
Kegagalan Rivaldo untuk mendapatkan bukti tentang kejahatan Shanti. Membuat dirinya menyerah begitu saja. Ia pun kini fokus dengan kehidupan rumah tangganya.
Bahkan ia berusaha membuka hatinya untuk Sarafani. Berusaha menyayangi anak tersebut. Supaya ia selamanya menolak, Shanti.
"Fani, kamu harus benar-benar menurut semua apa yang dikatakan oleh papah dan mamah ya? jika kamu ingin menjadi anak yang berbakti," ucap Rivaldo di sela sarapan bersama.
'Iya, pah. Aku pasti akan mendengarkan semua nasehat mamah dan papah. Aku tidak akan mendengarkan apa pun yang orang lain katakan, termasuk saudara kembar mamah itu," ucap Sarafani.
Mendengar apa yang di katakan oleh Sarafani membuat Rivaldo sangat senang.
"Bagus, Fani. Dengan begini, papah Alan sayang padamu seperti papah sayang pada Fanya."
Setelah sarapan selesai, Sarafani dan Safanya berangkat ke sekolah dengan ikut serta Rivaldo yang berangkat ke kantor.
Kali ini, Rivaldo ceroboh. Ia lupa tidak memerintah para anak buahnya untuk menjaga rumah. Karena Shinta saat ini hanya seorang diri saja.
Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Shanti yang sedari tadi telah mengamati rumah Rivaldo. Ia sudah merencanakan sesuatu yang buruk untuk Shinta.
"Hem, bagus sekali. Keberuntungan benar-benar sedang berpihak padaku. Kali ini kamu tidak akan lolos dari maut, Shinta. Dan setelah kamu mati, aku bisa dengan mudah membawa Sarafani untuk tinggal bersama dengan diriku," batin Shanti.
Dan saat itu juga, ia memencet bel pintu gerbang. Security langsung melihat siapa yang datang. Setelah ia tahu jika itu Shanti, ia pun melaporkan hal ini pada Rivaldo.
Security mencoba menelpon Rivaldo tetapi tak juga di angkat karena kebetulan ia sedang dalam perjalanan mengantar kedua anaknya sekolah. Hingga terpaksa security mengirimkan chat pesan ke nomor ponsel, Rivaldo.
[Tuan Rivaldo, saat ini ada saudara kembar Nyonya Shinta datang ke rumah. Tapi saya belum membuka pintu gerbangnya. Karena saya ingat akan perintah Tuan, supaya waspada dengan dirinya. Tapi ini terus saja memencet bel pintu gerbang. Padahal sudah berkali-kali saya usir.]
Drt drt drt drt drt
Chat pesan tersebut langsung masuk ke nomor ponsel Rivaldo. Tetapi Rivaldo belum juga membukanya.
__ADS_1
Ting tong ting tong ting tong
Ting tong ting tong ting tong
Terus saja dari tadi Shanti memencet bel pintu gerbang. Hingga terdengar sampai dalam rumah. Shinta yang sedang merapikan rambutnya setelah mandi pagi, menjadi penasaran dengan orang yang telah memencwt bel tersebut.
"Heran dech, bukannya ada security? kenapa nggak di bukakan kaldu memang penting? kenapa di biarkan saja memekakkan telinga ini!"
Shinta pun melangkah menuju ke pelataran rumah. Zia menghampiri security yang sedang berdiri di balik pintu gerbang depan marah-marah.
"Pak, sebenarnya siapa yang datang dan bapak nggak memberitahu aku?" tegurnya seraya memicingkan alisnya.
"Anu, Nyonya. Saudara kembar, Nyonya. Saya sudah meminta ia pergi, tetapi malah terus saja memencet bel," ucap security kesal.
"Loh, kenapa nggak langsung di bukakan saja? jika kau tahu, ia adalah saudara kembarku?"
Security mengatakan pada Shinta jika ia hanya menjalankan perintah dari Rivaldo. Supsya tidak mengizinkan Shanti masuk. Tetapi malah Shinta keras kepala. Ia sama sekali tidak curiga dengan kedatangan Shanti yang bermaksud jahat padanya. Hingga ia pun memerintahkan security untuk membuka pintu gerbangnya dengan segera.
"Astaga...lama sekali aku bisa masuk!"
Shanti membuka lebar pintu gerbang tesebut, dan tiba-tiba beberapa pria bertubuh tinggi besar masuk begitu saja. Ada yang menyerang security dan ada yang menarik paksa Shinta keluar dari pintu gerbang.
Karena terus saja meronta, membuat Shanti kesal dan akhirnya membius Shinta hingga tak sadarkan diri. Shinta langsung di angkat tubuhnya di masukkan ke dalam mobil.
Setelah security babak belur, barulah para preman tersebut pergi masuk juga ke dalam mobil milik Shanti. Dan segera mobil tersebut melaju dengan kencangnya.
Security dengan tubuh yang penuh luka, ia meraih ponselnya dan mencoba menelpon Rivaldo kembali. Kali ini Rivaldo mengangkat panggilan telepon tersebut. Karena kebetulan ia sudah sampai di sekolah Sarafani dan Safanya. Kini Rivaldo akan melanjutkan ke kantor.
"Hallo, ada apa sih pak?"
__ADS_1
"Tuan, kenapa tidak membuka chat pesan dari saya. Padahal itu sangat penting. Tuan, Nyonya Shinta di culik oleh saudara kembarnya."
Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba security pingsan. Dan asisten rumah tangga sempat melihatnya, karena kebetulan ia berniat akan membuang sampah. Ia pun meraih ponsel si security.
"Hallo, Tuan. Pak satpamnya pingsan."
Setelah itu, Rivaldo mematikan panggilan telepon dari security. Dan ia sempat melihat chat pesan yang sempat di kirim ke nomor ponselnya.
"Astaga, aku pikir chat tidak penting. Hingga aku tak menghiraukannya. Aku juga luka memerintahkan anak buahku lagi untuk menjaga rumah."
Saat itu juga, Rivaldo memutuskan untuk pulang ker rumah melihat kondisi security yang saat ini tak sadarkan diri. Bahkan ia sempat menelpon dokter pribadi untuk datang ke rumah memeriksa kondisi security.
Tak berapa lama kemudian Rivaldo telah sampai di rumahnya, begitu pula dengan dokter pribadinya yang ternyata telah sampai terlebih dahulu dan telah memeriksa kondisi security.
Beberapa detik kemudian security tersebut sadarkan diri dan ia ketakutan serta panik khawatir Rivaldo akan menyalahkannya atas apa yang telah terjadi pada, Shinta.
Belum juga security mengatakan sesuatu, Rivaldo telah mengerti dan memahami hanya dengan melihat dari tatapan wajah security tersebut. Lantas ia pun mengatakan hal yang membuat security tersebut tidak panik lagi.
"Bapak tidak usah merasa bersalah padaku, karena ini semua keteledoranku sendiri. Aku lupa memerintahkan beberapa anak buahku untuk berjaga-jaga di rumah ini dan juga aku tidak menghiraukan telepon dan chat pesan dari bapak."
"Mungkin saja jika tadi aku langsung merespon telepon atau chat pesan dari bapak, tindak kriminal dari Shanti tidak akan sampai terjadi."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rivaldo, security pun bisa bernapas lega dan sudah tidak panik dan ketakutan lagi.
Kini Rivaldo menghubungi aparat kepolisian untuk membantunya mencari keberadaan istrinya yang diculik oleh saudara kembarnya.
Kebetulan di depan pintu gerbang dan di pelataran rumah tersebut terpasang CCTV sehingga gampang untuk melacak keberadaan nomor mobil yang digunakan oleh Shanti untuk menculik Shinta.
"Lihat saja Shanti, kali ini kamu tidak akan bebas begitu saja dan aku pastikan kali ini kamu akan mendekam di penjara seumur hidupmu!". batin Rivaldo geram.
__ADS_1
Shanti benar-benar sudah nekad.