
VOTE.
"Kalian ... arghh!" Frustasi Mila sambil menjambaki rambutnya sendiri.
"Mil jangan ditarik rambutnya nanti sakit." khawatir Gio. Dikira Mila peduli gitu!
Mila melotot ke arah Gio. "Siapa suruh lo dan lo gebukin Abang gue, hah?!" sentak Mila menunjuk Gio dan Jino.
"Gue minta maaf, Mil." balas Jino sesal.
Mila menoleh kearah Jino tajam. "Lo juga ngapain sih gebukin Abang gue tadi?"
"Gue ... reflek aja." ujar Jino enteng banget.
Mila menghembuskan nafas kesal. "oke No, lo boleh pergi sekarang!" perintah Mila.
Jino tampak heran namun tetap menuruti ucapan Mila.
"Trus gue, Yang?" dasar manusia ga tau diri. Giliran gini aja sok-sokan sayang sayangan.
Mila menjewer telinga Gio sangat keras. "rasain tuh!" desis Mila.
"Ah...aduh..duh..Mil sakit tauk." rintih Gio memegang kupingnya setelah Mila melepaskan jeweranya.
"Kok cuma aku sih yang dihukum, padahal Jino juga gebukin Abi tadi!" ujar Gio tidak terima.
"Emangnya kamu mau aku jewer Jino juga?" tanya Mila. "ga cemburu?" lanjutnya dengan nada menggoda.
Gio terdiam sejenak kemudian memeluk Mila. "aku pasti bakal cemburu kalo kamu berani sentuh cowok lain." Gio mengelus punggung Mila sesekali mengecup puncak kepalanya.
Mereka berdua hanyut dalam dunianya sendiri sampai sebuah suara membuyarkan keduanya.
"Ekhem!"
Sontak Mila dan Gio melepas pelukan mereka, Gio tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal sedangkan Mila sok sibuk dengan melihat-lihat jam tanganya. Pasangan serasi emang.
"Mil ayo pulang!" ajak Abi.
__ADS_1
"Ehm ... kayaknya gue pulang bareng Gio aja deh, Bang." sahut Mila sedikit kurang enak.
Abi melirik Gio datar. "lo harus anter Mila pulang dengan selamat, kalo sampek ada yang lecet awas!" Abi berbalik hendak pergi namun Gio langsung mencekal tanganya.
Abi hanya mengernyit bingung. "Gue mau minta maaf soal yang tadi." Gio merasa bersalah, sekalian itung-itung pencitraan. Modus baru.
"Hm." setelah itu Abi pergi.
"Kok Abi cuek banget sih!" kesal Gio.
Mila terkekeh. "emang kamu ga sadar kalo kamu tuh juga cuek malah lebih parah dari Abi tuh!" ejek Mila.
"Masa, sih?" tanya Gio pada diri sendiri.
"Udah udah yuk pulang. Sekalian aku kenalin ke orang tua aku." Mila kemudian menarik Gio sampai parkiran.
***
"Mil aku kok gugup, sih." Gio dan Mila sekarang sudah berada didepan rumah Mila.
"Assalamualaikum." salam Mila dan Gio bersamaan.
"Waalaikumsalam. Eh...anak Mom yang cantik udah pulang." Mila menyalimi tangan Resti lalu pandangan Resti langsung jatuh kepada sosok lelaki disamping anaknya.
"Kamu siapa?" tanya Resti ke Gio.
Gio mengulurkan tanganya untuk memperkenalkan diri. "kenalin Tan, saya Gio." Gio mencium punggung tangan Resti sopan.
"Temanya Mila yha?" tanya Resti mengernyit.
Gio nampak tersenyum kikuk sambil menggaruk pipinya yang entah kenapa terasa gatal. "eum ... anu Tan, saya pacarnya Mila." Gio tersenyum sopan. Kalo bukan demi pencitraan Gio pasti OGAH.
"Oh jadi kamu pacarnya Mila yha ... sini-sini ga usah sungkan!" Dengan semangat Resti menarik Gio kedekatnya lalu menatap Mila tajam.
"Mil cepet ganti baju, trus turun kita makan siang bersama!" perintah Restu yang langsung diangguki Mila.
Setelah selesai berganti pakaian Mila menuruni tangga dan duduk di kursi tempat makan.
__ADS_1
Mila dapat melihat kalau Gio sekarang sedang diintrogasi oleh Resti dan Bowo, hahaha .... rasanya Mila ingin ngakak apalagi saat melihat Gio yang harus sok sopan itu. Lucu banget!
Abi hanya diam kayak patung, kapan dia datang? Entah. Tapi bener-bener deh, Mila heran kenapa Abangnya cuek banget ke orang lain kecuali dirinya.
"Kamu sekolahnya sama kayak Mila yha?" tanya Resti menghadap Gio.
Gio tersenyum lalu mengangguk. "iya, Tan."
"Kalian pacaran berapa lama?" sekarang giliran Bowo yang bertanya.
"Ehm ... sekitar 1 bulanan, Om."
"Nama kamu siapa tadi, Tante lupa. Hehe." Resti terkekeh pelan. Faktor 'U' membuatnya jadi agak pikunan.
Gio menatap Resti lalu tersenyum kalem, daritadi senyum mulu deh dirinya. "Gio Tante." jawab Gio.
"Cuma Gio doang? Ga ada lanjutaanya?" heran Bowo sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Gio Abraham Om, nama panjang saya." Gio tersenyum namun jika diamati lebih lanjut senyumnya itu adalah senyum getir dan miris.
"Abraham Kusuma?" Gio nampak kaget saat Daddy Mila tau nama Ayahnya. Eh... orang yang telah membuangnya maksudnya.
"Om kenal Ayah saya?" bingung Gio dengan kerlipan bertanya.
Bowo nampak terkejut saat dugaanya ternyata benar. "loh beneran Ayah kamu? Itu Abraham Kusuma pemilik Kusuma's corporation, kan?" Bowo memperjelasnya.
Gio hanya mengangguk. "Iya Om. Om kenal Ayah saya?" Gio lagi-lagi menanyakan hal yang sama.
"Tentu saja, bahkan semua pengusaha dikalangan Asia sekitarnya pasti kenal dengan Abraham. Dia pengusaha yang sangat sukses!" puji Bowo.
Gio hanya tersenyum kecil. Dirinya sangat benci situasi seperti ini, ketika orang-orang membanggakan Ayahnya padahal mereka tidak tau sifat busuk Ayahnya.
"Wah sudah-sudah ayo kita makan, keburu dingin makananya." ajak Resti lalu mereka pun mulai beranjak ke meja makan.
*********
TBC.
__ADS_1