
VOTE.
Disinilah Gio sekarang, di base camp Lion.
"Semuanya udah ngerti, kan!" Tegas Gio setelah menjelaskan strategi melawan Bastar.
"Bos, tapi kalau sampai ada korban diluar perkiraan gimana?" Tanya salah satu anggota yang berada dipojok.
Gio nampak berpikir sejenak.
"Gue usahain ga bakalan terjadi, kalo ga ada yang ditanyain lagi gue pergi!" Ujarnya lalu melenggang pergi.
.
.
.
Ditengah perjalanan motor Gio dihadang oleh Jino, membuat Gio yang tidak terima itu menghampiri Jino dengan kilatan tajam.
"Mau lo apa *******?!" Bentaknya sambil mencekram kerah baju Jino.
Jino tertawa sinis.
"Tenang aja, gue ga bakalan berantem sama lo sekarang."
Jino menepis tangan Gio kasar dan mendekatkan mulutnya ke telinga Gio.
"karna gue bakal habisi lo besok." Desisnya lalu pergi.
"Shit." Umpat Gio dengan tangan yang sudah mengepal kuat.
***
"Mil lo tau ga?" Tanya Lia. Mereka sekarang berada di rumah Lia.
"Ga." Jawabnya enteng.
"Lah kan gue belum kasih tau, Mil!" Kesalnya.
Mila memutar bola mata jengah.
"Maka dari itu pinter, gue ga tau kan lo belom kasih tau."
Lia cengengesan gajelas.
"Hehe iya juga, ya."
"Eh ... Mil tapi ini beneran berita penting, uptodate!" Jelasnya dengan nada keterlaluan lebay nya.
Mila yang tadinya malas pun akhirnya jadi menegak kepo. "Apaan?!" Tanyanya penasaran.
"Besok geng Bastar sama Lion bakal perang dunia ke ll." Ucap Lia dengan kalimat hiperbolanya itu.
"WHATTT?!" Pekik Mila kaget.
Lia mengucek kupingnya yang terasa berdengung. "Woles kali, kuping gue budek denger suara toa lo!" Crocos Lia kesal.
Mila tidak menghiraukan ucapan Lia dan malah lebih penasaran dengan ceritanya. "Lo tau darimana? Trus jam berapa? Dimana? Ga bohong kan lo?" Mila memberondong Lia banyak pertanyaan.
"Ck! Satu-satu napa!" Sebalnya sambil mendengus.
"Oke pertama lo tau berita ini dari mana?" Tanya Mila memulai.
"Semua orang udah tau, beritanya udah nyebar kalikkk makanya jangan kudet!" Cibirnya.
Mila mengabaikan sindiran Lia karna menurutnya ga penting.
__ADS_1
"Dimana mereka bakal bertarung?"
"Lapangan kota."
"Jam berapa?"
"Soal itu gue ga tau." Jawab Lia sambil menggedikkan bahunya.
Mila jadi cemas sendiri. Bagaimana jika Abangnya terluka? Bagaimana jika Gio terluka? Bagaimana jika Jino terluka?Bagaimana ... bagaimana ...
Pikiran Mila langsung kacau!
Mila tidak tau apa yang bisa dia lakukan. Lia yang melihat gelagat aneh Mila pun angkat bicara. "Emangnya lo ada hubungan apa sih sama mereka sampek cemas banget gitu?" Tanyanya penasaran.
"Mereka kan temen gue." Jawab Mila sekenanya.
"WHATT THE?!" Sekarang giliran Lia yang berteriak kencang.
Mila langsung menutup kupingnya yang terasa berdenyut. "Woy sans dong! Lebay deh!"
"Alah lo tadi juga gitu, kan." Cibir Lia balik.
"Eh ... tapi Mil, lo beneran temenan sama mereka, siapa? Geng Bastar atau geng Lion?" Tanya Lia jadi kepo.
"Dua duanya." Jawab Mila santai.
"HAH?! Lo ga bohong, kan?" Lia memicing curiga.
"Elah ngapain gue bohong deh, unfaedah."
"Kok bisa sih, ceritain dong?" Pinta Lia.
Mila pun menceritakan kejadian awal dimana dia bertemu Gio dan Jino kepada Lia. "Gitu critanya." Ucapnya diakhir kalimat.
"Wah hebat lo!" Pujinya. "Tapi gue saranin lo harus hati-hati sama mereka. Sebagai sahabat gue cuma bisa support lo aja." Ujar Lia dengan nada lirih.
"Pasti! Oke deh gue pamit. Udah malem." Pamitnya lalu pergi meninggalkan rumah Lia.
***
Sekarang Gio dan temanya sedang berjalan di koridor sekolah dengan gaya masing masing. Gio dengan wajah datar sedatar jalan raya, Abi dengan wajah cool sedingin es batu, Bram tampak santai tanpa gaya, dan Dino yang selalu tebar-tebar pesona. Cap playboy buaya darat emang!
Ditengah perjalanan Mila berpapasan dengan mereka yang selalu dipuja oleh kaum hawa itu.
"Pagi!" Sapanya dengan senyum manis seperti biasa.
"Eh Mila, pagi!" Sapa Dino mewakili temanya.
"Gue duluan ya." Ujar Mila lalu melenggang pergi ke kelas.
Gio masih setia menatap nanar punggung Mila yang menjauh darinya.
"Kalo suka ngomong, diembat orang baru tau rasa." Celetuk Dino membuat Gio mendelik kearahnya.
"Bacod!" Ketusnya lalu melenggang pergi begitu saja.
"Bos lo tuh!" Ujar Dino menoleh kearah Bram dan Abi.
"Bos lo juga, ****!" Jawab Bram lalu melenggang pergi juga.
"Elah dari tadi gue ditinggal mulu deh," celetuknya lalu menoleh kesamping.
"Untung ada lo, Bi. Lo emang sahabat sejati gue deh!" Senanganya namun tidak lama Abi juga melenggang pergi tanpa bicara.
"Dasar kacung kampret lo pada! Masa gue ditinggalin mulu!" Gerutu Dino sambil berkomat-kamit ga jelas.
***
__ADS_1
Bel istirahat berbunyi, membuat para siswa berlomba-lomba pergi ke surganya sekolah. Kantin!
Mila dan Lia berjalan memasuki kantin namun tiba-tiba ada seseorang yang menyiram seragam Mila dengan kurang ajar.
Mila melotot geram, "Mau lo apa, hah?!" Ketus Mila.
"Mau apa?" Sasa tersenyum sinis.
"GUE MAU lO JAUHI GIO. LO DENGER, KAN!" Bentak Sasa tidak santai, sekarang mereka menjadi tontonan gratis.
"Gila ya lo?!" Balas Mila ga terima.
"Lo bilang apa tadi, berani juga ya lo!" Sasa hendak menampar Mila namun seseorang mencekal tanganya.
"Berani lo sentuh Mila seujung jari, lo bakal nyesel seumur hidup!" Desisnya dengan penekanan lalu membawa Mila pergi.
\=ABI POV\=
Gue dan temen-temen gue berjalan ke kantin seperti biasa. Tapi sesampainya disana gue sedikit kaget, kenapa kantin sangat ramai. Ada apa?
Lalu saat berhasil menerobos kerumunan, gue lihat Sasa bakal nampar Adik gue. Gue kaget, gue yang ga bisa nahan emosi pun langsung mencekal tanga Sasa kuat.
"Berani lo sentuh Mila seujung jari, lo bakal nyesel seumur hidup!" Desis gue benar-benar emosi. Persetan dengan tatapan semua orang, tapi gue yakin setelah ini pasti bakal terjadi sesuatu yang buruk.
Gue ga peduli!
Akhirnya gue bawa Mila pergi dari kantin. Sebelum itu gue bisa lihat tatapan ga suka Gio, ternyata benar dugaan gue. Gio suka Adik gue.
\=AUTHOR POV\=
Gio hendak mencekal tangan Sasa yang akan menampar Mila, namun tiba-tiba Abi tanpa aba-aba langsung mencekal tangan Sasa dan mengucapkan kalimat pedasnya lalu pergi dari kantin.
"Wah kayaknya ada udang dibalik tepung!" Celetuk Dino ngasal.
"Gue pergi!" Ketus Gio lalu pergi entah kemana.
"Gue harap persahabatan kita ga bakal rusak cuma gara-gara cewek." Gumam Bram yang masih bisa didengar Dino.
"Maksud lo apa?" Tanya Dino tidak paham.
Bram memutar bola mata malas, memang Dino ini otaknya lemot atau ga berfungsi, sih!
***
Mila menangis dalam diam didekapan Abi. Sedari tadi Abi terus menenangkanya.
"Kalo mau nangis jangan ditahan, Mil." Ucapnya sambil mengelus punggung Mila.
Mila menggeleng kuat lalu melepaskan pelukanya. "Gue ga bakalan nangis cuma gara-gara cabe-cabean doang." Ucapnya sambil menghilangkan air matanya.
Abi menghela napas lelah, pasalnya Mila memang selalu begini. Ingin terlihat kuat didepan orang lain, tapi Abi sangat tau kalau Mila sebenarnya hanyalah gadis rapuh yang pura-pura tegar.
Abi memeluk Mila erat, sangat erat. Membuat Mila mengernyit bingung.
"Kenapa?" Tanyanya bingung.
"Maafin gue karna ga bisa jagain lo." Ucapnya lirih.
Mila menggelang pelan lalu membalas pelukan Abi tidak kalah eratnya.
"You are the best brother." Ucap Mila lalu memejamkan matanya, menikmati pelukan hangat Abangnya.
Beruntunglah dia memiliki Abi.
***
TBC.
__ADS_1