
Shinta mulai beraksi, ia awalnya datangi ke rumah sahabatnya yang sesama dokter.
"Shinta, tumben kamu datang kemari. Dan kok kamu berbeda ya penampilannya?" tanya Rasya memicingkan alisnya.
"Apa maksud perkataanmu itu, dari dulu aku seperti ini. Memang berbeda bagaimana?" tanya Shinta.
"Gata rambut dan cara berpakaianmu. Bahkan aku sudah tidak bertemu kamu lagi pada saat kamu menyerahkan surat pengunduran diri dari rumah sakit. Bahkan kamu itu aneh tahu, seperti tak pernah kenal denganku. Pada saat aku tegur saja kamu berlalu pergi begitu saja dan hanya tersenyum sinis," ucap Rasya.
"Rasya, aku ini baru menemui dirimu. Dan aku juga belum pulang kerumah sama sekali. Ada hal yang ingin aku ceritakan padamu sekarang juga ya," Ical Shinta.
"Hem, cerita saja. Barang kali aku bisa bantu kamu memecahkan permasalahan-permasalahanmu," ucap Rasya.
Hingga pada akhirnya Shinta menceritakan semuanya apa yang telah menimpa dirinya. Bahkan Shinta juga menceritakan tentang penolakan Rivaldo untuk jemput dirinya.
"Astaga, Shinta. Apa mungkin kamu ini punya saudara kembar?" tanya Rasya.
"Entahlah, Rasya. Makanya aku akan selidiki siapa wanita yang ada di rumahku, yang telah mengaku menjadi diriku," ucap Shinta.
"Begini saja, Shinta. Untuk sementara waktu, kamu tinggal di rumahku saja. Dan aku akan bantu kamu mengungkapkan siapa wanita yang ada di rumah Rivaldo" ucap Rasya.
"Baiklah, Rasya. Terima kasih atas segala kebaikanmu dan bantuanmu. Maaf ya, aku jadi merepotkanmu," ucap Shinta.
"Jangan sungkan seperti itu, kita kan sahabat. Pantas saja Shinta yang itu kok cuek padaku, ternyata bukan kamu? kita selidiki dulu ke psnti asuhan dimana dulu kamu tinggal. Siapa tahu saja ada petunjuk tentang saudara kembarmu. Karena jika ia tidak mirip dengan dirimu, mana mungkin Rivaldo tidak bisa mengenali dirimu. Pasti wanita yang saat ini sedang bersama dengan Rivaldo itu mirip sekali dengan dirimu," ucap Rasya.
Dan pada saat itu juga, Rasya menemani Shinta ke panti asuhan dimana dulu Shinta di besarkan.
Hanya beberapa menit, telah sampai di panti asuhan tersebut.
"Ibu, bagaimana kabar ibu?" tanya Shinta.
__ADS_1
"Kabar ibu baik-baik saja, nak. Lantas bagaimana kabar darimu dan suamimu?" tanya Ibu panti.
"Sedang tidak baik-baik, Bu. Saya datang kemari ingin tanya, Bu. Apakah saya ini punya saudara kembar?" tanya Shinta.
"Pada saat ibu pulang dari pengajian bersama dengan teman ibu. Kamu tak sengaja melihat ada mobil menabrak sebuah pohon besar."
"Dan di dalam mobil tersebut ada dua bayi dan kondisi orang tuamu sudah tak bernapas."
"Bayi kembar itu, satu di bawa oleh teman ibu. Dan di beri nama Shanti. Sedangkan kamu ibu bawa ke panti ini dan ibu beri namsn Shinta."
"Ibu minta maaf karena duku tidak menceritakan tentang kembaranmu.. Memangnya ada apa tanya tentang saudara kembar? apa Shanti menemui dirimu?"
Setelah mendengar cerita dari Bu panti, Shinta kini sudah yakin jika yang saat ini sedang bersama dengan Rivaldo adalah Shanti.
Shinta menceritakan semuanya pada Bu panti. Dari awal hingga akhir.
"Astaga, itu sudah pasti jika yang saat ini sedang bersama dengan suamimi adalah Shanti. Kenapa kamu tidak lekas bertindak dengan datang menemui suamimu?" ucap Bu Panti.
"Lantas apa yang akan kamu perbuat, Shinta? jika kamu terlalu lama meninggalkan nanti Shanti semakin jauh melangkah," ucap Bu Panti.
"Saya tahu, bu. Tetapi semua itu butuh perhitungan, karena aku tak ingin tergesa-gesa. Apa lagi musuhku adalah saudara kembarku sendiri,' ucap Shinta.
Setelah cukup lama, Shinta berada di Panti asuhan, ia pun berpamitan pulang.
Sementara berbeda situadi di rumah Shanti. Ia telah berhasil menemukan tempat persembunyian Shinta. Dan ia pikir saat ini Shinta masih ada di rumah di nenek.
Hingga Shanti memutuskan untuk pergi ke rumah nenek yang menolong Shinta waktu itu.
Pada saat ia sampai, langsung di sambut oleh nenek.
__ADS_1
'Alhamdulilah, kamu pasti sudah bertemu suamimu ya Shinta. Pantas saja penampilan kamu berubah. Nenek ikut senang melihatmu berkumpul kembali dengan dirimu," ucap nenek tanpa tahu jika yang ada di hadapannya adalah Shanti.
"Sialan, berarti Shinta telah pergi dari sini. Satu langkah lebih lambat dari Shinta. Aku harus segera kembali, jangan sampai Shinta pulang ke rumah dalam kondisi aku tidak ada di rumah," ucap Shanti.
Dia pun berlalu pergi begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun pada si nenek.
"Ada apa dengan Shinta, kenapa dia sama sekali tidak bicara apa pun padaku? pergi pun tidak pamit? padahal yang aku tahu, Shinta itu ramah sekali. Kok kali ini tidak ya?" batin Nenek.
Seperginya Shanti, tak berapa lama kemudian, datanglah Shinta bersama dengan Rasya.
"Shinta, kamu datang lagi? apa ada yang tertinggal?" tanya Nenek yang merasa heran.
"Nek, aku baru datang. Memangnya tadi ada yang datang kemari?" tanya Shinta.
"Iya, Shinta. Nenek pikir itu kamu, karena wajahnya sangat mirip denganmu. Tapi pada saat nenek berkata. Ia hanya diam saja dan berlalu pergi. Nenek sempat heran, karena setahu nenek. Kamu itu ramah, tapi ini tadi tidak?" ucap nenek bingung.
"Nek, berarti yang tadi datang kemari itu adalah Shanti. Saudara kembarku," Ical Shinta.
"Hah, kamu punya saudara kembar? pantas saja ia mirip sekali denganmu tapi kok sifatnya tidak sama ya? padahal wajah sama, tetapi sifat berbeda," ucap si nenek.
"Aku juga baru tahu tadi, nek. Pada saat aku datang ke psnti asuhan dan Bu panti mengatakan jika aku punya saudara kembar."
Tanpa sungkan Shinta menceritakan semuanya pada nenek. Nenek hanya manggut-manggut saja.
"Astaga, ternyata oh ternyata. Kamu yang sabar ya, Shinta. Pasti akan ada jalan untuk menyelesaikan permasalahanmu ini. Nenek minta, kamu harus banyak doa dan hati-hati," pesan nenek.
"Nek, aku datang kemari ingin ajak nenek tinggal di rumah temanku ini. Nanti jika permasalahanku sudah selesai, nenek akan aku ajak tinggal di rumahku," ucap Shinta.
"Nggak usah, Shinta. Nenek nggak mau merepotkan temanmu. Lagi pula nenek sudah terbiasa hidup seorang diri. Kami nggak usah khawatir," tolak nenek secara halus.
__ADS_1
'Nenek, aku tidak merasa di repotan kok.. Lagi pula, aku hanya seorang diri di rumah. Jadi nenek bisa buat temanku, biar aku nggak kesepian. Mau ya nek, lagi pula aku yang meminta Shinta supaya neneksy tinggal denganku, pada saat ia cerita tentang nenek," ucap Rasya membujuk nenek.