
VOTE.
Hening.
Itulah yang terjadi setelah Leo mengatakan semua itu, mereka hampir tidak mempercayai apa yang Leo katakan itu bahkan Mila ternganga lebar akibat syok mendengar pernyataan Leo.
"Ekhem!" Deham Bowo mencoba memecah keheningan yang terjadi.
"Baiklah kita kembali ke topik awal, Nak Jino dan Gio bisa jelaskan apa yang terjadi pada saya?" Tanya Bowo menatap Jino dan Gio bergantian.
Awalnya mereka hanya diam dan saling menatap satu sama lain, tapi akhirnya Gio membuka suara terlebih dahulu. Gio menjelaskan semuanya yang terjadi dari awal sampai akhir dengan Jino sedikit membantu menambahkan.
Setelah itu Bowo hanya menatap mereka intens, membuat semua orang yang berada di ruangan itu merasa sangat tegang.
"Baiklah saya mengerti sekarang akar permasalahanya, ini hanya salah paham saja. Nak Gio dan Nak Jino, Om harap kalian sekarang mau berbaikan!" Tegas Bowo penuh wibawa.
Dengan penuh terpaksa Gio dan Jino akhirnya mau bersalaman, itu semua mereka lakukan hanya demi menjaga nama baik di depan orang tua Mila saja. Karena bila tidak ada orang tua Mila sudah dipastikan mereka pasti akan langsung adu bogem sampai tepar.
Semua orang yang berada di ruangan itu menghela nafas lega setelah Gio dan Jino mau bersalaman meskipun dengan setengah hati mereka melakukannya.
Setelah itu semua orang diruangan itu mulai keluar.
******
Hari ini Mila sudah mulai sekolah seperti biasa karena meskipun awalnya orang tuanya melarang, namun Mila berhasil membujuknya dengan syarat Mila harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak kegiatan yang dapat membuatnya lelah.
"Mil ke perpus yuk, tugas fisika kita belom kelar. Ntar Pak Herman ngambek lagi!" Lia menarik tangan Mila membuat Mila yang tidak siap hampir terjungkir.
"Lah gue pikir udah lo udah kerjain pinter!" Mila menoyor kepala Lia. Dengan sengaja menggunakan kata 'pintar' untuk mengejeknya.
Lia hanya cengengesan gak jelas. "Aslinya mau gue kerjain tapi susah, jadinya gue pilih kerjain bareng lo aja deh, hehe." Mila mendengus mendengarnya. Dirinya hanya bisa geleng kepala melihat tingkah sahabatnya ini.
Di perpustakaan.
Lia malah molor, alhasil Mila lah yang akhirnya mengerjakan semuanya. Mila mencoba mengambil buku di rak atas namun sialnya tingginya tidak sampai, sehingga dia harus melompat-lompat kecil.
__ADS_1
Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang mengambil buku itu dan menyerahkanya kepada Mila.
Deg.
Jarak mereka sangat dekat, bahkan Mila bisa merasakan hembusan napas orang itu yang menerpa wajahnya.
"J-jino.." gugup Mila saat menyadari siapa orang yang telah membantunya itu.
Jino tersenyum tipis lalu menyodorkan buku itu kepada Mila, dan tanpa mengatakan apapun Jino langsung pergi meninggalkan Mila tanpa sepatahkatapun.
'Gue harus move on, Mila lebih bahagia dengan Gio. Gue harus bisa merelakan Mila untuk kebahagiaanya.' Batin Jino sakit, sambil berjalan menjauhi Mila.
Dan tanpa sepengetahuan siapapun ada seseorang yang diam-diam memotret Mila dan Jino.
"Sorry, Mil." Gumamnya lalu beranjak pergi.
*******
Gio sekarang sedang berada di rooftop bersama temanya.
Gio menghentikan aktivitas lalu menatap Bram datar. "Kapan?" Tanya Gio santai.
"Minggu depan kayaknya." Jawab Bram.
"Gue belum pernah ikut acara gituan." Sahut Dino sambil melompat dari drum besar yang dia duduki.
"Hm, emang acaranya 5 tahun sekali jadi kemungkinan besar ini merupakan pengalaman pertama kita." Jelas Bram yang diangguki Dino.
"Eh, Bi lo ikut?" Tanya Bram ke arah Abi yang nampak anteng dengan bukunya.
Abi mendongak, menatap semua temanya. "Kan emang wajib ikut, kan." Jawabnya santai.
"Iya juga yha." Gumam Bram baru sadar.
"Eh eh, berarti ada geng Bastar juga dong?" Dino nampak sangat merengut.
__ADS_1
"Kemungkinan besar iya, karna mereka termasuk geng motor yang juga berpengaruh. Secara kan acara ini khusus cuma buat geng motor yang koneksinya besar dan berpengaruh." Terang Bram.
"Berarti ada geng Big Trap?!" Dino nampak sangat excited.
Bram mengangguk. "jelaslah! Mereka kan geng terbesar se lndonesia. Dan mereka juga yang mempunyai koneksi hampir di seluruh wilayah."
DEG.
Abi menegang seketika, bagaimana dirinya bisa melupakan jika gengnya dulu merupakan geng terbesar dan pastinya akan ikut acara ini.
Abi tidak mungkin melarikan diri dari acara ini karna teman-temanya bisa curiga.
'Bila keberuntungan masih menyertai gue, pasti gue gak bakal ketahuan.' Batinya pasrah.
"Wah ... berarti gue bisa ketemu Kidra dong?! Gue tuh penasaran banget sama dia karna katanya dia pernah nusuk mata orang!" Dino sudah tampak jingkrak-jingkrak.
"Lo belom tau? Kidra katanya hilang setelah kejadian itu dan sampai sekarang belum diketahui keberadaanya bahkan semua identitas beserta fotonya hilang entah kemana." Bram nampak mengangkat ke dua tanganya sambil menggedik.
Pasalnya setelah kejadian itu Abi langsung menghapus semua identitas dirinya, baik foto atau apapun yang menyangkut dirinya. Dan dirinya hilang tanpa memberi kabar semua orang termasuk anggota gengnya.
"Yah ... padahal gue pengen ketemu banget sama dia." Dino nampak kecewa berat.
"Emangnya lo mau ngapain kalo ketemu Kidra?" Abi nampak mengulum bibirnya.
Dino menatap Abi sejenak lalu melengkungkan senyum bahagianya.
"Dia itu hebat banget karna bisa bikin gengnya jadi geng yang paling berpengaruh dalam waktu singkat, jadi gue pengen minta tanda tangan sama foto bareng, hehe." Jelasnya dengan cengiran khasnya.
Abi hanya menampakkan wajah datar, padahal dia menahan ketawa setengah mati.
'Gue penasaran gimana ekspresi mereka jika tau Kidra adalah gue.' Batinya.
******
TBC.
__ADS_1