. Tolong jangan ada yang ditutupi, aku ingin mendengarkannya secara langsung dari mamah."
Sejenak Shinta hanya terdiam, sebenarnya ia tidak ingin menceritakan masa lalunya terhadap Sarafani, apalagi yang menyangkut dengan Shanti. Ia tidak ingin setelah menceritakan semua tentang keburukan Shanti akan membuat Sarafani semakin membenci ibu kandungnya sendiri.
Tetapi sikap diamnya Shinta, justru membuat Sarafani semakin terus memojokkan dirinya untuk segera mengatakan kebenaran tentang masa lalu ibu kandungnya.
"Mah, kenapa diam saja? aku ingin mendengar sejujurnya segala tentang masa lalu ibu kandungku, bagaimana ia bisa masuk ke dalam penjara dalam waktu yang cukup lama?"
"Fani, ini belum saatnya kamu untuk tahu tentang hal yang bersifat dewasa. Nanti saja jika kamu sudah cukup dewasa ya, lagi puls itu kan masa lalu. Yang terpenting kan masa yang sekarang," ucap Shinta.
"Ya sudah kalsu begitu."
__ADS_1
Tetapi di dalam hati Sarafani masih saja penasaran. Hingga ia akan mencari tahu lewat Rivaldo.
"Mah, aku minta maaf ya. Aku akan mencari tahu semuanya lewat papah. Pasti papah akan jujur padaku tentang semuanya, tidak seperti mamah. Aku ini sudah dewasa, tetapi mamah mengatakan jika aku ini masih kecil," batin Sarafani.
Hingga di suatu hari, tanpa sepengetahuan Shinta. Sarafani membolos sekolah hanya untuk menyambangi kantor Rivaldo. Ia begitu kaget pada saat melihat kedatangan Sarafani yang memakai seragam sekolah.
"Fani, kamu bolos nggak sekolah? padahal biaya mahal loh, malah kamu seperti ini!" bentak Rivaldo tak suka melihat kedatangan Sarafani.
"Pah, aku mohon jangan marah dulu. Aku tidak akan bolos sekolah lagi jika aku sudah tidak penasaran lagi," ucap Sarafani.
"Penasaran tentang apa? lantas apa hubungannya dengan diriku hingga ksmu belain bolos sekolah malah ke kantor?" tanya Rivaldo memicingkan alisnya.
Perlahan Sarafani mengungkapkan rasa penasarannya terhadap yang terjadi dengan ibu kandungnya. Bagaimana bisa ibu kandungnya masuk ke dalam penjara dalam waktu yang cukup lama.
Apa yang dipikirkan Sarafani benar adanya, lewat Rivaldo. Ia bisa mengetahui secara detail semua tentang masa lalu ibu kandungnya.
Ia juga memberikan alamat rumah Santo pada Sarafani.
"Ini alamat mantan pacar ibumu, yang dulu melaporkannya ke kantor polisi. Dan juga ia sempat di habisi oleh anak buah ibumu, tetapi nyawanya selamat. Kamu bisa bertanya padanya supaya kamu tahu apakah yang aku ceritakan ini benar adanya. Dan kamu bisa minta di temani Mamang sana! supaya kamu tidak repot mencari alamat itu. Aku tak ingi terjadi hal buruk padamu," ucap Rivaldo.
Sarafani sangat senang mendengar akan hal itu. Ia sangat yakin saat ini papah kandungnya sudah mulai sayang padanya. Melihat wajah sumringah yang terlihat di wajah Sarafani, membuat Rivaldo memicingkan alisnya.
"Heh Fani, kamu jangan beranggapan yang tidak-tidak atas sikap baikku ini. Aku hanya tak ingin di salahkan jika terjadi sesuatu pada dirimu,' ucap Rivaldo.
Sarafani tak menyia-nyiakan waktunya, ia pun menuruti kemauan Rivaldo. Pergi ke rumah Santo dengan membawa sopir pribadinya. Karena ia ingin menyingkat waktu.
__ADS_1
Seperginya Sarafani, Rivaldo tersenyum riang.
"Bagus, Fani. Kamu datang juga kemari hingga aku bisa menceritakan semua kejahatan Shanti padamu. Dengan begini pasti Fani akan semakin benci pada Shanti. Secara tidak langsung, pelan tapi pasti dendamku pada Shanti terbalasksn juga lewat anak kandungmu."
"Karena aku belum puas walaupun kamu telah di penjara sebelad tahun lamanya. Aku masih sakit hati pada saat tahu, jika aku pernah tidur dengan wanita lain. Karena aku tidak pernah melakukan hal jijik itu jika tidak tertipu oleh Shanti.'
"Maafkan aku, Shinta. Walaupun kamu terus saja enggan memberi tahu pada Fani. Tapi aku yang mengatakannya. Aku juga tidak ingin suatu saat nanti Fani di hasut oleh Shanti untuk melawan dirimu. Biarlah dia tahu kebenarannya sekarang juga."
Terus saja Rivaldo bergumam sendiri seraya senyam senyum. Ia membayangkan bagaimana Sarafani menentang ibu kandungnya dan bahkan membenci ibu kandungnya sendiri.
Sementara saat ini Sarafani telah sampai di depan pintu gerbang rumah Santo. Dan kebetulan pintu itu sedikit demi sedikit terbuka. Karena ada sebuah mobil yang akan keluar, yakni mobil Santo.
Melihat ada sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang. Dan kebetulan Santo hapal dengan mobil tersebut beserta sopirnya. Ia pun mengurungkan dirinya untuk pergi. Iaskdj turun dari mobil dan menghampiri mobil Rivaldo.
Dan mengizinkannya masuk ke dalam pelataran rumah.Santi tidak bisa melihat orang yang ada di dalam mobil tersebut karena kaca mobil gelap. Ia hanya bisa melihat jelas sang sopir.
Dan pada saat pintu mobil terbuka. Ia kaget melihat Sarafani.
"Loh, mana Papahmu?" tanya Santo.
"Papah ada di kantor, Om Santo. Aku datang kesini juga karena petunjuk dari papah."
Sarafani pun menceritakan tentang maksud kedatangan dirinya menemui Santo. Dan setelah itu meminta Santo bercerita tentang Shanti.
Awalnya Santo menolak seperti yang pernah dilakukan oleh Shinta. Tetapi Sarafani terus saja membujuk dirinya, hingga pada akhirnya ia berhasil.
__ADS_1
Dan Santo menceritakan semuanya pada Sarafani tidak ada yang ia tutupi sama sekali. Sarafani sudah tidak penasaran lagi. Apa lagi dua orang yang bercerita, ceritanya sama tidak ada yang berbeda sedikitpun. Hingga kini Sarafani sudah tahu apa yang menyebabkan ibu kandungnya di penjara dalam waktu lama. Setelah itu, Sarafani berpamitan pulang, ia pun diantar sopir ke rumah. Setelah itu sang sopir kembali ke kantor Rivaldo.