
Berlalunya waktu cepat sekali ternyata sudah satu bulan pertemuan Rivaldo dengan Shinta yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Shanti.
Di pagi ini hal yang mengejutkan telah terjadi di rumah Rivaldo. Di mana Shanti ternyata hamil. Pada saat ia akan mulai melakukan aktivitas paginya, tiba-tiba ia mengalami mual muntah dan segera mengecek dirinya dengan tespek.
"Sayang, lihatlah ini aku hamil."
Shanti menunjukkan tespek yang menandakan dua garis merah.
Rivaldo sempat tidak percaya. Ia pun mengajak Shanti ke dokter kandungan. Dan pada saat di periksa oleh dokter, hasilnya juga sama positif. Hal ini jelas saja membuat shock Rivaldo. Padahal ia melakukan hubungan badan dengan Shanti pada saat ia belum tahu jika itu adalah Shinta. Ia masih saja tak percaya dengan kehamilan Shanti.
Sepulang dari dokter kandungan, tidak ada satu senyumanpun terlihat dari bibir Rivaldo. Hal ini membuat Shanti heran.
"Mas Rivaldo, aku saat ini sedang hamil anakmu. Tetapi kenapa kamu malah diam saja, tidak mengucapkan selamat padaku dan seolah kamu tidak suka dengan kehamilanku ini," ucap Shanti.
"Memang aku tidak suka kamu hamil, karena aku sudah tahu siapa sebenarnya dirimu. Kamu ini bukanlah Shinta melainkan Shanti iya kan?" ucap Rivaldo menatap tajam pada Shanti.
"Mas, kamu ini ngomong apa sih? aku ini adalah Shinta dan tidak ada yang namanya saudara kembar dari diriku. Aku cuma aku saja, bukankah kamu sudah tahu kalau asal usulku ini dari sebuah panti asuhan," kilah Shanti tetap saja tidak mau mengaku.
"Awalnya memang aku percaya jika kamu Shinta, tetapi akhir-akhir ini aku mulai merasakan ada perbedaan antara dirimu dengan Shinta dan aku telah membuktikannya sendiri bahwa kamu bukanlah Shinta melainkan Shanti," ucap Rivaldo ketus.
Shanti mulai panik, ia cemas dan khawatir. Ia juga sedang berpikir bagaimana pula Rivaldo bisa tahu jika dirinya adalah Shanti, padahal Shinta sudah berhasil ia lenyapkan.
Terus saja Shanti meyakinkan bahwa dirinya ini adalah Shinta dan bukan Shanti. Hal ini membuat Rivaldo semakin kesal padanya.
Hingga pada akhirnya, Rivaldo mengajak Shanti ke suatu tempat. Tetapi ia sengaja tidak memberi tahu pada Shanti tentang tujuannya mengajaknya yakni untuk mempertemukannya dengan Shinta.
"Mas, sebenarnya aku akan di bawa kemana olehmu?" tanya Shanti bingung.
__ADS_1
"Aku ingin memberikan kejutan untukmu, jadi kamu diam saja dan menurut saja. Untuk sementara waktu, kamu jangan membuka penutup matanya sebelum aku izinkan kamu membukanya ya," ucap Rivaldo.
Shanti tersenyum riang, ia pikir Rivaldo akan memberikan kejutan suatu hadiah atau makan di tempat yang romantis karena kehamilannya.
"Akhirnya, Mas Rivaldo percaya juga jika aku ini adalah Shinta dan ia mulai bersikap lembut lagi padaku. Aku yakin pasti saat ini aku akan mendapatkan kejutan yang begitu luar biasa darinya," batin Shanti.
Dan setelah sampai, Rivaldo menuntun Shanti untuk duduk di sebuah kursi.
"Sayang, apakah aku sudah bisa membuka penutup matanya? pasti kamu memberikan sebuah kejutan yang luar biasa untuk diriku bukan?" ucap Shanti sumringah.
"Ya, benar sekali. Aku memang memberikan kejutan yang tidak akan terlupakan olehmu seumur hidupmu. Biar aku buka penutup matamu ya?"
Perlahan tapi pasti Rivaldo membuka penutup mata yang di kenakan oleh Shanti. Dan pada saat Shanti membuka matanya, ia benar-benar terkejut sampai tak bisa berkata-kata sama sekali.
Dia terkejut pada saat melihat dua orang yang ada di hadapannya. Yang sangat ia kenal. Matanya membola, mulutnya terperangah. Ia masih saja tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Melihat diamnya Shanti, Rivaldo pun tersenyum sinis.
"Kenapa kamu diam, Shanti? pasti kamu tidak percaya bukan, bagaimana bisa istriku masih hidup dan kekasihmu juga."
"Ini semua karena kehendak Allah, ia berbaik hati memberikan umur panjang kepada istri dan kekasihmu ini."
"Supaya bisa membongkar kejahatanmu ini. Kamu benar-benar jahat, Shanti."
Shanti hanya diam saja, ia tak bisa berkata-kata. Mulutnya seperti terkunci dan bibirnya kelu. Hingga pada akhirnya Shinta pun berkata.
"Kamu telah gagal pada saat ingin menghabisi nyawaku di markasmu. Karena Santo datang untuk menyelamatkan diriku. Sekarang kamu sudah tidak bisa mengelak lagi, Shanti. Kamu sudah tidak bisa lagi menyamar menjadi diriku,' ucap Shinta.
__ADS_1
Shanti mencoba untuk tetap tenang, ia pun mulai menata dirinya untuk bisa menghadapi musuh-musuhnya.
"Baiklah, aku akui..Memang aku ini Shanti. Tetapi kamu belum menang, Shinta. Aku masih saja satu langkah lebih cepat darimu," ucap Shanti tersenyum sinis.
"Apa maksud ucapanmu ini, Shanti?" tanya Shinta memicingkan alisnya.
Shanti pun menjelaskan bahwa dirinya saat ini sedang hamil anak dari, Rivaldo. Pernyataan ini membuat Shinta sempat terhenyak kaget, tetapi ia mencoba untuk tenang.
"Mas Rivaldo, walaupun penyamaran aku sudah terbongkar. Tetapi aku pernah tidur denganmu beberapa kali pada saat kamu mengira aku ini, Shinta. Dan kini aku tahu hamil anakmu, jadi mau tidak mau kamu harus tetap bertanggung jawab dengan anak yang sedang aku kandung ini," ucap Shanti.
Rivaldo tak bisa berkata-kata lagi, ia bingung harus bagaimana menghadapi situasi yang sangat rumit baginya. Di saat ia berhasil menguak kejahatan Shanti. Malah kini ia terjebak dengan kenyataan lain.
Shinta dan Santo juga diam, mereka juga tak bisa mengatakan apa pun..Hal ini membuat Shanti bertambah senang dan dirinya menganggap telah menang.
"Kenapa kalian semuanya diam? coba katakan sepatah kata. Dan kamu Mas Rivaldo, apa kamu juga telah melupakan kebersamaan kita. Bahkan kita setiap harinya melakukannya tidak hanya satu kali tetapi berkali-kali. Dan kamu juga selalu mengakui betapa hebatnya aku dalam bermain di ranjang," ucap Shanti tidak ada rasa malunya sama sekali.
"Cukup, Shanti! tidak usah kamu mengatakan hal pribadi itu di depanku!"
Dengan kata berkaca-kaca, Shinta pun bangkit dari duduknya. Dan ia berlalu pergi begitu saja. Akan tetapi Rivaldo segera mengejar Shinta dan mencekal lengannya.
"Sayang, aku minta maaf. Memang benar pada saat aku belum tahu jika Shanti bukanlah kamu, kami memang...
"Sudahlah, mas. Tak usah kamu perjelas atau pertegas. Aku sudah tahu kok, memang ini bukan kesalahanmu sepenuhnya. Aku hanya kecewa saja, kenapa di saat kita akan mengungkap kejahatan Shanti, malah ada permasalahan baru,' ucap Shinta tak kuasa lagi menahan air matanya.
"Sayang, tetapi setelah aku tahu ia bukan dirimu. Aku tidak pernah menyentuhnya lagi," ucap Rivaldo.
"Tetap saja, mas. Sebelumnya kan kamu berkali-kali telah menyentuh dirinya. Jadi benar apa yang Shanti katakan, kamu harus bertanggung jawab atas kehamilannya." Shinta pun menepis tangan Rivaldo dan ia berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1