
VOTE.
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menggeleng tidak habis pikir. Anaknya cewek, masih perawan pula, belum bangun jam segini.
Sedikit menghela napas lelah, wanita itu pun akhirnya memanggil anaknya untuk bangun.
Memanggil? Berteriak tepatnya.
"MILAAAAAA, Bangun udah siang!!!!"
Itu tadi adalah suara Resti, Mami Mila, yha begitulah Mami nya yang sangat 'hangat' saat membangunkan anak-anaknya.
"Mil-"
"Iya Mom, aku bangun nih!!" Mila menggerutu, membangunkan dirinya lalu sedikit mengucek matanya yang terasa lengket itu.
"Yaudah cepetan siap-siap nanti telat. Mami tunggu di bawah."
Setelah itu terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Dia pasti sudah beranjak pergi. Menyiapkan sarapan untuknya dan Kakaknya.
Mila mengulet tubuhnya sambil menguap lebar, sinar matahari sudah menerobos tirai kamarnya membuat kamarnya yang temaram itu terlihat terang. Suara burung-burung pun sudah saling berkicauan.
"Jam berapa sih sekarang?" Mila menggaruk rambutnya yang terasa gatal, kapan dia terakhir keramas? Hm... sepertinya dua minggu yang lalu. Setelah dirasa sudah tidak terlalu mengantuk dia mulai menoleh ke arah nakas. Tempat jam wekernya.
"****** GUE!!!" Mila syok, seolah baru tersadar dari alam mimpinya, rasa kantuk dan malasnya pun hilang entah kemana. Sekarang sudah jam 6.45 AM dan Mila baru bangun tidur, tidak ada pilihan lain dia hanya bisa mandi ala bebek saat ini.
Yah, Mila memang sejorok itu.
Mila langsung bersiap dan keluar rumah dengan tujuan utama adalah sekolah.
Lebih apesnya lagi Mila tidak bertemu angkot atau bus gitu, jadi terpaksalah Mila harus jogging pagi ini.
Sekarang memang masih pagi jadi tidak panas banget, tapi bagaimanapun juga jarak rumah Mila kesekolah itu lumayan.
Lumayan ... jauh banget maksudnya.
Perjuangan yang dilakukanya tidak sia-sia. Mila sampai di sekolah dan untungnya ternyata gerbang belum dikunci, atau lebih tepatnya akan dikunci.
"Eh, Pak jangan ditutup dulu!" Mila terbirit-birit, sedikit menyeka keringatnya yang sudah mengucur sejak tadi.
Pria berseragam putih hitam itu melotot ke arah Mila. "Sudah jam berapa ini?!" Pak Hendru, satpam Benior High School ini menunjuk jam tanganya di depan muka Mila.
Mila beringsut mundur, Pak Hendru jangan pernah dianggap remeh.
Beberapa kali meneguk ludahnya, Mila kemudian memasang wajah semelas mungkin.
"Tadi Mama saya sakit Pak, jadi saya harus belikan obat dulu di Apotek." Mila beralasan, mungkin bila ada lomba anak terdurhaka, Mila juara satunya.
Begitulah seorang Mila Kinara.
Bunglon.
__ADS_1
Wajah Pak Hendru nampak sedikit melunak. "Jangan bohong kamu!"
Mila menggeleng, dia semakin menjadi. "Sumpah Pak, gak bohong!"
Pak Hendru mendengus, lalu perlahan membuka kembali pagar besi itu.
"Yaudah cepat masuk, lain kali jangan diulangi lagi!" Perintahnya galak.
Mila menganggukan kepalanya semangat, gimana gak semangat kalau akal bulus nya berhasil coba?
"Iya Pak. Janji!" Setelah itu Mila langsung masuk ke sekolah dengan sedikit berlari kecil.
Mila berjalan kearah kelas karna memang bel sudah bunyi dari Mila masuk gerbang tadi, jadi Mila bisa dikategorikan sebagai salah satu murid yang beruntung.
"Eh, anjing ******! AFK mulu temen gue!"
Mila berhenti mendadak, celingukan bingung. Perasaan dirinya seperti mendengar suara, deh.
"ASLI *** NIH ORANG, GABISA MAIN NGAPAIN MAIN, SIH?!!!"
Kali ini Mila tersentak kaget, perlahan kakinya melangkah ke arah suara itu. Disana terlihat seorang pemuda yang sedang menunduk memainkan HP nya, tapi yang menjadi fokus utama Mila adalah umpatan pemuda itu yang tidak pernah berhenti sejak tadi.
Itu orang, ngumpat sama siapa coba? Batin Mila merasa bingung.
"Eh?"
Mila kaget saat pemuda itu mendadak menatap lurus kepadanya, dan sepertinya pemuda itu juga sama kagetnya melihat Mila.
Pemuda itu berdiri lalu menunjuk Mila yang berada kurang lebih 5 meter di depanya itu.
"Lo, ngapain?"
Mila sedikit kaget mendengar suara bass pamuda itu, suaranya ... serak basah gimana gitu.
"Lo yang ngapain, ini udah jam masuk sekolah?" Mila balik bertanya, gadis itu juga sedikit memajukan tubuhnya.
"Apa urusan lo, pergi sana!"
Mila melotot kecil mendengar usiran sarkas itu, weh .... songong banget nih bocah.
"Urusanya yha karna lo teriak-teriak gak jelas, makanya gue kesini!" Cerocos Mila tanpa memperhatikan wajah pemuda itu yang mendadak kaku. "Dan tanpa lo suruh pun gue juga bakalan pergi." Mila menghentakkan kakinya kesal lalu membalik tubuh berniat untuk pergi.
JDERR!!!
"Kalian ngapain disini?"
Disana ... tepat didepan Mila berdiri Pak Abdul, Waka Kesiswaan di sini. Berkumis tebal dan perut buncit sungguh perpaduan guru killer yang pas apalagi penggaris kayu yang selalu dia bawa kemana-mana membuat siswa manapun yang berpapasan denganya selalu membaca ayat kursi.
"Kalian ngapain berdua-duaan disini, ini sudah jam masuk?!" Pak Abdul berjalan mendekat membuat Mila secara reflek mundur sampai tubuhnya menubruk pemuda tadi.
"Heh!" Pemuda itu nampak kesal.
__ADS_1
Mila melengos bodo amat. Yang penting dirinya tidak berdekatan dengan Pak Abdul.
Pak Abdul, dia nampak geram karna tidak mendapat jawaban apapun dari dua murid didepanya itu, yang membuat Mila heran itu ... kenapa kumisnya yang berkedut-kedut coba?
"Bapak tanya sekali lagi, apa yang kalian lakukan disini?!"
Mila tersentak kaget. Dirinya sudah menciut di balik punggung lebar pemuda itu.
"Gio, Bapak sudah capek berurusan sama kamu lagi," Pak Abdul menggeleng kecil menyebutkan nama pemuda yang baru Mila tahu itu. "Dan sekarang ulah apalagi yang kamu buat?!" Kali ini guru bertubuh gempal itu melirik Mila yang masih bertahan di posisinya.
Gio, nama pemuda itu. Nampak tak terpengaruh sama sekali ucapan Pak Abdul. Berbeda jauh dengan Mila yang rasanya ingin lari saat ini juga.
"Saya ga ngelakuin apa-apa Pak!" Gio membantah berani, membuat Pak Abdul sekali lagi menggeram di tempat.
"Jangan bohong kamu!" Tegasnya dengan mengacungkan penggaris kayu ke depan wajah Gio.
Mila hanya bisa berdoa dalam hati semoga dirinya bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Entah ada apa dengan hari ini sehingga dirinya bisa terkena apes secara berturut-turut.
"Kamu!"
Mila berjingkat kaget saat Pak Abdul ganti mengacungkan penggaris kayu itu ke depan mukanya.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Mila meneguk salivanya susah payah, gadis bertubuh tinggi itu hanya berani melirik Pak Abdul dari balik punggung Gio. "Heh! Lo ditanya kenapa nempel-nempel gue mulu, sih?!" Gio nampak geram, menurutnya gadis di belakangnya ini hanya membawa petaka untuknya.
Mila mendengus sesaat, dia gak tahu apa kalau Mila sedang gugup.
"Sa-saya tadi gak sengaja lewat sini, trus ketemu dia, Pak." Jawab Mila dengan sedikit menyunting keadaan.
"Sudah jangan banyak alasan, kalian sekarang cepat ke ruang BK!"
Mila mengangkat wajah sepenuhnya, nampak tidak setuju dengan ucapan guru di depanya itu.
"Saya gak salah Pak!" Mila bersitegas menolak, mana mau Mila ke ruang BK yang ada image baiknya itu pasti langsung ternodai.
"Jangan membantah, cepat pergi sekarang!!" Bentak Pak Abdul yang kali ini membuat Mila benar-benar merinding.
Akhirnya, dengan lesu Mila mulai mengikuti langkah Pak Abdul yang sudah berjalan di depanya lebih dulu, lalu seolah teringat Mila berbalik menatap Gio yang masih dengan wajah datarnya itu.
"Ini semua salah lo!" Tunjuk Mila kepada pemuda berwajah asia campuran itu. Bermata sipit tajam dengan bibir lurusnya membuat image datar dan dingin sangat cocok melekat padanya.
Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya, lalu menyeringai kecil. "Yang datengin gue kan lo," ujarnya santai lalu berjalan melewati Mila begitu saja.
Mila melongo begitu saja mendengar ucapan santai pemuda itu. Oke mulai sekarang Mila akan mengibarkan bendera perang padanya.
DASAR COWOK KAMPRET!!!
*****
TBC.
__ADS_1