Muslihat Saudara Kembar

Muslihat Saudara Kembar
Lahirnya Anak Dari Shanti & Shinta


__ADS_3

Hati Shinta terus saja gelisah memikirkan nasib anak yang sedang di kandung oleh, Shanti. Sejak tahu Shanti hamil, Shinta belum bersedia melayani Rivaldo. Belum lagi hal yang mengejutkan pun, terjadi. Hubungan sembunyi yang di lakukan dirinya dengan Rivaldo waktu itu, kini telah tertanam di rahim, Shinta


"Sayang, aku senang sekali karena saat ini kamu sedang hamil dua minggu,' ucap Rivaldo sumringah.


"Hem, iya. Kehamilanku hanya selisih dua Minggu dengan Shanti," ucap Shinta tanpa ada senyuman sama sekali.


"Sayang, sepertinya kamu tidak suka ya dengan kehamilanmu?"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Rivaldo, sedikit mengusik hatinya. Ia pun mengatakan hal ketus pada suaminya.


"Kalau ngomong itu di pikir, mas. Mana ada seorang ibu yang tak suka dirinya akan punya anak. Seperti halnya dengan, Shanti. Sejahat apapun dirinya, ia tetap bahagia pada saat tahu sedang hamil anakmu, mas. Apa lagi aku yang masih punya hati nurani," ucapnya ketus.


"Sayang, aku minta maaf bila kata-kataku menyinggung perasaanmu," ucap Rivaldo merasa bersalah.


Sebenarnya saat ini yang sedang di pikirkan oleh Shinta adalah nasib Shanti. Masa hukuman telah di tentukan pada waktu lalu. Yakni Shanti harus mendekam di penjara dalam jangka waktu yang cukup lama yakni dua belas tahun penjara.


Shinta sedang berpikir, setelah Shanti keluar dari penjara lantas ia akan tinggal dimana?


"Sayang, kamu tak usah begitu khawatir dengan masa depan. Kita percayakan saja pada Yang Kuasa," ucap Rivaldo menghibur istrinya.


*********


Delapan bulan kemudian, Shanti telah melahirkan seorang anak perempuan di lapas dimana dirinya kini di penjara. Ia pun mengizinkan anaknya untuk di rawat oleh Shinta. Tanpa Shinta tahu, di dalam hati Shanti sudah mempunyai niat jahat jika ia nanti keluar dari penjara, tetapi ia sengaja berpura-pura baik pada Shinta dan Rivaldo.


"Mas Rivaldo, aku titip anak kita padamu. Bagaimana pun, ia darah dagingmu. Semoga kamu akan menyayanginya sepenuh hati."

__ADS_1


"Shinta, aku mohon rawatlah anakku seperti kamu merawat anakmu sendiri. Dan aku minta maaf atas segala dosaku di masa lalu. Aku harap kamu tak pernah melampiaskan dendam pada anakku."


Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Shanti, Rivaldo hanya tersenyum saja. Tidak dengan Shinta, ia pun mengatakan sepatah kata pada Shanti.


"Shanti, tak usah menyalahkan diri sendiri terus. Aku sudah memaafkanmu tempo dulu. Kamu juga tak usah khawatir dengan anakmu, aku berjanji akan merawatnya layaknya anak kandungku sendiri."


Setelah mengatakan sepatah kata pada Shanti. Rivaldo mengajak Shinta untuk segera pergi dari lapas. Karena ia tak suka berlama-lama berhadapan dengan Shanti. Sebenarnya ia juga tidak setuju jika Shinta merawat anak Shanti. Apalagi Shinta sebentar lagi juga akan melahirkan, kandungannya sudah besar.


Selama dalam perjalanan menuju ke rumah, Rivaldo hanya diam saja. Berbeda dengan Shinta yang sedari tadi bermain-main dengan anak Shanti.


"Mas, akan di beri nama siapa anak ini?" tanya Shinta membuyarkan lamunan Rivaldo.


"Aku belum memikirkan nama untuk anak Shanti, hanya anakku saja yang sudah aku siapkan nama. Sebaiknya kita bahas hal ini nanti di rumah saja, aku sedang fokus menyetir," ucap Rivaldo ketus.


Shinta bisa merasakan hati Rivaldo yang sedang tak menentu, ia tahu jika Rivaldo tidak menyukai bayi yang di lahirkan oleh Shanti, padahal itu benar-benar darah daging dari, Rivaldo.


"Mas....


"Aku lelah, aku ingin istirahat. Kamu saja yang memberi nama bayi itu. Terserah dirimu mau di beri nama siapa." Ucap Rivaldo memotong perkataan Shinta, seraya ia berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Shinta hanya bisa menghela napas panjang, ia merasa heran dengan sikap Rivaldo yang bersikap dingin pada bayinya Shanti.


"Mas, seharusnya kamu tak membenci bayi ini. Ia tidak tahu apa-apa, ibunya yang banyak dosa kenapa bayi ini yang harus menanggungnya. Apa lagi ini adalah anak kandungmu, mas."


"Sayang, aku akan menjadi ibumu. Walaupun aku bukan ibu kandungmu. Aku akan memberimu nama, Sarafani."

__ADS_1


********


Tak terasa sudah satu minggu, Sarafani berada di rumah Rivaldo. Tetapi ia belum juga bisa menyayangi bayi itu. Dan saat ini Shinta sedang proses persalinan. Sementara Sarafani di asuh oleh baby sitter yang sengaja di sewa oleh, Shinta.


Rivaldo dengan penuh kasih sayang mendampingi proses melahirkan, Shinta. Dan tak berapa lama, lahirlah seorang anak perempuan juga.


Untuk kali ini, Rivaldo sangat senang. Dan tak hentinya, ia memeluk serta menciumi anaknya.


"Hay, Putri papah yang tersayang. Selamat datang di dunia ini, bertemu dengan papah dan mamah."


"Sayang, aku akan memberikan nama pada anak kita. Namanya, Safanya. Papah akan memberikan segalanya untukmu, Fanya."


"Sayang, terima kasih ya. Kamu telah memberikanku seorang putri yang sangat cantik seperti dirimu."


"Satu hal yang aku pinta darimu, aku ingin kamu benar-benar fokus merawat, Safanya. Tak usah begitu fokus dengan, Sarafani."


Mendengar kata-kata terakhir yang di lontarkan oleh suaminya, Shinta tak habis pikir. Padahal Sarafani juga darah dagingnya, walaupun bukan dari rahim Shinta. Tetapi sama saja itu anak kandung suaminya.


"Mas, seharusnya kamu menyayangi keduanya tanpa membedakan. Bagaimana pun, Sarafani juga anak kandungmu. Walaupun ia tidak lahir dari rahimku. Kasihan ia jika kamu tak menyayangi dirinya. Jangan pernah membedakan anak, sayangi Sarafani juga seperti kamu menyanyangi, Safanya," ucap Shinta mencoba menyadarkan akan kekeliruan yang di lakukan oleh, Rivaldo.


"Nggak, sayang. Aku sama sekali tidak mengharapkan kelahiran dari, Sarafani. Apa yang dulu aku lakukan dengan Shanti adalah sebuah kekeliruan. Bukankah kamu sudah tahu jika dulu aku tak tahu yang bersamaku adalah Shanti bukan dirimu. Ini sebuah kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan kerap kali aku mengutuk diriku sendiri yang pernah tidur dengan, Shanti. Aku tidak akan pernah menyayangi Sarafani. Selamanya aku akan membencinya! jangan paksa aku untuk menyayangi anak dari seorang wanita penipu!"


"Ingat satu hal, Shinta. Aku tak ingin kasih sayangmu terbagi untuk Sarafani. Pokoknya kamu harus selalu mengutamakan, Safanya dari pada Sarafani!"


Setelah mengucapkan seperti itu, Rivaldo keluar ruang bersalin. Ia sengaja menunggu di luar karena Shinta akan di pindahkan ke ruang rawat.

__ADS_1


Di dalam hatinya sudah bersumpah, ia tidak akan pernah mengakui Sarafani itu adalah anak kandungnya. Itu adalah sebuah kesalahan terbesarnya di masa lalu. Ia bahkan tak bisa memaafkan diri sendiri pada saat ingat masa lalu dimana dirinya begitu bodoh, tak tahu di kelabui oleh, Shanti yang menyamar sebagai Shinta.


__ADS_2