My Badboy Boyfriend

My Badboy Boyfriend
Part 29: Beri kesempatan?


__ADS_3

VOTE.


Mila duduk di kursi bersebelahan dengan Jino. Keadaan sekitar sangat sepi karna siswa lain pasti lebih memilih ke kantin.


Tidak lama Boby datang dengan nafas yang tersengal-sengal. Mila langsung mengernyit. "Kenapa lo ngos-ngosan, Bob?" Tanya Mila langsung.


Boby menyerahkan bungkusan makanan dan minuman pesanan Jino kepada Mila yang langsung disambut olehnya.


"Bisa di cincang Bos kalo gue sampek bikin Mila Kinara kelaperan." Jelasnya membuat Jino langsung mendelik seolah berkata. 'Mau mati lo?!'


Mila menatap Jino lalu mendengus. "Lo gak boleh kejam-kejam gitu dong ke temen sendiri, No!" Tegas Mila sambil melotot kecil.


Jino reflek meringis. "Iyadeh maaf," ujarnya membuat Boby membelalak horor.


'Bucin mah gini.' Batinya Boby sambil menatap kearah lain.


Mila menghembuskan nafas pelan. "Jangan diulangin!" Dan Jino langsung mengangguk patuh.


"Lo boleh pergi Bob kalo mau." Mila memandang Boby yang ada didepanya itu.


Boby tersenyum sumringah. "Oke deh, babay Bos ku yang ganteng dan Mila yang paling cantik!!" Ujarnya lebay, alay, mirip jablay lama-lama tuh bocah.


Boby langsung ngacir pergi. Pasalnya baksonya tadi belum habis, kan sayang. Untung tadi sudah menyuruh Leo dan Rian buat jagain.


Mila dan Jino pun langsung memakan makananya dalam keadaan hening. Mila itu paling benci kalau suasananya sudah awkward begini, namun saat Mila hendak berbicara sudah kedahuluan Jino.


"Mil." Panggil Jino pelan.


Mila menoleh cepat. "Hm?" Sahutnya cepat.


Jino menatap manik Mila intens membuat Mila sedikit gugup. "Lo bisa gak mulai buka hati lo buat gue?" Jino memandang Mila tanpa berkedip.

__ADS_1


Mila mendelik kecil. "Buka ha ..ti?" ulangnya tergagap-gagap.


Jino mengangguk kikuk. "Gue cinta sama lo." terangnya tanpa basa-basi sedikitpun.


Mila sontak tersedak kaget. Dia memang merasa ada something dari Jino kepadanya, tapi tidak menduga bila Jino akan menyatakan perasaanya seperti ini.


"No--"


"Please.." potong Jino membuat Mila terhenyak sekilas.


Mila memejamkan matanya sebentar guna menjernihkan pikiranya. "lo sejak kapan suka sama gue?" Tanya Mila lalu menatap lurus Jino.


"Sejak pertama kali ketemu lo." Jawabnya langsung.


Mila diam sejenak untuk berpikir sebentar. "sejak gue nolongin lo?" Mila bertanya spontan.


Jino mengangguk langsung. "iya."


"Apa yang buat lo suka sama gue?" Tanyanya lagi.


Mila membeo mendengar pernyataan Jino barusan. Apa Jino bilang? Dia adalah wanita yang sempurna. Oh astaga ... Mila butuh asupan oksigen sekarang!


Mila menarik napas sebelum mengucapkan sesuatu yang sudah dia pikirkan matang-matang. "No, gue gak mungkin bisa langsung cinta sama lo," ujar Mila membuat Jino langsung kecewa. Jino menundukkan kepalanya dengan mata sayu nya.


"Tapi gue bisa belajar mencintai lo." Lanjut Mila tak terduga, Jino menegak seketika. Tunggu-tunggu .... maksudnya Mila menerimanya kan? Mila mencoba mencintainya, jadi mila menerimanya kan, iya kan?!


Tanpa aba-aba Jino langsung menarik Mila kepelukanya, mengabaikan bungkusan makananya yang tumpah ke tanah begitu saja.


Mila tersentak kaget. "No, lo.." gugup Mila, gimana gak gugup kalau Mila dipeluk cowok begini coba.


Jino lebih mengeratkan pelukanya seolah takut kehilangan gadis itu. "Mil, gue janji bakal buat lo bisa cinta sama gue. Thanks udah kasih gue kesempatan." Terangnya senang.

__ADS_1


Mila tersenyum lalu mengangguk kecil dalam dekapan Jino, sepertinya keputusan ini sudah benar. Mila akan mencoba memberi Jino kesempatan.


Sedangkan Gio yang berada tidak jauh dari mereka hanya bisa mengepalkan tanganya kuat. "Sekalinya murahan, tetep aja murahan." Sinisnya lalu beranjak pergi.


*****


BUGH!


Abi menonjok Gio kuat. Saat ini mereka sedang berada di rooftoop sekolah.


"BRENGSEK LO!!" Bentak nya murka sambil menatap nyalang Gio.


Gio menyeka darah di ujung bibirnya lalu mendekati Abi dengan langkah gontai. "lo marah sama gue karna Adek lo gue hina. Hm?!" Sinisnya sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana nya.


Abi menggeram tertahan." lo bakal nyesel, Yo!" Murkanya menunjuk wajah memar Gio.


Gio terkekeh sinis. "nyesel? Sampek kapanpun gak akan pernah. Lagian Adek lo emang pantes digituin." Katanya masih terus meracau.


Abi mencekram kerah baju Gio dengan wajah mengeras. "ternyata pemikiran gue tentang lo itu salah, Yo!" Ungkap Abi geram.


"Terserah Bi lo mau ngomong apa. Tapi yang jelas satu, Adek lo emang murahan buktinya baru kemaren putus sama gue tapi hari ini udah jadian sama Jino." Sinis Gio.


Abi menyeringai ringan. "mereka jadian itu gak salah kok, karna emang gue yang nyuruh Jino. Dan apa lo bilang tadi, Adek gue murahan? Lo bakal jadi orang paling menyesal sedunia setelah sadar kesalahan lo!" Kata Abi lalu beranjak meninggalkan Gio sendiri. Tidak lupa satu bogeman lagi mendarat di pipi Gio.


Abi tersenyum puas.


Gio diam mematung. 'orang yang paling menyesal sedunia setelah menyadari kesalahan gue?' Batin Gio mengulangi ucapan Abi barusan.


Gio terkekeh tiba-tiba. "gue buktiin ntar kalo gue gak mungkin nyesel." Gumamnya entah pada siapa.


Tapi yang jelas satu, hatinya merasa kalau ucapanya barusan tidak sinkron dengan hatinya.

__ADS_1


******


TBC.


__ADS_2