Muslihat Saudara Kembar

Muslihat Saudara Kembar
Penolakan Sarafani Pada Shanti


__ADS_3

Rivaldo menjadi bingung, mendengar apa yang barusan dikatakan oleh istrinya. Karena pada dasarnya ia sangat mencintai Shinta tapi tidak suka dengan Sarafani.


"Astaga, apa yang aku harus lakukan ya Allah? jika istriku pergi, secara Fanya juga akan ikut pergi. Aku tidak mau tinggal seorang diri di rumah ini," batin Rivaldo.


Hingga ia pun memutuskan untuk mengizinkan Sarafani tetap tinggal di rumahnya.


"Sayang, aku tidak akan mengusir Sarafani. Tapi dengan satu syarat yakni kamu dan Safanya tetap bersamaku," ucap Rivaldo akhirnya kalah juga.


Shinta sangat senang pada akhirnya usahanya berhasil meluluhkan hati suaminya.


"Alhamdulillah, terima kasih ya mas. Atas segala kebaikan dirimu." Ucap Shinta seraya menciumi tangan Rivaldo karena rasa senangnya.


'Iya sayang, aku memang melakukan ini karena kamu dan Safanya. Bukan karena dia," ucap Rivaldo seraya menatap sinis ke arah Sarafani.


Sarafani pun tertunduk lesu, matanya berkaca-kaca. Ia merasa sedih karena selalu mendapatkan penolakan dari, Rivaldo. Bahkan ia merutuki Shanti. Jika tindakan ini karena kesalahsn Shanti.


"Mas, lantas bagaimana dengan diriku?" tiba-tiba Shanti bertanya.

__ADS_1


"Urus saja dirimu sendiri! kenapa kamu bertanya padaku? yang jelas aku tak ingin kamu tinggal di sini, nanti yang ada kamu berulah lagi dengan menyakiti istriku lagi. Cukup dua kali kamu akan menghilangkan nyawa istriku. Aku tak ingin terjadi hal buruk lagi pada istri dan anakku! pergi sana nggak usah datang lagi kemari!" usir Rivaldo ketus.


Shanti pun bingung, jika ia tidak tinggal di rumah Rivaldo lantas ia akan tinggal dimana. Ia mendekati Sarafani dan meminta padanya untuk membujuk Rivaldo.


"Nak, tolong bujuk Papahmu supaya mau menerima mamah tinggal di sini."


Pinta Shanti seraya menggenggam kedua tangan Sarafani, tetapi justru Sarafani menepis genggaman tangan Shanti.


"Jika benar kamu mamah kandungku apa boleh buat, aku akan mengakuimu. Kamu memang yang mengandung aku dan melahirkan aku. Tetapi karena kejahatanmu juga, aku jadi di tolak mentah-mentah sama papah. Karena kesalahanmu, aku yang harus menerima kebencian papah. Padahal aku tidak sakdh apa pun. Aku tidak akan meminta apa pun pada papah untuk mau menerimamu tinggal di sini. Aku bersyukur karena papah sudah mengizinkan aku tinggal di sini. Itu juga karena kebaikan Mamah Shinta," ucap Sarafani panjang lebar.


Shinta sama sekali tak menyangka jika Sarafani bisa berkata seperti itu. Padahal selama ini yang Shinta tahu, Sarafani itu pendiam. Shanti yang mendengar apa yang dikatakan oleh Sarafani juga kaget. Ia pun langsung berprasangka buruk pada, Shinta.


"Heh, jangan kamu menuduh istriku seperti itu ya? Seharusnya kamu mengucap syukur dan berterima kasih padanya. Setelah apa yang kamu lakukan padanya, ia masih mau merawat anakmu dengan sepenuh hatinya. Dan bahkan merawat Sarafani seperti anak kandung. Ia tidak pernah membedakan Sarafani dengan Safanya!" bentak Rivaldo melotot ke arah Shanti seraya berkacak pinggang.


Shinta perlahan masuk ke dalam rumah, dan sejenak datang lagi dengan membawa amplop berisikan uang untuk Shanti. Ia memberikan amplop tersebut pada Shanti. Dengan tujuan supaya Shanti mencari tempat kost atau kontrakan bagi diri sendiri, karena ia juga tidak setuju bila Shanti ikuti di rumahnya.


Rivaldo hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang melihat kebaikan yang dilakukan oleh Shinta terhadap Shanti.

__ADS_1


"Aku heran pada istriku sendiri, padahal saudara kembarnya telah sebegitu jahatnya padanya. Tetapi ia masih saja membantunya bahkan merawat anaknya dengan penuh kasih sayang yang tulus. Mungkin jika wanita lain yang ada di posisi istriku saat ini ia tidak akan sudi melakukan semua kebaikan itu," batin Rivaldo.


"SaraFani kamu lihat itu walaupun Mamah Shinta bukanlah Ibu kandungmu dan walaupun ia telah disakiti begitu rupa oleh Mamah kandungmu, tetapi ia masih saja berbaik hati padamu dan juga pada mamah kandungmu. Jadi kamu jangan bikin kecewa pengorbanan yang telah di berikan oleh, Mamah Shinta untuk dirimu," ucap lantang Rivaldo.


"Baik, pah..Aku tidak akan mengecewakan Mamah Shinta yang sudah merawatku dari kecil hingga sekarang tanpa ada keluhan sama sekali. Dan aku juga tidak akan mengecewakan papah," ucap Sarafani.


Shanti tetap saja berdiam diri di tempat, ia sama sekali tidak terima anak kandungnya terus saja membela Shinta. Ia pun semakin membenci Shinta. Bukannya ia sadar diri akan kesalahannya, tetapi ia malah terus saja mengumpat menyalahkan semua yang terjadi karena, Shinta.


"Jika saja aku tidak dipenjara untuk begitu lamanya hingga sebelas tahun, pasti saat ini Sarafani tidak akan bersikap dingin dan angkuh terhadapku."


"Ini pasti hasutan dari Shinta, selama ia merawat Sarafani. Sehingga anak kandungku sendiri membenci diriku dan tak mau mendekatiku sama sekali."


Terus saja di dalam hati Shanti mengumpat menyalahkan semua yang terjadi pada dirinya, karena Shinta. Ia tidak bisa mengoreksi kesalahan dirinya sendiri. Padahal apa yang menimpanya karena sebab dan akibat atas perbuatannya selama ini.


"Heh, kenapa kamu masih saja berdiam diri di situ? cepat pergilah dan carilah tempat tinggal! karena sampai kapanpun aku tidak akan bersedia menampung mu tinggal di sini!" usir Rivaldo kesal.


"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum Sarafani datang mendekatiku. Aku ingin memeluknya walaupun hanya sebentar saja dan aku ingin mendengar Sarafani memanggilku dengan sebutan, mamah," ucap Shanti.

__ADS_1


Namun pada saat Shinta meminta Sarafani untuk menghampiri Shanti, justru ia malah melangkah masuk ke dalam rumah seraya menuntun Safanya.


__ADS_2