Muslihat Saudara Kembar

Muslihat Saudara Kembar
Khawatir Dengan Masa Depan


__ADS_3

Kini Sarahfani sudah mengetahui semua perihal tentang masa lalu ibu kandungnya, ia pun semakin membenci Shanti. Bahkan ia sama sekali tak mengakui jika Shanti adalah ibu kandungnya, karena menurutnya sungguh sangat memalukan.


"Aku sudah tahu jati diri Ibu kandungku bukan berarti aku lantas akan mengakuinya sebagai ibu. Perbuatannya sungguh benar-benar keterlaluan. Pantas saja Papah Rivaldo sangat membenci dirinya," batin Sarafani.


Pada saat Sarafani duduk melamun sendiri di teras halaman, tiba-tiba Shinta menegur dirinya.


"Fani, kamu kok sudah pulang?" tanyanya.


"Maaf, mah. Aku tidak berangkat ke sekolah, karena tiba-tiba kepalaku sangat pusing sekali," ucap Sarafani berbohong.


Namun Shinta bukanlah seorang Ibu yang gampang di bodohi. Ia ibu yang sangat peka terhadap kedua anaknya. Hingga ia pun ingin tahu apa yang sebenarnya telah di sembunyikan saat ini oleh, Sarafani. Shinta pun duduk di samping Sarafani, dan ia mulai bertanya banyak hal padanya.


"Nak, mamah tahu jika ada yang sedang kamu sembunyikan dari mamah. Sebenarnya kamu dari mana? mamah tahu kamu ini sedang berbohong pada, mamah."


Sarafani menunduk, jika Shinta sudah berkata seperti itu dia pun sudah tidak bisa berbohong lagi.


"Fani, katakan sejujurnya pada mamah. Jangan seperti ini, kamu tahu kan jika mamah paling nggak suka dengan suatu kebohongan?" bujuk Shinta.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya, Sarafani mengakui jika dirinya memang telah berbohong. Ia pun akhirnya jujur dengan apa yang barusan ia lakukan.


Sarafani mengatakan jika dirinya baru saja mencari tahu tentang cerita masa lalu, Shanti. Dan ia sudah tahu dari Rivaldo dan juga Santo.


Shinta menarik napas panjang pada saat dirinya menderngar cerita dari Sarafani. Ia benar-benar tak menyangka jika ternyata Sarafani terus saja penasaran dengan masa lalu, Shanti. Ia malah bingung, harus mengatakan apa pada Sarafani setelah mengetahui cerita tersebut.


"Fani, kamu sudah tahu cerita tentang ibu kandungmu. Lantas apa yang akan kamu lakukan?" tanya Shinta ingin tahu apa isi hati, Sarafani.


"Mah, kejahatan yang dilakukan oleh ibu kandungku begitu besar dan menurutku sangat memalukan sekali. Maaf mah, aku tidak bisa menerimanya begitu saja," ucap Sarafani jujur.


Shinta tidak bisa mengatakan apapun, ia menyayangkan sikap Rivaldo dan Santo. Sebenarnya tidak perlu mereka berkata jujur pada anak yang masih di bawah umur. Tetapi semua sudah terjadi, lagi pula Sarafani juga pergi secara diam-diam tanpa memberi tahukan pada, Shinta.


Melihat Shinta diam, Sarafani tiba-tiba menggenggam kedua tangannya.


"Mah, aku ingin selamanya menjadi anak mamah. Karena bagiku mamahlah yang pantas menjadi mamah kandungku. Tolong jangan paksa aku untuk mau menyayangi ibu yang telah berusaha menyakiti mamah Shinta," ucapnya memelas.


Shinta hanya tersenyum saja, tanpa bisa berkata lagi. Walaupun di dalam hatinya banyak kata yang ingi ia sampaikan. Tetapi ia mengurungkan niatnya, karena menurutnya percuma saja. Sarafani tidak akan mau mendengar atau bahkan menjalankan apa yang di katakan atau di sarankan olehnya.

__ADS_1


******


Malam menjelang, Shinta berdiri di balkon kamarnya. Ia sedang merenung memikirkan masa depan kedua anaknya. Terutama memikirkan nasib, Sarafani.


"Aku tidak tahu, apakah kelak Sarafani bisa menerima Shanti? ataukah selama ia akan hidup dengan penuh kebencian pada, Shanti. Aku sudah tidak bisa lagi menasehatinya atau pun mengarahksm dirinya untuk tidak benci pada, Shanti.


Terus saja Shinta melamun dan ia juga sesekali membayangkan jika dirinya dari dulu bersatu dengan, Shanti. Pasti semua ini tidaklah terjadi. Mereka pasti akur dan memiliki kehidupan rumah tangga sendiri-sendiri.


Selagi terus melamun, tiba-tiba Rivaldo memeluk dirinya dari arah belakang membuat dirinya terhenyak kaget.


"Astaga, kamu mengangetkan aku saja mas."


"Hem, jelas sekali jika kamu sedang melamun makanya kamu kaget. Dari tadi aku panggil sama sekali tidak merespon. Sebenarnya apa yang sedang kamu lamunkan, sayang? jangan katakan jika kdnu sedang memikirkan Sarafani dan Shanti," ucap Rivaldo.


Sejenak Rivaldo berkata jujur pada Shinta jika tadi pagi Sarafani datang ke kantor hanya untuk menanyakan tentang Shanti.


"Aku sudah tahu, mas. Awalnya Sarafani berbohong padaku, dia mengatakan jika tak pulang lebih awal dari sekolah karena kepala sakit. Tapi aku sudah hapal dengan tabiat Sarafani, hingga aku tahu jika dirinya tidak berkata jujur. Dan setelah aku bujuki, akhirnya Sarafani mengatakan semuanya jika ia dari kantor dan dari rumah Santo."

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan oleh Shinta, Rivaldo hanya menarik napas panjang. Ia tahu jika istrinya memang tak mudah sekali untuk di bohongi. Sifat istrinya begitu peka dengan semua hal.


Cukup lama mereka berdua ada di balkon kamar, hingga larut malam mereka baru memutuskan untuk segera tidur.


__ADS_2